Racial World Is Different

Racial World Is Different
Memory (2)



Pemikiran yang berkecamuk membuat Ferius tidak bisa berpikir dengan jernih lantaran sang kekasih hilang entah ke mana.


Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya, cukup 300 tahun adalah hal terburuk baginya.


Jika kali ini ia kehilangan kembali Lucia nya, apapun caranya ia harus mendapatkan kembali pujaannya.


Untuk hatinya Lucia lah perempuan yang terindah, tak ada siapapun yang mampu membuatnya luluh.


Sikap keras hati Ferius tidak mampu dipatahkan oleh siapapun, dan tiba-tiba saja kehadiran Lucia meluluhkan hati baja seorang Ferius.


"Di mana kau sebenarnya LUCIAAAA?!" Betapa frustasinya dia, di taman dekat sungai tempat terakhir dia berpijak tak ada dirinya di sana.


Ferius berbalik, tangannya mengepal. Bawahan yang berada di sana ketakutan setengah mati memikirkan nyawanya apakah akan berakhir hari ini.


Alexa dan Julia menunduk mereka gelisah, merutuki kesalahannya. Andai saja mereka tak meninggalkan Lucia, tidak bakal terjadi hal seperti ini.


"Saya mempekerjakan kalian bukan membuat Lucia dalam bahaya. Kalian pikir saya akan berhati baik karena kalian bekerja sudah lama denganku. Di mana sikap hati-hati kalian, hah!" tegasnya membuat Julia dan Alexa merinding.


Bodohnya! Kenapa bisa seceroboh ini? pikir mereka.


"Tuan Ferius tenanglah. Saya yakin Putri Lucia baik-baik saja, kalau Anda hanya emosi seperti ini tak ada gunanya. Sebaiknya kita mencarinya." Pengawal Ferius benar, percuma dirinya meluapkan amarahnya Lucia tidak akan di temukan.


Ckiitt


Suara pintu terbuka berdecit keras, pintu? Jangan-jangan gerbang itu terbuka.


Ferius berlari sekencang mungkin, tidak ini tidak boleh terjadi.


Ferius sampai di depan sebuah gerbang dan nampak di sana Lucia yang sedikit lagi tertutupi oleh pintu gerbang itu. Apa dia membuka gerbang itu dengan setetes darah?


"LUCIAAA! KEMBALI JANGAN MASUK KE SANA." Teriaknya, tapi Lucia tak menggubris percuma. Ia sudah memasuki kawasan peperangan saat itu bersama Ferius, entah apa yang akan terjadi setelah Lucia keluar dari gerbang itu.


Ferius geram, ia memanggil penjaga gerbang yang menyerupai kunang kecil.


"Beraninya kau! Kau pikir aku tidak akan berani memusnahkanmu makhluk kecil."


"Tuan Ferius, kita harus secepatnya membuka segel ingatannya."


"Jika segel itu membuat tubuh Lucia yang bentuk manusianya terjadi sesuatu tidak akan kubiarkan kau hidup dengan baik." ancamnya.


Kunang itu tidak memperlihatkan sikap ketakutannya. Yang dilakukannya adalah hal yang terbaik, bukan membuat dua dunia ini dalam bahaya.


"Percayalah padaku Tuan Ferius." Ferius menunggu hingga lewat 3 jam.


Ketakutan, risau, khawatir. Entah apa yang harus dilakukan, ia mendobrak gerbang dengan tubuh kekarnya. Semua kekuatan ia keluarkan untuk membuka gerbang emas itu.


"Keparat kau KUNANG BEJAT! Sudah 3 jam berlalu, kau masih menampakkan wajah polosmu. KELUARKAN LUCIA DARI DALAM, ********." teriaknya.


"Tuan Ferius tenanglah, kau ingin Lucia seperti dulu kan?"


"Kau pikir Lucia bukan manusia. Persetan dengan perubahan Lucia." Ferius mengobrak-abrik pohon disana, menghancurkan semua yang di lihatnya.


Tidak ada yang mampu menenangkannya. Semuanya menunduk ketakutan, Alexa dan Julia memainkan jemarinya. Sedangkan pengawalnya berusaha untuk menahan kekuatan Ferius.


****


Suasana tenteram, suara kicauan burung saling berpagutan, decitan tanah dan kaki Jiao Chan terdengar. Sepi tiada siapapun disini.


Jiao Chan merasa mual lantaran bau yang tercium terasa menjijikan, bau amis. Jiao Chan menginjak sesuatu yang lengket, warna yang sudah pudar kehitaman, tapi masih kental selama beberapa tahun berlalu, aneh.


