
Perasaan gusar dan khawatir. Changhai termenung di tempat duduknya dekat jendela. Menatap bisu pemandangan di luar, memikirkan Jiao Chan bagaimana sekarang.
"Senior pun belum ada kabar." Apa yang mesti ia lakukan? Orang tua Jiao Chan memang tidak menanyakan apapun tentangnya. Tapi, guru-guru di sekolah menanyakannya. Ia bingung, entah ke mana lagi mencari Jiao Chan.
"Kasihan sekali, sahabatnya hilang seakan ditelan bumi. Hahaha..." Di saat seperti ini, masih ada saja pengganggu. Jahat sekali, dasar gadis tidak punya hati.
"Pergilah sebelum aku bertindak di luar kendaliku. Tidak mood meladeni orang gila seperti kalian." Datarnya, setelah itu ia melengos pergi. Xiao Lin tidak suka diabaikan seperti ini. Ia mencengkeram tangan Changhai. Gadis itu geram, saat ini ia muak.
"Hei, apa kau sungguh tak waras? Lepaskan aku." Changhai menariknya dengan paksa hingga meninggalkan bekas dipergelangan tangannya tidak memikirkan sakit tangannya yang dicengkeram.
"Aku tidak ingin beradu denganmu." Dia kembali berbalik menatap tajam Xiao Lin, "Oh iya, kau tidak berhak mengatai sahabatku, karena kau lebih buruk dibandingkan Jiao Chan." Dia pergi meninggalkan Xiao Lin yang kesal beribu kebencian.
"Changhai semakin berani saja denganku."
"Yu Lian belum juga kembali sekolah. Selama itu ya liburannya." Lanjutnya. Mereka tidak tahu saja apa yang dilakukan Yu Lian.
****
Tidak ada yang aneh di Castle ini. Bahkan sosok Ferius pun tidak pernah terlihat sama sekali. Manusia yang dikatakan bawahannya pun tidak terlihat juga. Apa ini semacam tipu muslihat saja. Percuma saja dia menyamar jadi pelayan pria, notabenenya dia tidak mengetahui apapun di dalam Castle ini.
"Mana manusia itu, hah?" Mata-matanya itu menunduk takut.
"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya saya keliru." Ia menautkan alisnya.
"Keliru?"
"Ini... ini, mungkin saja.. ini Castle tiruan." Ashley terkejut. Tiruan?
"Apa?!"
"Sebelumnya, saya sudah mulai curiga dengan istana ini, Tuan." Ashley memang curiga dari awal. Pelayan-pelayan di sini aneh. Mereka seakan tak peduli dengan kedatangan Ashley saat ingin sumpah janji setia di Castle.
Terlebih lagi penguasa di sini wajahnya tidak pernah nampak.
"Kurang ajar! Ternyata firasatku benar."
Plaakk.
Tamparan mendarat dipipi bawahan Ashley, meninggalkan bekas kemerahan.
"Kau yang membawaku ke sini. Tidak meneliti istana ini dulu."
"Tuan, sebelumnya istana ini tidak seperti ini." Timpalnya.
"Apa maksudmu penguasa kegelapan tahu rencana kita, begitu?"
"Sepertinya begitu, Tuan."
"Ini semua karena kau tidak waspada."
"Tidak waspada bagaimana, Tuan Ashley." Suara bariton dari belakang menyadarkan Ashley dan bawahannya.
Siapa dia? Batinnya dalam hati. Aura yang kuat di sekitarnya, ketegasannya, kharisma dan kewibawaannya. Layak seorang pemimpin.
"Tu-Tuan Xander Osferius." Ashley membulatkan mata.
Jadi dia Xander penguasa Darkness World. Ia menggertakkan giginya. Emosi.
"Rupanya kau penguasa kegelapan." Ujarnya tersenyum sinis.
Ferius memandangnya datar.
"Di mana Jiao Chan kau sembunyikan?" Tidak perlu basa basi.
Ferius tersenyum licik.
"Jiao Chan? Siapa dia?" Ferius berpura-pura tidak mengenal. Padahal ia tahu siapa Jiao Chan.
"Tidak usah berpura-pura. Aku tahu, kau yang selalu menguntitnya saat di bumi." Menguntit?! Cih.
Ferius tertawa mengejek, "Kau cukup teliti juga Ashley."
Ashley memandangnya sinis, "Kembalikan Jiao Chan hidup-hidup padaku, sekarang."
Ferius mendekati telinga Ashley, membisikkan sesuatu yang membuat Ashley geram.
"Beraninya kau!" Ia mengepalkan tangannya.
Ferius tertawa terbahak-bahak melihat Ashley geram.
"Kau pikir aku tidak tahu Jiao Chan itu reinkarnasi Lucia." Ashley memandangnya tajam.
"AKU KATAKAN SEKALI LAGI PADAMU TUAN XANDER, KEMBALIKAN JIAO CHAN." Penekanan yang tajam membuat Ferius memandangnya raut wajah membunuh.
