
Jiao Chan duduk termenung di balkon kamarnya, berdiri sembari menatap buku yang digenggamnya saat ini. Selesai sarapan ia memutuskan beristirahat, bertanya-tanya dalam benaknya. Apa gunanya buku ini?
Dia menatap tangan kanannya, semenjak di hutan yang terjaga itu dia merasa dirinya aneh. Tidak mudah lelah dan merasa kekuatannya lebih dari sebelumnya ia datang ke negeri mengerikan ini. Mungkinkah semua ini hanyalah kebetulan saja? Atau kenyataannya dia renkernasi Lucia. Ia harus percaya, bahwasanya dia Lucia, jika itu terbukti kebenarannya.
Ia mengembuskan napasnya dalam lalu kembali masuk ke kamar mondar mandir tidak jelas memikirkan cara mendapatkan pasangan buku itu agar terbuka. Dia ingin sekali tahu isi buku itu, karena dengan itu ia mampu tahu segalanya tentang Haveanly dan Darkness tentu juga ia bisa membuka aura Lucia.
Tampilan bukunya yang unik, ukiran kunci sebelah kanan dan bagian depan terdapat gambar Bunga Bluebell, warna bukunya emas seperti warna gerbang yang pernah di pijaknya.
“Sepenting itukah buku yang kau genggam?” Jiao Chan benar-benar kaget, jantungnya dikejutkan dengan paksa, hampir keluar dari kabinnya. Ashley mengangkat sebelah alisnya melihat Jiao Chan tengah mengatur deru napasnya.
“Buku apa itu?” dia mendekat, buru-buru Jiao Chan menyimpannya di laci mejanya.
“Tak penting.” Jiao Chan membalikkan badan Ashley dan mengajaknya keluar kamar untuk pergi ke ruangan semalam.
“Kau masih saja ingin ke sana?”
“Aku tidak suka setengah-setengah saat mencari sesuatu, aku harus menuntaskannya.” Ashley berhenti dan menilik Jiao Chan, dia merasa risih Ashley menatapnya tajam begitu.
“Apa?!”
“Menuntaskannya lalu kembali ke Darkness World?” Jiao Chan berkacak pinggang mendengus mendengar tuturan kata Ashley.
“Kau pikir setelah tuntas aku akan bersamanya di dunia mengerikan ini? Jangan harap dan tidak denganmu.” Pria itu tersenyum sarkastik.
Mereka kembali berjalan sembari menghirup udara segar di pagi hari, bunga-bunga yang bermekaran dan serangga kecil beterbangan riangnya hinggap di bunga. Mengisap sari-sarinya, mengawinkan dengan bunga lainnya. Kupu-kupu bercorak mengepakkan sayapnya.
“Bukankah pagi adalah kesenangan bagi penghisap sari bunga?” Ashley mengangguk mendengar ocehan Jiao Chan yang menurutnya tidak jelas.
“Dan malam adalah kesenangan bagi bangsa penghisap darah.” Pria itu berhenti kembali memandang Jiao Chan datar tak terbaca ekspresinya.
“Kau sudah melihat makhluk seperti itu?” gadis itu melipat kedua tangannya di dada. Berpikir sejenak, dunia ini bukan hanya ada Elf dan makhluk seperti Ashley, Griffin. Tubuh, sayap, kaki dan tangan terbentuk dari dua mahkluk yakni burung dan berkepala singa. Katanya dianggap sebagai kecerdasan yang sangat tinggi.
“Aku tidak merasa terkejut lagi bila suatu hari aku melihat makhluk bernama vampire. Lebih dari itu, beribu-ribu makhluk aneh ada di sini.” Tuturnya.
“Sebaiknya kau menjauhi makhluk seperti itu, dia lebih berbahaya dari Osferius.” Kalau dipikir-pikir, ia belum pernah melihat wujud Xander yang sebenarnya.
“Secara langsung kau mengakui Xander bukanlah makhluk kejam.” Ashley membenarkan, jika dia kejam bukankah dia akan melukai Jiao Chan untuk mengambil darahnya. Secara Jiao Chan ini adalah makhluk suci dari bumi.
“Di dunia ini, apakah semua makhluk meminum darah? Dari yang kuperhatikan tak ada manusia di sini, kecuali aku.” Ashley menghela napas.
“Berhenti membahas tentang hal seperti itu. Ada waktunya akan diperlihatkan tentang dunia ini.” Ashley berjalan mendahuluinya secepat mungkin.
Jiao Chan berceloteh dalam hati, “Dasar mahkluk gila. Tunggu, woi!”
** ******
Akhirnya mereka sampai di tempat yang ditujunya semalam, tempat favorit ibu Lucia. Ruangan yang nampak perpustakaan pribadi dan ada tempat peristirahatan usai membaca, ruangannya lebih jelas dibanding semalam, cahaya memancar dari ventilasi menerangi rak-rak buku di dalam sana, tanpa sadar di sebuah meja
rahasia cahayanya jauh lebih mencolok.
