PLEASE DON'T GO

PLEASE DON'T GO
episode 12 pembully



"Ize ini makanannya" ucap Chiko yang datang dengan riang sembari menaruh nampan berisi makanan di depan Ize


"Terimakasih Koko" ucap Ize tersenyum manis pada sang Koko yang berhasil membuat Mark, Jhonny dan Lean melihat ke arah Ize dengan kagum


Pasalnya murid baru yang mereka kenal beberapa saat sebelumnya itu dari awal hanya memasang wajah datar yang tidak memiliki semangat kini tersenyum begitu manis dan indah di depan saudaranya


"Ayo, Koko duduk di sini kita makan sama-sama" saut Ize lagi yang menepuk bangku di sebelahnya


Membuat Jhonny merasa bahwa Chiko adalah anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan perlakuan berlebih dari orang-orang terdekatnya


"Ohh ya, bagaimana bisa kalian menjadi rekomendasi langsung dari CEO Lee?" Tanya Jhonny pada kedua empu bersepupu itu tiba-tiba


"Itu kami tidak tau pasti, yang kami tau hanya CEO Lee yang berhutang Budi pada keluarga kami di masa lalu karna itu menjanjikan kami sekolah yang layak" ucap Chiko


"Bagaimana dengan pekerjaan?, Apa pekerjaan orang tua kalian?" Tanya Jhonny penasaran


Membuat Ize terkejut dan langsung melihat ke arah Chiko yang juga kebingungan mau membalas apa, pasalnya mereka lupa untuk membuat konsep kerja untuk orang tua mereka


Dengan kasar Ize menelan makanan yang baru saja dia kunyah dan segera mengambil alih bicara agar tidak terjadi kecurigaan oleh mereka


"Ayah Chiko seorang supir dari keluarga Vasilion, dan orang tua ku Bekerja di kampung" ucap Ize secara tiba-tiba dan mendapatkan anggukan cepat nan semangat dari Chiko


"Ohh begitu" saut Jhonny mengerti


"Tapi, setahu ku ayahku kemarin pergi keluar kota untuk bertemu dengan keluarga Albert dan Vasilion kenapa malah membawa anak dari supir tuan Vasilion" ucap Mark dengan tampang mengintrogasi yang membuat Ize merasa tertantang dengan ucapannya itu


"Bukankah itu tampak jelas ketua OSIS, bahwa kami adalah anak supir dari tuan Vasilion dan itu pun alasannya jelas karna ingin mencari kami" jawab Ize dengan santai dan datar merasa tidak ragu ataupun gugup dengan pertanyaan memojok dari Mark


"Dia benar juga, lalu apa mata pelajaran yang akan kalian persungguh untuk di jadikan patokan dasar?" Tanya Lean pada Ize dan Chiko, pasalnya melihat kedua orang biasa yang bersekolah di sekolah tersebut pasti tidak akan mudah jika tidak serius


"Aku memilih Bahasa dan prakarya" jawab Ize


"Aku memilih biologi dan fisika" jawab Chiko dengan semangat


"Kamu yakin memilih biologi dan fisika?" tanya Jhonny tidak percaya melihat Chiko


"Em, aku yakin" jawab Chiko dengan yakin


"Ba.... baiklah" jawab Jhonny


Akhirnya para OSIS tersebut selesai dengan makan mereka dan pamit duluan dari Chiko dan Ize yang masih diam di tempat mereka


Belum beberapa langkah saat Mark, Jhonny dan Lean meninggalkan mereka orang lain sudah datang menghampiri Chiko dan Ize dengan kasar sembari menghentakkan kakinya di atas meja kantin tersebut


Dan itu adalah Daniel beserta ke empat temannya yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan


Dengan angkuh dan sombong mereka mendatangi Ize dan Chiko yang tengah asik dengan makanan mereka


"Wihhh murid baru nih, semoga betah yah di sini" ucap salah seorang teman dari Daniel


"Dengar-dengar anak baru kita ini gak punya marga keluarga yah, katanya orang biasa yang dapat rekomendasi gituh, beruntung banget yah hidupnya" saut dari salah seorang teman wanita Daniel yang lain


Segera Daniel berjalan ke arah samping mendekati Chiko yang hanya menunduk bodoh itu


"Guys liat deh, nih cowo lugu amat, lu tau masa pas perkenalkan diri tadi dia ngomong kaya anak-anak yang masuk sekolah dasar kan imut ples idiot nyatu gituh" ucap Daniel kepada teman-temannya, pasalnya circle dari Daniel ini berbeda kelas dengan Daniel


"Sana Niel, gue mau liat mukanya nih cowo" salah seorang teman wanita Daniel yang menepis badan Daniel yang berada di samping Chiko untuk melihat wajah chiko


"Sebenarnya nih cowo ganteng kalo gak Nerd, mana idiot lagi, gue yakin nih orang begonya bakal kebangetan jadi kita kayanya gak usah susah-susah lagi deh buat ngebully dia" ucap mely selaku teman Daniel tersebut


"Gue setuju aja si sama omongan lu, tapi kita harus merhatiin satu setnya" ucap Daniel yang melirik ke arah Ize kemudian mendekatinya dan menarik makanan yang semula tengah di makan oleh ize itu


" Gue gak setuju, bukannya bakal lebih seru yah kalo kita ngebully Nerd bego kaya nih cowo" ucap teman Daniel yang lain


