Racial World Is Different

Racial World Is Different
MYSTERIOUS FIGURE



"Aku harus pergi sekarang, Lu Feiye sampai jumpa." Jiao Chan berlari menjauh menuju gerbang sekolah


"Jiao Chan." Lagi-lagi seseorang kembali memanggilnya.


Langkahnya terhenti dan menahan kekesalannya.


"Ada apa?" Datarnya.


"Kau mau ke mana?"


"Tentu pergi bekerja Senior."


"Pergi denganku, makan malam. Lebih baik kita rayakan kemenanganku bersama." Dia menarik lengan Jiao Chan.


Melihat itu fans Yu Lian menggila karena amarah. Xiao Lin berapi-api melihat Jiao Chan. Dia ingin sekali menghancurkan hidupnga, tapi selalu Yu Lian menjadi pahlawan penjaganya.


"Tak henti-hentinya kau mengalihkan dunia Yu Lian, awas saja kau Jiao Chan. Yu Lian tak akan selamanya berada dipihakmu." Geram dan ambisi untuk menghancurkan Jiao Chan semakin dalam.


Begitu sulitkah bagi Jiao Chan untuk melepaskan Yu Lian untuk dirinya. Kenapa begitu banyak mengidolakan gadis kampung itu. Tunggu tanggal mainnya, dimana posisi Jiao Chan bukan bidadari sekolah lagi, Pikirnya.


                                                                                ****


"Aku harus bekerja." Mereka sekarang sudah berada di mobil Yu Lian.


"Aku sudah menghubungi bos di tempat kerjamu, dan mereka menyetujuinya. Lagi pula kau tidak pernah minta izin." Dia menatap Jiao Chan sekilas.


"Sekali-kali refreshing, ok." Jiao Chan hanya mengangguk.


Dia benar, jika memikirkan kerja yang ada otak Jiao Chan akan stres.


Mereka sampai di sebuah restoran. Jiao Chan menatap takjub akan indahnya restoran ini dengan dekorasi yang kaya Yunnan berwarna merah darah bercampur hitam lampu agak redup terlihat gelap dan menakutkan serta diilhami oleh orang-orang menawarkan latar belakang yang sempurna untuk rasa pedas menu regional. Ini tidak hanya mengandung pengaruh Cina, tetapi juga Thai, Lao, dan Burma. Makanan Yunnan juga menggunakan bahan-bahan seperti keju dan bunga, yang cukup langka dalam masakan Cina lainnya.


"Silahkan tuan Yu Lian ikut saya." Seorang pelayan memberi arah untuk menuju ke meja yang telah di pesan sebelumnya.


"Kau sudah memesan terlebih dulu? Restoran ini terlihat sepi." Ia melihat sekeliling restoran dengan tatapan bingung. Tak ada siapa-siapa.


"Jangan-jangan Senior menyewa isi restoran." Ujarnya terkejut sembari menutup mulutnya. Sebagai respon atas jawabannya adalah senyuman.


Beberapa menit kemudian mereka sampai dimeja yang telah dipenuhi lilin dan ada bunga gardenia tersimpan disebuah vas berisikan air.


Yu Lian menarik kursi menyuruh Jiao Chan duduk. Hal romantis seperti ini membuat Jiao Chan bingung, ia tahu perasaan Yu Lian padanya. Terlalu mencolok perhatian yang diberikan padanya. Tapi itu tidak membuat Jiao Chan terpengaruh.  Berpura-pura tidak mengetahui adalah cara untuk tetap menjaga pertemanan dengan Yu Lian.


"Kau menyukainya?" Ucapnya setelah duduk dikursi hadapan Jiao Chan.


"Jawab dulu pertanyaanku senior, kau menyewanya?" Baiklah, Yu Lian tak bisa menghindar.


"Lebih tepatnya ayahku yang memiliki restoran ini." Jiao Chan malah lebih terkejut.


Hebat, keluarga Yu Lian bukan hanya mempengaruhi sekolah. Tetapi juga memiliki restoran yang hebat seperti ini.


"Ini hidangannya Tuan Yu Lian, silahkan dinikmati Tuan dan Nona." Cukup banyak yang terhidang di sini.


Tak butuh waktu lama Jiao Chan sudah sangat kelaparan, ia melahap makanan yang dihidangkan. Yu Lian senang bisa membuat Jiao Chan menikmatinya. Usahanya tidak sia-sia membawanya kemari.


"Senyio tudk makn?" Yu Lian tidak mengerti apa yang dikatakan Jiao Chan.


"Aku tak paham Jiao Chan, makanlah. Habiskan semuanya." Tanpa disuruh pun Jiao Chan akan menghabiskannya, pikirnya.


Akhirnya kenyang juga, ia bersendawa. Membuat Yu Lian tertawa dengan tingkahnya.


"Maaf Senior." Cengirnya.