"Dia bukan Lucia yang kau cari." Ia berusaha menyembunyikan Jiao Chan padahal Ferius tahu.
"Jangan mencoba membodohiku. Penciumanku tidak pernah salah. DAN KAU!" Ferius mulai emosi.
"Cih! Angkuh sekali kau Tuan Xander. Derajatmu bukanlah hal pantas kau sombongkan." Ferius menaikkan alisnya. Ia menarik kerah baju Ashley siap melayangkan pukulan mematikan.
"HENTIKAN!" Suara nyaring menghentikan kepalan tangan Ferius yang siap dilayangkan tepat di wajah tampan Ashley.
Orang-orang yang berada di sana mengalihkan pandangannya.
Ashley terkejut, suara nyaring itu wanita yang dicarinya selama ini. Ferius melepaskan genggamannya di kerah baju Ashley.
Fusshh
Ferius sudah berada di samping wanita itu, menggenggam erat tangannya.
Genggaman menyiratkan kesungguhan hati, seolah tak ingin melepaskan genggaman itu selamanya.
Wanita itu menatap Ferius intens, bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan sifat Ferius.
"Jiao Chan..." Ia terkejut.
Hanya orang bumi yang tahu nama aslinya. Dan pria itu siapa.
Fushh
Ashley mengubah dirinya. Sosok Yu Lian terpampang nyata di hadapan Jiao Chan.
Kejutan apa lagi ini?
Ia mengusap kasar matanya berkali-kali.
Mencoba mencercah kenyataan yang tidak masuk akal baginya.
Jadi, selama ini Yu Lian juga seorang monster? Tidak, ini tidak mungkin.
Yu Lian adalah manusia. Dunia ini wujud penghuninya layaknya manusia. Namun, secara ilmiah penghuni di sini memiliki kekuatan dua kali lipat dan bahkan sepuluh kali lipat dari manusia.
Mereka mampu mengubah wujud, dan manusia hanya menganggap hal tersebut tabu. Hanya dalam negeri dongeng tak nyata.
"Kau...kau bukan Yu Lian. Dia tidak mungkin ada di sini. Bagaimana caranya dia melewati di mensi dunia yang aneh ini?" Ferius semakin mengeratkan genggamannya.
"HEI! KAU MENYAKITIKU, FERIUS!" Ashley tak salah dengar?
Jiao Chan memanggilnya Ferius, dan terdengar mereka sudah saling akrab.
Ashley tak bisa tinggal diam, mereka tidak boleh terjalin.
"Ikut denganku Jiao Chan. Kita akan kembali ke bumi, ini bukan tempatmu." Jiao Chan masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Seolah di depannya adalah tipuan untuk memanipulasi dirinya.
"Aku-"
"Tidak akan kubiarkan kau mengambil barang yang menjadi milikku." Jiao Chan berdesis marah.
"Hei! Aku makhluk hidup bukan benda mati."
"Siapa kau? Kau tidak berhak menahan jalan orang lain."
"Sejak kelahiran Lucia, dia sudah dituliskan dalam takdir. Aku dan dia terjalin." Jiao Chan tidak paham arti terjalin seperti apa.
"Hahahaa... Lucu sekali. Kau dan dia terjalin, tapi tidak dalam ikatan cinta. Namun, sengketa dalam perebutan wilayah." Ferius menggertakkan giginya amarahnya meluap.
Dia sudah naik pitam sejak kedatangan Ashley. Anak itu pantas untuk mati.
Memotong urat-urat lehernya secara tiba2 tidak membuatnya cukup.
"Jangan pernah kau gubris di depan Lucia ku tentang perebutan wilayah. Aku tidak akan pernah menimbulkan kekacauan antar dua wilayah di masa depan." Ashley tersenyum licik.
Benarkah dia makhluk kegelapan pemilik Darkness World yang disebut berdarah dingin itu? Bagi Ashley, Ferius hanyalah anak yang kekurangan dari rasa sayang. Sifat kekanak-kanakan takut kehilangan Lucia.
Lucia bukan dari Darkness World. Mereka berbeda sulit untuk menyatukan keduanya.
"Sejak kapan kau tidak suka perkelahian Tuan Xander?"
"Mulutmu itu tidak ada sopan santunnya, ya. Biar ku luruskan bibirmu agar tidak mengeluarkan kata yang sia-sia."
"Kau berani? Hahahha... aku sama sekali tidak takut Tuan Xander, jika di Castle kesayanganmu ini terjadi pertumpahan darah antara aku dan kau."
"Dengan senang hati meladeni hewan busuk sepertimu."
Mereka siap siaga dengan posisi mereka untuk bertarung. Namun, secepat kilat pula Jiao Chan berada di tengah mereka, menghentikan langkah mereka dalam bertarung.
"HENTIKAN! KALAU TIDAK AKU AKAN BUNUH DIRIKU DENGAN BELATI INI." Ferius terkejut.
Sejak kapan ia menggenggam belati sakti itu.
"Coba saja kalian bertengkar. Aku juga semakin menusukkan belati ini tepat di jantung."