
...EMOSI...
Mobil yang membawa Eliza terhenti di sebuah butik besar ternama.
“Tolong antar Nona Eliza kedalam, disana ada ayah dan Bunda. Saya harus pergi menemui seseorang.”
Sopir itu sudah tau apa yang akan Zein lakukan, ia akan menemui Mahen. Setelah itu Anulika di antarkan masuk kedalam oleh Pak daud/sopir pribadi Mahen.
- - -
Di dalam sudah ada Bu Raina dan Pa Reynal sedang duduk di Ruang tunggu. Saat Anulika datang bersama pak Daud mereka sudah menduga dialah wanita calon istri Mahen.
“Inikah Eliza?” kata Bu Riana, setelah mendekati Anulika dan membelai pipinya.
“Iya Nyonya, dia Eliza calon istri Mahen.”
Kedua pasangan itu tersenyum. Anulika langsung mencium punggung tangan mereka.
“Dia cantik pah.” usul Riana.
“Calon mantu papa memang cantik.”
Anulika hanya tersenyum mendapat satu persatu pujian dari dua pasangan yang akan menjadi mertuanya. Dia terlihat lugu, santai, dan sopan hingga menimbulkan kesan yang baik.
“Kesini Nak.” Bu Riana dengan Antusias memegang tangan Anulika dan membawanya kedalam.
Anulika terbinar melihat Gaun pengantin yang di kenakan pada patung, bermacam warana, dengan desain yang berbeda. Bordirannya terlihat elegan jika di pakaiakan oleh wanita mana saja pasti akan terlihat seperti Ratu. Pikir Anulika.
//
“Eliza kamu mau gaun pengantin yang mana?”
“Yang mana saja Bu.”
“Kok begitu kamu harus memilihnya, jangan sungkan sama ibu, ibukan calon mertua mu.” Bu Raina menggoda Anulika dengan membelai dagunya, wanita itu hanya tersenyum.
“Makasih bu.”
Eliza benar, Ibu Mahen tidak mengenal wajah calon istrinya Mahen. Lalu bagaimana jika suatu saat semuanya terbongkar.
“Ibu kamu tumben gak telepon ibu.”
Anulika terdiam di kala Bu Riana bertanya seperti itu.
“El kamu sudah melihat wajah Mahen kan?” Bu Riana mengubah hipotesa pembicaraan. Ia berpikir Wanita itu terdiam saat ditanya ibunya karena ibunya tidak akan datang saat pernikahan putrinya, jadi dia sedih dan tak menjawab ucapannya.
Anulika mengingat lelaki itu, lelaki culun yang membuat Eliza menolak pernikahan nya.
“Iya bu sudah.”
//
Zein menghentikan Mobil di pekarangan Mansion Milik Mahen. Ia keluar dari Mobil dan berlari masuk ke dalam mendapati Mahen yang sedang terduduk lemas dan terpejam di sofa.
“Mahen.” panggil Zein, Mahen menyepitkan satu mata ia melihat sosok Zein yang berdiri, ia pun langsung terbangun, beranjak dari sofa dan menghampiri Zein. Ia meraih kerah Baju milik Zein, memilitnya ditangan dan menariknya. Mahen begitu sangat marah.
“Dasar tidak berguna.” setelah itu ia melepaskan baju Zein dan mendorongnya.
“Karena kau Helle meminta ku untuk mengakhiri hubungan kami.” teriaknya bergema di ruangan itu.
“Aku tidak tau Mahen, tapi Wanita itu menerimanya meskipun dia melihat ku sebagai dirimu.”
“Aaaaa……” Mahen berteriak secara histeris, mengacak Rambutnya, ia juga mengacak dan menjatuhkan barang yang ada. Setelah puas melampiaskan amarahnya pada barang disekitarannya, Mahen menjatuhkan badan di sofa dengan Nafasnya yang terengah - engah.
Zein sebagai saksi bisu karena ketakutan, ia memilih untuk diam dan tidak berbicara. Mungkin dengan membersihkan pecahan guci akibat ulah Mahen bisa membuatnya dalam posisi hijau/aman. Ia pun membersihkan semua pecahannya, tak berani matanya melihat Mahen.
Dia mencintai Helle, padahal Budan dan Ayah sudah bilang padanya kalau Helle wanita yan tidak baik.
...BERSAMBUNG...