Racial World Is Different

Racial World Is Different
SINCERITY



*POV JIAO CHAN*


Aku bisa melihat dari bola matanya yang tajam memancarkan ketulusan. Perlakuannya selama ini kepadaku, tatapannya yang begitu menyayangiku. Tapi aku ragu akan diriku sendiri, apakah aku bisa hidup bersamanya selamanya? Sedangkan aku manusia biasa dan dia makhluk abadi.


Aku menua dan dirinya selamanya akan menjadi muda. Keabadian akan terus melingkupi kehidupannya, selama ia bisa menjaga dirinya. Ia mampu hidup selama seribu bahkan lebih.


Aku akan mati tidak mampu bertahan seribu tahun lagi. Tanpa sadar wajahku basah, bisa kutebak air mata karena memikirkan masa hidup dengannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau bisa hidup bersamaku seribu dan bahkan selamanya. Aku akan menjagamu Jiao Chan, izinkan aku memilikimu." Kenapa kau begitu mencintaiku?


"Kenapa menangis?"


"Aku terharu Xander, ehh tidak. Mak-maksudku Tuan Ferius." Dia tersenyum.


"Tak apa, kau bisa memanggilku Xander. Tapi, di tempat tertentu kau harus memanggilku Tuan Ferius." Ia mencubit hidungku. Aku menampakkan wajah cemberutku karena perlakuannya.


"Sakit Xander."


"Tuan Ferius, gawat!" Aku bingung melihat bawahannya datang dengan kegusaran.


Baru saja adegan romantis dengan Xander, bawahannya ini membuat suasana jadi buruk.


"Apa kau tidak bisa melihat situasi?" Bawahannya memandangku, lalu memberi hormat padaku.


"Maafkan saya Tuan Ferius dan Putri Jiao Chan."


"Tak apa, aku keluar dulu. Kalian bisa membicarakan urusan kerajaan." Aku keluar memberi mereka luang.


Mungkin ada yang lebih penting dibandingkan kemesraan kami.  Aku mengembuskan napss lega, setidaknya aku terbebas dari liang buaya.


"Putri mau ke mana?" Sejenak berpikir, kalau ke kamar membosankan.


Di taman pasti indah kalau malam begini, di kelilingi lampion dan ada penerang dari rembulan memantulkan cahayanya ke sungai.


"Ayo kita ke taman."


"Tidak Putri, saat ini di luar kerajaan-"


Aku memotong pembicaraan mereka, "Aku mau ke taman." Aku bersikukuh dengan keinginanku.


Taman kan masih lokasi Castle, lagi pula aku tidak berjalan sampai keluar gerbang castle. Julia dan Alexa dengan perasaan was-was mengikuti ku dari belakang.


Sesampai di sana aku memandang sekeliling taman. Benar kan, taman di malam hari jauh lebih keren dibanding siang hari. Coba ada ponsel aku pasti mengambil moment ini sebagai kenanganku di dunia ini.


Terlalu sepi sebenarnya, hanya aku Julia dan Alexa.


Triingg..


Aku mendengar bel. Tapi Julia dan Alexa sepertinya tidak mendengarnya. Kalau aku mendekati bel itu pasti Alexa dan Julia tidak membiarkanku ke mana-mana.


"Alexa tolong kau pergi ambilkan aku buku di perpustakaan. Terserah buku apa." Alexa memberikan kode pada Julia dan aku bisa tahu, ia memberi tugas untuk memperhatikan ku.


Tapi maaf saja, kali ini rasa penasaranku jauh lebih tinggi.


Suara bel itu semakin kencang tapi Julia sepertinya tidak mendengarnya. Apakah telingaku memiliki Indra pendengar yang tajam? Ataukah hanya manusia biasa yang mampu mendengarnya.


Tapi tidak mungkin, makhluk sepertiku tak memiliki ilmu apapun untuk mendengar hal gaib begitu.


"Julia, aku haus. Bisakah-"


"Tunggu Alexa datang baru aku pergi meninggalkan Putri." Bagaimana caranya aku terbebas dari Julia ini sih.


"Apakah kau tega melihatku dehidrasi lalu mati kehausan, hah?" Julia semakin gelisah.


"Baik Putri, tapi Putri tetap di sini jangan ke mana-mana." Aku mengangguk mantap sebagai jawaban, pergilah cepat.


Setelah kepergiannya, aku berlari mencari asal suara itu. Aku mengendap-endap mencari derungan bel barusan yang kudengar.


Aku berjalan menjauh dari tempatku berdiri berusan. Pohon lebat mengelilingi jalanku mencari asal suaranya, bel itu sepertinya sengaja untuk di perdengarkan untukku. Aku berlari mendekat ke arah sebuah gerbang keemasan yang di kelilingi lampion sebagai penerang jalan di sekitar pintu tersebut.


