
Semuanya jadi memburuk, ini terjadi karena kedatangannya di bumi. Aku siapa dan dia siapa? Seperti apa hidupku dulu? Perebutan wilayah macam apa mereka bicarakan? Dan lagi, yang lebih mengherankan Yu Lian, sosok senior, baik hati, penyayang ramah. Namun, hari ini sosok yang ku dambakan sirna. Dia bukan pria yang kuharapkan, dia sama bejatnya dengan pria yang menculikku tepat berada di sampingku.
"Sejak kapan kau tidak suka perkelahian, Tuan Xander?" Ingatan macam apa yang kulupakan? Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Mulutmu itu tidak ada sopan santunnya, ya. Biar ku ku luruskan bibirmu agar tidak mengeluarkan kata yang sia-sia." Sial! Ferius membungkam Yu Lian dengan cara membunuhnya. Dia sudah gila.
"Kau berani? Hahaha... Aku sama sekali tidak takut Tuan Xander, jika di Castle kesayanganmu ini terjadi pertumpahan darah antara aku dan kau." Ia tersenyum sinis. Yu Lian bodoh.
Dia tidak tahu kemarahan Ferius seperti apa. Aku saja tak mampu berkutat jika Ferius marah.
"Dengan senang hati meladeni hewan busuk sepertimu." Argghh! Ferius sama gilanya.
Mereka dikuasai dengan amarah yang membabi buta. Matanya tertutupi dengan kebencian. Aku harus menghentikan mereka.
Aku harus mencari cara. Sesaat aku teringat sebuah belati yang diberikan salah satu pelayanku. Hari ini kau berguna untukku.
"HENTIKAN! KALAU KALIAN TIDAK BERHENTI, BELATI INI AKAN MENUSUK JANTUNGKU." Terpampang raut wajah terkejut, ketakutan.
Biar saja aku tak peduli. Mereka berdua berkelahi hanya karena gadis bodoh sepertiku.
"Coba saja kalian saling membunuh. Aku juga akan membunuh diriku di sini, kita impas. Tidak ada yang bisa mendapatkan aku kan." Aktingku sepertinya berjalan lancar.
Mereka menghentikan pergerakan, namun belati yang ku pegang masih menyentuh dada kiriku.
"Kau jangan main-main dengan belati itu Lucia, benda itu bukan mainan. Belati itu dibuat untuk mengincar musuh yang tepat. Banyak sihir terkandung dalam belati. Sekali tusukan kau bisa mati." Aku menautkan dua alisku.
Sebodoh itukah diriku mengambil nyawaku sendiri. Ini hanya akting bodoh. Ferius, kau ternyata bisa tertipu dengan artis imitasi ya.
Dalam hati aku tertawa melihat wajah khawatir Ferius.
Yu Lian sepertinya tidak bereaksi sama sekali.
"Aku tahu banyak sifatmu Jiao Chan." Ia mengambil belati itu.
"Kau sedang akting lagi." Sial! Terbongkar kebusukanku.
"Diam kau!" Aku mengutuk mulutku.
"Wah, kau berubah ya, sejak berada di sini. Tidak ada sikap sopanmu lagi padaku." Ia terkekeh.
Ferius lalu menarikku di belakang tubuhnya dan dia maju tepat di hadapan Yu Lian.
"Jangan sok akrab dengan Lucia."
"Kami memang A-K-R-A-B. lebih dari pada kau." Ferius berdesis dan mengapit kerah baju Yu Lian.
Mulai lagi kan mereka. Kutarik paksa tanganku dari genggamannya.
"Sudahlah, aku lelah melihat pertengkaran kalian. Begini saja. Tuan Xander, bagaimana kalau kita menjamunya dia kan tamu kita." Cara B yang terpikirkan sesaat.
Ferius menautkan alisnya memandangku dengan tatapan marah. Aku membalasnya dan memperingatinya untuk tidak bertingkah kasar.
Ia melenguh pasrah, "Bawa dia masuk."
Pengawal Ferius memegang Yu Lian dan beberapa pengawalnya juga. Astaga, beginikah memperlakukan tamu.
"Lepaskan mereka." Ujarku tegas. Mereka melepaskan Yu Lian.
"Dia sandera, tahan dia penjara." Ferius, kau cari masalah denganku, ya. Pengawal jadi bingung menuruti siapa.
