
"Ayah" panggil Mark pada ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu sembari membaca sebuah majalah
"Ada apa Mark?" Tanya CEO Lee
"Siapa 2 anak baru disekolah itu, yang katanya rekomendasi dari ayah?" Tanya Mark yang duduk di samping ayahnya
"Tidak mungkin mereka belum memperkenalkan diri kan Mark, sudah dua hari sejak mereka masuk masa kalian belum saling berkenalan apa lagi mereka satu kelas dengan kamu" ucap CEO Lee masih dengan posisi nya
"Iyah sudah si, tapi itu aneh Ayah, mereka jelas-jelas hanya orang biasa yang bahkan gak punya marga, tapi kenapa harus rekomendasi langsung dari Ayah si?" Tanya Mark tidak terima
"Mark mereka itu orangnya Tuan Vasilion dan tuan Vasilion sendiri yang minta bantuan sama ayah, jadi gak ada alasan dong buat ayah nolak, bahkan ini permintaan langsung dari Tuan Albert" ucap CEO Lee menerangkan
"Tapi Ayah, kenapa aku merasa aneh yah seperti ada yang di sembunyikan oleh ayah bahkan kedua anak baru itu" ucap Mark mengintrogasi
"Fikiran kamu saja yang suka mencari tau hal yang memang tidak ada" ucap CEO Lee dengan sedikit gugup yang berakhir berdiri untuk meninggalkan anaknya itu
Kini Mark hanya bisa tambah penasaran tanpa mendapatkan jawaban dari pihak manapun, tapi Mark selalu berfikir bahwa gaya dan tampilan dari Ize dan Chiko tidak bisa membuat seorang Mark Lee percaya bahwa mereka hanya orang biasa, apa lagi sifat tenang dari Ize yang menunjukkan sisinya yang anggun seperti halnya anak gadis bangsawan yang di didik dengan harga diri yang tinggi dan sopan santun yang besar.
Hari ke 3
Sesampainya di sekolah
Ize dan Chiko kini sudah berada di koridor sekolah dan tengah menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak, karna kejadian kemarin kini nama Chiko sudah banyak di kenal sebagai 'si,Idiot bahan bully-an', saat inipun mereka sedikit lebih terlambat datang ke sekolah sehingga Sekolah yang dua hari belakangan pertama mereka datangi awalnya sepi kini sudah memiliki banyak penghuni yang hiruk-pikuk di setiap sisi di sekolah tersebut sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing
Tidak mau berlama-lama berjalan di koridor sekolah, dengan cepat Ize dan Chiko melajukan langkahnya agar segera masuk kedalam kelas mereka
Dan benar saja di dalam kelas sudah ada Daniel beserta teman-temannya, yah walaupun para OSIS belum ada di kelas mereka itu
"Wah yang di tunggu udah datang nih" ucap Rio selaku teman Daniel yang langsung merangkul kasar pundak Chiko
"Buat yang kemaren, sorry yah lu kan tau itu cuman iseng doang" ucap Daniel tanpa rasa bersalah
"Iy..Iyah" ucap Chiko dengan gugup
Segera Ize beranjak untuk pergi ketempat duduknya karna tidak mau terbawa emosi dengan bualan sialan dari Daniel dan temannya itu
Sedangkan Chiko yang juga beranjak ketempat duduk miliknya tentu tetap di ikuti dan di bully dengan bully-an kecil dari Daniel dan temannya, dari menarik-narik kecil rambut Chiko dan melemparinya dengan kertas milik Chiko yang sudah mereka robek kecil-kecil lalu menyuruh Chiko untuk membersihkan nya
Ize yang mulai tidak tahan dan semakin kesal akhirnya keluar dari kelas tersebut dan jalan melewati setiap koridor di lantai 3 itu dan akhirnya tanpa sadar Ize sudah menaiki lantai 4 dan sedang menyusuri setiap koridor jalan di lantai 4 tersebut
Sambil terus menghela nafas kasar setiap kali mengingat kakak sepupunya yang sedang di bully, Ize juga terus berjalan sampai langkahnya terhenti pada sebuah pintu di samping kanannya yang sedikit terbuka, bahkan dia mendengar suara seseorang yang tengah berbicara di dalam sana
Dengan perlahan Ize mendekati ruangan tersebut dan bersembunyi di balik tembok luar ruangan agar mendengar percakapan orang di dalam sana
"Mark, bukannya lu keterlaluan yah sama dua anak baru itu, mereka bisa di bully lebih parah kalo begini" ucap Jhonny
"Kalo lu kasihan kenapa engak lu aja yang bantuin mereka, gue sama Lean gak punya waktu" ucap Mark acuh
"Yah gue juga sibuk kali, bahkan sekarang ortu gue nyerahin anak perusahaan nya sama gue, dimana waktu gue buat bantuin mereka, lagian kan elu ketua OSIS nya sama si Lean" ucap Jhonny dengan kesal pada Mark
Pasalnya di ruangan yang di yakini adalah ruangan laboratorium komputer itu hanya ada dua orang yang tidak lain adalah Mark dan Jhonny yang tengah mencari sebuah Data yang di suruh oleh kepala sekolah tapi malah berakhir dengan perdebatan
