Racial World Is Different

Racial World Is Different
DREAM



Mata jingga, rambut berwarna jingga panjang dengan bagian ujung rambutnya bergelombang, hidung mancung, bibir merah berry yang mungil, putih mulus kinclong. Dia gadis cantik menatap aneh tempat yang dipijaknya sekarang. Meneliti seluruh tempat itu, menatap bangunan dengan dipenuhi dekorasi istana kerajaan Yunani kuno.


"Dimana ini?" Kembali meneliti dan berjalan mencari seseorang.


"Lucia, kemari sayang." Gadis itu mencari asal suara yang terdengar.


Lucia? Siapa Lucia?


"Aku bukan Lucia, kau salah orang." Teriaknya membalas.


Gadis itu mencari sosok suara baringtone. Sekilas ia melihat bayangan yang berada di samping kirinya tepat ada sebuah pintu di sana.


Ia mencoba berjalan kearah pintu itu dan membukanya. Gelap, hanya ada lentera yang menerangi jalan. Tak terlihat jalan berbelok, hanya jalanan lurus tanpa pintu apapun. Dinding terasa dingin.


"Kenapa tempat ini begitu menakutkan? Tidak mungkin ada seseorang yang hidup di tempat seperti ini." Tapi rasa penasarannya dengan sosok bayangan tadi membuatnya ingin tahu.


'Siapa orang itu sebenarnya?


Apa dia bukan manusia?' batinnya.


Tiba-tiba saja sosok bayangan menyerupai pria di ujung jalan sana muncul. Wajahnya tak begitu jelas.


"Kemari Lucia sayang. Aku sudah menunggumu selama beberapa tahun." Gadis itu mundur beberapa langkah.


Pria itu tidak mungkin yang dia maksud adalah dirinya kan. Dia bukan Lucia. Lucia siapa yang dia maksud, apa Lucia yang dia maksud mirip dengannya.


Gadis itu merasa ada sepoian angin yang melintasinya. Terasa aneh, dari arah belakang seseorang seperti memegang rambutnya. Sosok pria itu tepat berada di belakangnya.


Apa yang terjadi? Bukankah barusan dia ada di ujung jalan sana, bagaimana bisa ia tiba berada di belakangnya dengan secepat ini. Tubuhnya kaku, gemetar. Dia bukan manusia. Jika dia manusia bukankah ia bisa melihatnya berjalan ke arahnya.


Pria itu mencium rambutnya dengan hati-hati gadis ini tak bisa bergerak sedikit pun. Bukan hanya rambut yang ia cium, tetapi juga lehernya, menciumnya dengan lembut takut ia melukai gadisnya. Ia menyandarkan wajahnya di leher gadis itu. Memeluknya dari belakang, menyalurkan rasa rindunya selama beberapa tahun.


"Aku menunggumu Lucia untuk kembali padaku, tinggal lah bersamaku." Tidak.


Ia tak ingin diperdaya dengan pria aneh ini. Ia memberontak, menghempaskan tangan pria itu dan menjauh darinya beberapa meter.


"Jangan berani kau menyentuhku. Aku bukan Luciamu." tegasnya.


Ia tak boleh takut oleh pria dihadapannya. Memangnya siapa dia seenaknya mencium. Dirinya bukan milik siapapun.


"Kau Ratuku, bidadariku. Kau itu milikku." Gadis itu menatap sinis pria dihadapannya.


Wajahnya tak jelas. Lentera itu terlalu gelap untuk bisa mengetahui siapa sebenarnya pria di hadapannya ini.


"Cih...jangan harap aku bisa terperdaya olehmu." Gadis itu berjalan menjauh.


Ia tidak akan melepaskan gadisnya, dengan kekuatannya ia menarik gadis itu lalu mengunci ke tembok dengan kedua tangan kekarnya.


"Kau... apa yang kau lakukan lepaskan aku." Teriaknya sekuat mungkin.


Pria itu tak peduli dengan teriakan gadis dihadapannya. Ia memegang bibir merah cherry gadis itu.


"Cantik." Gumamnya.


Oh tidak. Gadis itu tahu apa yang akan dilakukan pria misterius ini. Meski dua tangannya terkunci dengan satu tangan pria ini, masih ada kaki yang bisa membuatnya bebas. Ia melayangkan lututnya mencoba melepaskan diri dengan menendangnya.


Biar tahu rasa dia, batinnya.


Hah, ada apa ini? Kenapa sekujur kakiku tak bisa bergerak? 


"Apa kau mencoba menendangku?" Pria itu terkekeh.


Apa dia bisa membaca isi pikiranku, batinnya terkejut.


"Kau benar-benar hilang ingatan. Kau tak mengingat tentangku sedikit pun. Mungkin cara ini bisa memulihkanmu."


"Hei, cara apa yang kau maksud? Kalau dengan cara menci-"


*CUP*


"Tidak!! Ciuman pertamaku!!!"


"NO!!! HOSH... HOSH."


"Jiao Chan, kau baik-baik saja?"


"Tidak!! Dia merenggut ciuman pertamaku." Histerisnya membuat gadis di sampingnya menatap heran.


Siapa yang berani menciumnya? Tidak ada siapapun disini.


"Kau hanya bermimpi. Lihat ini asrama sekolah. Cepat kau lekas mandi, gerbang sekolah akan tutup sebentar lagi." Oh tidak.


Ia langsung bergegas masuk kekamar mandi.


