
Segera Ize berlari menuju lantai 3 dimana kelasnya berada, dengan tergesa Ize melewati koridor yang ada tanpa memikirkan apapun lagi
Sesampainya di kelas, ternyata kelas dalam keadaan sepi yang hanya menyisakan seorang Leandra, disebabkan kelas dalam pelajaran olahraga dan semua murid berada di lapangan, terkecuali Jhonny yang berada di dalam toilet untuk membantu Kenzo,Mark yang juga berada di dalam toilet itu begitu pun dengan Chiko, dan Ize yang baru masuk kelas
Sedangkan seorang wakil ketua OSIS yang tidak lain adalah Leandra sendiri sedang terduduk diam di mejanya sembari memandangi papan tulis yang kosong tanpa tulisan apapun di sana.
Ize yang memang tidak lagi berfikir dengan jernih itu hanya mencoba untuk menghiraukan Lean yang telah memalingkan wajahnya kepada Ize membuat mereka saling memandang satu sama lain sampai akhirnya Ize segera berpaling dari Lean mengingat kekesalannya tersebut
Ize kemudian mulai membuka ransel milik Chiko dan mengambil barang-barang yang memang sudah di siapkan dari awal oleh Chiko
Membuat Lean yang diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan Ize tersebut seketika membuat nya terkejut dan merasa bersalah 'pasalnya Lean sadar betapa siapnya seorang Chiko untuk mendapatkan bully-an sampai menyiapkan hal terkecil yang mungkin saja tidak akan di butuhkan jika bukan di waktu tertentu atau di saat yang tepat
Dengan segera Ize mengambil kotak p3k dan kunci loker yang di siapkan di dalam tas Chiko tersebut
Dan bergegas keluar menuju loker siswa dan membuka loker milik Chiko dengan tergesa-gesa sampai Ize sendiri sadar bahwa ada orang yang terus mengikutinya dan memperhatikan apa saja yang tengah ia lakukan tersebut
"Berhenti mengikutiku, sikap acuh mu itu sudah cukup untuk membuat orang kesal, jangan melihat jika tidak berencana untuk membantu" ucap sarkas Ize yang menghentikan langkahnya yang hampir menginjakkan kakinya ke arah bawah lantai 2 tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap orang yang tengah dia ajak bicara itu, siapa lagi kalau bukan Lean yang sedari tadi mengikutinya
"Apa maksud mu,bicara seperti itu" jawab Lean yang sudah ketahuan itu melangkah kan kakinya untuk menuju ke arah depan wajah Ize
"Kamu yang lebih tau hal itu wakil ketua OSIS" ucap Ize yang ingin melanjutkan langkahnya tapi segera di hentikan oleh Lean
"Apa maksud mu?" Ucap Lean tidak terima
"Apa kamu pantas di sebut manusia, dengan jelas melihat tapi seakan buta, apa kamu mencoba bermain aman wakil ketua OSIS" ucap Ize tanpa ragu sedikitpun
"Jangan berbicara omong kosong Anize" ucap Lean geram dengan ucapan Ize
"Kenapa?, Apa kata-kata ku salah, apa kamu tidak melakukan hal yang aku katakan tadi, dengan jelas kamu melihat Saudara ku tapi dengan jelas juga kamu berpaling tanpa berusaha sedikit saja untuk menolong" ucap Ize dengan tenang pasalnya Ize sebelum memasuki kelasnya sedari toilet tadi sempat berlari menuju ruang keamanan untuk melihat cctv yang berada di koridor antara toilet pria dan ruangan OSIS dan benar saja kecurigaan Ize benar adanya, Lean melihat saudara nya tapi hanya bungkam tanpa bicara ataupun berusaha untuk menolong
"Apa itu urusanku, sampai harus menolongnya" ucap Lean acuh
"Kamu benar, ini bukan urusan kamu tapi jangan lupakan kamu yang seorang manusia dan seorang pemimpin, sedikit saja rasa iba apa kamu tidak memiliki nya?, Sedikit saja belas kasihan apa bisa kamu tunjukkan, dan dengan mudah kamu bilang itu bukan urusan kamu, yah benar saudara ku memang bukan urusan kamu tapi seorang manusia yang memiliki jiwa manusiawi tidak akan berbicara seperti itu walaupun tidak bisa membantu" ucap Ize dengan wajah kesal dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Hey Anize, kamu tau apa tentang aku, seenaknya bicara tanpa tau apa yang aku alami, jika kamu menjadi aku pun kamu akan melakukan hal yang sama" ucap Lean tanpa rasa bersalah sedikitpun
