PLEASE DON'T GO

PLEASE DON'T GO
episode 8 Rumah Baru



Please Don't Go 8 ❀️


Penjelasan : future school adalah sekolah elit yang menjadi incaran banyak orang tua murid dari berbagai negara dan hanya murid-murid yang memiliki IQ tinggi dan status keluarga yang tinggi pula yang bisa lolos untuk masuk kedalam sekolah ini, dan pemilik asli dari sekolah ini pula tidak lain adalah milik orang tua dari Jason,(sahabat Lean yang telah meninggal) dan karna kematian Jason pula ayah Jason harus meninggal dunia dan sekolah tersebut harus di urus sendiri oleh sang ibu, karna ibu Jason yang tidak menyukai Lean yang bersekolah di sekolah tersebut membuat ibu Jason menyerahkan hak sepenuhnya Sekolah tersebut kepada Tuan Steven Lee yang tidak lain adalah ayah Mark(dengan kata lain sekolah itu di Jual kepada Tuan Steven Lee) penjelasan and.


Besok adalah hari pertama mereka bersekolah di sekolah baru mereka dan saat ini Chiko dan Ize sedang santai di ruang tamu di rumah baru mereka itu


new house illustration



"Uyyy sekolah baru nih Ze seneng gak?" Ucap Chiko antusias yang kemudian merebahkan dirinya di bawah karpet berbulu di depan tv itu


Ilustrasi ruang tamu



"Biasa aja" ucap Ize yang sedang sibuk memainkan ponselnya di atas sofa


"Kenapa lu?, Mikirin ucapan tuh Tuan Vilcensius?" Tanya Chiko menengadahKan wajahnya ke atas melihat interaksi sang adik sepupu


"Yah lu fikir deh, bisa-bisanya orang kaya gue di percaya untuk mengubah orang lain, mana ngubah diri sendiri aja gue belum bisa" ucap Ize melirik ke arah Chiko


"Mungkin muka lu meyakinkan kali, cuman sikap lu aja gak bisa di percaya" ucap Chiko dengan santainya


"Jangan ngajak berantem, kita cuman berdua loh di rumah ini" kesal Ize karna chiko yang tidak pernah serius ketika di ajak bicara


"Hehehe canda" ucap Chiko yang kemudian nyengir kuda


"Btw, apa di sekolah baru ini kita bakal berkelakuan seperti biasanya kita di sekolah dulu?" Tanya Ize yang kemudian beranjak untuk duduk di samping Chiko


"Mmmm, menurut gue kayanya bakal lebih baik kalo kita gak jadi perhatian orang deh, kaya jadi anak pendiam aja gituh atau kaya orang biasa pada umumnya aja gituh, gimana?" Ucap Chiko pada Ize


"Tapi di sekolah elit kaya gituh gak mungkin kan kalo gak ada tukang bully, kalo jadi Nerd bakal di bully kalo ngaku orang biasa bakal banyak pertanyaan yang nyudutin kita, kaya mereka mungkin bakal nanya gimana bisa masuk sekolah ini apa karna pintar terus dapat beasiswa atau mungkin dari keluarga kaya raya yang ngerahasian identitasnya gituh" ucap Ize blak-blakan


"Kayaknya satu-satunya cara yah minta tolong sama Tuan Lee dan tuan Vilcensius si, gimana kalo minta tuan Lee bilang kalo kita tuh orang biasa terus anak kenalannya dan dia udah janji bakal nyekolahin kita gituh makanya kita bisa sekolah di sekolah itu, yah intinya lewat perantara tuan Vilcensius selaku kepala sekolah di sana yah kan biar semuanya tuh berjalan lancar gituh" ucap Chiko memberi saran


"Bener juga si, gue setuju tuh sama ide lu, tapi kita gak mungkin kan Sekolah dengan penampilan kita yang saat ini bener-bener bakal mencolok dan bakal jadi pusat perhatian, bahkan kita pergi ke pasar malam aja di tatap penjual dengan tatapan yang kaya ngartiin(ini orang pasti dari keluarga yang bener-bener tinggi nih, masa si pergi ke tempat kaya gini kan gak level banget) dan yang kita mau tuh buat identitas kita jadi orang biasakan ko?" Ucap Ize mempertanyakan hal tersebut


"Nah gimana kalo kita buat permainan penyamaran diri, gue jadi Nerd yang culun dan kaya bego-bego gituh dan lu jadi anak pendiam yang gak banyak ngomong jadi yah orang bakal berfikir kalo kita saudara yang emang butuh sekolah karna pengen ngejar masa depan(nyari nafkah) gituh jadi gak punya waktu buat menikmati masa sekolah yang berandalan kaya mereka, kan kalo gituh seenggaknya kita bakal lebih tenang kan dari pada dulu kita yang sering banget berantem yah emang si kemungkinan besar bakal di bully karna anak baru tapi kita lewatin dengan sabar dan tanpa perlawanan gimana?" Ucap Chiko yang sekarang duduk bersila menghadap ke Ize yang menyimak setiap katanya


