Perfect Wedding

Perfect Wedding
EPISODE 1



...DI PECAT...


Rutinitas pagi Eliza adalah merawat dirinya, setiap pagi dia sudah stand bye di sofa Ruang tamu. Kecantikan adalah segalanya bagia dia. Eliza selalu bersolek disaat ia akan pergi kuliah, bermain ataupun berkencan dengan pria mana saja.


Pagi Anulika di awali dengan membersihkan seluruh Ruangan Rumah sebagai pembantu Eliza, selanjutnya ia akan bersiap dengan cepat untuk segera bekerja demi membiayai ibunya yang sekarang ini sedang terbaring di Rumah sakit.


“ Permisi Non, saya mendapat pesan dari Utusan keluarga pak Reynal jika Anaknya akan datang besok menjemput Nona untuk pelaksanaan pernikahan dua hari lagi. ”


Midah sang pelayan Rumah, sudah berdiri dihadapan Eliza yang tengah berbaring sibuk memainkan ponselnya, dari Notifikasi pesan yang di kirimkan ibunya, sama seperti yang pelayan itu katakan, Eliza sudah tau anak pak Reynal akan menjemputnya besok.


“ Hmmm….saya tau. Dimana Anulika ? ”


“Dia sudah pergi untuk bekerja Non.” pelayan berbicara dengan menganggukan kepalanya.


Eliza tersenyum sinis saat melihat jam dari layar ponselnya. pukul 07.45 itu berarti Anulika akan terlambat lagi. Dia sengaja membuat Anulika harus melayani nya agar wanita itu terlambat pergi ke tempat kerjanya.


//


Setelah turun dari sepeda motor Anulika langsung memberikan ongkos pada supir, ia memburu langkah pergi berjalan menuju tempat kerjanya. Disana sudah ada satpam penjaga super market.


“ Maaf Nona. Nona tidak bisa masuk. ” satpam itu mendahului Anulika dengan menghalangi pintu masuk oleh tangannya.


“ Kenapa pak ? ”


Bos menyuruh saya untuk memberikan surat ini, dia mengatakan surat itu surat Pemutusan Hubungan Kerja untuk Nona. Setengah gajih sudah di siapkan di amplop ini. Sebelumnya Bos sudah memberikan toleransi kepada anda, tapi anda mengulangi kesalahan anda lagi.


Kata satpam itu masih terdengar di telinga Anulika. Bahkan karena sering terlambat bos nya memecat dia cuma - cuma dengan tidak memberikan surat itu secara langsung.


Anulika kebingungan, ia terus menatap, melihati surat yang kini ia pegang. Surat PHK.


Tring….


Suara Notifikasi dari ponsel membuat lamunan nya terhenti pada surat itu dan beralih pada layar Handphone, menggeser layar dan memeriksa pesan yang dikirimkan Bi Mun.


Neng keadaan ibu Neng kritis. Kata dokter ibu Neng harus dioperasi besok, dan biaya yang harus dibutuhkan untuk operasi lima puluh juta Neng.


Selama Anulika bekerja, Bi Mun lah yang merawat Ibunya. Ia ingin membalaskan budi karena Bu Rukan sering membantunya waktu dulu.


Aku baru saja di pecat.


Clak.…..diapun meneteskan Air matanya pada surat itu.


//


Prakk….


Eliza sengaja membanting Majalah sengaja ke meja sofa hingga suaranya itu terdengar bergema mengisi Ruangan. Sontak tubuh Anulika tersentak karena terkejut namun mau tidak mau Anulika harus tetap tenang meskipun ia tau meminjam uang pada Eliza adalah perbuatan yang salah yang akan membahayakan dirinya.


“Apa yang kurang dari perbuatan baiku Huh?!” wanita itu berteriak.


Eliza perlahan mendekati Anulika, melihat kertas yang di pegang Anulika, dia langsung merebut kertas itu.


“Pemutusan Hubungan Kerja.” Eliza mengeja tulisan dari surat itu.


Sekarang ia tertawa bagaikan bajak laut HA….ha….ha....ha..


“Kau meminjam uang padaku sementara aku melihat surat ini aku tidak yakin kalau kau akan membayarnya.” wanita itu berjalan satu langkah lagi dan berbisik tepat di telinga Anulika “Dan aku tidak ingin meminjamkannya.”


Hei Anulika! Uang lima puluh juta adalah uang yang berjumlah besar bagimu dan berjumlah kecil bagiku. Maka kau harus berpikir matang untuk meminjam nya. Apa kau yakin setelah meminjam uang padaku ibumu akan hidup. Yah…bukan bagaimana, melihat kondisinya seperti itu aku rasa ibumu hanya perlu menghitung detik dan waktu untuk kematiannya.


Kedua mata Anulika blur karena genang air sudah berkumpul di kelopak matanya bahkan Air matanya sudah siap untuk menetes.


Lantas Bagaimana bisa Eliza mengatakan itu, dia sudah mencabik Anulika meski bukan melukainya dengan fisik tapi telah melukainya secara batin.


Wanita itu tak mengutik, menunduk saja meski perasaan sangat terluka.


 


...BERSAMBUNG...