
...MENYAKITKAN...
Cit…....Mobil di Rem mendadak, oleh Mahen dan berhenti di pekarangan Rumah yang Anulika lihat ialah Rumah besar berwarna grey bearada di hadapan nya.
Mahen langsung keluar dari Mobil itu, Anulika baru saja ingin keluar mengikutinya Mahen sudah lebih dulu membukakan pintu Mobil, menarik tangan Anulika. Anulika hampir saja terjatuh Mahen menarik tangan nya dengan tidak berperasaan, wanita itu tersenak, mengikuti langkahnya saja walau tangan nya terasa sakit karena Mahen menarik dan memegang tangannya kuat.
Anulika tak mampu menahan sakit ditangan nya, apa yang terjadi, jika ia melepaskan genggaman nya tangan Anulika pasti sudah membiru. Anulika mulai menangis tapi dengan berusaha ia memutup mulut dengan satu tangan nya agar tak mengeluarkan suara tangisan atau kesakitan.
Di pintu Rumah, Mahen membukakan pintu itu dan masuk, masih memegang tangan Anulika. Saat di Ruang Tamu barulah ia melepaskan tangan itu, Anulika langsung menduduk dan menangis disana, melihat tangan nya sudah membiru.
“Selamat datang di Neraka sayang.” teriak Mahen, suaranya bergema di Ruangan itu.
Mahen mencekam dagu Anulika membuat kepalanya terangkat, memperlihatkan wajah itu yang ternyata sedang menangis.
“Oh kenapa kamu menangis?” tanya Mahen meledek, Anulika tak menjawab nya matanya berusaha untuk tidak melihat Mahen.
Kedua Mata Mahen berkeliling mencari sebab tangisan itu, ia melihat tangan Anulika membiru lalu mengangkat nya.
“Ini yang menyebabkan kamu menangis?!” Mahen lanhsung menggenggam tangannya lagi, menggenggam tangan nya kuat. Anulika menangis karena sakit, sudah sakit ditambah sakit.
Mahen melepaskan tangannya lalu menarik Rambut Anulika menuju hadapan nya.
“Kenapa kau menerima pernikahan ini, aku sudah membuat Zein datang berpura - pura sebagai diriku.” Ucap Mahen seraya menatap lekat wajah Anulika dengan penuh kebencian.
“Aku tidak tau!” jawab Anulika menekan, lalu mendorong tubuh Mahen dan mengusap Air mata dipipinya.
Mahen kembali mendekat cepat padanya, menunjuknya.
“Kau.” Anulika menjawabnya dengan menatap Mahen sinis, kedua mata mereka saling menatap penuh benci.
Lalu Mahen menarik tangan itu lagi menuju Anak tangga.
Puk…..puk…puk..
“Lepaskan tangan ku.” ujar Anulika sambil menepuk keras tangan Mahen, tapi ia tidak melepaskan nya sampai mereka selesai menaiki anak tangga, Mahen membawa Anulika ke kamar.
Mereka kedalam kamar, Mahen langsung menutup pintu, menguncinya dan menyenderkan tubuh Anulika di pintu dan Mahen menghimpit Tubuh Anulika mengangkat dua tangan tangan nya dan menahan nya di pintu oleh tangannya lalu mencium bibi Anulika.
Cup cup cup ciuman kasar, Anulika terkejut ia menggeleng - gelengkan kepala berusaha menghindari ciuman itu tapi Mahen terus berhasil menciumnya sampai Anulia tak bisa berbuat Apa - apa selain menangis membuat wajah Mahen basah akibat tangisannya bahkan Anulika sudah kehabisan Nafas dan terengah - engah.
Saat Mahen Mulai merasakan hal sama, ia sudah kewalahan mencium Anulika. Mahen melepaskan tangan Anulika dan berhenti Menciumnya dan PRAKKkk Anulika langsung menampar wajahnya, ia menangis menutup bibir dengan satu tangan nya dan satu tangan nya memegang dada karena ia ngosngosan akibat ciuman itu, Anulika membalikan badan kehadapan pintu menyenderkan kepala sambil sesenggukan.
Mahen semakin kesal karena di tampar, ia mengusap bibir dan wajahnya yang basah karena tangisan Anulika lalu ia melepaskan jaz dan kemeja melemparnya ke kasur dan pergi berjalan menuju laci ia mengambil gunting lalu ia berjalan mendekati Anulika yang masih menghadap wajah ke pintu.
...BERSAMBUNG...