"Tak apa, kau unik." Ia mengerutkan keningnya atas tanggapan Yu Lian.


Apanya yang unik?


"Kau apa adanya Jiao Chan, tak seperti gadis lain yang selalu ingin tampil elegan di depanku."


"Kau benar. Jiao Chan ingin makan dessert lagi atau hal lainnya mungkin?" Ia menggeleng sebagai jawaban untuk tidak.


"Aku ingin pulang." Yu Lian merasa tidak senang, baru saja ia berpikir akan membawanya jalan-jalan lagi.


"Baiklah."


Setelah keluar restoran, Jiao Chan merasa aneh. Aura dingin di belakangnya memandang intens. Ia berbalik, dan melihat sekilas bayangan hitam menatap mereka, lalu beberapa detik kemudian menghilang. Dia ketakutan setengah mati, sebenarnya siapa yang memandangnya begitu intens sampai ke sini. Bulu kuduknya merindung, apa itu hantu.


Yu Lian memperhatikannya sedari tadi, "Ada apa Jiao Chan?" Ia melihat sekeliling.


Apa yang dilihat sebenarnya oleh Jiao Chan?


"Tak ada apapun Senior. Ayo kita pulang." Ia pun naik ke dalam mobil.


Segera mobil melaju membelah Kota Shanghai, China.


                                                                                            ****


"Terima Kasih Senior sudah mengantarku sampai di rumah."


"Masuklah, hawanya dingin di luar. Lama-lama di sini tidak baik untukmu." Ia mengangguk mengerti.


Bukan hanya cuaca yang tidak baik di luar. Di sela-sela malam seperti ini masih saja ada aura yang mengejutkan bagi Jiao Chan.


"Sampai jumpa di sekolah Jiao Chan." Ia tersenyum sebagai tanggapan.


Jiao Chan masuk ke dalam rumah dan mencari saklar untuk menyalakan lampu. Di saat ia meraba mencari saklar tangannya digenggam, entah siapa. Tapi terasa dingin.


Jiao Chan gemetar, apa hantu ini selalu mengikutinya ke mana-mana dia pergi. Pikirannya semakin menggila disaat dirinya ditarik ke sudut tembok.


"HAH, SIAPA KAU SEBENARNYA? TUNJUKKAN WAJAHMU." Ia berteriak histeris.


Changhai, di mana dia? Ia harus meminta tolong dengan siapa. Sekujur tubuhnya gemetar tak karuan.


Tidak! Jika tanggapannya dengan nada ketakutan seperti ini, dia pasti akan mengintimidasinya. Ia harus melawan, tangguh. Jika itu malaikat pencabut nyawa, setidaknya perlihatkan wajahmu.


"Kau melupakanku gadisku." Suara pria.


Seperti suara di mimpiku waktu itu, batinnya.


"Aku sudah menunggumu selama 300 tahun. Tetapi sepertinya ingatanmu masih tersegel." Ia menyentuh rambut Jiao Chan menciumnya dengan lembut.


"Aromamu masih sama Almond Blossom. Semakin menggiurkan untukku, Lucia." Tidak di bumi, di dunia mimpi selalu ada hal aneh yang mempengaruhi hidupnya.


Lucia lagi, aku bukan Luciamu. Dasar pria mesum, batinnya.


"Jangan membuatku melawan, katakan padaku siapa kau? Beraninya mengusikku." Geramnnya.


"Cukup bermain denganku, ok. Sebaiknya kau pergi sebelum aku bertindak." Ancaman pertama tak digubris oleh pria di hadapannya ia masih mencium rambut.


Sial! Pria ini semakin menggila. Ia menelan ludahnya menahan ketakutannya.


Dan kali ini dia menempelkan bibirnya di leher menjilatnya, membuat Jiao Chan tertahan untuk tidak mendesah. Gawat kalau dirinya sampai keluar desahan yang membuat pria dihadapannya melakukan tindakan lebih jauh lagi.


Tidak boleh begini! Ia mengumpulkan jurusnya untuk melawan. Ia pernah mengikuti teknik bela diri selama masa 3 tahun. Dan harus digunakan sekarang. Dengan gerakan lincah ia mendorong pria itu dan langsung kembali menendangnya. Buru-buru Jiao Chan mencari saklar, dan akhirnya menyala juga.


"Eh? Di mana pria itu?" Menghilang secepat itu? Ia bahkan tak mendengar suara pintu berdecit dan jendela bahkan tak terbuka.


Aneh, pikirnya. Ia mengangkat bahu tak peduli. Setidaknya ia bebas untuk sesaat, semoga mimpi kali ini indah. Dan bukan hal aneh lagi. Saatnya menikmati dunia mimpinya. Tidur dengan nyenyak.


Jiao Chan mengatur alarm untuk membangunkannya esok hari.


"Ya Tuhan... jangan biarkan aku bermimpi aneh lagi."