
"Dimana kau Jiao Chan?" Changhai frustasi saat ini.
Keberadaan Jiao Chan entah dimana, ponsel tidak di bawa. Barang-barangnya masih ada di asrama.
Menghilang tiba-tiba layak di sebut hantu, tapi kan Jiao Chan itu manusia. Wujudnya pun nyata.
"Hiks... aku merindukanmu, sungguh." ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi seseorang.
'Nomor yang Anda tuju tidak dapat di-'
"Shit! Bahkan Senior Yu Lian juga tidak aktif. Hilang saja kalian semua, katanya cuman seminggu akan menemukan Jiao Chan. Eh, kenapa dia malah ikut tidak ada kabar." Changhai menggulingkan badannya di ranjang.
Entah bagaimana ia hidup tanpa sahabatnya. Siapa lagi yang akan membantunya jika di bully di sekolah sama senior galak itu, tak lain Xiao Lin. Menyebalkan!
****
"Kau sebaiknya jaga mulutmu baik-baik gadis kecil. Ingat, sebentar lagi kau akan menjadi Ratu Darkness World. Ucapan dan perilakumu adalah cerminan seorang ratu yang bijak."
Jiao Chan terus memikirkan ucapan Xander, seakan ucapannya adalah jimat keburukannya hidup di Darkness World.
"Sialan kau Xander! Kenapa mengatakan hal yang membuatku gila. Menikah dengan makhluk astral apa jadinya aku nanti." Jiao Chan terkejut memikirkan sesuatu.
Bagaimana jadi anaknya nanti, setengah iblis dan manusia. Mengerikan, membayangkannya saja membuat sekujur tubuhnya merinding.
Baru terpikirkan sekarang, bagaimana rupa si Penguasa itu. Buruk bertanduk? Atau tampan, seperti Xander?
Ehh..
Kenapa harus memikirkan pereman Castle itu? Ia menggelengkan kepalanya.
"Sadarlah Jiao Chan. Pria itu sama kaum iblis juga, kenapa memikirkan makhluk astral sepertinya." ia menepuk pipinya.
Berada di taman sambil berbaring meniup aroma bunga yang bermekaran di sekitar taman membuat beban pikiran menghilang sejenak, tapi tidak selamanya.
"Aku merindukan Changhai, bagaimana keadaannya sekarang?" matanya berkaca mengingat kenangan pertemuan sahabat terbaiknya.
"Maafkan aku Changhai. Bukan maksudku meninggalkanmu tanpa pamit, aku juga tak ingin seperti ini."
"Permisi Putri." Jiao Chan bangun terduduk dan menghapus jejak air matanya.
"AAAAAHHHHH..." Jiao Chan terkejut melihat rupa iblis yang menyahut tadi.
Ia mundur secepat kilat dan berdiri mencoba kabur tapi penasaran dengan pria di hadapannya saat ini, "Si-siapa kau?" Pria itu terheran-heran dengan reaksi Jiao Chan.
Ia kemudian berjalan di tepi sungai melihat wajahnya. Hah, jadi ini rupanya yang membuat Putri ketakutan.
"Maafkan saya Putri." tidak butuh waktu lama, tubuhnya berubah kembali ke bentuk manusia.
Jiao Chan melongo memandang sosok pria yang begitu sempurna menurutnya.
Tubuh kekar berotot, rambut sebahu coklat dengan mata hijau bercahaya, hidung mancung, dia tersenyum padanya.
Jiao Chan menelan ludah melihat senyuman mempesona dari pria yang berdiri tepat di hadapannya sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri.
Ciptaan Tuhan lagi, sungguh dia sangat tampan.
"Tuan Putri Anda tak apa kan?" Lamunannya buyar.
Jiao Chan kembali bersikap berkharisma, "Ekhm... aku tak apa."
"Kenapa Putri sendirian disini? Berbahaya untuk Putri di tempat sepi dan tidak ada pelayan yang menemani." Bukankah si preman tengik itu yang menyuruhnya menjauh darinya tadi.
Jiao Chan menggerutu, ini juga bukan kemauannya, dia pergi setelah mengatakan pernikahan dengan makhluk astral.
"Maaf kami membiarkan Putri sendirian." Julia dan Alexa datang.
"Tak masalah, selama Putri tidak terluka kalian tidak akan di hukum." Alexa dan Julia saling bertatap mendengar ucapan pria itu.
Apa haknya memberi hukuman?
Sedangkan Jiao Chan memikirkan hal lain, mungkinkah dia penguasa itu. Rumor yang beredar mengenai penguasa yang kejam dan bertampang dingin menurutnya tidak benar, yah walau sedari tadi ia memperlihatkan sisi rupa yang sebenarnya.
Jiao Chan tersenyum, "Aku baik-baik saja Tuan Ferius." Pria itu melongo, secepat kilat merubah raut wajahnya. Ia terkikik mendengar ucapan polos Jiao Chan.
Sedang Alexa dan Julia menepuk jidat dan tersenyum kecut .
