
"kenapa para OSIS itu hanya melihat, tanpa melakukan apapun ketika melihat kelakuan kalian" ucap Ize tanpa sadar
"Apa-apaan, Heh anak pendiam lu lebih baik jaga deh cara ngomong lu, asal lu tau para OSIS itu bukan orang sembarangan, dan mereka gak bakal perduli walaupun ngeliat elu di perlakukan layaknya hewan sama kita" ucap mely
Sampai akhirnya, Chiko datang dengan satu kantong plastik berukuran besar yang semua isi di dalamnya adalah Snack
Dengan kasar teman-teman Daniel beserta Daniel langsung dengan brutal mengambil semua Snack yang di bawa oleh Chiko itu
Tidak memakan waktu lama, semua camilan yang di beli tadi habis begitu saja dan hanya menyisakan bungkus dari Snack tersebut
"HEH Chiko, Anize, tuh kerjaan kalian, pungut yah yang bersih entar di marahin pengawas lagi" ucap Daniel
"Lu Kenzo, ikut kita , kita masih ada urusan sama lu" ucap Daniel lagi yang menarik kerah leher Kenzo dengan kasar dan pergi meninggalkan tempat tersebut di ikuti oleh teman-temannya yang lain
Kini Ize dan Chiko tengah membersihkan bungkus dari kekacauan yang di buat oleh Daniel dkk itu
Sampai akhirnya untuk kedua kalinya, Mark dan Jhonny lewat dengan sangat acuh di depan mereka, di susul oleh seorang OB yabg ikut di belakang Mark dan Jhonny kemudian berhenti tepat di depan Ize dan Chiko sembari membantu mereka memungut bekas Snack tersebut
"Kalian pasti anak baru kan" ucap OB tersebut sambil membantu Ize dan Chiko
"Iyah kami anak baru, baru dua hari kami di sekolah ini" ucap Chiko menghentikan sejenak apa yang ia kerjakan untuk membalas ucapan sang OB dengan sopan
Sedangkan Ize sibuk dengan kegiatannya yang tengah membersihkan itu
"Apa kalian mendapatkan bully dari Daniel dan teman-temannya" tanya sang OB
"Iyah, tapi bagaimana anda tau?" Tanya Chiko polos
"Tentu saja saya tau, siapa yang tidak kenal dengan Daniel ambrio seorang pembuat onar yang selalu menggunakan nama keluarga untuk melindungi diri, saya pun sangat tidak menyukai anak itu" ucap OB tersebut seakan sangat mengerti perasaan mereka yang di bully
"Tidak menjadi masalah siapa yang membully yang menjadi masalah adalah yang bertanggung jawab untuk kedisiplinan dan keadilan di sekolah ini" saut Ize yang sedari tadi mendengarkan perkataan sang OB
"Apa maksud kamu?, Apa kamu menyalahkan para OSIS di sekolah ini?" Tanya sang OB tertarik pada Ize
"Jika bukan?, Memangnya siapa lagi yang bisa saya maksud" ucap Ize dengan angkuh
"Saya rasa kamu menyimpan dendam yah pada salah seorang OSIS" ucap OB tersebut penasaran
"Tidak salah satu, tapi semua, bagaimana bisa mereka diberikan gelar dan tanggung jawab, tapi di pergunakan dengan semau dan sesuka mereka" ucap Ize dengan kesal
"Saya tidak tau siapa yang kamu maksud dengan para OSIS ini, tapi mau menantang para OSIS tinggi di sekolah ini juga tidak ada yang bisa, karna semua orang tau kalo anak OSIS di sekolah ini salah satunya adalah anak dari pemilik sekolah ini dan lagi salah satunya adalah anak keluarga Vilcensius dan keluarga Allen, para keluarga berpengaruh di kota S ini" ucap OB tersebut menerangkan karna takut Ize dan Chiko tidak tau dan malah menyinggung orang-orang itu kedepannya
"Kami tau akan hal itu, tapi kedisiplinan tetap harus ada, karna itulah pendidikan utama dari pelajaran" ucap Ize tak mau menyerah dengan omongannya
"Selama saya bekerja di sini saya belum pernah bertemu dengan murid seperti kamu , bahkan sangat angkuh dan percaya diri, tapi sangat diam ketika di bully" ucap OB yang berpenampilan rapih dan memiliki tampang lumayan itu berujar pada Ize