"Aku bilang lepaskan." Sekali lagi tatapanku yang menghakimi pengawal, mereka menurutiku.
"Tahan mereka-"
"MEREKA TAMU, TUAN XANDER." Entahlah, di mana datangnya keberanianku ini meneriakinya.
"Ka-kami... harus apa?"
"Ikuti saja perkataan Lucia." Akhirnya aku menang, dan Ferius kalah dua telak.
"Kak Yu Lian, maafkan Ferius ya. Dia memang seperti itu, tapi sebenarnya baik." Ia memandangku serius.
"Ayo kita kembali ke bumi." Aku menunduk. Jariku saling beradu.
Sebenarnya aku ingin pulang, rindu kehidupan sekolah, ayah dan ibu. Ahh Changhai. Aku merindukan mereka dan kedamaianku di bumi.
Tapi, ada sesuatu hal yang membuatku janggal.
"Maaf Kak Yu Lian, aku tidak bisa meninggalkan dunia ini." Pergelangan tanganku terasa hangat.
Ia menggenggam tanganku, "Apa karena pria itu." Aku menggeleng.
"Bukan dia, karena aku ingin tahu tentang hidupku sebelum berada di bumi." Itu benar, bukan pria itu.
Aku teringat dengan mimpi itu, semuanya.
"Tubuh ini, mungkin hanya persinggahan. Aku tidak tahu tentang ingatan Lucia di masa lalu." Apa aku Lucia? Ataukah tubuh ini milik Jiao Chan yang sebenarnya?
Semuanya masih tanda tanya bagiku.
"Dengarkan aku. Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya. Suatu saat jika ingatan itu kembali, kau harus memilih keluargamu dan sekutumu. Buang cintamu padanya. Memperkuat ikatan antara keluarga adalah cara terbaik untuk membunuh musuh." Aku menatap bola mata hitamnya.
Jelas sekali kebencian tersirat terhadap Ferius.
Memperkuat ikatan keluarga?
Sekutu?
Apa aku dan Ferius berbeda asal?
"Aku sudah menuruti kemauanmu Lucia. Untuk apa berduaan dengannya? Kita bisa bicara di-" Matanya terahlihkan, ia melihat Yu Lian menggenggam kedua tanganku.
Dengan kasar ia menghempaskan tangan Yu Lian, "Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku masih baik menyuruhmu pergi dibandingkan melenyapkanmu tanpa sisa." Aku menelan ludah.
Perkataannya bukan main-main. Tajam, tegas.
Aku memberi kode pada Yu Lian untuk segera pergi dari sini. Mungkin bukan saatnya untuk berbicara berdua dengannya. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kuutarakan.
Ia menurut, dengan secepat kilat ia menghilang dari pandanganku. Dia bukan manusia, ternyata Yu Lian adalah penghuninya dunia aneh ini.
"Ikut denganku." Ia menarikku.
Cengkeramannya membuatku kesakitan, sudah bisa kupastikan. Ada bekas dipergelangan tanganku. Tapi aku tidak bisa berkutat. Dari belakang aku bisa merasakan amarah yang kuat.
Seberapa besar cintanya pada Lucia? Sejengkal saja dekat dengan pria lain ia semarah ini. Bagaimana kalau Lucia berselingkuh. Aku tak menjamin Lucia tidak mati di tangannya.
Manusia di bumi saja, salah satu pasangan yang berselingkuh ia menebas dan membunuh kekasihnya sendiri. Sungguh tragis.
Aku sampai di sebuah ruangan gelap, namun masih ada lilin sebagai penerang.
Genggamannya masih berada di pergelangan tanganku. Sungguh ini sangat sakit. Aku mendesis tertahan.
"Kenapa dia menyentuhmu kau tidak marah sedikit pun? Sedangkan aku yang menyentuhmu, kau marah dan mencoba menghindariku? Kenapa? AKU TANYA KENAPA?" Rasanya aku ingin menangis. Dia berteriak dan mencengkeram keras pergelangan tanganku.
Dia jahat sekali dengan perempuan. Serasa melepuh.
"JAWAB AKU." Tumpah sudah air mataku. Aku perempuan lemah, begini saja sudah menangis.
"Sa-sakit... hiks." Sadar dengan perlakuannya padaku. Segera lepaskan genggamannya.
