
Tidak akan pernah seorang Jiao Chan terjerat akan sosoknya. Cih, menjijikkan.
"Hah satu lagi, aku bukan Lucia. Namaku JIAO CHAN." Ucapku dengan nada penekanan.
"Baiklah Jiao Chan. Tapi kau tahu, namamu terdengar aneh, jika orang lain mendengarnya."
Aku tak peduli, nama itu pemberian dari orang tuaku. Untuk apa aku harus mengubris pendapat orang lain tentang namaku.
"Nama sebuah pemberian, jangan berdebat denganku tentang nama." Ketusku.
"Lucia Amberlyana, bukankah kedengarannya lebih cantik." Kenapa selalu menyentuh rambut dan tengkuk ku.
Membuatku merinding dengan sentuhannya, aku harus mengontrol kembali diriku.
"Hei, aku sudah bilang jangan menyentuhku pria mesum."
"Xander Osferius."
"Tidak, tidak. Sebutan pria mesum lebih pantas untukmu."
"Lucia!"
"Berhenti memanggilku Lucia."
"Jangan memanggilku mesum juga kalau begitu."
"Pria sinting!"
"Sinting? Kau kejam. Aku waras Lucia."
"Jiao Chan.. bukan Lucia, Xander."
"Pintar, panggil aku Xander." Dia mengelus rambutku, lagi. Tapi aku tak akan luluh darinya.
Aaarrgghhh... kenapa sulit sekali menghadapi pria ini sih.
"Ayo ikut aku." Kali ini aku lebih baik nurut.
****
Ternyata taman ini berada didalam castle menakjubkan. Aku semakin terpana begitu banyak pelayan dan beberapa pengawal. Tapi, aura mereka menyeramkan. Cara mereka menatapku seperti ingin menerkamku habis saat ini juga.
Eh? Ke mana psikopat itu? Dia menghilang meninggalkanku sendiri di sini dengan beberapa pengawal dan pelayan menatapku bengis begini.
Plus gila dia! Mati kau Jiao Chan.
"Nona, silahkan ikuti saya." Siapa lagi dia?
"Saya akan mengantar nona ke kamar yang sudah disediakan." Aku mengangguk.
Aku cukup lelah, tenagaku terkuras akibat berdebat dengan pria pucat itu.
Memasuki Castle semakin terpana akan pesona instruktur desainnya. Tembok yang berbalut lapisan cat berwarna merah dengan kiasan-kiasan ditembok.
Aku melewati lorong. Aku merasa asing dengan lorong ini. Hah benar. Tempat dimana aku pertama kali bertemu si wajah pucat. Dan ciuman pertamaku.
Sial!
Mengingatnya saja, darahku mendidih. Tak habis pikir dengan tingkah pria gila itu, mencium, menyentuh rambutku, sesekali menatapku sendu, seolah-olah rindu selama ribuan tahun.
"Silahkan masuk, Nona." Lamunanku buyar.
Lihat kamar ini, bahkan lebih besar dari kamar asramaku. Aku membuka kamar mandi, bahkan kamar mandi dua kali lipat lebih besar dari kamar mandiku. Siapapun pasti menginginkan tempat ini. Aku melihat ranjang super big, untuk 4 orang pun bisa tidur diatasnya.
Kuhempaskan tubuhku, nyaman empuk. Kucium aroma cover bed, semerbak aroma bunga. Aku suka ini. Megah. Kapan lagi aku bisa menikmati kemewahan ini. Inin adalah puncak kejayaanku, beginikah rasanya menjadi orang kaya. Sewenang-wenang.
"Kau menyukainya?" Suara baritone menyadarkanku.
Kuperbaiki posisiku, "Ya.. memang sedikit nyaman." Aku menatapnya ketus.
Tidak ada wajah senang kuperlihatkan untuknya.
"Memangnya aku harus mengatakan apa, hah?" Tidak akan kubiarkan mulutku berkata puas.
"Untuk membuatmu lebih senang. Akan datang seorang teman untuk menemanimu selama di castle." Wow.. aku bisa berbincang selain dia. Si muka pucat mesum.
"Aku pergi dulu." Apa penguasa castle ini tidak memarahinya berkeliaran di sini? Selalu datang tak diundang, pulang tak di antar.
Dasar kuyang!
"Permisi Nona, kami pelayan yang akan melayani Nona. Apapun yang Nona perintahkan, titah Nona akan kami sanggupi." Bisa kukatakan mereka cukup setia.
