PLEASE DON'T GO

PLEASE DON'T GO
episode 13 Tentang keadilan



"Anize" panggil Jhonny yang duduk di samping ize tersebut


"Iyah?" Jawab Ize dengan nada lembut sembari menoleh ke arah Jhonny yang berada di samping mejanya


"Kamu nggk marah atau khawatir Chiko di bully oleh mereka?" Tanya Jhonny penasaran, pasalnya melihat Ize yang duduk dengan tenang sembari terus memasang wajah datarnya membuat Jhonny merasa penasaran sekaligus aneh dengan sikap tersebut


"Biasa saja, Chiko sudah sering di bully dulu dan sampai saat ini Chiko bisa mengatasinya dan berakhir baik-baik saja sampai sekarang" ucap Ize dengan santai memandang wajah Jhonny


"Tapi gue rasa saat ini beda deh buat Chiko, Daniel dan teman-temannya itu gak bisa di anggap sembarangan, kalo mereka mau mereka bisa lebih dari sekedar pembullyan anak sekolah, mengerti maksud nya kan" ucap Jhonny memperingati Ize


"Aku mengerti, tapi mau bagaimana lagi Chiko juga sudah sangat diam, tapi mereka lah yang memainkan peran antagonisnya jadi mau menghindar bagaimanapun akan susah, tapi aku tidak terlalu takut karna Kalian para OSIS ada kan untuk murid biasa seperti kami" ucap Ize penuh percaya diri membuat Lean, Mark dan Jhonny tersentak


"Kami para OSIS tidak punya waktu untuk meladeni permainan kekanak-kanakan para murid di sini" sahut Mark dengan dingin yang berada di samping ize


"Bahkan ketika murid itu di lukai karna permainan kekanak-kanakan murid yang lain?" Tanya Ize memastikan ke arah Mark


"Anize, kami bukan tidak ingin melihat para murid, tapi di sini yang tinggi yang berkuasa dan kami terlalu sibuk dengan urusan kami, tolong mengertilah" sambung Lean yang duduk di depan Ize sambil sibuk mengutak-atik ponselnya


"Bukankah kalian juga berkuasa, apa meluangkan waktu untuk murid biasa yang di bully seperti kami pun kalian tidak bisa?" Tanya Ize kini mengarah ke Lean


"Urus urusan mu sendiri jangan merepotkan orang lain" ucap Lean dengan acuh dan pergi meninggalkan kelas


"Hey anak baru, sekolah ini bukan tempat untuk menjadi pahlawan atau menjadi yang di lindungi, kalian kuat maka kalian akan bisa bertahan, sudah gue bilang dari awal, kami sibuk dan tidak akan membuang waktu untuk masalah kekanak-kanakan murid di sekolah ini" sambung Mark dengan sinis dan mengikuti langkah Lean yang keluar begitu juga Jhonny yang berlari pergi menyusul kedua sahabatnya itu


"Wihh anak baru yang satu ini punya nyali juga yah, sampe nyari pembelaan dari OSIS yah walaupun ujung-ujungnya gak di perduliin" ucap Daniel yang mendengar pembicaraan Ize dengan para OSIS tadi


Ize hanya diam sampai bell pulang berbunyi begitu juga Chiko yang tidak di ajak bicara oleh ize sampai pulang sekolah dan terus-terusan mendapatkan bully-an kecil dari Daniel dan temannya sampai bell pulang berbunyi karna tidak adanya guru di kelas itu


Segera Ize dan Chiko keluar dari kelas menuju parkiran sepeda mereka tapi saat ingin menaruh barang mereka di loker kelas tidak sengaja Ize dan chiko melihat Daniel dkk yang sedang menyiksa seorang kutu buku di dalam sebuah gudang bahkan suara teriakan kesakitan dari anak yang di bully dapat terdengar jelas keluar dari gudang tersebut tidak sampai di situ bahkan Ize dan Chiko melihat Mark, Jhonny dan Lean melewati gudang tersebut mereka bertiga sempat berhenti dan saling menatap dan berlalu begitu saja, hal itu berhasil membuat Ize melotot kasar sembari menahan emosi


"Ayo kita pulang Koko" ucap Ize dengan kasar, pasalnya Ize dulu juga seorang pembully tapi Ize hanya membully seorang pembully tapi Ize hanya akan membalaskan dendam anak-anak lemah yang di bully di sekolahnya, dengan cara membully para pembully tersebut sampai mereka meminta ampun dan tidak akan mengulangi hal yang mereka lakukan, tapi saat ini ize bahkan tidak bisa bersuara karna peranan yang dia ambil di tempat barunya itu


