Perfect Wedding

Perfect Wedding
EPISODE 2



...PESAN DARI AYAH...


Disebuah Balkony Nampak dua pasangan sedang berbincang Mesra. Mereka adalah Mahen dan Helle.


“ Aku ingin waktu itu segera datang sayang. ” kata Helle.


“ Waktu apa ? ” Mahen menebak dengan senyum yang sudah melebar dari bibir tipisnya.


“ Waktu dimana kamu menikahiku. ”


“ Hmmm…. Sabarlah sayang waktu yang kamu harapkan pasti datang.” jawabnya seraya memeluk Helle dari belakang dan menyimpan kepalanya di pundak itu.


//


Tring…


Bunyi Notifikasi Handphone terdengar di meja kursi balkon, Mahen melepaskan pelukannya pada Helle dan mengghampiri letak Handphone yang ia simpan di meja kemudian memeriksa pesan yang telah masuk.


Tulisan “ My father ” ternyata pesan dari ayahnya, Mahen memeriksa dan membaca pesan itu dalam hati.


My Father : “ Segera selesaikan hubungan mu dengan Helle, tinggalkan dia ayah sudah menjodohkan kamu dengan Eliza. ”


Notifikasi berdering kembali, pesan dari ayahnya.


My Father : “Keputusan ada padamu Ayah tak akan memaksa tapi kamu harus ingat apa yang ayah katakan jika kamu menolaknya maka semua fasilitas dan jabatan mu akan ayah cabut. Dan jangan harap kamu bisa menemui ayah dan ibumu lagi”


Jika ayah tak memaksa ku, kenapa Ayah mengancamku.


Prak….


Dengan emosi memuncak Mahen melempar Handpone yang tepat jatuh di High Heal yang Helle kenakan, Apa yang terjadi ? Pikir Helle, wajahnya keheranan.


Kenapa dia marah setelah memerika HP nya ?


Sial kau menyuruh Mahen untuk menjauhi aku. Tidak! tidak akan kubiarkan ini terjadi.


Helle juga kesal ia tak menerimanya. Akhirnya ia kembali melatakan Handpone ke bawah dan sengaja dia menginjak Handphone dengan High Heal hingga layarnya itu hancur.


“Kumohon jangan tinggalkan aku, kamu berjanji untuk menikahi akukan?” kata Helle. Dia sudah memeluk tubuh kekasinnya dari belakang.


Mahen mengatur napas, ia tak boleh memperlihatkan kekesalannya pada Helle.


“Aku tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan hubungan kita.” Mahen menoleh padanya, Helle pun mendongkakan kepala, senyumnya terbit dari bibir itu.


Hal yang paling indah bagi Helle disaat menyaksikan senyuman manis yang sedang berlangsung di bibir Mahen, ia ingin mencium bibir itu. Helle mulai terbawa suasana dan perlahan mendekati wajah Mahen untuk mencium bibirnya.


Apa dia akan mencium ku ? Ekspresinya biasa saja namun hatinya tak sedang biasa saja, dia mulai salah tingkah.


Mahen memang lelaki yang agak kaku setiap Helle ingin menciumnya beribu cara Mahen menggagalkannya bukan apa, tapi lelaki ini bisa menyesuaikan sesuatu. Mahen tidak akan menyentuh Helle sebelum ia menjadi istrinya. Maka saat Helle mendekatinya untuk menciumnya lelaki itu mulai mencari cara untuk menghentikan apa yang akan Helle lakukan, kedua matanya berkeliling dan melihat sebuah Dompet miliknya yang ia simpan di meja bersamaan dengan Handphone nya tadi.


Cup….


Ciuman pun terjadi Helle menciumnya. tapi di gagalkan Mahen, karena ia segera menghalanginya dengan Dompet sebagai pembantas. Saat Helle berusaha mendekatinya, diam - diam Mahen meraih Dompet dari meja yang kebetulan tidak jauh dengannya.


Helle mendorong Tubuh itu dan segera menjauh dari Tubuh kekar Mahen dan membelekanginya.


“Ku rasa kau memang ingin meninggalkan aku.” ketus Helle.


Mahen berjalan mendekatinya meraih kedua tangan itu dan membiarkan tatapannya berhenti di bola mata Helle dengan keyakinan ia berkata.


“Tidak akan aku sentuh apa yang tidak boleh aku sentuh selain kelak kau menjadi istriku.”


Dalam hati Helle, Kau memang pria yang membosankan. tapi dia menggatinya dengan senyuman lebar tanda senang. Ia perlihatkan senyum palsu pada Mahen.


...BERSAMBUNG...