Perfect Wedding

Perfect Wedding
kerugian Alex



SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA BAHAGIA


"Apa! Bagaimana bisa seperti itu pak. Perusahaan kami disini sama sekali tidak mendapat keuntungan, dari peluncuran produk terbaru kami hanya mendapat 25%" tutur Alex menatap rekan kerjanya itu dengan sengit.


"Kenapa tidak bisa? Bukannya di kontrak kerjasama itu sudah jelas 25% untukmu dan 75% untukku!" Jawabnya ikut membalas tatapan tidak bersahabat yang Alex tunjukkan.


"25% saja aku sudah rugi, perusahaan sekecil ini siapa yang mau bekerjasama?" Sambung pria dengan kepala botak itu serkas.


"Bukannya perjanjian sebelumnya kita sama-sama dapat 50%, anda pasti melakukan kecurangan" sentak Alex marah.


Pria botak itu tertawa keras, memandang Alex remeh. Kecuran seperti apa? Dia tidak melakukan apapun disini.


Pukkk...


Map kuning itu melayang tepat di hadapan Alex.


"Kamu sendiri yang memberikan kontrak itu padaku? Jadi disini tidak ada yang penipu maupun ditipu"


Wajah tua sedikit berkerut Alex memerah, nafasnya memburu dengan tangan terkepal yang memperlihatkan urat tangannya.


Tidak, ini tidak mungkin, jika begini perusahaannya benar-benar akan gulung tikar.


"Ayo kita pergi" ajak pria botak itu pada anak buahnya meninggalkan Alex yang masih dikuasai amarah.


Brak...


Prang...


Semua benda yang dapat pria itu jangkau ia hempaskan ke lantai. Di bagian bawah dokumen yang sudah di print itu terdapat tanda tangannya, kenapa dia tidak membaca ulang perjanjian itu sebelum menandatanganinya.


Sialan!!! Dasar ceroboh kau Alex.


"Kalau begini perusahaan yang sudah ku rentes dari muda benar-benar akan gulung tikar"


Tidak, tidak akan ia biarkan usahanya hancur begitu saja. Masa muda nya sudah ia korbankan demi perusahaan dan masa tuanya sudah seharusnya menikmati hasil kerja kerasnya.


Tok..tok..tok


"Masuk!"


Sekretaris Alex menganga melihat ruangan bosnya yang sudah seperti kapal pecah, dokumen-dokumen berhamburan, vas bunga yang sudah hancur dan bingkai-bingkai foto bertebaran dimana-mana.


"Ada apa?" Tanya Alex mengatur nafasnya yang mulai sesak.


"Berita buruk pak, perusahaan uni ekspres membatalkan kerjasamanya"


"APA!" teriak Alex marah.


"Saham perusahaan menurun drastis pak, perusahaan tuan Arkan juga sepertinya tidak mampu membantu perusahaan kita" jelasnya menatap Alex dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Cari solusi untuk masalah ini, jangan biarkan pihak luar tau apa yang tengah terjadi"


***


"Hahaha benarkah?" Tawa penuh kemenangan yang Lingga berikan membuat bibi Saras menatap gadis itu heran.


"Nona"


"Terimakasih bi atas berita penting ini. Aku sungguh bahagia, siapa tau jika perusahaan papa gulung tikar dia akan sadar dan berhenti menindas orang lain. Ngomong-ngomong bibi tau berita ini dari siapa?" Tanya Lingga penasaran.


"Tuan Juan yang datang dengan banyak berkas di tangannya Nona, beliau juga berpesan agar berita ini tidak tercium media"


"Bagaimana jika media tau?" Pancing Lingga tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Tapi non__"


"Aku ingin tidur siang, bibi bisa pergi?" Potong Lingga cepat.


Bibi Saras mengangguk, membantu Lingga merebahkan dirinya di tempat tidur dengan nyaman tidak lupa wanita yang teramat setia itu menyelimuti Lingga.


"Selamat tidur Nona"pamit Bibi Saras sebelum menutup pintu kamar.


Mematikan Bibi Saras sudah benar-benar pergi, Lingga beranjak mengambil ponselnya yang berada di depan meja rias.


"Ayo buat keributan" gumamnya tersenyum simrik.


Tangan lentik itu bergerak cepat membuka media sosial. Mengetik beberapa kalimat yang membuat nama baik Alex perlahan rusak.


"Kirim" ucapnya Menekan tombol send di ponselnya.


"Artikel ini akan membuat kehancuranmu semakin dekat, tidak akan ada yang tau jika pemilik akun ini adalah anak bungsu mu sendiri"


Lingga tersenyum senang, hatinya berbunga-bunga kegirangan. Tidak sabar rasanya  melihat Alex mengamuk seperti banteng saat pria tua itu mengetahui tentang artikel yang baru saja ia kirim di sosial media.


"Sore-sore seperti ini pasti akan sangat menyenangkan jika duduk ditaman melihat sunset atau mungkin pergi berjakan santai bersama.."


Pipi Lingga memerah, ck sialan baru mengingat nama Raka saja dirinya sudah salting begini.


Jika di pikir-pikir Raka dan keluarganya terlalu baik padanya, jika terus begini Lingga yakin dirinya pasti akan baper.


"Raka, Raka, Dan Raka!! Pergi dari pikiranku" geram Lingga memukul-mukul kepalanya.


BERSAMBUNG...