Dengan kesal Ize memutar sedikit lehernya dan menatap tajam pada Lean
"Tidak, kau salah wakil ketua OSIS, walaupun aku menjadi dirimu sekalipun aku akan mengesampingkan masalah pribadi dengan jiwa sosial yang berada di lingkup dan depan mataku" ucap Ize dengan nada yang sedikit dinaikkan
"TAU APA KAU, BISA BICARA SEENAKNYA" ucap Lean dengan nada yang begitu tinggi dan kasar mendengar ucapan Ize tersebut
"Tidak perlu menaikkan nada seperti itu, kamu bisa saja bersikap dingin dan acuh tapi aku tau betapa rapuhnya hati yang berada di dalam dirimu wakil ketua OSIS, jangan terus-terusan bermain aman kau akan tambah menyesal nantinya" ucap Ize dengan santai dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga
Belum 4 langkah ize menuruni tangga dengan perlahan ia berbalik dan menatap sedikit keatas ke arah punggung Lean yang terdiam karna ucapannya tersebut
Segera Anize berlari dan dengan perlahan mengetuk pintu toilet tersebut dan secepat itu juga ada seseorang yang membuka pintu toilet, dan itu adalah Mark yang selesai membantu Chiko walaupun tanpa izin dari Ize
"Sudah datang, siniin bajunya, biar gue yang kasih ke Chiko" ucap Mark setelah membuka pintu tersebut dengan santai
"Kenapa harus lu si, bukannya gue udah bilang gak butuh bantuan lu yah" ucap kasar Ize
"Apa sekarang itu lebih penting dari tubuh sepupu lu?" Ucap Mark yang membuat Ize sedikit berfikir sebelum semakin kesal
"Udah cepat siniin bajunya, Chiko bisa kedinginan kalo terus telanjang didalam"ucap Mark sambil mengulurkan tangannya meminta barang yang tengah di pegang oleh ize
"I...ini, tolong bilangin ke kak Niki buat naruh anti septik pada badan Chiko yang melepuh sebelum memakaikan pakaiannya, dan ini pakaian buat Kenzo, ini bajunya Chiko jadi gak usah khawatir atau dikembalikan, pasti dia juga belum memakai pakaian kan" ucap Ize menerangkan dan melupakan semua amarah dan kekesalannya pada seorang Mark Lee
"Baiklah, tidak usah khawatir aku bisa membantu Chiko lagi pula ada pria yang lu panggil tadi" ucap Mark dengan santai
"Berhenti berbicara seakan kita saling akrab gue bener-bener gak bakal ngelupain sikap lu sebelumnya dengan mudah" ucap Ize masih dengan sarkas nya karna merasa risih dengan cara baik Mark yang tiba-tiba bahkan belum lewat satu hari dari Mark yang berbicara acuh padanya tadi kenapa sekarang malah terlihat akrab dan ramah membuat Ize berfikiran aneh padanya
"Terserah lu,, oh ya ganti dulu baju lu baru mikirin Chiko, lu gak mungkinkan bakal ngedeketin Chiko yang udah bersih dan steril dari badan lu yang bau kotoran itu" ledek Mark sambil melirik Ize dari atas ke bawah sebelum masuk dan kembali mengunci pintu toilet pria itu
Membuat Ize sadar bahwa ternyata dirinya juga dalam keadaan berantakan dengan bau kotoran yang dia dapat dari memeluk Chiko tadi
Segera ia berlari menuju lokernya sendiri untuk mengambil baju miliknya dan segera menuju toilet wanita yang dekat dari tempatnya itu
TBC π£οΈ
Sampai sini dulu, bingung sama penyusunan katanya, jadi mau di atur dulu, gak masalah kan dengan setiap kata dalam dialognya
Komen aja yah Wak kalo ngerasa ada yang kurang dan salah dari chapter di atas
Bakal aku balas satu-satu kok, dan bakal aku pake setiap ide yang bakal kalian ajukan
Selamat membaca
Dan
Semoga terhibur
Mohon untuk LIKE π VOTE π RATE β KOMEN π₯°
SEE YOU NEXT TIME π
HAPPY READING ALL π