
"Salam hormat Tuan Ashley, dari mata-mata mengatakan ia mencium aroma manusia dari dunia kegelapan."
"APA?!" Mata biru menyala menyemburkan kemarahan dari balik matanya, rambut biru, serta proporsi tubuh yang kekar berotot, wajah yang tampan siapapun yang melihat akan terpikat olehnya.
"Saya perlu pembuktiannya."
"Tuan akan ke sana?"
"Memastikannya sendiri." Bawahannya terkejut. Ke castle dunia kegelapan bukannya sama saja menawarkan kematian untuk dirinya.
"Tidak Tuan! Jika Tuan ke sana itu berbahaya bagi nyawa Tuan." Bukannya menetap di istana ia bertekad untuk memastikannya sendiri.
"Apa rumor tentang calon ratu dunia kegelapan telah di tentukan?" Bawahannya mengembuskan napas sebelum menjawab pertanyaan Ashley.
"Benar Tuan, calon istrinya telah di tentukan. Tapi belum pasti apakah aroma manusia itu adalah Calon atau sebagai persembahan santapan untuk kaum mereka." Ashley tak bisa tinggal diam, jika manusia itu adalah orang yang dicarinya selama ini dan di jadikan santapan itu berbahaya.
"Saya akan ke sana, tapi bukan sekarang." Syukur bukan hari ini. Setidaknya ia bisa menyusun rencana agar tidak terjadi pertikaian antar dua makhluk ini.
****
Jiao Chan sesekali menendang kerikil, wajah di tekuk.
"AARRRGGHHH... Apa tidak bisa aku keluar dari kandang yang besar ini?" Ia merasa di kurung.
Di larang pergi ke aula utama, di larang pergi ke pekarangan depan gerbang. Hanya taman, dan kamar lah tempatnya berlabuh. Sungguh tragis.
"Putri, jangan berteriak. Wanita harus lembut." Keparat dengan kelembutan, kebosanan membuatku ingin menceburkan diriku di sungai saja. Batinnya.
"Kemana pengusaha castle ini sebenarnya? Seenaknya mengurungku tidak membawaku pulang. Bawahannya itu juga mana tidak muncul lagi, kalau dia ada di sini akan ku-"
"Akan membunuhku?" Jiao Chan berbalik mendengar suara dari belakang.
Ini dia orang yang di carinya, "Bawa aku pulang sekarang. Memangnya aku salah apa sampai mengurungku di sini?" Tatapan benci Jiao Chan tak di alihkan dari pria di hadapannya.
Ia mengembuskan napas, "Jiao Chan, saat ini portal ke bumi sulit untuk di buka."
"Bohong, kau menipuku. Apa aku wanita pajanganmu di sini." Para pelayan ingin mengatakan sesuatu tetapi kode dari pria itu menghentikan mereka, mereka pun berlalu meninggalkan dua insan berbeda jenis ini.
Ia memegang pundak Jiao Chan, "Dengarkan aku Jiao Chan, kau adalah gadis yang di pilih oleh sang penguasa dunia kegelapan untuk menjadi ratu."
"Kau yang memintaku menikah denganmu tidak kuhiraukan, apalagi dengan penguasa castle ini. Berhenti mengatakan yang tidak kuharapkan." Mata jingga yang tajam menatap Xander.
"Aku tidak bersedia menikah dengannya, aku tidak tahu tentangnya Xander. Jangan memaksaku, aku belum menempati hatiku oleh orang lain." Lanjutnya.
"Kau akan menyadari perasaanmu nanti pada calon suamimu itu." Ia menepis tangan Xander di bahunya.
"Aku tetap ingin pulang, kembalikan aku ke bumi. Kalau tidak aku akan menjatuhkan diriku ke sungai." Ia berjalan mundur ke sungai. Tekadnya bulat untuk kembali ke bumi, dia bukan bagian dari dunia ini.
"Kumohon jangan Jiao Chan." Jiao Chan tak peduli perkataan siapapun saat ini.
Ia hanya ingin kembali ke kodratnya, bukan menjadi istri ataupun ratu dunia yang tak di kenalnya.
Sedikit lagi, dia akan jatuh ke dasar sungai. Jiao Chan kembali mundur, dengan kecepatan Xander ia merengkuh tubuh Jiao Chan membawanya menjauh dari tepi sungai.
"Apa yang kau lakukan? Kau merusak tubuhmu Lucia." Lucia, Lucia. Nama yang membuat telinga Jiao Chan membenci Lucia itu, karena dia yang mirip menurutnya terpancing ke dunia yang tak di kenalnya.
"BERHENTI MEMANGGILKU LUCIA! JANGAN HARAP LUCIAMU HIDUP. MINGGIR KAU." Amarahnya menyeruak.
Ia mendorong tubuh Xander menjauh darinya, lantas ia meninggalkan Xander yang frustasi saat ini.