"Gue setuju dengan ucapan lu, gimana kalo kita buat tantangan, siapa yang paling sabar dan tanpa perlawanan terhadap bully-an yang dia dapat sampai akhir kelas 11 dia boleh minta apapun sama yang kalah, gimana mau gak?" Tantang Ize pada Chiko


"Boleh minta apapun yah?, Lu janji dan gak boleh di ingkar loh!" Ucap Chiko mencari kepastian dari tantangan itu


"Iyah apapun, gimana? Setuju yah?" Tanya Ize


"Setuju, apapun itu dan gimanapun mereka ngebully kita kedepannya kita tetap harus diam tanpa perlawanan, lebih baik kita main dengan seadil-adilnya yah Ze dan saling mengingatkan oke?" Ucap Chiko menyetujui tantangan tersebut


"OKE" ucap Ize dengan antusias


"Pakaian gimana?" Tanya Chiko


"Belanja dulu lah kita yok" jawab Ize yang kemudian menarik Chiko untuk berdiri


"Lah, sekarang?" Tanya Chiko


"Yah iya lah sekarang, kan besok dah sekolah mumpung belum sekolah yah kita jalan-jalan dulu lah sekalian mengenal lingkungan sekitar" ucap Ize dengan semangat sembari mengambil tas gantung di atas nakas di samping tv tersebut


"Bentar, kita pergi naik apa?" Tanya Chiko, pasalnya seingat Chiko tidak ada mobil atau kendaraan lain yang di berikan kepadanya saat setelah turun dari mobil milik Tuan Lee di depan rumah baru mereka itu


"Kan di bagasi udah di siapain 2 mobil, lu kagak denger tadi tuan Lee ngomong?" Ucap Ize dengan santainya


"Ohhh iya yah, hehehe gue gak denger sorry, yah udah ayok" ucap Chiko yang kemudian berlari mengambil jaketnya di atas meja makan dan keluar bersama Ize


Disisi lain


"Abang-" Lean langsung berlari dan memeluk kakak laki lakinya itu


"Dia nggk berenti berenti nangis" ucap kepala pelayan


"Sekarang Abang pulang, semua baik baik aja" ucap Khalid


"Lean takut bang" gumam Lean


"Kamu bakal punya teman baru nanti" ucap Khalid


"Lean nggk butuh teman" jawab Lean ketus


"Kamu pasti bakal suka mereka" jawab Khalid sambil tersenyum


"Maafin Abang"


"Buat apa?" Tanya Lean


"Abang salah mendidik kamu kayak gini" ucap Khalid


"Kenapa sekarang Abang menyesali semua perbuatan Abang?" Tanya Lean kesal


Khalid terdiam karna sekarang nada bicara adiknya sedikit berubah


"Ha, harusnya nggk begini. Abang nggk bermaksud mengubah kamu jadi kayak gini. Abang mau kamu kayak dulu"


"Maksud Abang kayak dulu yang Lean nangis nangis terus?" Tanya Lean


"Bukan, Abang mau kamu jadi periang kayak dulu. Abang nggk masalah kamu sehiperaktif apa dan bikin masalah seberapa banyak Abang lebih suka kamu yang kayak dulu"


"Itu udah nggk bisa di ubah lagi. Ini Lean sekarang dan akan terus seperti ini sampai akhir"


"Setidaknya ini buat Abang" bujuk Khalid


"Buat siapapun Lean nggk perduli-"


"Kalau ini buat Jason?" Wajah Lean tampak terkejut tapi Khalid sudah tau


"Jangan sebut sebut lagi bang"


"Abang cuma nanya, apa kamu mau berubah untuk dia?" Tanya Khalid


Lean tidak tau harus jawab apa, sedangkan dia tidak bisa berkata tidak jika untuk Jason.


"Lean mau istirahat, Lean nggk berenti nangis dari kemarin"


"Abang tanya terakhir kalinya, kalau ini untuk Jason gimana Leandra?" Dan kini Khalid memanggil adiknya dengan nama lengkapnya yang artinya Khalid sangat serius


Tapi Lean tidak menggubrisnya


***


Lean berdiam diri dikamar, dia menghembuskan nafas lega karna mengetahui abangnya sudah kembali tapi dia juga kesal dengan apa yang dikatakan abangnya.


Lean menghampiri cermin di kamarnya itu dan melihat lekat dirinya di dalam kaca tersebut, dia berdiam diri cukup lama didepan kaca tanpa bergerak sedikitpun.lean berfikir memang ini dirinya?


Memang dia seperti ini?


Lean menyentuh kaca, ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Apa, kenapa" gumam Lean


Dia tersenyum pada kaca tapi setelah itu dia jijik dengan senyumannya sendiri.


"Menggelikan" ucap Lean


Dia mengulanginya, tapi setelah itu dia kembali jijik.


"Memang nggk seharusnya dicoba" ucap Lean yang beranjak kekasur


TBC πŸ›£οΈ


Mohon untuk LIKE πŸ‘ VOTE πŸ˜‰ RATE ⭐ KOMEN πŸ₯°


IKUTIN TERUS CERITA AKU YA TEMEN TEMEN ❀️❀️


SEE YOU NEXT TIME πŸ’


HAPPY READING ALL 🌈