
Dan orang yang berdiri di depan pintu toilet pria yang hanya terbuka β itu adalah Leandra Vilcensius
Hanya menatap dengan tatapan kasihan tapi tidak melakukan apapun bahkan saat mendengar teriakkan kesakitan yang keluar dari mulut Chiko, dengan cepat Lean memalingkan wajahnya pergi dari tempat itu
Tapi baru 8 langkah dari arah toilet menuju tangga lantai 1 Lean malah berpapasan dengan Ize yang di ikuti Jhonny dari belakang yang memang Ize sudah memutari semua toilet di lantai 1 tersebut hingga baru menapakan kakinya di lantai 2 tersebut
Ize yang tadinya berlari tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melihat Lean yang berjalan dengan wajah datar ke arahnya bahkan di susul dengan suara teriakan Kesakitan dari Chiko yang membuat Ize kembali mempercepat langkahnya dan membuka kasar pintu toilet tersebut sehingga menimbulkan suara nyaring dari pintu yang beradu dengan tembok
Begitu juga Jhonny yang hanya memegang pundak Lean kemudian berlari menghampiri Ize ketika sama-sama mendengar teriakkan dari Chiko tersebut
Saat sudah sampai di toilet betapa terkejutnya Ize melihat apa yang tengah di lakukan oleh Daniel pada saudara nya itu
Ize yang semula ingin mengamuk sekilas melihat wajah sang kakak sepupu yang memberi isyarat untuk tetap diam, sampai Jhonny datang dan melihat hal tersebut
Jhonny yang sudah larut dengan omongan Anize yang mengatakan keadilan harus hidup membuat dia menjadi marah bahkan bukan marah biasa tapi Jhonny sampai menghampiri Daniel untuk memukulnya sebanyak 5 kali hingga wajah Daniel yang semula mulus menjadi bengkak memar yang mengeluarkan darah dari ujung mulut dan pelipisnya
"Cepat kalian pergi dari sini, sebelum sesuatu yang lebih besar lagi akan terjadi pada kalian" ucap Jhonny pada Daniel dan kedua temannya itu
Ternyata Lean pun belum pergi dari tempat tersebut dia kembali hanya untuk melihat mereka
Ize yang tidak tahan melihat apa yang terjadi pada sepupunya itu seketika jatuh karna merasakan lemas pada kakinya
Membuat Jhonny yang melihat Ize terjatuh dengan sigap menangkap nya
Tapi Ize yang sudah tidak bisa memikirkan apapun pada saat itu langsung memeluk erat tubuh besar kakak sepupunya yang sudah telanjang dada dengan tubuh yang melepuh dan berbau kotoran itu
"Kenapa... kenapa kau diam saja Koko, kenapa tidak melawan,apa kau senang di perlakukan seperti ini, dimana Chiko Vasilion ku, dimana orang yang akan dengan mudah mengirim para penjahat untuk dijadikan santapan Yakuza, dimana orang yang penuh wibawa dan tidak terkalahkan, kenapa yang harus kuliah saat ini adalah kucing jalanan yang tidak berdaya setelah di siksa" ucap Ize tidak jelas dengan terisak-isak dan air mata yang entah kapan akan berhenti itu, di dalam pelukan sang kakak tanpa sadar terus melekat seperti tidak akan lepas walaupun yang tengah di peluk sudah kesakitan setengah mati bahkan Ize tidak lagi merasakan bau aneh pada tubuh kakaknya itu karna sibuk dengan emosional nya sendiri
Bahkan Jhonny, Kenzo maupun Lean tidak bisa memahami apa yang telah di ucapkan oleh ize yang tengah terisak itu, walaupun Chiko memahaminya
Lean yang melihat itu, tanpa sadar meneteskan air mata dan telah menyesali apa yang dia perbuat tadi, (diam dan tidak berbuat apa-apa) dan menyuruh Jhonny dengan isyarat agar segera membopong tubuh Kenzo untuk membantunya membersihkan tubuh Kenzo yang sudah berbau tidak sedap itu
Sampai akhirnya Lean sendiri pergi agar tidak menyaksikan hal tersebut lagi
Tapi sebelum itu Jhonny
"A... anu itu, Anize bukankah saudara mu akan sangat kesakitan jika terus kau peluk,bahkan badannya sangat bau" ucap Jhonny menyadarkan Ize
Segera Ize mengangkat wajahnya yang tengah berada di pundak sang Koko itu(sedang memeluk)
"A.. astaga,..Aku minta maaf, pasti sangat sakit yah" ucap Ize sembari mengelus bagian otot lengan Chiko yang melepuh dan membentuk pola polkadot akibat penyiksaan Daniel itu
"Bangun Koko, kita bersihkan badan mu dulu" ucap Ize dengan lembut seperti seorang wanita yang tengah menjaga pria yang ia cintai
"Aku tidak sanggup lagi untuk bangun Ze" ucap Chiko masih terduduk lemah