Pergelangan tanganku sedikit mengeluarkan darah, teriris. Mungkin karena jarinya yang mengeluarkan kuku tajamnya. Dia sangat berbahaya jika marah, tidak memandang teman ataupun musuh.
"Ma-maafkan aku." Ia menjauh dariku dan pergi meninggalkanku sendiri.
Hei, bukannya minta maaf.
"Auhh.. sakit."
"Ayo Putri, mari kami obati lukanya."
Lucia, kau harus berhati-hati pada pria itu. Dia lebih berbahaya dari harimau. Aku takut ingatan ini semakin menganga, dan bagaimana dengan diriku? Jiao Chan akan mati karena direnggut oleh Lucia.
****
"Terima kasih Alexa, Julia. Sudah mengobati tanganku." Lebih nyaman. Akhirnya bisa terobati juga.
"Putri, jangan marah pada tuan karena melukai Anda. Dia bersikap seperti itu, takut Putri pergi lagi darinya." Aku mengembuskan napas.
Tidak seharusnya bersikap kasar, ini terlalu berlebihan. Dasar monster.
"Jangan membicarakan dia, aku masih marah."
"Tuan tidak bermaksud melukaimu. Putri tahukan dia ha-"
"Hentikan. Aku ingin istirahat."
Aku benar-benar tidak ingin menggubris tentangnya, aku marah. Memang kekanak-kanakkan. Bukan berarti aku membencinya.
Saat seperti ini, aku bisa berbicara berdua dengan Yu Lian. Tapi di mana aku harus mencarinya? Aku yakin, dia masih berada di sekitar Castle.
Aku mencarinya di lorong-lorong gelap dan tidak di jangkau oleh siapapun.
"Hosh... hosh... Di.. Di mana sih dia?"
"Kau mencariku?"
Akhirnya, "Kak Yu Lian." Ia menggeleng.
"Ashley, panggil aku begitu. Tanpa embel-embel Kak."
"Hah?"
"Kau bisa memanggilnya Ferius tanpa ada kata depan yang sopan." Cemberutnya.
Aku mendengus, Cih!
"Baiklah, Ashley."
"Kita berbicara di sana. Belum tentu di sini aman."
Aku mengikutinya dari belakang. Ini tempat apa? Lorong di sekitar sini belum pernah kupijaki. Suasana di sini lebih mencekam.
Patung-patung kuno menghias di tembok hitam pekat bertuliskan huruf-huruf kuno, patung yang berdiri tegak dan memegang sebuah lentera sebagai penerang.
Bukan hanya itu, di dinding pun terdapat relief peperangan entah abad ke berapa, serta relief seorang wanita dan pria yang saling berdansa. Rambut panjang dengan gaun, dan memakai sebuah mahkota di kepalanya. Dia pasti seorang Ratu, dan yang ditemani menari itu Rajanya. Memakai Mahkota Raja pula dan pakaian kerajaan yang menghias di tubuhnya.
"Jiao Chan!" Aku lupa, aku di sini kan mengikuti Ashley.
"Maaf." Cengirku.
"Sebaiknya aku menggenggam tanganmu biar tidak ketinggalan."
"Auhh." Dia menggenggam tangan yang salah.
"Ada apa dengan tangan kirimu?" gawat!
"Ini karena tergores sesuatu ja-"
"Ini bukan goresan." Ia meniup tanganku sembari membacakan sebuah matra yang aneh.
Memangnya meniup dengan matra itu bisa sembuh, tidak mungkinlah. Kan harus ditangani dengan obat, Alexa dan Julia saja mengobatinya dengan ob-
"Selesai." Perban yang melilit di tanganku terbuka dan kulihat tanganku sembuh tak ada lagi bekasnya.
Wow, hebat! Ashley hebat. Kalau Ashley bisa mengobatinya seperti ini bukankah seharusnya Ferius juga bisa mengatasinya, dan tidak seharusnya ia meninggalkanku sendiri di sini.
"Dasar lelaki tidak bertanggung jawab."
"Aku tidak melakukan hal yang salah, Jiao Chan. Aku menyembuhkan lukamu, dan kau mengatakan aku lelaki tidak bertanggung jawab." Aduh, kan salah paham.
"Bukan kau kumaksud. Tanganku jadi seperti ini karena Ferius."
