Perfect Wedding

Perfect Wedding
kesetiaaan



HAPPY READING AND ENJOY


Lingga terkekeh pelan, mata cantiknya menatap bibi Saras dengan pandangan yang sulit diartikan.


Semua ini terlalu jauh dan tidak pernah ia perhitungkan. Lingga tidak cukup menyadari akan ketelitian dan ketajaman mata bibi Saras selama ini.


"Bi, aku hargai semua saran dan kasih yang bibi berikan padaku. Tapi, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Bahkan untuk mempertimbangakan usulan dan nasihat bibi pun aku tidak akan pernah bisa" Ucap Lingga terdengar kurang bersahabat.


"Ini soal hidup ku dan dendam. Mereka pantas mendapatkan semua ini, mereka harus merasakan apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun. Mereka tidak boleh bahagia di atas penderitaan yang aku rasakan dan Lala, wanita itu sudah mengambil sepercik cahaya kebahagiaanku!" Ucap Lingga dengan tangan mengepal erat.


"DIA MEREBUT ARKAN DARIKU!" Teriak Lingga disertai air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.


Bibi Saras mematung, hati nya turut merasa sakit atas apa yang menimpa nona keduanya. 


"LALA MEREBUT SEMUANYA DARIKU" lanjut Lingga kembali berteriak.


"Bi, hatiku sakit melihat mereka tertawa di saat aku tidak bisa apa-apa" isak Lingga semakin terdengar memilukan.


Wajahnya yang cantik terlihat redup dan lelah, Senyum Lingga seaakan hilang di telan bumi. Bibi saras bergerak merangkak


Merangkul tubuh ringking yang terlihat bergetar itu erat.


"Nona benar, mereka harus turut merasakan apa yang nona rasakan" ucap Bibi Saras disela-sela pelukan mereka.


Bibi Saras lebih baik mengubah prinsip hidupnya dari pada melihat Nona nya menderita seperti saat ini, kesetiaannya pada Lingga akan selalu ia jaga dengan baik.


"Bibi akan selalu berada disamping Nona"


***


PLAKKK….


"ANAK SIALAN, BODOH, KAMU JUGA DASAR ISTRI TIDAK BERGUNA!" Teriakan di sertai tamparan itu menyambut kedatangan Lala dan Asia.


Kedua wanita beda generasi itu menatap Alex penuh tanda tanya. 


"Kamu berani nampar aku?"


Alex mengambaikan pertanyaan anak dan Istrinya, matanya menatap tangannya yang sudah menyakiti dua wanita yang ia sayangi itu nanar.


"Perusahaan bangkrut, dan ini semua salah kalian yang selalu boros dsn hura-hura. Kau juga salah menikahi pria, lihat dimana suamimu itu saat kita membutuhkan bantuan!" Tunjuk Alex beedecih sinis.


Lala menatap papanya dengan tatapan marah, berani sekali pria yang berstatus papanya itu menyinggung suaminya.


"Aku juga tidak akan menikahi Arkan jika bukan karena paksaan papa!" 


PLAK…


Satu tamparan kembali Lala dapatkan "Tidak ada yang memaksa kamu menikahinya." Bentakan Alex menggema membuat para maid yang menyaksikan kaributan mereka tertunduk tanpa kata.


"KALIAN SEMUA BERENGSEK! Aku benci kalian" 


Lala beranjak meninggalkan orangtuanya dengan emosi menguasai wanita itu.


Harapan Lala ketika ia pulang berbulan madu bukan lah kehancuraan perusahaaan papahnya. Arkan suaminya itu bahkan tidak bisa ikut pulang hanya untuk mencari investor yang bersediah menyuntikkan dana kepada usaha mereka.


"taunya hanya menyalahkan orang lain saja, ck menyebalkan" gumam Lala disela-sela langkahnya.


pandangan Lala teralihkan pada sosok gadis yang sangat di bencinya, Lingga. Adik perempuannya itu kini tengah duduk di taman dengan bibi saras yang setia disampingnya.


"Hei bodoh. Mati saja kau!" teriakan itu tentu saja Lala tujukan untuk Lingga.


Entahlah setiap kali melihat wajah cantik dan teduh Lingga selalu saja berhasil membuat Lala tersulut emosi.


Iri? Tentu saja


"Lihatlah bi anjing kecik itu tengah menggonggong kan dirinya sendiri" ucap Lingga menatap Lala yang semakin menjauh.


Bersambung...