Sampai di parkiran Ize dan Chiko kemudian berpapasan lagi dengan 3 OSIS yang memang juga akan pulang menggunakan kendaraan pribadi mereka masing-masing


Ize dan Chiko pun tidak perduli dengan kehadiran orang-orang itu dan fokus mengambil sepedanya tapi saat sudah memegang sepeda masing-masing sepeda itu malah rusak dengan bodi sepeda yang sudah tidak karu-karuan terlepas dari tempatnya


Ize yang kesal kemudian membanting kasar pegangan sepeda nya dan pergi dari parkiran itu tanpa memperdulikan 3 OSIS yang memperhatikan mereka


"Ize, tunggu " ucap Chiko berlari lucu mengikuti Ize yang berada cukup jauh di depannya


"Ize, sabarlah, ini baru permulaan tapi lu udah gak bisa nahan emosi" ucap Chiko yang terus mengikuti langkah Ize dari belakang


"Chiko lu salah, gue bukan gak tahan sama pembully-an ini, tapi gue sakit hati sama sikap para OSIS yang ngebiarin para murid yang di bully" ucap Ize masih dengan wajah kesalnya


"Udah lah Ze, sabar aja dulu kita jalanin aja hidup kita di sini gimana kedepannya, gak usah mikirin orang lain" ucap Chiko meyakinkan ize


"Lu gak tau betapa pendeknya fikiran para osis-osis itu ko, mereka bilang sama gue bahwa yang tinggi yang berkuasa dan yang tinggi yang bakal menang, sedangkan mereka gak ada sikap tangung jawabnya sebagai OSIS, bukannya tugas mereka menjadi pemimpin yang mampu menjadi teladan yang baik dan bersikap tegas untuk hal yang benar, tapi mereka, mereka lebih mirip ketua mafia tau nggk!" ucap Ize dengan nada yang begitu marah kemudian lari meninggalkan Chiko


"Ize, gue harap lu mengerti kalo lingkungan kita saat ini benar-benar jauh dari kepempimpinan lu yang tegas dan Adil" ucap Chiko sendiri sembari menatap lekat punggung adiknya yang semakin jauh itu


***


Dirumah


Chiko yang baru datang melihat sepatu Ize yang memang sudah rapih di rak sepatu segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang adik tercinta itu


"IZE...." Teriak Chiko


"Gak usah teriak" sahut Ize yang muncul dari balik kulkas dengan tangan yang penuh dengan makanan


"Gue kira lu masih marah" ucap Chiko


"Kagak, yok sini lu makan" panggil Ize yang sudah duduk rapih di meja makan


"Ze, lu gak papa kan" tanya Chiko khawatir sambil melihat Ize yang lahap dengan makanannya


"Apaan si, yah gpp lah, emang gue kenapa?" Jawab Ize kesal


"Tentang para OSIS itu, lebih baik jangan terlalu banyak balas omongan mereka deh, kita di sini ini orang biasa yang gak punya apa-apa, lu gak mau kan lu kalah terus gue ngambil aset lu yang ada di kota U, lebih baik perbanyak sabar gue tau lu mau bersikap adil dan ngebela hal yang benar tapi bedanya kita gak lagi di lingkup yang bisa kita gapai, lu ngerti kan" ucap Chiko menasehati sikap Ize yang menurutnya kurang terkontrol


"Iyah gue ngerti" jawab Ize


"Tapi entah kenapa gua sekarang nyesel kita harus nutup nutup diri begini!" Ucap Ize sambil mencengkram kuat sendok dan garpunya


"I, itu derita lu" jawab Chiko


"Konsekuensi izee inget, konsekuensi!" Ucap Ize sambil mengelus dadanya menahan amarah


***


"Nggk ada kendalakan sama dua anak baru itu?" Tanya Khalid sambil membolak balik beberapa lembaran yang dipegangnya


Lean yang sedang menyeruput minumannya seketika tersedak, dia terdiam sebentar


Khalid menatap Lean


"Sudah pasti terjadi sesuatu, dikelas itukan ada Daniel" ucap Khalid sambil melepas kacamatanya


"Nggk, nggk terjadi apa apa" jawab Lean


"Kayaknya reaksi kamu berkata lain" Khalid menatap Lean tajam tajam


"Hanya sapaan khas Daniel dan teman temannya" jawab Lean tenang


"Kamu selalu terlihat tenang kalau lagi bohong, tapi Abang tau kalau kamu bohong" ucap Khalid yang menyeruput kopinya


"Adek nggk bohong!"


