
HAPPY READING ALL
Ribuan bintang menemani keheningan Lingga, gadis cantik dengan kemeja biru tua itu tengah mengamati keributan yang tengah terjadi di keluarga Atala.
sejak dua jam yang lalu Alex kembali mengamuk, menghancurkan apa yang dapat dihancurkan, wajahnya merah padam dengan kemaja kusut melekat tidak rapi di tubuh tuanya.
"Bodoh" umpat Lingga melihat papanya yang terus saja berteriak teriak tidak jelas.
Lihatlah Alex benar-benar mirip orang gila.
Suasana ini mungkin akan lebih seru jika Lala dan mamanya ikut mengamuk bersama Alex.
"Baru kehilangan perusahaan kecil saja sudah membuatnya gila" lanjut Lingga beranjak meninggalkan Alex menuju kamarnya.
Ada sedikit rasa bersalah di benak Lingga atas tindakannya, tapi mengingat apa yang telah ia terima dari papanya, mamanya, Lala dan penghianatan Arkan membuat Lingga menyimpangkan rasa bersalahnya.
Mereka pantas menerima kehancuran ini.
"Manusia-manusia jahat seperti mereka tidak pantas untuk dikasihani" batin Lingga sebelum benar-benar meninggalkan Alex dengan kemarahannya.
"Nona" panggilan dengan suara pelan penuh kehangatan itu menyapa.
"Apa boleh bibi bicara hal serius dengan nona?" Tutur bibi saras terdengar lemah.
Lingga mengangguk kan kepalanya pelan, tanda mengiyakan ucapan bibi saras. Tumben sekali Bibi Saras begitu serius padanya.
"Silakan, apa yang ingin bibi bicarakan?"
"Jujurlah pada bibi jika nona sudah bisa melihat kembali"
Ucapan pelan nyaris tak terdengar itu membuat Lingga terkejut, dari mana bibi Saras tau dia bisa melihat.
"Mak___"
Belum selesai Lingga dengan ucapannya, Bibi Saras sudah kembali bicara"Bibi akan terus mendukung Nona meski harus ikut menghancurkan tuan besar"
"Bi, ikut aku" Lingga menarik pelan tangan Bibi saras menuju kamarnya
***
"Darimana bibi tau aku sudah bisa melihat?" Tanya Lingga serius saat keduanya sudah berada dikamarnya.
Lingga memang sudah berniat ingin memberi tahu bibi saras soal penglihatannya, tapi tidak secepat ini.
Lingga rasa ini belum saatnya bibi ikut terjerat rencana balas dendamnya, waktunya masih belum tepat.
"Bibi melihat nona menghancurkan ruang kerja tuan Alex, melihat Nona membuat artikel di internet dan juga melihat Nona membuka berkas penting tuan Alex ketika malam hari" jelas Bibi Saras kembali mengejutkan Lingga
Bibi saras menatap Lingga dengan mata teduhnya, wajah tua namun terlihat teduh itu terlihat lelah.
"Bibi memata-matai aku?" tebak Lingga membalas tatapan Bibi Saras padanya.
Bibi Saras menggeleng pelan dengan tangan tuanya yang bergerak mengelus wajah cantik Lingga.
"Bibi selalu memata-matai Nona sejak 26 tahun yang lalu, tidak ada kegiatan nona yang tidak bibi lihat, bahkan kejadian naas yang menimpa nona dan tuan muda astra"
"kematian tuan muda Astra memang sudah di rencanakan, tapi. Tapi tidak ada yang mau percaya penjelasan bibi, bahkan semua orang menyalahkan Nona" lanjut Bibi Saras dengan suara bergetar
"Keluarga ini terlalu benyak menyimpan dendam, kemarahan dan kebohongan. Bibi mohon nona berhenti disini, berhenti membuat kekacauan yang hanya akan merugikan semua orang"
Lingga tertawa pelan, bagaimana bisa bibi saras memintanya menghentikan sesuatu yang bahkan belum ia mulai.
"Tidak bisa bi, mereka harus merasakan apa yang aku rasakan terlebih dahulu baru aku akan berhenti"
"Nona, sebuah dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Lupakan semuanya, mulai kehidupan Nona bersama tuan Raka"
BERSAMBUNG...