
Sesampainya di rumah 🏡
"AKHH, Benar-benar sial, dasar manusia sialan" ucap Chiko sembari memasuki rumah dengan langkah besar dan wajah yang sudah sangat memerah akibat marah
"Dasar orang-orang tidak tau malu" ucap Chiko lagi melampiaskan setiap kekesalannya pada salah Sebuah samsak tinju di depan ruang tamu mereka itu
Ize yang melihat kakak sepupunya itu hanya bisa duduk diam di ruang tamu sambil terus memperhatikan sang empu yang tengah melupakan kekesalannya
"Luapin aja semua kekesalan lu Ko, karna lu harus sebisa mungkin nahan hal tersebut jika berada di sekolah yang di penuhi orang-orang sialan itu" ucap Ize memberi semangat pada Chiko
"Ize, gue tanya sama lu" ucap Chiko yang dengan tiba-tiba duduk di samping ize
"Apa?" tanya ize
"Lu beneran masih mau bertahan dengan kepura-puraan ini? Tanya Chiko memastikan kepastian tersebut
"Tentu aja, memangnya mau bagaimana?" Ucap Ize dengan santai
"Ahhh tidak, ganti saja pertanyaannya, apa lu bener-bener bakal ngebantu wakil ketua OSIS itu supaya kembali seperti sikap dulunya, kaya apa yang di bilang sama tuan muda Vilcensius itu?" Tanya Chiko lagi pada Ize
"Entahlah, tadinya keinginan gue untuk hal itu begitu menggebu-gebu tapi melihat interaksi dari wanita itu, buat gue jadi sedikit ragu" ucap Ize yang kemudian mengeluarkan secarcik kertas yang jika di lihat secara sekilas saja, semua orang akan tau bahwa itu sebuah buku cek, segera Ize mengambilnya dan menuliskan sejumlah nominal uang di dalam kertas tersebut
"Buat apaan tuh?" Tanya Chiko melihat adik sepupunya itu
"Ini bakal gue kasih sama hacker yang bakal gue sewa buat ngerekam setiap hal yang kita lakukan di sekolah itu, jadi walaupun kita terpisah sekalipun, kita tetap bisa dengan mudah menemukan satu sama lain" ucap Ize yang kemudian selesai dengan kertas tersebut
"Tapi, bukannya Tiga ratus ribu Dolar terlalu besar yah" ucap Chiko
"Untuk melakukan hal besar, juga harus mengorbankan sesuatu yang besar kan" timpal Ize dengan seringai khas nya
"Bertahanlah untuk tetap di bully Koko, karna pembalasan yang akan mereka dapatkan nanti, tidak akan sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan pada kita" ucap Ize lagi dengan sebuah smirk nakal ala seorang penjahat berpengalaman
"Saya hanya bisa mengikuti cara main anda saja, Tuan putri, silahkan anda yang mengaturnya" ucap Chiko yang mengakhiri, dan akhirnya pergi untuk membersihkan diri
Di sisi lain____
Leandra Dkk
"Bukankah kita harus menghentikan Daniel?" Tanya Jhonny
"Nggk minat bantu, lu aja sendiri gua masih sibuk sama acara sekolah!" Tekan Lean yang langsung menolak
"Sebenarnya itu memang sudah keterlaluan tapi jangan membuat masalah semakin panjang, kita harus tuntaskan ini dulu" ucap Mark sambil membolak balik kertasnya
"Iya sih, yaudah lah bodo amat" gumam Jhonny
TOK TOK TOK
"masuk!" Pinta Mark
Khalid masuk
Sontak semua anak OSIS berdiri dan memberi hormat termasuk Lean.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mark
"Saya mau bicara dengan adik saya Leandra Vilcencius" jawab Khalid dengan tatapan datar
Sama halnya dengan Lean yang langsung berubah ekspresi jadi kesal karna sudah menyadari visi misi abangnya menghampiri dia.
Lean meninggalkan ruangan dan ikut dengan abangnya keruangan kepala sekolah.
"Duduk!" Pinta Khalid
Lean duduk
"Jadi, kemana dua anak baru itu?" Khalid duduk dihadapan Kean
Lean tersenyum, dia mengangkat kepalanya, bersender dan melipat tangan dan kakinya.
Terlihat sangat angkuh dihadapan kakaknya.
"Adek tau apa yang bakal Abang tanyain, tapi adek belum siap aja mengdengarnya" ucap Lean sambil tersenyum
"Dimana mereka?" Tanya Khalid yang mengikuti gaya adiknya
"Mereka pulang" jawab Lean
"Kenapa?" Tanya Khalid
"Mereka habis dikerjain Daniel dkk" jawab Lean lagi
"Kenapa nggk kamu tahan hum?"
"Adek terlalu sibuk" Lean buang muka
Khalid hanya diam, saat ini memang adiknya yang selaku wakil ketua OSIS memang sangat sibuk dia mengerti bagian itu, tapi dia tidak mengerti kenapa lean terlihat sangat angkuh begini dan melalaikan tugasnya sebagai OSIS.
"Kenapa kamu?" Tanya Khalid
"Adek suka aja, Abang perhatian kesemua orang" jawab Lean
"Abang rasa itu bukan sebuah pujian" jawab Khalid
"Memang bukan"
"Ooohh, Abang tau kemana obrolannya, bukannya kita udah ngomongin ini ya kemarin" pikir Khalid
Lean hanya mengangguk
"Huft, padahal Abang tau adeknya gimana tapi Abang tetap aja melakukan hal hal yang membuat Abang sama adek musuhan" Gerutu Lean
"Dikerjai seperti apa mereka?" Tanya Khalid yang mengubah topik dan membenarkan posisi duduknya
"mata Abang ada disini, bukan disana!" Amuk Khalid sambil memberi isyarat mata dengan kedua jarinya
Lean menatap Khalid kesal, dia juga memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih anggun
"Abang merasa dihargai kalau kamu duduk kayak gitu" ucap Khalid sambil menyeduh kopi dan teh dan memberinya pada adiknya.