Jiao Chan. Ia gadis periang, memiliki satu sahabat tak lain dan tak bukan Liu Changhai, mereka sekamar. Mereka baru menginjak usia SMA anak seusia mereka sekitar 17 tahun. Sekolah mereka terkenal dan memiliki asrama, jika yang tinggal jauh dari sekolah mereka bisa menginap di asrama, khusus pria maupun wanita. Satu kamar untuk dua penghuni.


"Kau sudah selesai?" Changhai mencoba memeriksa keadaan dikamar mandi.


Krek


Pintu dibuka, "Selesai." tampil seperti anak SMA lainnya. Rambut diikat sebagian dengan pita, dan dibagian tengah dibiarkan terurai, ada poni untuk bagian depan, menutupi keningnya.


"Okay, ayo kita berangkat." mereka segera keluar asrama berjalan menuju sekolah.


Sesampainya di sekolah tiba-tiba saja seseorang memanggil Jiao Chan.


Lantas Jiao Chan berbalik, "Senior Yu Lian, ada apa?" Yu Lian adalah Senior yang tampan, cerdas, dan suka dengan olahraga, ia memiliki banyak penggemar. Bisa dikatakan ia pangeran sekolah. Dan Jiao Chan adalah Junior primadona sekolah.


Jika Yu Lian dan Jiao Chan berpacaran tentu akan menghebohkan seisi sekolah. Dan membuat beberapa gadis lainnya kecewa ada juga yang senang. Perihal pangeran dan primadona cocok untuk bersatu. Jiao Chan bukan hanya cantik, tetapi juga cerdas diangkatannya. Sebanding dengan Yu Lian.


"Sepulang sekolah kau mau lihat pertandingan basket kami tidak?"


"Kelas Senior Yu Lian melawan kelas mana?"


"Tentu kelasmu." Hah? kelasnya Jiao Chan.


"Baiklah."


"Aku tunggu, aku ke kelas duluan ya." Jiao Chan mengangguk.


"Wah, wah.. Sejauh mana hubunganmu dengannya?" Kekeh Changhai.


"Jangan berlebihan, siapa yang tidak mengagumi sosok Senior Yu Lian. Semua gadis pun menyukainya." Pujinya.


"Kau benar, terutama gadis gila yang di sana." Changhai menunjuk 3 gadis yang datang mengarah mereka.


"Mau apa lagi mereka?" ketus Jiao Chan.


3 gadis itu berhenti tepat dihadapan Jiao Chan dan Changhai.


"Aku heran dengan junior seperti dirimu. Masih saja kau mendekati Yu Lian." Ucapnya dengan nada benci.


Jiao Chan tak peduli, ia menatap dingin 3 seniornya di hadapannya. Lalu beralih pergi. Untuk saat ini ia tak ingin berdebat dengan siapapun.


Tentu saja gadis itu tak membiarkan Jiao Chan pergi begitu saja.


"Beraninya kau mengacuhkanku, kau tidak takut siapa aku, eoh." Ia mencengkram kuat-kuat lengan Jiao Chan.


'Sakit' meringisnya.


"Lepaskan dia Xiao Lin."


"Beraninya kau mengacuhkanku,


kau tidak takut siapa aku, eoh." ia mencengkram kuat-kuat lengan Jiao


Chan.


'Sakit' meringisnya.


"Lepaskan dia Xiao Lin." Hening seketika saat terdengar suara Yu Lian dan berjalan menghampiri mereka.


"Kau masih saja berbuat kasar padanya." Ia menghempaskan tangan Xiao Lin dengan kasar.


Menyebalkan, lagi-lagi Yu Lian. Batin Xiao Lin.


"Ikut aku." Ia menarik tangan Xiao Lin dan menjauh dari kerumunan. Mereka semua langsung bubar saat Xiao Lin dan Yu Lian sudah jauh dari kerumunan.


"Yu Lian, seperti malaikat penjaga. Setiap kali kau kesulitan dia pasti melindungimu." Jiao Chan menanggapinya dengan senyum lalu meninggalkan Changhai yang terhipnotis perlakuan Yu Lian.


"Hei, hei tunggu aku." Ia berlari mengejar Jiao Chan.


Yu Lian bukan hanya satu atau dua kali ia selalu terlibat saat Jiao Chan kesulitan. Jika itu menyangkut Jiao Chan


ia harus terlibat. Ia tak ingin Jiao Chan terluka sedikitpun. Menurutnya, menjaga Jiao Chan adalah tugasnya.


"Sakit Yu Lian." Yu Lian menghempaskan tangan Xiao Lin.


Ia merasa kesal dengan tingkah Xiao Lin. Yu Lian mengacak rambutnya yang frustasi. Entah bagaimana harus menghadapi gadis ini.


"KAU GILA, HAH." Teriakannya membuat Xiao Lin ketakutan.


Ini pertama kalinya Yu Lian memperlakuannya dengan kasar, mencengkram tangannya, meneriakinya. Tiada pria


lain yang memperlakukannya seperti ini. Semua pria pasti akan takluk dengan kecantikan Xiao Lin, secara Xiao Lin gadis tercantik di sekolah. Dan semenjak Jiao Chan hadir reputasi tercantik di sekolah direnggut olehnya.


"Kenapa kau membelanya?" Ucapnya spontan keluar dari mulut Xiao Lin.


Terukir senyuman licik Yu Lian, "Kau masih bertanya? Apa kurang jelas perhatianku padanya?" Xiao Lin mengepalkan tangannya erat.


Yu Lian tak peduli apa yang dipikirkan Xiao Lin ia lantas meninggalkannya sendirian.


"Liat saja kau Jiao Chan. Permainan apa yang akan kumainkan padamu, kau pasti akan menikmatinya." Liciknya.