"Yah biarin aja kali tuh dua orang, gak penting juga" ucap Mark dengan angkuh
"Lu liat muka gue, apa lu Fikir gue orang yang bakal perduli dengan urusan orang lain yang gak ngebuat gue untung, lagian kalo emang lu mau bantu yah udah si bantu sendiri aja ribet banget lu" ucap sarkas Mark
"Lu beneran egois Mark, gimana bisa ada manusia berhati dingin kaya lu, apa lagi lu cowo" ucap Jhonny dengan kecewa
"Udah deh Jhon, kita di sini buat ngurus data bukan buat ribut" ucap Mark lagi tanpa memikirkan ucapan Jhonny
"Kalo emang gak mau nolongin kami yang cuman orang biasa ini, seenggaknya kasih peringatan buat mereka yang ngebully kami, apa itu begitu susah buat OSIS tinggi seperti kalian?" Ucap seseorang yang tengah berdiri di pintu masuk laboratorium komputer tersebut, jelas saja itu Anize yang sudah larut dalam kekesalannya
Mark dan Jhonny yang terkejut segera menoleh pada sumber suara tersebut
"Urus-Urasan mu sendiri" ucap Mark dengan dingin
"Apa ini bukan urusan kalian?" Tanya Ize sekali lagi untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar tadi itu salah tentang mereka orang yang menutup rapat-rapat telinga mereka dari keadilan
"Ini bukan urusan kami, sudah gue bilang dari awal, yang kuat yang akan menang" ucap Mark yang kemudian bergerak ke arah pintu untuk keluar sembari menyenggol sedikit lengan Ize
"Apa keadilan hanya orang-orang tinggi seperti kalian yang berhak mendapatkan nya, lalu bagaimana jika populasi manusia di dunia hampir 70% adalah orang biasa seperti kami, apa juga tidak akan mendapatkan keadilan, apa 30% orang dengan kedudukan tinggi mereka yang mendapat keadilan itu sendiri" ucap Ize dengan cepat sembari mengepal tangannya kuat dengan menitihkan air mata karna kesal sebelum Mark pergi dari tempat itu
Segera Ize berbalik agar menatap punggung Mark yang kini berhenti karna ucapan dari nya tersebut
"Mark, bukan keinginan kami di berikan takdir seperti ini, apa jika kami lemah maka itu kesalahan kami, apa karna kami lemah kami harus menerima penyiksaan, apa karna kami lemah kami berhak di rusak, apa karna kami lemah kami berhak di biarkan, apa karna kami lemah kami tidak pantas mendapatkan keadilan, kami orang biasa bahkan untuk hidup saja butuh perjuangan tapi kenapa orang tinggi seperti kalian menjadikan kami orang-orang lemah yang tidak punya hak untuk mendapatkan keadilan, apa hanya orang seperti kalian yang berhak bahagia lalu orang seperti kami pantas menderita, kalo begitu seharusnya dari awal tuhan tidak menciptakan keadilan agar semua orang di sama ratakan" ucap Ize dengan nada rendah yang penuh dengan Isakan dan air mata yang sudah meleleh dari matanya
"Anize, dengarkan, jangan perdulikan ucapan Mark dia hanya sembarangan berbicara, jangan salah faham dulu biar aku jelas" belum habis Jhonny berbicara ucapannya lebih dulu di potong oleh ize
"Tidak, tidak ada yang perlu di jelaskan, dan ini bukan salah faham tapi sifat yang sedikit saja tidak punya simpati pada orang lain, maaf jika aku mendengar dan mencela omong kalian tadi, aku permisi dan tolong renungkan sedikit saja omongan dari orang rendahan seperti ku ini" ucap Ize dengan nada yang amat kecewa, dan berlari menuruni tangga
Mark hanya bisa terdiam kaku sambil mengingat ingat ucapan yang tadi Ize lontarkan padanya
"Lu udah nyakitin hati seseorang, bukan tentang apa, dia sekolah di sini punya tujuan Mark dia bukan anak dari keluarga kaya seperti kita yang hidup semata-mata hanya untuk menyenangkan diri dan untuk memberi nama yang lebih tinggi untuk keluarga, tapi dia hidup untuk memperjuangkan hidup lain yang akan dia jalani kedepannya, mencari nafkah dan memenuhi tanggung jawab sebagai seorang anak, dan kita apa lagi lu gak bakal bisa ngerti perasaan mereka" ucap Jhonny yang kemudian meninggalkan Mark yang masih terdiam kaku di tempat itu
Jhonny berjalan menyusuri koridor dan setiap lantai di sekolah itu bertujuan untuk mencari Ize dan meminta maaf padanya
Sedangkan Ize kini sedang terduduk di bangku di dekat lapangan, menatap dengan pandangan kosong tepat ke arah lapangan yang sedang sepi itu, tanpa ada yang tau apa yang tengah dia fikirkan
TBC π£οΈ
Sampai sini dulu
Pengen tau dong reaksi kalian tentang episode ini tulis di komentar yah
Selamat membaca
Dan
Semoga terhibur
Mohon untuk LIKE π VOTE π RATE β KOMEN π₯°
SEE YOU NEXT TIME π
HAPPY READING ALL π