Perfect Wedding

Perfect Wedding
EPISODE 4



...MENDAPATKAN IDE...


Kedua orang tua Mahen sangat membenci Helle. Pasalnya banyak cerita buruk tentang wanita ini namun Mahen tak mempercayai nya. Dan sampai saat ini cinta itu masih bersemi kuat di hati Mahen untuk Helle.


Tit…tit…


Suara Mobil sudah terdengar, Menandakan Mahen sudah kembali.


“Ayah, bunda. Mahen sudah kembali.” teriak Zein setelah melihat Mobil Mahen dari jendela dan berlari menuju dua pasangan yang sedang duduk di sofa Ruang Tamu.


Zein sahabat Mahen sejak kecil. Namun, zein tidak memiliki keluarga dan keluarga Reynal mengurusnya semenjak ia masih kecil sampai sekarang ini. Zein lelaki dengan fisik normal. Hanya saja, penampilan nya yang culun. Baju overall, dan kaca mata bulat adalah style nya setiap hari.


Walau begitu Zein sangat pintar di dunia perusahaan bahkan saat ini Zein menunduki jabatan sebagai sekertaris Mahen sekaligus tangan kanan yang selalu ada di samping Mahen.


- - -


Mahen muncul dari pintu besar itu, ia sudah dilihatkan kedua orang tuannya dan Zein di Ruang tamu.


“Hai Bun, Pah.” sapa Mahen dengan sedikit malas, bukan apa, tapi ia tau kedua orangtuanya akan membicarakan perjodohan itu lagi dan Mahen tidak ingin mendengarnya untuk satu hari saja.


“Kau tidak menyapa ku.” Zein.


“Ah…ya aku lupa. Hai culun.”


“Mahen kau sudah taukan jika besok kau harus menjemput calon istrimu.”


“Ayah sudah kubilang aku tidak ingin menikah dijodohkan seperti ini.”


“Ayah tidak memaksamu, tapi kau masih ingatkan dengan kosekuensi nya jika kamu menolak perjodohan ini.”


“Kosekuensi apa Yah?! Kumohon yah, jangan seperti itu. Aku memiliki kekasih aku juga sudah berjanji untuk menikahinya. Bagaimana persaannya jika aku tidak menepati janji itu.”


“Helle maksud mu?” bantah Raina “Buka mata mu dengan lebar nak, wanita itu tidak baik untukmu.”


“pikirkan keputusan mu dengan matang. Disini kau berhak memilih kedua orang tuamu atau Helle mu itu.”


“Kenapa kau melihatku seperti itu.” ketus Mahen pada Zein yang sedari tadi melihatnya.


Zein langsung mengalihkan pandangan, dengan terpaksa ia menjawab perkataan Mahen walau agak gugup.


“Tidak, aku tidak melihat mu.”


“Bagaimana menurutmu tentang Helle kekasihku ?”


“Aku tidak tau. Jika kau sangat mencintainya itu bukanlah kesalahan. tapi ayah dan bunda bilang kalau helle itu tidak baik untukmu. Bukankah perkataan orang tua selalu benar.”


Entah apa yang di pikirkan Mahen. Setelah Zein menjawab perkataanya, Ia meneliti lelaki culun itu dari atas sampai bawah mahen memandangnya sambil menganggukan kepala.


Aku yakin wanita tidak akan mau menikah dengan lelaki seperti Zein, Ia akan menolaknya.


Setelah mendapatkan ide dengan melihat Zein, Mehen menjatuhkan badannya di sofa, lalu menghela napas menghilangkan rasa penat.


“Kemari.” satu jarinya di jentikan pada Zein. Lelaki yang patuh itu segera menghampirinya.


“Datanglah kerumah wanita itu sebagai aku.” ujar Mahen.


“Maksudmu ? Aku harus berpura - pura menjadi dirimu?”


“Hmmm……..Aku tidak ingin kehilangan Helle, aku harap kau bisa membantu ku dengan berpura - pura menjadi aku agar wanita itu menolak pernikahan ini.”


“Tapi, jika Ayah dan Bunda tau bagaimana? Aku tidak ingin mengambil resiko apapun. ”


Mahen beranjak dari kursi, mendekati Zein dan menepuk pundaknya. Sontak tubuh Zein terangkat karena masalah berhadapan dengan Mahen ia akui memang dirinya takut.


“Kau tenang saja, mereka tidak akan tau.”


Akhirnya Mahen menghilang setelah mengatakan itu. Dia bahkan belum mendapat jawaban dari Zein untuk menganggukan kepalanya saja tidak apalagi mengatakan Ya. Mahen seenaknya saja. lelaki itu jadi kebingungan.


...BERSAMBUNG...