Ia membungkuk jarinya menyentuh cairan lengket tersebut, dia memberanikan diri mencium. Kepalanya pening, ada secercah ingatan tidak jelas di benaknya.


Berteriak sejadi-jadinya, menyakitkan. Entah mengapa ingatan itu membuat dadanya sesak, deruan nafasnya tertahan. Ia memegang dadanya, jantungnya berpacu dengan kencangnya. Tubuhnya gemetar, apa yang terjadi sebenarnya? Hatinya berkata.


"AAAAAHHHH." Ingatan itu semakin jelas, burung terperanjat dari tempatnya karena terkejut. Teriakan kesakitan yang dialami Jiao Chan terdengar hingga sekitar hutan.


Siapa yang akan menolongnya? Sakit kepalanya semakin membabi buta. Perlahan mata coklat itu semakin buram, cahaya disekitar matanya memudar, "Siapapun... tolong aku..." ucapnya lirih, seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Ia terduduk dengan keadaan tak berdaya.


Perlahan, matanya mulai menutup. Pandangan menghitam. Ia pingsan di tengah-tengah hutan belantara dengan bau amis yang menderu pelosok hutan.


Jiao Chan berharap ada seseorang yang menolongnya saat ini, kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuknya berdiri apalagi untuk sadar dari pingsannya. ia seakan terjerat ke lembah lain, tempat yang berbeda.


Matanya perlahan membuka, nuansa tempat yang di pijaknya berbeda sewaktu ia masuk di sebuah hutan. Ini bukan hutan, melainkan sebuah halaman yang megah bertebaran bunga-bunga berwarna-warni cantik dan menarik di mata Jiao Chan.


Bunga yang diterangi matahari semakin menampilkan kesan menawan. Jiao Chan tertarik untuk menjangkau salah satu bunga berwarna lilac. Dipetiknya satu tangkai, dalam hatinya teringat sosok pria tegas, kasar, dan menyebalkan, Ferius.


Semakin memikirkannya, benaknya tak bisa bekerja dengan baik. Hatinya geli mengingat Ferius. Namun, ada sensasi sengatan lebah yang mengiris dirinya, tercampur jadi satu, sakit dan bahagia yang mengalir begitu saja.


Air mata tuntas keluar dari tempatnya bersembunyi. Ia kembali pada zona kesedihan yang menderunya.


"Ada apa denganku?" Tiap jengkal ilusi kenangan dahulu muncul satu persatu.


"Ferius... hikss.. hikss." Runtuh sudah tangisnya.


Gejolak kerinduan, kesakitan. Ia mengingat, kenangan indahnya bersama di sebuah halaman megah ini. Bukan hanya itu, perihal peperangan pun hadir melingkupi hidupnya. Awal manis, berubah tragis.


"Ferius.." Ia terduduk melihat banyang sepasang wanita dan pria bergurau tepat di hadapannya.


Ia mendekati sepasang kekasih itu yang saling berpegangan tangan dan berhadapan.


"Luciaku, Kekasihku... ingat kataku. Aku akan selalu mendampingimu, walau maut memisahkan. Jangan pernah pergi dariku, sampai kau menghilang. Akan kucari kemana pun kau pergi." Wanita itu tersenyum bahagia seraya mengangguk.


Wanita bernama Lucia itu memegang wajah pria berparas tampan, "Hatiku hanya untuk Xander Osferius. Kau boleh membunuhku jika hatiku berpindah." Ciuman menambahkan kesan romantis diantara mereka.


Bibirnya terkatup rapat memandang pasangan yang saling mencintai itu.


"Itu.. itu aku? Lu-Lucia?" Wanita bernama Lucia menatap intens Jiao Chan. Tajam, tegas, dan berwibawa. Tampang Jiao Chan terdahulu layaknya seperti wanita Ia tersenyum dan menghampiri Jiao Chan


Dipegangnya pundak Jiao Chan, "Kau adalah aku, dan aku adalah kau."


"Dan dia." Ia menunjuk lelaki bernama Xander Osferius.


"Dia Xander Osferius, kekasihmu terdahulu hingga sekarang."Ia berjalan sambil menceritakan kejadian 300 tahun yang lalu.


Tidak ada keharmonisan antara dua kaum yang berbeda terus berseteru hingga kedua insan yang saling mencintai harus terpisahkan. Ferius seorang pewaris tahta Kerajaan Darkness World harus mengorbankan Ratu Kerajaan Haveanly World.


"Lucia..." Ia berbalik menatap lembut Jiao Chan.


"Aku mempercayaimu untuk mendamaikan dua dunia ini. Lakukan tugasmu, dapatkan kembali kekuatanmu." Dua bayangan sejoli itu memudar perlahan.


"FERIUS!"