Bagaimana caranya aku masuk ke dalam kalau pintunya tertutup?


"Apakah Putri penasaran dibalik gerbang emas ini?" Hah, aneh ada suara tapi tak ada rupa.


Aku melihat serangga bercahaya emas mengitariku, kunang-kunang? Serangga pun bisa berbicara di sini.


"Putri ingin masuk harus melakukan sesuatu dulu."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kunci untuk membukanya adalah darahmu sendiri."


"APA?!" Mana mungkin aku bunuh diri di sini hanya untuk membuka pintu emas ini. Sukses membuatku linglung, berpikir keras.


Tapi, sungguh dibalik gerbang ini membuatku penasaran. Hatiku berdesir.


"Hanya setetes darahmu, cukup kau tuangkan di cup ini." Serangga kecil itu membuat cup kecil melayang tepat di hadapanku.


"Setelah kau memberikannya padaku aku akan membaca mantra pada cup ini dan meniupkan mantra tersebut yang berisikan setetes darahmu ke gerbang itu." Apa aku bisa mempercayainya? Secara aku masih bertemu dengannya.


"Kau tidak perlu meragukanku. Kau ingin tahu banyak tentang buku itu kan?" Buku? Hah benar. Buku yang memiliki kode kunci itu. Apa jangan-jangan kuncinya ada di dalam gerbang ini.


Aku menggeleng, Julia mengatakan kunci itu berada di Timur tepat di kerajaan Heavenly World. Sedangkan gerbang ini masih berada di dalam Castle Darkness World. Dasar serangga sialan, dia membual. Dia pikir aku bodoh.


Aku menyilangkan kedua lenganku di depan dada, biar kukerjai dia, "Apakah hanya dengan masuk ke dalam kunci itu akan ketemu? Semudah itukah?" Kataku sarkastik.


"Tentu saja, Putri." Ujarnya.


"Kenapa tidak kau saja yang pergi, jelas-jelas ada celah untukmu melewati gerbang emas ini. Kau bisa terbang dan kecil." Aku menunjuk di atas gerbang itu begitu luas celah untuknya lewat.


"Biar kulempar kau setinggi mungkin melewati gerbang itu, jika sayap kecilmu ini tidak mampu menerbangkanmu." Lanjutku, lalu tanganku memegang serangga itu.


Mengancang-ancang diriku untuk menerbangkannya. Biar tahu rasa kau serangga jelek. siapa suruh bicara omong kosong padaku.


"Ehh tunggu, Putri. Biarpun kau mene...Ahhhhh" Bodoh amat. Aku tidak peduli.


Aku melemparnya tepat melewati atas gerbang itu, ia menjerit.


Ctaarrr...


Serangga itu terjatuh merintih kesakitan karena tubuhnya terkena kilatan petir, penghalang untuk melewati celah di atas gerbang itu. Ia memegangi tubuhnya dan tubuh kecilnya berubah menjadi manusia.


"Sakit..."


Sial! Kenapa tidak terpikirkan olehku. Rupanya ada mantra penghalang untuk menembus celah di atas gerbang itu.


"Aku kan sudah bilang tidak bisa melewati gerbang ini tanpa darahmu." Tidak ada pilihan lain aku akan percaya padanya kalinya.


"Jaminan apa yang akan kau berikan jika terjadi sesuatu padaku nantinya?" Dia berpikir dan mengacungkan tangannya ke depan dia meniupkan tangannya.


Tangan itu bercahaya memperlihatkan sebuah cincin perak  dengan desain simple elegant, berhiaskan sebuah permata bulat pada bagian tengah dan dihiasi permata kecil cubic zirconia. Finishing gilap lapis rhodium. Lebar cincin kira-kira  2-3 mm dan beratnya sekitar ±3 gram.


"Simpan ini sebagai jaminan." Aku melihat detail cincin itu.


Terlihat tidak asing.


Deg.


Tadi itu apa, ada kilatan ingatan. Seorang pria tersenyum sembari memasangkan sesuatu ditangan seorang wanita, tapi siapa.


"Aku harus mengetahui semua ingatan ini." Serangga itu mengangguk.


"Putri harus segera menyelesaikan semua tentang dunia ini." Katanya serius.


"Berikan cupnya padaku." Aku mencari benda di bawah kaki ku yang bisa menggoreskan jari tanganku. Ada serpihan kacang bening. Aku mengambilnya dan segera saja kugoreskan pada jariku.


Tes.


Cup itu bercahaya dan serangga kecil itu memejamkan matanya sembari membaca mantra. Ia mengembuskannya ke arah gerbang.


Ckiiitt.


Gerbang itu terbuka, mataku terkejut melihat isi gerbang.