Aku mendekati mereka. menelisik sembari berpikir, makhluk aneh. Menatap dari bawah hingga kepala. Lucu, telinga mereka lebar dan runcing, persis Makhluk Astral Elf.
Apa ini asli? Aku menyentuhnya untuk memastikan, bahwa itu bukan tempelan yang dibuat-buat layak film-film Lord Of The Rings.
"No-nona.." Kurasa mereka merasa geli atas sentuhanku. Sensitif juga.
"Siapa nama kalian?"
"Nama saya Alexa, dan dia saudara saya Julia." Mereka kembali menunduk setelah mengucapkan sepatah kata.
Menyebalkan, aku tak suka sikap mereka yang terlalu merendahkan diri.
"Angkat wajah kalian. Aku tidak suka kalian menunduk padaku, kita ini sama. Jangan anggap aku Nona castle ini."
"Tapi Nona..."
"Aku tidak suka dibantah." Aku merangkul mereka dalam dekapanku.
"Anggap aku teman kalian." Mereka membalas pelukanku.
Rasanya aku diterima di sini. Setidaknya aku mendapatkan hati mereka untuk menemaniku di dunia aneh ini.
Entah bagaimana kelanjutan kisahku di dunia ini. Berbeda dengan bumi. Kuno, persis dengan sejarah kerajan Yunani periode Arkais. Aku sebenarnya tidak percaya tentang masa-masa kejayaan Yunani, ini tabu. Tapi dilihat dari sisi kerajaan ini persis dengan buku mengenai Yunani.
Pelajaran sejarah mengenai pertarungan-pertarungan sengit, sampai dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi manusia modern, bahkan di sini ada manusia yang berpaduan dengan sato. Sungguh bagus, aku bisa melihat makhluk-makhluk astral yang tidak aku yakini keadaannya.
Ada untungnya juga aku ada di sini. Aku bisa belajar banyak di sini.
"Nona... apa Anda butuh sesuatu?" Aku menepuk keningku.
Telinga mereka lebar, tapi tetap saja mereka tuli. Tanganku gatal, memberi mereka sedikit pelajaran.
"Nona, apa yang Anda lakukan? Kenapa telinga kami dijewer?"
"Nona, Nona... Namaku Jiao Chan. KALIAN MENGERTI KAN." Tampang mereka terkejut atas tindakanku.
Berteriak tepat di telinga mereka bukanlah sikap yang baik. Siapa suruh mereka membuatku kesal.
Mereka mengangguk, "Ma-maafkan kami, Ji-Jiao Chan." Aku tersenyum simpul. Kan beres kalau begini.
"Oh iya, berikan aku makanan." Sebelum mereka keluar, aku menahan salah satu di antara mereka, Alexa.
"Ceritakan aku mengenai kerajaan ini." Tanganku menyilang di depan dada. Alexa, dia seorang wanita yang cantik meski kuping yang lebar dan runcing bertengger di sisi kiri dan kanan kepalanya. Rambut kuncir satu dengan kulit sawo matang, tubuh ramping, mata bulat, bibir tebal sensual, dan hidung mancung, ada mahkota bunga sebagai hiasan dikepalanya. Cantik.
"Jiao Chan pasti nantinya akan tahu tentang dunia ini. Lebih baik istirahat saja dulu." Menghela napas atas respon yang tidak kuharapkan.
Beberapa berselang berbicara dengan Alexa, Julia datang membawa nampan. Berisikan beberapa makanan. Makanan di sini apakah sama dengan yang di bumi?
"Koki castle di sini sangat pandai dalam memasak. Makanan bumi dengan dunia ini tidak jauh berbeda, pasti sesuai dengan selera Anda. Silahkan di makan, kami keluar sebentar."
"Ahh iya... jika perlu sesuatu silahkan panggil kami. kami berjaga di depan kamar Anda." Lanjutnya.
Aku menatap intens suguhan nampan di atas meja berada di samping ranjangku. Bagaimana besok? Apa aku akan kembali ke bumi. Jika dipikir-pikir, Xander pernah mengatakan portal ke bumi tidak akan di buka. Berarti biarpun aku tertidur dan terbangun keesokan harinya aku tetap berada di dunia aneh ini.
Penuh dengan makhluk astral tak kukenal kecuali si muka pucat mesum itu. Aku mungkin harus tetap tenang dan ikuti saja arahan dari muka pucat itu.
Semoga saja aku baik-baik saja di sini.