Khalid duduk bersilang dilantai tepat didepan adiknya dan menggenggam kedua tangan adiknya.
"Maafin Abang, Abang kasar sama kamu" Lean hanya menatap abangnya
"Abang sayang sama kamu doang, nggk sama yang lain, tolong mengerti Abang sedikit aja. Abang mohon mengerti sedikit aja perasaan abang" Lean tersentak, maksudnya apa yang mengerti sedikit saja perasaan Khalid padahal Khalid tidak mau mengerti perasaannya
"Kenapa adek harus mengerti perasaan abang!" Bentak Lean
"Kamu berfikir Abang nggk ngerti perasaan kamu?" Tanya Khalid sambil tersenyum
Lean mengangguk
"Nggk, Abang yang paling mengerti perasaan kamu dibanding yang lain. Tapi Abang cuma nggk bisa kasih tau aja, kamu tau kan semua tindakan yang Abang lakukan itu hanya untuk kamu"
"Abang bekerja disekolah ini untuk kamu, Abang kabulkan semua permintaan ya permintaan kamu, bahkan Abang sampai sekarang belum menikah juga gara gara kamu" Khalid mencubit pipi adiknya
"Menikah aja Sono, adek nggk larang"
"Bohong" Khalid tetap mencubit pipi adiknya gemas
"Terserah!" Gerutu Lean
"Jadi Abang mau kamu maafin atau nggk?" Tanya Khalid
"Memang adek boleh bilang nggk?" Tanya Lean sedikit membuka hati
"Jelas tidak"
"Yaudah, kelas udah mulai adek harus balik kekelas" ucap Lean yang menyesap tehnya dan kembali kekelas
"Leandra Vilcencius" sahut Khalid
"Iya pak?" Balas Lean dengan tegap layaknya seorang guru dan siswi
"Abang udah persen baju buat kamu dan KAMU, harus mau!" Perasaan Lean tidak enak melihat senyuman miring abangnya
"Adek ngerti bang" jawab Lean dan meninggalkan ruangan
***
"ANIZE ALBERT" teriak Chiko dari ruang tamu, padahal saat ini ize sedang tertidur pulas di kamarnya, jam bahkan sudah menunjukkan pukul 08:50 malam tapi karna teriakan dari Chiko membuat Ize terperanjat dan harus terjatuh dari kasur king size nya karna terkejut
"APA, ANJI*G" saut Ize tak kalah nyaring dari dalam kamarnya
"Lu buka dulu kamar lu, gue mau ngomong" ucap Chiko yang sudah berada di luar kamar Ize
"Gak gue kunci itu kamarnya, buka aja bang*at" kesal Ize yang kini masih dengan posisi terduduk di lantai kamarnya
Segera Chiko membuka pintu kamar Ize dan masuk ke dalam kamar adik sepupunya itu
"Lu ngapain di lantai Ze?, Kasur besar padahal, ada sofa juga, ini malah duduk di lantai dingin tau tuh" ucap Chiko dengan polos a.k.a tidak tau apa-apa
"Terserah lu ko" kesal Ize
"Lah kenapa si?" Ucap Chiko masih dengan lugunya
"YAH GARA-GARA LU TERIAK TADI, JATUH LAH GUE MONYET" ucap Ize dengan berteriak
"Lagian elu yah, kalo peran bego lu jangan lu bawa sampe ke rumah si, cukup di sekolah aja" ucap Ize lagi dengan kesal dan kemudian memegang kasur di sampingnya untuk tumpuan agar bisa bangun dan berdiri
"Hehehe maaf maaf, sini Koko bantuin" ucap Chiko membujuk sembari memegang ize agar duduk di kasurnya
"Emang ngapain si lu teriak-teriak" tanya Ize pada Chiko yang sudah duduk di sebelahnya sambil memegang kaki Ize
"Gue mau nanya, kan tuh OSIS pada nyuruh bikin jas sama Gaun nih, jadi lu bakal bikin atau pesan dari desainer?" Tanya Chiko
"Aww jangan lu pegang kaki gue keras-keras, sakit nih keseleo tadi tuh" ucap Ize sembari memukul tangan Chiko yang sedang memencet pergelangan kaki Ize yang memerah
"Awalnya gue mau pesan dari desainer grafis, tapi entar ketahuan kalo kita bangsawan karna kain dengan model desain yang di buat sama grafis tuh bukan sembarangan, jadi gue memutuskan untuk buat sendiri dari kain flanel dan satin, jadi masih bisa terjangkau sama orang biasa kaya kita" ucap Ize dengan percaya diri
"Buatin gue juga yah Ze, kan lu pinter kalo masalah ngerancang model baju gituh yah yah" ucap Chiko merayu sang sepupu
"Tenang gue yang bakal buatin" ucap Ize
"Dah lu keluar sana, gue mau tidur ini, ngantuk" ucap Ize mendorong sang sepupu
"Gak mau ah, mau tidur di sini gue" saut Chiko sambil membanting dirinya di kasur besar milik Ize yang kemudian tidur membelakangi ize
"Ishh lu mah, awas aja lu nyempit-nyempitin gue entar malam ye" ucap Ize yang kemudian tidur di samping Chiko dan menutup diri menggunakan selimut hingga seluruh tubuhnya
TBC 🛣️
selamat membaca
Dan
semoga terhibur
Mohon untuk LIKE 👍 VOTE 😉 RATE ⭐ KOMEN 🥰
SEE YOU NEXT TIME 🍒
HAPPY READING ALL 🌈