Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 8



Shin Hyeok masih berperang dingin dengan satu-satunya gadis yang ada di rumahnya, Eun So. Laki-laki itu masih enggan mengeluarkan sepatah katapun untuk Eun So meski ia telah mengizinkan gadis itu untuk bersama mereka. Seung Ho tentu menjadi tidak tenang melihat sikap Shin Hyeok yang tidak biasanya itu.


“Apa kau semarah itu sampai-sampai tak bisa ramah lagi dengannya? Apa mata lelakimu tidak berfungsi untuk Eun So? Ya, gadis itu termasuk cantik apa kau tidak menyadarinya?” Seung Ho hanya berusaha menggoda Shin Hyeok yang sejak pulang dari pulau Jeju hanya bisa bermuram durja.


Shin Hyeok yang sedang beristirahat di tempat tidurnya mendesah lalu bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidurnya.


“Ya, jangan membicarakan gadis cantik seolah kau adalah playboy kelas kakap.” Katanya sarkastis.


Seung Ho tersentak, lalu tertawa lebar. Ekspresi dan nada ejekan itu begitu menggelitik di kedua telinganya. Tidak biasanya Shin Hyeok berbicara seperti sekarang, “Ya, apa yang terjadi sebenarnya? Sepertinya kekesalanmu ini tidak untuk Jung Eun So, benarkan? Apa liburanmu menyenangkan?”


“Buruk!”


“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?” Seung Ho bereaksi berlebihan.


“Separate…!”


Seung Ho membelalak. Berpisah? Dengan kekasih yang dibawanya ke pulau Jeju? Seketika itu pula ia teringat dengan ucapan Min Ji di kantor. Jangan-jangan Min Ji adalah cenayang, sehingga ia bisa meramalkan hal ini. Dan kabar perpisahan itu lebih mengherankan ketika Shin Hyeok terlihat lesu yang langsung menjadi perhatian Seung Ho berikutnya.


“Berpisah? Bagaimana mungkin kaubisa sesedih ini jika hanya berpisah? Bukannya kau sudah terbiasa dengan hal itu? Atau jangan-jangan kausudah menemukan cinta pada gadis itu? Siapa namanya? Nam Hye Jin?” kedua alis Seung Ho saling bertaut dan keningnya berkerut. Ini momen langka yang membuat Seung Ho berdecak heran.


“Marganya Choi.” Ujar Shin Hyeok yang diiringi cebikan lidah. “Bukan berpisah yang membuatku tak tenang. Gadis itu menggandeng lelaki lain sehari setelah perpisahan, itu justru sangat menggangguku.”


Seung Ho belum mengerti dengan masalah yang bagi Shin Hyeok begitu buruk itu. “Kau tahu dari mana?”


“Aku mengintip aku twitternya dan ia langsung memosting foto terbarunya. Itu sangat menyebalkan. Kautahu bagaimana reputasiku kan? Dia sudah bisa mencari penggantiku, itu seperti penghinaan. Aku tidak senang melihatnya mendahuluiku,”


Mulut Seung Ho menganga lebar. “Ya ampun, kauini memalukan sekali, Shin Hyeok-ya. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Ssshhh…” desisnya tak habis pikir. “Kau kan bisa cari gadis lain, biasanya juga begitu.” Komentarnya yang kemudian enggan membahas masalah cinta lagi dengan si playboy.


“Aku ingin membalas penghinaan ini, Ya…” katanya seraya beranjak dari tempat tidur. “Tapi aku ingin makan dulu lalu mencari mangsa di luar sana. Yang kemudian akan kubawa ke tempat Hye Jin berkencan dengan si rambut lepek itu.”


Seung Ho tercengang. “Dari mana kautahu rambutnya lepek?” tanyanya membuntuti Shin Hyeok dari belakang.


Shin Hyeok menoleh ke belakang sejenak kemudian menuruni tangga dengan cepat. “Aku melihatnya di foto yang ia unggah. Kau ini!”


Ketika sampai di dapur, kebetulan sekali Eun So baru selesai memasak beberapa hidangan yang membuat Shin Hyeok dan Seung Ho tergoda dan ingin langsung memakannya.


Ada Doenjang jjigae dan Janchi guksu yang membuat perut keduanya langsung berbunyi.


“Kausedang merayuku dengan semua masakan ini ya?” tukas Shin Hyeok melirik sinis.


“Shin Hyeok Oppa, mianhae soal yang kemarin. Aku benar-benar tidak sengaja.”