"Baiklah saya pergi dulu karena ada urusan penting yang mesti saya lakukan." Jiao Chan mengangguk paham.
Lalu pria itu pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan kalian?" Jiao Chan merasa bingung, Alexa dan Julia tidak memberi hormat dan berani menatap penguasa dengan tampang datar.
"Putri sebaiknya melihat dengan rinci, sosok pemimpim yang sebenarnya. Jangan menutup mata sebelah karena kebencian." Ucapan Alexa membuat Jiao Chan kebingungan.
Dia masih polos, menurutnya.
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke kamar, hari sudah senja. Putri harus bersiap untuk makan malam dengan Tuan Ferius." Jiao Chan tidak sabar bertemu dengan pria tadi.
Kebalikan dari sifat Xander, mengingatnya kembali membuat Jiao Chan kesal.
****
Makan malam pun tiba.
Gaun Jiao Chan menampakkan aura kecantikannya berlipat ganda.
Gaun berwarna biru saphire, untuk bagian leher dan belakang tertutupi tille. Dan bagian dada berbentuk kamisol hingga pinggang, bunga menghias di bagian pinggang dan payet serta kerlap kerlip.
Untuk bagian bawah hingga tumit adalah rok yang berkembang gelombang dihiasi tille dan beberapa kerlap kerlip.
Rambut yang disanggul memperlihatkan punggungnya dan anting-anting bertengger di telinganya berwarna putih bening kristal berbentuk bunga. Untuk tangan tanpa dilapisi kain terlihat putih, tangannya dipakaikan gelang berlapis kristal berwarna biru saphire. Meski terlihat kristal kecil tapi di dapatnya sangat sulit, hingga memakan waktu tahunan.
Simple, tapi terlihat elegan.
Ia terperanjat dengan tampangnya saat ini. Semua yang bertengger di badannya terlihat bersinar.
"Apa ini cocok untukku?" Alexa dan Julia tersenyum tulus.
"Sangat cocok."
"Putri seperti bidadari."
"Aku terlalu takut bertemu dengan pemilik Castle." Julia memegang bahu Jiao Chan.
"Tuan Ferius tidak pernah memperlakukan perempuan dengan kejam, kecuali dia bertindak kelewatan pada negeranya. Dia akan menumpahkan darah untuk bertarung." Jiao Chan mengembuskan nafas lega.
Setidaknya dia tidak boleh bertindak gegabah di depan Ferius itu.
Mereka berjalan menuju ruangan Ferius, degupan jantung Jiao Chan tak pernah berhenti. Keringat dingin membanjiri tangannya, ia memainkan jemarinya.
Kriett
Terbuka ruangan itu menampakkan punggung si penguasa. Baju penguasanya dipakai menampakkan dirinya sebagai pemimpin negeri.
"Masuklah." ujar suara baritone Ferius.
Jiao Chan mengernyitkan dahi, suaranya familiar terdengar di telinganya.
Ferius berbalik dan tersenyum sumringah sambil menatap sang pujaan hatinya.
Tentu membuat Jiao Chan tertegun.
"Xa-Xander?" Tunggu, nama lengkap Xander kan Xander Osferius. Jadi, Ferius itu dirinya.
"Jadi kau-"
"Iya benar, maafkan aku Jiao Chan tak memberitahumu." Jadi dia akan menjadi istri dari Xander.
"Sebaiknya kita makan, keburu makanannya dingin." Ia berjalan kearah Jiao Chan yang masih syok dan memapahnya ke tempat meja makan.
Jiao Chan tak berkutip sama sekali, ia memilih diam. Ia memikirkan semua tindakan dan cara bicaranya dengan Xander selama ini, kurang sopan. Bagaimana ini? Apakah dia akan mendapatkan hukuman mati dari Xander?
"Jiao Chan kenapa tidak makan, apa aku perlu menyuapimu?" Jiao Chan mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi.
Derai air mata membanjiri wajah cantiknya, "Ma-maafkan aku selama ini, aku berlaku kurang sopan pada Tuan Ferius. Kumo-kumohon." bergetar, tentu saja.
Xander mengembuskan nafas, ia menggenggam tangan Jiao Chan dan tersenyum menatapnya tanpa sebersit amarah. Ia terlalu mencintai pujaan hatinya, melihat ia menangis pun membuatnya gagal memberi Jiao Chan kebahagian menurutnya.
"Kumohon jangan menangis Jiao Chan, aku tidak mempermasalahkan itu. Kau bisa berkata pedas padaku, tapi jangan bertingkah di luar sewajarnya karena kau adalah Ratu negeri yang telah ku pilih. Kaulah yang bisa menempati kursi di sampingku, kaulah satu-satunya wanita yang kucintai. Dari dulu sampai sekarang tidak ada wanita yang bisa menandingimu." Ia mencium tangan Jiao Chan menyalurkan segala perasaannya.
Cintanya begitu besar, hal yang dibencinya dalam hidup ini adalah "Perpisahan dengan Lucia", setia itu mudah jika kau menyanggupinya hingga mati.