"Terserah lu aja, gue lebih tertarik sama setnya" ucap Daniel yang kemudian mendekatkan wajahnya di wajah Ize untuk melihat detail dari wajah Ize


Jujur saja karna ingin berhasil dalam penyamaran Ize bukan hanya mengubah warna dan gaya rambut yang semula keriting ikal dengan warna bluenight kini menjadi sangat lurus dengan warna coklat pekat dengan wajah yang di penuhi dengan bintikan merah di bagian hidung dan pipinya bahkan warna mata yang semula berwarna biru laut kini memakai lensa berwarna hitam pekat


"Cantik lu bilang?, Lu liat bintikan di bagian pipinya aja bikin sakit mata, mana keliatan banget lagi kalo nih cewe kampungan,gue yakin dia pendiam karna lemot" ucap Daniel yang masih memperhatikan wajah Ize yang di balas dengan tatapan datar si pemilik wajah


"Datar amat tuh muka, kaya papan tulis" saut teman Daniel


"Mainan baru lu Niel?" Ucap teman Daniel bernama kely menunjuk Ize dengan dagunya


"Gue setuju, dia bakal jadi mainan baru gue" ucap Daniel yang di susul teman-temannya yang lain kemudian meninggalkan Chiko dan Ize dari kantin tersebut


Sebenarnya Lean, Mark dan Jhonny mendengar dan melihat Daniel dkk yang menggangu Ize dan Chiko tapi mereka memilih untuk tidak perduli, karna pribadi Lean sendiri tidak mau ikut campur dengan kenakalan murid lain selagi tidak keluar dalam batasnya dan Mark sendiri terlalu sibuk untuk mengurus mainan anak-anak nakal di sekolahnya sedangkan Jhonny mungkin dia akan menolong ketika ingin karna dia pun acuh tak acuh untuk segala sesuatu yang tidak bersangkutan dengannya, intinya itu mereka adalah Para OSIS besar yang tidak mau ambil andil yang terlalu membuat mereka lelah menurut mereka


"Liat apa yang mereka lakukan pada kita tadi" ucap Chiko mendelik ke arah Ize dengan dingin


"Bahkan aku mendengar dengan jelas mereka yang ingin menjadikan kita mainan" ucap Ize yang melipat tangannya di depan dada dan memejamkan matanya beberapa saat


"Apa kita biarkan saja dulu?" Tanya Chiko


"Biarkan saja dulu, biarkan mereka bermain-main dengan kita sepuasnya, sampai salah satu dari kita menyerah untuk sabar dan mengalah, karna jika kita melawan maka tidak akan ada hal seru lagi untuk kedepannya" ucap Ize dengan datar


"Baiklah" saut Chiko


"Sudahlah, kita kembali saja, sudah tidak selera lagi dengan makanannya" ucap Ize yang kemudian berdiri meninggalkan kantin tersebut yang di susul oleh Chiko di belakangnya


Skip di dalam kelas


"Tuh cowo Nerd, gimana kalo kita jadiin aja dia babu kita" ucap satu teman Daniel yang memang sekelas dengan Daniel


"Bener tuh, ayok dah" jawab Daniel


"Heh anak Baru" ucap Daniel dengan kasar yang mendapatkan tolehan langsung dari Chiko dan Ize juga bonus tolehan dari ketiga OSIS yang tidak lain adalah Mark, Lean dan Jhonny Langsung ke arah Daniel


"Elu anak Baru" ucap teman Daniel menunjuk Chiko


'ku rasa akan ada keributan dalam waktu dekat ini, ku harap saja tidak terlalu cepat agar permainannya lebih seru' batin ize melirik sekilas ke arah Chiko yang kemudian fokus kembali pada buku bacaannya


"I..iy...iya, saya?" Ucap Chiko mendekat ke arah Daniel dan temannya itu


"Beliin gue cemilan dong, yang banyak yah, apa aja deh terserah dari lu" ucap Daniel yang memegang pundak Chiko dengan sedikit bertenaga


"Eh Niel, jangan main nyuruh aja dong kasih uang kek, kan kesian dia orang miskin" ucap teman Daniel menghina Chiko


"Yah gimana yah, kan gak seru kalo pake uang gue, jadi pake uang lu aja yah, Chiko" ucap Daniel dengan tangan yang semakin kuat menekan pundak Chiko


"Ba... baiklah akan aku belikan" ucap Chiko dengan polosnya


"Benar-benar anak baik yah" ucap Daniel yang kemudian melepaskan tautan tangannya dari pundak Chiko


Chikopun pergi dari kelas tersebut dengan wajah merah padam karna marah


πŸ“±"Tenangin diri lu Koko, ingat lu harus sabar, yang kalah ada konsekuensinya loh" ucap Ize di dalam sebuah aplikasi Chat yang di kirim pada chiko


πŸ“±"Gue tau" jawab Chiko


'bagus, control emotions well' batin ize yang tersenyum tipis melihat ke arah layar benda pipihnya itu


TBC πŸ›£οΈ


Oke terima kasih dan selamat membaca


Mohon untuk LIKE πŸ‘ VOTE πŸ˜‰ RATE ⭐ KOMEN πŸ₯°


SEE YOU NEXT TIME πŸ’


HAPPY READING ALL 🌈