Jiao Chan berlari kecil menghampiri meja tidak jauh dari rak dan dekat dari pintu masuk ruangan. Nampak sekilas dari balik kain lusuh itu berbentuk seperti tombol, saat Jiao Chan membuka kain lusuh itu, jelas itu sebuah tombol tercetak laiknya Bunga Bluebell.
Persis cetakan di buku, ini pasti tombol menuju ke ruang rahasia. Tanpa menunggu lama, dia menekan tombol itu tidak peduli teriakan Ashley yang menyuruhnya berhati-hati. Bisa saja itu adalah tombol membawa ke malapetaka bagi mereka.
Beberapa rak buku di belakang bergeser membuka celah ke ruang lain, Jiao Chan lurus memandang ruangan itu, tidak peduli teriakan pria yang sudah menggila di belakangnya, frustasi karena tidak mendengar, berasa tuli. Dengan perasaan gusar dia mengikutinya dari belakang.
Setelah memasuki ruangan itu nuansa gelap diselimuti ketakutan-ketakutan bagi Jiao Chan, bagaimana tidak. Ruangan itu dipenuhi bau amis dan ada beberapa kepala tengkorak di letakkan di deretan penyangga tertempel di dinding, berbaris tak terhitung tengkorak itu.
Dia mendekat, dan ada secarik kertas menempel di dinding tertulis bahasa asing yang tidak dipahamkan sama sekali oleh Jiao Chan. Dia mencabut kertas itu dan diberikan kepada Ashley, menyuruhnya mengartikan.
“Jika kau mencari tahu tentang tengkorak-tengkorak ini, ajal akan menjemputmu.” Apa?! Jiao Chan terkejut bukan main. Permainan apa lagi kali ini yang di dapatnya, ia hanya butuh sebuah kunci tidak ingin mengetahui tentang tengkorak-tengkorak itu.
Ada lagi secarik kertas terlipat disembunyikan di bawah tengkorak itu, dengan pelan ia menarik kertas itu tanpa membuka, dia memberikan langsung ke Ashley. Bahasanya pasti tulisan cacing dan matanya akan pusing untuk mencoba belajar tulisan aneh ini.
“Baca sendiri.” Apa-apaan anak ini, mana bisa dia baca.
Perasaan kesal dia tetap membuka kertas itu, matanya membelalak.
“Ini…” dia memandang terkejut.
“Makanya buka dulu baru menyuruhku untuk membacanya.” Yang dibuat terkejutnya adalah tulisan itu berasal dari bahasa Jiao Chan, Tiongkok.
Kok bisa?
Ini ‘kan dunia yang bahasanya bahkan jauh berbeda. Yang lebih anehnya lagi, seolah-olah tulisan itu dibidikkan khusus untuk Jiao Chan.
"Jika surat ini terbaca oleh bangsa asing, kuharap tulisan ini dipahami olehnya. Teruntuk dia, segera temukan kunci itu. Temukan buku usang lainnya sebagai petunjukmu menemukan kunci itu. Seseorang telah menunggu."
-- LSV --
“LSV?” Jiao Chan bingung sembari memandang Ashley yang tengah berpikir. LSV? Dia pernah mendengar singkatan itu.
“Jangan-jangan…” Ashley segera keluar dari ruangan itu lalu mengobrak-abrik laci-laci meja dekat pintu masuk.
“Semalam aku mengobrak-abrik rak, dan aku menemukan buku aneh lalu kusimpan di laci meja. Siapa tahu saja ini penting.” Dia memberikan kepada Jiao Chan.
Dia memegang buku itu, buku yang sama dengan yang dimilikinya, gambar sampulnya pun sama. Yang membedakan hanya sisi pembukaan buku. Buku yang Ashley dapatkan sisi bukanya di sebelah kanan, sedang milik Jiao Chan sebelah kiri. LSV itu mengatakan buku ini sebagai petunjuknya untuk menemukan kunci itu. Serumit inikah untuk pulang, Ya Tuhan.
Raut wajah terpampang jelas kebimbangan, apa yang harus disenangi dari hidup yang tidak cocok pada rutinitas modernnya terdahulu. Entah kunci itu jika ditemukan akan berguna seperti apa baginya.
Di tempat itu dia merogoh ke sudut-sudut ruangan Nampak mencurigakan, siapa tahu saja ada petunjuk lainnya.
“Kenapa kau tidak coba buka buku ini?”
Jiao Chan mendesah lenguh seraya membuka matanya, “Kau saja. Buku ini bisa saja mengeluarkan sesuatu yang membahayakan hidupku,” ujarnya, “Aku hanya manusia biasa, singgah sementara tidak bertahan selamanya.” Lanjutnya.
Tanpa hati-hati, Ashley bahkan tidak berpikir buku itu memiliki efek berbahaya untuk dirinya dan sekitarnya.
SRAAAA
Ashley menjatuhkan bukunya, Jiao Chan membelalak.
“Geia, zitiste i skotoste.”
---- TBC ----