
SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA BAHAGIA
Sore yang sepi dan menenangkan, Lingga duduk di ayunan dengan Bibi Saras yang selalu setia menemaninya.
Mamanya ikut serta dengan Lala berbulan madu ke swiss, sedangkan papanya, Lingga pastikan saat ini tengah dalam masalah. Rumah ini terasa lebih nyaman jika tidak ada keluarganya.
Keluarga? Apa masih pantas mereka disebut keluarga.
"Nona ini buahnya sudah bibi kupas kan" ucap Bibi Saras menyodorkan potongan apel yang sudah di potong kecil-kecil ke mulut Lingga.
"Bibi Makanlah juga"
"Setelah Nona selesai baru bibi makan" jawab Bibi Saras menyuapi Lingga dengan teletan.
Bagi bibi Saras tidak ada yang lebih menyenangkan selain merawat Lingga seperti putrinya sendiri. Setengah hidupnya sudah ia abdikan untuk Lingga, dan bibi saras lah yang nanti akan menyerahkan Lingga pada keluarga suaminya.
Berharap kepada tuan dan nyonya nya untuk kembali mencintai Lingga itu adalah sakit yang disengaja, jadi alangkah baiknya jika bibi Saras tidak menaruh banyak harapan kepada mereka.
"Bibi setelah ini tolong sisir rambutku ya?" Pinta Lingga di angguki Bibi Saras dengan senang.
Duduk di Ayunan, makan buah segar dan sesekali bergurau dengan Bibi Saras membuat Lingga begitu menikmati suasana sore hari ini.
"Nona, kalau bibi boleh tahu apa benar kemarin malam Nona menginap di kediaman Kusuma?" Tanya Bibi Saras memastikan.
Lingga mengangguk membenarkan pertanyaan bibi Saras"Benar, keluarga mereka sangat harmonis bi. Senang bisa bertemu dengan mereka semua"
"Bibi turut senang mendengarnya"
Tak..tak..tak
Terdengar langkah kaki mendekat sontak membuat Bibi Saras menoleh kebelakang.
"Ada apa?" Tanya Bibi Saras menatap pelayan yang baru saja datang dengan kepala menunduk.
"Di depan ada tuan muda Kusuma, beliau mencari nona kedua" tuturnya.
"Maksudmu Raka?" Tanya Lingga ikut berbalik.
"Betul Nona"
"Persilakan dia kemari"
"Cantik" gumam Raka berjalan mendekat dengan setangkai bunga matahari ditangan kanannya.
"Selamat sore Lingga" Sapa Raka menggantikan posisi bibi Saras mengayun ayunan yang di duduki Lingga.
"Raka!"
"Iya ini aku"
"Ini untukmu" Ucap Raka entah sejak kapan sudah berlutut di hadapan Lingga.
Tangan kurus itu meraba-raba di bantu Raka menerima setangkai bunga matahari yang tengah merekah.
"Bunga Matahari?"
"Hm, bunga matahari untuk kamu yang selalu menyinari orang-orang sekitarmu" gurau Raka diiringi tawa kecil.
Bibi Saras yang melihat interaksi keduanya perlahan mundur mencoba memberikan ruang untuk Lingga dan Raka berdua.
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Lingga
"Entahlah, aku juga tidak tau kenapa aku harus datang kesini" jawab Raka lalu berdiri di belakang Lingga kembali mengayun dengan perlahan.
"Kenapa tidak mengajak Bulan? Padahal jika dia kesini aku berniat mengajak gadis itu bercerita banyak hal. Kamu tahu adikmu itu sangat cerewet dan keras kepala"
Lagi-lagi Raka tertawa kecil menanggapi ucapan Lingga.
"Bulan memang keras kepala, anak itu tidak akan berhenti jika belum mendapatkan apa yang ia inginkan" timpal Raka.
Satu jam Lingga dan Raka habiskan bersama, tidak ada interaksi berlebihan yang keduanya tunjukkan, hanya sekadar bercerita dan sesekali pria dewasa itu menyuapi Lingga potongan apel yang tadi bibi Saras tinggalkan.
"Raka" panggil Lingga
"Bagaimana pendapatmu tentang gadis cacat sepertiku?"
Raka tidak menjawab, pria itu justru mengelus kepala Lingga dan menangkup wajah cantik gadis itu.
"Tidak ada yang catat semua ciptaan tuhan itu sempurnah. I LOVE YOURSELF"
BERSAMBUNG..