"Apa?! Dia, beraninya." Ashley mulai bertindak gegabah.
Ia pasti ingin mencari Ferius, "Sudahlah Ashley."
"Tapi, dia tidak menyembuhkan luka yang dia perbuat sendiri. Seharusnya ia menyembuhkanmu. Sebaiknya kau tidak berada di sini. Ikut denganku, dia berbahaya jika bersamamu." Aku masih mempercayainya.
Aku tahu dia bukan siapa-siapa, entah mengapa untuk meninggalkannya terasa berat. Keinginanku tetap di sini. Pasti ada alasan khusus kenapa aku ingin tetap berada di sampingnya.
Tanpa sadar mataku buram, air mataku menggempul.
"Maafkan aku, aku masih ingin di sini. Kau tahu sendiri kenapa aku masih bertahan di tempat ini."
Ashley semakin dekat denganku, ia memegang wajahku.
"Kalau kau ingin ingatan itu jelas, kau bisa ikut denganku. Karena tempat itu Lucia lahir." Tempat Lucia lahir? Benar, itu dia.
Untuk ke sana mungkin potongan puzzle yang belum menyatu bisa tersambung kembali.
"Sekarang, bawa aku ke sana." Kataku tegas.
Suara langkah sepatu mendekat dan terdengar nyaring, tegas. Suasana yang agak redup tidak dapat menampakkan siapa sosok di ujung lorong.
Terlihat kepalan tangan Ashley dan wajahnya yang geram. Ada apa dengannya?
"Dia selalu saja jadi penghalang untuk bertemu denganmu." Ferius? Yang dimaksud Ashley pasti pria kejam itu.
"Jiao Chan." Aku menoleh memindai suara yang memanggilku, hanya kemudian ia lanjutkan langkahnya tepat berada di hadapan kami. Lentera di ujung lorong redup, tidak menampakkan Ferius.
Aku tahu Ferius ada di sini karena ingin menghalangiku pergi dengan Ashley. Dia tidak punya hak untuk menahanku. Ashley benar, dia pria berbahaya. Jentikan jari saja dia bisa membunuhku dengan mudah.
"Aku tidak akan men-"
"Pergilah dengannya." Aku dan Ashley terkejut. Kami saling bertatap.
Apa yang merasukinya?
Ia membebaskanku dari penjara Castlenya?
Aku terhanyut dengan senyuman pasrahnya. Baru kali ini senyuman itu menyentuh relung hatiku. Kenapa, kenapa dia merelakan aku? Apa dia sadar aku bukan Lucia yang dicarinya selama ini?
Ia semakin dekat denganku, "Aku tidak akan memaksamu untuk tetap berada disisiku. Aku bukan pria yang pantas, aku sudah menyakitimu tanpa sadar karena keegoisanku, dan agresifku terhadap Lucia." Kenapa semuanya jadi buram begini? Mengapa banyak bawang bombay berada di dekatku?
Aku menunduk memainkan jemariku. Aku pergi dan akan kembali padamu Ferius, aku janji. Aku hanya ingin ingatan ini segera terkuak.
"Maafkan aku Lucia, sungguh aku minta maaf. Bukan aku tidak ingin menyembuhkannya. Tapi rasanya diriku memang tidak pantas untuk melindungimu. Aku terlalu bejat untukmu." Aku menggeleng, mengangkat wajahku menatapnya.
"Ferius, kau pria yang baik. Hanya caramu yang salah memperlakukanku. Aku tahu, kau sangat mencintainya. Luciamu akan segera kembali. Tunggulah dia, dan tetap kuatkan dirimu, hmm..."
Aku memegang wajahnya, menghilangkan jarak antara kami. Bibir kami saling menyatu. Air mata ini kembali keluar, seakan ini adalah perpisahan diantara kami. Aku kenapa? Di saat seperti ini seenaknya aku mengambil keuntungan.
Ciuman ini kenapa rasanya berbeda, menyakitkan. Terlalu menyakitkan. Ia semakin memperdalam ciuman kami. Wajahnya basah, ini air matanya? Dia menangis? Ferius...
Aku melepaskan pagutan kami. Menarik napas panjang. Aku menoleh melihat Ashley berada di sampingku. Sial! Aku lupa ada dia di antara kami.
"Aku akan menunggumu di gerbang Jiao Chan."
"Ayo kita pergi sekarang."