Kapan ingatannya itu terbuka, agar dia mengingat semua kenangannya. Ia ingin marah pada Jiao Chan, tapi di sisi lain ia tidak ingin menyakitinya.
"Argh! Kenapa kau begitu sulit ku kendalikan?"
Jiao Chan tak habis pikir. Dunia aneh ini kenapa begitu menginginkan dirinya untuk ada di sini. Mondar mandir seperti ini sama sekali tidak berguna. Mungkin berkeliling istana adalah cara untuk mendapatkan bukti, kalau dia memang berasal dari dunia ini.
Dia berjalan mencari sesuatu untuk membuktikan semuanya, mulai dari taman tempatnya berpijak bersama pria itu. Menggaruk-garuk pohon dengan ranting, siapa tahu saja ada coretan tulisan yang ia ketahui. Nihil, tidak ada petunjuk apapun di pohon itu.
Dia kembali menggali tanah yang tidak jauh dengan pohon tempatnya tadi, percuma. Masih tidak ketemu.
"Sampai kapan aku harus seperti ini." Dia berdiri dan kembali menyemangati dirinya.
"Yoshaa... mungkin bukan di sini. Tapi di tempat lain."
Semangatnya kembali berkobar untuk mencari sesuatu. Ia berlari mengelilingi istana, bangunannya yang berupa kotak/kubus atau persegi panjang yang terbuat dari batu kapur. Untuk bangunan yang di istimewakan biasanya menggunakan batu marmer.
Berlari dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba saja.
Bruukkk.
Ia menabrak seseorang, Jiao Chan tersungkur. Kepalanya pusing, menabrak orang apa sesakit ini. Orang itu badannya keras seperti batu.
Jiao Chan memegang keningnya, sedikit mengeluarkan darah. Setetes. Cukup perih bagi manusia biasa sepertinya.
"Salah sendiri berlari di istana yang penuh dengan orang berlalu lalang." Memang benar ini salahnya sendiri. Bukan istananya.
Jiao Chan mencoba berdiri, memperbaiki posisinya, "Aku minta maaf, ini salahku."
"Tentu saja ini salahmu." Bengisnya.
Jiao Chan ingin sekali menampar orang yang berada di hadapannya, tapi wajah yang menunduk ini saja tak berani menatap orang di depannya.
Setidaknya ucapkan kata-kata yang lembut, iya tidak apa-apa. Ini malah ucapan tidak suka terdengar dari orang di hadapannya, menyebalkan. Jiao Chan mengepalkan kedua tangannya, menahan diri untuk tidak meledak karena amarah. Bahaya jika meledak bukan di dunianya, apalagi makhluk-makhluk di sini berbeda dengan dirinya yang hanya manusia biasa tanpa magic.
Ia memegang pundak Jiao Chan, menekannya kuat, "Aku tidak ingin melihat wajahmu, manusia jelek. Jadi menyingkirlah dari hadapanku, atau aku yang akan memusnahkanmu." Hatinya berapi-api.
Dia perempuan, suara yang terdengar nada kebencian. Apa masalahnya dengan dirinya? Ia bahkan baru hadir kemarin, sudah ada saja orang seperti dia.
Jiao Chan menatap punggungnya sebelum menghilang dengan menggunakan kekuatan magic. Kalau pandai menggunakan kekuatan seperti itu, teleportasi. Kenapa tidak gunakan saja sedari tadi untuk pergi ke tempat yang kau inginkan, tidak perlu menggunakan kakimu untuk berjalan jauh.
Dasar otak udang, batinnya.
Ada juga manusia seperti Xiao Lin di sini, yang membencinya.
"PUTRI!" Alexa dan Julia datang dan memeluk Jiao Chan.
"Hei, aku sesak. Lepaskan aku." Mereka segera melepaskan Jiao Chan sembari memutarnya.
Mereka menggeleng tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, kotor. Baju di penuhi tanah, bajunya compang camping, mirip gelandangan yang beradi di pinggiran jalan.
"Putri sedang apa sebenarnya? Kami mencari Putri." Kata Alexa dengan tatapan mengkhawatirkan.
Julia terkejut, ia mendapati kening Jiao Chan berdarah.
"Kenapa bisa terluka seperti ini? Siapa yang melukai Anda?" Habis mereka sama penguasa jika tidak bisa menjaga dengan baik mutiaranya ini.
"Ayo kita kembali ke kamar. Kita harus bersihkan Putri, sebelum penguasa melihat keadaan Putri seperti ini." Jiao Chan menahan dirinya.
Bukan saatnya bagi dirinya untuk bersantai di kamar, prioritas untuk mencari jati dirinya adalah yang terpenting.
"Biarkan aku mencari sesuatu dulu." Alexa dan Julia saling bertatap dan bersamaan menggeleng.
"Tidak Putri. Ikuti titah kami kali ini, jika Tuan tahu kami bisa habis." Apa boleh buat, mungkin lain kali saja.
Jiao Chan tak ingin menambah masalah untuk Alexa dan Jiao Chan.