"Lalu bagaimana,jika seperti ini luka-luka mu akan infeksi Koko" ucap Ize dengan merengek ketakutan
"Tunggu sebentar biarkan aku menenangkan diri ku dulu" ucap Chiko sambil merintih kesakitan sembari meluruskan kakinya di bawah lantai toilet itu
"A--AP-APA INI, CHIKO APA MEREKA MELAKUKAN HAL INI SAMPAI BATAS TIDAK WAJAR INI?" ucap Ize dengan nada tinggi dan kasar ketika melihat bagian kaki Chiko yang sudah tidak menggunakan alas dan betis yang sudah melepuh membentuk pola polkadot akibat rokok tersebut
"Sudah Ize, aku tidak papa" ucap Chiko masih menahan rasa sakitnya
"Tidak bisa begini, Koko cepatlah bangun, kita bersihkan dulu badan mu, ini sudah lewat waktunya jika terlalu lama bisa infeksi" ucap Ize sambil menarik lengan kokonya itu telaten agar tidak terkena luka di lengannya
"Aku tidak punya kekuatan untuk bangun Izeee" jawab Chiko mengeluh
"Biar gue yang bantu, sini biar gue yang angkat Chiko lu" ucap seseorang yang menghampiri Chiko dan Ize dan berniat untuk membopong tubuh chiko
Awalnya ize ingin berterima kasih dan meminta tolong pada sumber suara tersebut sebelum melihatnya tapi ketika ize melihat orang tersebut Ize malah memasang wajah masam dan menolaknya dengan kasar
"Pergi saja, apa yang orang tinggi lakukan di sini, tidak mungkin untuk menolong orang rendahan seperti kami dengan suka rela kan, pergi saja kami tidak butuh bantuan mu" ucap Ize dengan kasar
Pasalnya orang tersebut adalah Mark, orang yang baru saja mengatakan kata-kata tidak masuk akal padanya
"Ize jangan bicara seperti itu, tidak sopan" ucap Chiko menegur Ize layaknya ayah yang mendisiplinkan anaknya
"Tapi Ko, dia orang tidak tau diri yang hanya mengganggap kekuasaan adalah segalanya" ucap Ize dengan kesal
"Izeee" seru Chiko menyerah berbicara pada Ize
Segera Ize mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam celana pendeknya yang berada di dalam Rok sekolahnya yang memang ia selipkan (Ize membuat sendiri kantong hp di dalam celana pendek sekolah nya itu untuk menyembunyikan hp miliknya dari guru)
π±"Hallo, bisa anda datang kesini, membantuku, pasti anda lihat sendiri kan apa yang terjadi pada kami lewat hidden camera yang memang anda pasang untuk mengawasi kami, tolong segera ke tempat ini" ucap Ize sedikit dengan suara kecil agar tidak di dengar oleh Mark, Jhonny dan Kenzo yang ada di tempat itu
Tanpa menunggu jawaban dari yang di telfon,tetap saja Ize langsung memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak dan kembali memegang wajah sang Koko yang penuh dengan luka memar akibat pukulan dari Daniel dkk
Tidak berselang 3 menit orang yang di maksud oleh Ize itu datang dengan pakaian kasual hitam yang tampak cocok di badannya dengan masker dan topi hitam yang menutupi wajahnya dan jika di lihat usianya cukup muda seperti Khalid si kepala sekolah
"Bantu aku,Chiko sangat kesakitan sekarang" ucap Ize melihat sekilas ke arah orang tersebut yang memang sudah berdiri di depan Chiko dan Ize
"Tidak perlu di ucapkan, ayo Chiko biar aku bantu membersihkan tubuh mu" ucap pria tersebut
"Ize tunggulah di luar, ambilkan saja pakaian Chiko yang baru, ada di dalam tasnya kan, biar di sini aku yang mengurusnya" ucap pria itu lagi, dan untungnya Chiko memang sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi maka dari itu dia sudah menyiapkan Pakaian bahkan p3k yang lengkap di dalam tas dan lokernya untuk berjaga-jaga dari bullying yang akan dia dapatkan
Segera saja Ize bangun dan sekilas melirik ke arah Mark dengan sinis sebelum ia keluar dari toilet itu dan berlari menuju lantai 3 tempat di mana ruang kelasnya berada.
TBC π£οΈ
Sampai sini dulu, gimana?, Seru gak cerita nya?
Semoga seru deh ππ
Kasih komen dong biar tau aku nyaπ π
Ohh iya aku cuman mau kasih tau kalo mungkin kata-kata kaya, aku-kamu,Aku-kau,Lu-gue,saya-anda gituh bakal bertebaran kemana-mana dengan tidak rapih karna mengikuti suasana dalam alur ceritanya aja yah
Jadi gak masalah kanπ
Pokoknya cerita aku ini tolong yang di ambil kesimpulan baiknya aja yah para Readers tercinta, terimakasih atas dukungan nya
Semoga terhibur
Dan
Selamat membaca
Mohon untuk LIKE π VOTE π RATE β KOMEN π₯°
SEE YOU NEXT TIME π
HAPPY READING ALL π