Sedangkan Ize dan Chiko tidak menjawab omongan OB tersebut dan hanya memandang satu sama lain dengan tatapan meremehkan pada si OB
"Memangnya kalian ini siapa" tanya OB bername tag (Maverik) itu lagi masih dengan rasa penasarannya
"kalau begitu bisa kami tanya siapa anda?" Tanya balik Ize yang memojokkan sang OB tersebut
"Bukanya kalian melihat kalo saya menggunakan pakaian office Boy, kenapa masih bertanya" ucap Maverick selaku ketua OB di sekolah itu
"Anda bertanya pada kami?, siapa kami?, sedangkan anda melihat kami dengan pakaian yang jelas seharusnya anda mengerti, tentu kami seorang murid di sekolah ini" ucap Ize tak mau kalah
"Maksud saya, dari keluarga mana kalian, bagaimana dengan marga?" Tanya OB tersebut mencoba sabar menanggapi Ize yang lumayan menyebalkan itu
"Apa seorang office Boy juga harus mengetahui identitas dari para siswa?" Tanya Chiko dengan aksen meremehkan dan lucu
"Saya di sini ketua OB yah, dan saya teman dekat dari kepala sekolah, memangnya salah jika saya bertanya" ucap OB tersebut mulai geram
"Kalo memang anda ketua dari para OB sekaligus teman dari kepala sekolah, kenapa tidak bertanya langsung pada kepala sekolah siapa kami, dia lebih mengetahui jelas, mungkin bisa memberikan sedikit air di dalam rasa haus penasaran anda itu" ucap Ize yang kemudian meninggalkan tempat tersebut
"Oh ya, jika ingin bertanya tentang kami pada kepala sekolah, anda bisa mengatakan kami yang seorang murid rekomendasi langsung dari CEO Lee yah, Terimakasih atas bantuannya" ucap Chiko dengan sombongnya dan mengikuti langkah Ize meninggalkan tempat tersebut setelah selesai dengan pekerjaannya tadi
"Ku fikir anak cowo tadi itu polos dan lugu ternyata berkelakuan hampir sama seperti seorang pembully hanya penampilan dari mereka saja yang terlihat baik, mengerikan" ucap Maverick yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan tempat sampah yang kini ia derek
Sesampainya Ize dan chiko di kelas, kini kelas itu begitu riuh dengan murid yang sibuk dengan mainan mereka masing-masing
"Ko, lu kenapa?" Tanya Ize dengan nada yang begitu kecil ke arah Chiko
"Gue gak bisa berdiri Ze, ****** gue lengket sama bangku" ucap Chiko tak kalah mengecilkan suaranya
Sampai suara gelakan tawa begitu nyaring dari samping tempat duduk mereka tersebut
Dan ternyata itu adalah Daniel dan 1 temannya yang telah menaruh lem kayu pada bangku Chiko
Daniel dan temannya itu lantas pergi begitu saja sambil tertawa terbahak-bahak setelah melihat Chiko yang tidak bisa membebaskan diri dari bangku itu
Sampai Mark, Jhonny dan Lean datang dan berdiri tepat di meja guru untuk menyampaikan beberapa informasi pada teman kelas mereka itu
"Semuanya harap tenang, dan fokus sebentar untuk kami" ucap Jhonny mengambil perhatian
Yang mendapatkan tanggapan diam dari semua murid termasuk Ize dan Chiko yang tadinya sibuk meloloskan diri dari bangku yang telah di pasangi lem tersebut
"Untuk Desain dari jas dan Gaun yang kami minta tolong Lusa sudah di kumpulan semua dan tidak ada yang terkecuali, hal ini bertujuan agar kami juga bisa lebih cepat dan lebih bagus dalam membuat topeng yang selaras dengan pakaian kalian, bisa di mengerti?" Ucap Lean menerangkan