"Yah, semoga aja begitu karna kaki kamu dari tadi dihentak hentakin nggk bisa berhenti gituh!" Ucap Khalid


Seketika Lean membenarkan posisi kakinya


"Jadi perkenalan kayak apa?" Tanya Khalid


"Abang harus tau karna-"


"Karna dia sopir keluarga Vasilion dan seorang gadis desa yang mendapat perhatian khusus dari CEO Lee?" Tanya Lean tegas


"Itu kamu tau" jawab Khalid


"Jadi apa yang Daniel lakuin sama temen temennya?" Tanya Khalid lagi


"Tanyakan langsung pada pengawas yang menjaga cctv" jawab Lean


"Memang apa masalahnya kalau kamu yang jawab?" Nada Khalid mulai tinggi


"Karna Abang nggk akan percaya kalau adek yang ngomong!" Gerutu Lean


"Kamu kenapa?, sejak kapan Abang nggk percaya sama omongan kamu?" Tanya Khalid


"Sejak kapan Abang perduli sama anak sopir dan anak desa?" Balas Lean


"padahal adeknya disini udah kena mental tapi di abaikan aja" ucap Lean meninggalkan abangnya di ruang tamu itu sendiri


"Apa maksud kamu dek?"


"Dek"


"Adek!"


"LEANDRA VILCENCIUS!" teriak Khalid


Lean berhenti ditengah tangga lantai 2 dan berbalik badan menatap abangnya dibawah


"Oh, bahkan adeknya udh bisa di bentak, hebat sekali"


"Abang belum selesai Lean!"


"LEANDRA!"


"LEANDRA!"


"APA!" balas Lean


Khalid terkejut melihat adiknya yang ikut membentak dia


"DIBENTAK BENTAK TERUS, PUSING LEAN DENGERNYA. NGOMONG AJA SIH APA SUSAHNYA!" Amuk Lean


"turun kamu Lean!" Pinta Khalid sambil menunjuk kebawah


"NGGK!" Balas Lean


"kalau gitu biar Abang yang naik!" Tanpa sadar Lean menaiki anak tangga dengan takut


Tapi khalid lebih cepat dan bisa menangkap Lean


"Kamu nggk akan ngerti kenapa Abang lakuin ini dek" ucap Khalid dengan memegang kedua bahu Lean


"Adek nggk sebodoh itu, jadi jelasin aja adek pasti ngerti" ucap Lean


"Nggk, Abang nggk bisa jelasin ke kamu" ucap Khalid


"Jangan sentuh!" Lean menepis kedua tangan abangnya


"Kamu bakal tau nanti, Abang nggk bisa jelasin kekamu sekarang" ucap Khalid


"Iya"


"Bukan berarti Abang nggk sayang kamu" ucap Khalid


"Iya, terserah" Lean meninggalkan abangnya


BRAK


Pintu kamar Lean banting dengan kencang


"Tenang dulu tuan, nona pasti bisa mengerti pelan pelan" ucap kepala pelayan yang membawa Khalid kembali duduk diruang tamu


Disisi lain Lean didalam kamar bersembunyi dibalik selimut, ia menangis karna habis dibentak oleh abangnya.


Tapi dengan sigap dia duduk lagi dan menghapus semua air matanya


"Jangan nangis, jangan, nggk boleh nangis, simpan air mata, nangis cuma buat orang lemah, lu nggk lemah lu kuat, nggk boleh nangis" Lean bergumam sendiri sambil terus menghapus air matanya dan menahan Isak nya


"Tahan tahan tahan, dilarang nangis, dilarang nangis!" Bentak Lean pada dirinya sendiri


Dia beranjak menuju kaca dan melihat dirinya sendiri, wajahnya memerah juga matanya, karna habis menangis.


Lean menepuk nepuk pipinya agar berhenti menangis, dia menahan ekspresi nya lagi menjadi datar seperti saat disekolah.


'ini lebih baik' Lean beranjak dan mengambil handuknya untuk mandi


TBC πŸ›£οΈ


Episode kali ini kurang ngefell gituh kayaknya yah, tapi maklumin deh gpp kan hehehe, soalnya mau aku buat episode yang lebih greget gituh masalah pembully-an nya hehhe


Intinya selamat membaca dan Semoga terhibur


Mohon untuk LIKE πŸ‘ VOTE πŸ˜‰ RATE ⭐ KOMEN πŸ₯°


Ikutin terus cerita aku ya temen temen ❀️❀️


SEE YOU NEXT TIME πŸ’


HAPPY READING ALL 🌈