Sedangkan Seung Ho yang berdiri dengan seringai yang menghiasi wajahnya. Ia ingin sekali menyemburkan tawa ketika melihat wajah bersalah Eun So yang sebenarnya tengah dipermainkan Shin Hyeok.


“Baiklah… Aku akan memaafkanmu,”


“Gham…”


Eun So terpelongo dan tidak jadi melanjutkan ucapan terima kasihnya. “Sya-syarat?”


Shin Hyeok mengangguk mantap, sambil menarik kursi dan duduk, ia menyicipi masakan Eun So itu dengan santai. Seolah tidak tahu kalau ia sedang dinantikan Eun So. Berselang beberapa detik, Seung Ho juga menyusul Shin Hyeok dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya. Sementara Eun So berdiri dengan cemas. Ada sebuah ketakutan kalau syarat yang akan diajukan begitu menyulitkannya.


“Aku akan memaafkan dan mempertimbangkanmu tinggal di rumah ini kalau kaumau berkencan denganku.” Ujar Shin Hyeok sambil menyendokkan lagi makanan ke mulutnya. Makan malam kali ini benar-benar lezat, menurutnya. “maksudku berpura-pura kencan denganku.” Laratnya menepis kesalahpahaman di benak gadis itu.


Seung Ho mengerling sebentar, salah satu ujung bibirnya terangkat sementara pikirannya sudah mengerti dengan maksud Min Wo barusan. Ini pasti tentang Hye Jin yang dianggapnya telah menghina ke-playboy-annya.


“Dan aku tidak memberimu pilihan untuk menolak, Nona… siapa namamu…?” tanyanya acuh tak acuh.


“Eun So, Oppa.” Jawabnya yang masih dilanda kebingungan. Pura-pura kencan bagaimana?


“Oh, ya. Kauboleh memanggilku Oppa. Karena semua gadis yang usianya muda sepertimu kerap memanggilku Oppa.” Katanya berkepercayaan diri tinggi.


Sekali lagi, Seung Ho hanya bisa tersenyum mendengar ocehan dan melihat ekspresi Eun So yang tak diberi pilihan.


“Dan asal kautahu, hanya Seung Ho saja yang kubiarkan tidak sopan terhadapku dengan tidak memanggilku Hyung. Karena aku tidak ingin terlihat lebih tua darinya.” Celoteh Shin Hyeok dengan mulut penuh Janchi guksu.


“Nona Jung… masakanmu ini enak sekali.” puji Seung Ho memecahkan keheningan, juga kebisuan Eun So.


“Ghamsahamnida… Itu… aku membelinya di restauran terdekat.” Kata Eun So seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


Baik Shin Hyeok dan Seung Ho terpelongo **** mendengarnya. Mereka telah salah sangka dan hal itu membuat mereka ikut-ikutan malu.


**


Seusai makan malam, Eun So diajak ke sebuah restauran dan membuat beberapa adegan mesra palsu yang ditujukan untuk membuat mantan kekasih Shin Hyeok panas. Sepanjang perjalanan menuju restauran terbesar dan termahal di Seoul itu, Eun So telah dibuat dimengerti kenapa ia harus berpura-pura menjadi kekasih baru Shin Hyeok. Beruntung, ketika mereka sampai di restaurant yang menyediakan makanan western, Hye Jin dan kekasih barunya masih berada di sana. Menikmati malam romantis dengan iringan musik klasik.


Dengan beberapa adegan saja, Shin Hyeok berhasil membuat Hye Jin menyingkir dari restaurant tersebut lebih dulu.


“Oppa, apa aku cukup meyakinkan untuk menjadi kekasihmu?” bisik Eun So yang belum menyadari bahwa drama mereka telah usai dengan perginya Hye Jin dari restauran tersebut.


“Kaulihat? Dia sudah pergi.” Shin Hyeok menunjuk punggung Hye Jin dengan dagunya.


“Syukurlah… Kalau begitu aku tak perlu dihantui perasaan bersalah karena sudah membuat wajahmu lecet, bukan?” Eun So mengembuskan napas lega yang disertai senyum sumringah.


“Eun So-ya… Sebenarnya itu tidak masalah.” Aku Shin Hyeok yang tidak tahan lagi membuat gadis di hadapannya itu terus merasa tak enak padanya.


“Jadi kaubenar-benar mengizinkanku tinggal bersama kalian, kan?” Eun So tampak antusias sekali.


“Tentu saja.” Katanya tak luput menyuguhnya senyum termanisnya.


“Terima kasih Oppa…” Eun So menundukkan wajahnya sebagai bentuk terima kasih yang sangat besar.


**