"Dan satu lagi, untuk acara yang akan kita gelar, para atasan berharap untuk tidak terjadi masalah sampai selesainya acara dan ini di minta untuk semua murid tidak terkecuali kami sendiri, baiklah saya harap semua teman mengerti dan silahkan lanjutkan kegiatan kalian" sambung Mark yang akhirnya mengakhiri pembicaraan tersebut dan kembali duduk di bangku nya yang memang berada di samping ize begitu juga Lean yang duduk di samping Chiko dan Jhonny yang duduk di tempatnya
Sampai akhirnya Ize kembali mendekati Chiko untuk membantunya lolos dari bangku tersebut, dengan susah payah Ize menarik Chiko sedangkan murid lain hanya menjadi penonton tak terkecuali Mark, Jhonny dan Lean yang acuh tak acuh pada Ize dan Chiko itu padahal mereka tepat berada di depan dan samping Chiko
"Pelan-pelan saja Koko, tidak papa biarkan jika robek" ucap Ize melihat Chiko dengan tatapan khawatir
Sampai akhirnya bokong Chiko berhasil terlepas dari bangku yang ia tempati itu, walaupun harus berakhir dengan celana yang menempel pada bangku yang terkena lem tersebut
Segera Ize melepaskan almamater milik Chiko dari tubuh kokonya itu dan Langsung melilitkan nya pada pinggang Chiko
"Mau pulang gak?, Biar Ize izinin sama wali kelas, Koko ganti baju dulu" ucap Ize sembari mengusap wajah Chiko yang sudah memerah akibat marah dan malu itu
"Aku mau pulang" ucap Chiko dengan tenang
"Ketua OSIS, bisa minta bantuannya untuk izin dengan Bu Latina?" Tanya Ize melihat ke arah Mark
"Akan aku izinkan, pergi lah jangan buat malu" ucap Mark dengan angkuh
Sesabar mungkin Ize menahan ekspresi kesal di wajahnya atas apa yang telah terjadi padanya sampai saat ini, dengan sabar dia mengambil tas miliknya juga milik Chiko dan menarik Chiko dengan lembut agar meninggalkan kelas tersebut
Belum mereka keluar dari kelas tersebut, Daniel dan teman-temannya sudah datang kekelas itu sambil tersenyum jahil ke arah Chiko, tepatnya ke arah pinggang Chiko yang terlilit almamater miliknya itu
Dengan perlahan Daniel mendekati Chiko dan langsung menarik almamater Chiko sehingga terlepas dari pinggang nya dan memperlihatkan bokong Chiko yang sudah bolong akibat celana yang robek dan menempel pada bangkunya itu
Dengan gesit pula Chiko langsung membanting dirinya ke arah dinding yang ada di dekat pintu masuk kelasnya itu agar menutupi bokongnya tersebut, Ize yang menyaksikan hal itu hanya bisa menghela nafas halus untuk terus bersabar dan segera menjatuhkan tas yang tadi ia kenakan dan melepas almamater miliknya dari badannya untuk di pakaikan ke pinggang kakak sepupunya itu sehingga lekuk tubuh dari Ize sendiri begitu terlihat dan membuat para pria di kelas itu memfokuskan tatapan mereka pada Ize, tak terkecuali Mark, Jhonny dan Lean
Chiko yang menyadari kondisi di tempat itu semakin tidak beres segera mengambil tasnya dan tas milik Ize yang tadi di jatuhkan oleh ize dan segera merangkul pinggang Ize dan pergi meninggalkannya kelas beserta Sekolah itu dengan cepat
Bahkan selama di koridor sekolah, Chiko terus memfokuskan dirinya pada telfon di telinganya menyuruh agar seseorang segera datang menjemput mereka, agar mereka tidak menjadi bahan tontonan untuk lebih lama lagi
TBC π£οΈ
Gimana ceritanya?, Agak belibet gituh gak si, kaya yang muter-muter gituh, hehhe maaf jika dalam kata memiliki kata yang detail dan rinci sebenarnya aku buat begitu supaya bisa lebih di mengerti dan bisa lebih di pahami intinya
Maaf juga jika dalam kata banyak yang salah dan tidak baik
Semoga terhibur
Dan
Selamat membaca
Mohon untuk LIKE π VOTE π RATE β KOMEN π₯°
SEE YOU NEXT TIME π
HAPPY READING ALL π