
...MENGOBATI MAHEN...
Anulika sudah berhasil mendapatkan kotak obat setelah ia susah payah mencarinya. Tapi sekarang ia tidak tau dimana kamar Mahen.
Anulika keluar mencarinya, berjalan di lorong dimana Mahen menariknya menuju kamarnya. “Helle.”
Helle? Anulika pernah mendengar namanya, Mahen yang memanggilnya. Ia mendengar nama itu lagi dari suara Mahen, Anulika mendegar ke sebuah tembok samping kamarnya ada suara Mahen sepertinya dia sedang mengiggau.
Anulika berusaha membukakan pintu namun di kunci, ia harus segera mengobati tangannya karena dari gagang pintu ada darah mengenai tangannya tidak lain tidak bukan ini darah Mahen.
Anulika berlari menuruni anak tangga berjalan keluar ia melihat tangga dan kebetulan kamar itu jendelanya terbuka.
Entah mengapa aku cemas seperti ini, ini bukan bentuk cinta, hanya saja tugasku seorang istri yang harus melindungi suaminya.
Anulika mengambil tangga dan membetulkan nya, lalu ia naik meskipun kakinya gemetaran setiap menaiki tangga satu persatu ia semakin jauh. Sampai jendela itu sudah berada di hadapannya, ia melihat Mahen tidur di sofa sambil mengigau menyebut Nama Helle dan tangan itu, tangan nya terluka dan telah banyak darah.
Anulika berusaha masuk kejendela itu. Setelah berhasil ia menghampiri Mahen, melihat bibirnya berbicara menyebut Nama Helle.
Anulika terduduk di lantai di hadapan Mahen dia bertanya.
“Helle kekasihmu?”
“Hmmmm dia kekasihku.” ternyata meskipun Mahen tertidur tapi ia mendengar ucapannya dan Meresponnya.
“Aku Eliza, boleh ya aku mengobati tangan mu.”
“Akh…ya kau, kau Eliza wanita yang aku benci itu. Karena kau aku kehilangan Helle dia meninggalkan aku.” jawab Mahen dengan suara khas mengigau.
“Aku tidak tau, dan aku minta maaf. Tapi aku harus mengobati tangan mu.” Mahen tidak menjawabnya lagi, ia sudah benar - benar tertidur.
“Itulah sebabnya kamu membenci ku ternyata kamu menyukai wanita yang telah kau sebut namanya tadi.”
Dia meraih tangan Mahen mengobatinya, wajah Mahen mengerung merasakan sakit tanpa sadar Anulika telah menertawakannya. Setelah selesai mengobati tangan nya Anulika menatap wajah Mahen dalam tidur wajahnya begitu polos, Anulika menatapnya dalam melihat Alisnya yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibi tipis dan wajah putih.
Dia sangat tampan, andai dia tidak menyuruh Zein untuk datang mengaku sebagai dirimu maka Eliza akan menerima mu tapi, aku tidak akan mendapatkan uang untuk operasi ibuku.
Ibu! Aku harus tau kabarnya. Aku tidak boleh lama - lama di sini atau nanti Mahen terbangun.
Anulika beranjak dari kamar itu pergi keluar dari pintu yang Mahen kunci.
Di Kamar.
Bi Mun….bagaimana keadaan ibu?
Ibu sudah sadar neng, mau mendengar suaranya?
Bi Mun memberikan handpone pada Bu Rukan.
Bu, telepon dari Neng Anulika.
Anulika?!
Ibu
Anulika
Ibu sudah sembuh
Ibu gak gak Apa - Apa kok
Ibu sementara ibu tinggal di Rumah Bi Mun dulu ya
Kenapa An, kamu gak dirumah Eliza lagi. Oh iya ibu juga gak liat kamu tengok ibu ke Rumah sakit
Anulika menitikan Air mata, ia bahkan sudah membohongi ibunya.
Berapa banyak orang yang telah kubohongi.
Aku kerja bu, jadi aku gak bisa jenguk ibu. Aku harus bekerja untuk biaya ibu di Rumah sakit supaya ibu cepat sembuh.
Maaf ibu ya nak, gara - gara ibu kamu harus banting tulang.
Tidak apa - apa bu. Oh ya bu bisa telepon nya kasih sebentar ke Bi mun.
Bu Rukan memberikan teleponnya pada Bi Mun.
“Saya permisi dulu ya bu.” barangkali Anulika ingin mengatakan Hal penting. Bi Mun memilih menelponnya di luar.
Iya Neng
Bi, aku sangat berterima kasih pada bibi. Bi bolehkan sementara ibu tinggal di Rumah bibi
Boleh donk Neng. Tapi, besok bibi harus kerja tapi Gak usah Khawatir bibi nanti suruh ade bibi buat jagain ibu Neng.
Makasih bi
...BERSAMBUNG...