Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 22



Tae Yoon baru ingin keluar kamar ketika seseorang mengetuk pintunya beberapa kali. Tae Yoon langsung membukanya dan menemukan Seung Ho berdiri di hadapannya dengan senyum kaku.


“Halo—Nona Kim…” Sapanya dengan wajah sedikit ramah.


“Kenapa kauterlihat begitu kaku?” tanyanya ragu dengan ketulusan sapaan Seung Ho barusan. “Ada apa?”


“Apa-kau punya laptop?” tanya laki-laki itu dengan raut wajah khawatir. “Laptopku sedang rusak, sementara-aku-harus-menulis beberapa halaman teks. Aku-harus-mengirimkannya malam ini juga.”


“Ya… Aku punya,” bahkan Tae Yoon masih membiarkan Seung Ho berada di luar kamarnya.


“Bisakah aku meminjamnya?” tanyanya lagi. “Shin Hyeok belum pulang dan kamarnya masih terkunci. Biasanya aku meminjam pada Shin Hyeok kalau hal—”


“Ya, kaubisa meminjam punyaku,” Tae Yoon merasa tidak perlu menunggu Seung Ho menyelesaikan kalimatnya untuk mengizinkannya meminjam barang miliknya. “Silakan masuk…!”


Setelah berminggu-minggu tinggal di rumah yang sama, ini kali pertama Seung Ho meminta sesuatu dengan sopan padanya. Bahkan bahasa tubuh laki-laki itu menunjukkan seolah-olah ia hanya terpaksa melakukan hal itu. Ya, Tae Yoon mengerti kalau Seung Ho sedang gengsi sementara ia membutuhkan laptop untuk pekerjaannya.


Tae Yoon langsung mememberikan laptop miliknya yang baru ia ambil dari dalam almari pakaian. Setelah itu ia biarkan Seung Ho yang menggunakannya.


“Terima kasih…” ucap Seung Ho dengan senyum kaku. “Aku mengetik di sini saja, ya… sepertinya terlalu repot kalau membawanya keluar lagi.” Seung Ho langsung menyalakan laptop tersebut di atas ranjangnya Tae Yoon.


“Terserah kau saja…” Tae Yoon mengangkat kedua bahunya. “Aku mau ke dapur dulu. Apa kau perlu sesuatu?” tawarnya dengan airmuka yang tak sungguh-sungguh menawarkan sesuatu.


“Eeemm, kurasa kaubisa bawakan aku segelas air putih saja.”


Tae Yoon memiringkan kepalanya sejenak lalu keluar kamar dan membiarkan Seung Ho sibuk dengan laptop miliknya. Seung Ho memandangi gadis itu hingga benar-benar hilang di balik pintu.


Setelah memastikan Tae Yoon tidak akan kembali dalam waktu cepat, Seung Ho membuka file yang ada di dalam laptop Tae Yoon. Seung Ho telah mengubah niat awalnya untuk meminjam laptop, kini ia tengah sibuk membuka folder demi folder. Seung Ho membuka satu folder yang dipenuhi dengan foto dan membuka foto itu satu persatu dengan gerakan cepat.


Seung Ho terus menggulir foto yang ada di laptop Tae Yoon dengan cepat. Ia takut Tae Yoon cepat kembali dari kamarnya dan memergokinya memeriksa foto di laptopnya. Seung Ho masih menggulir tombol kanan, Jarinya begitu cekatan, hingga entah sudah berapa foto yang ia lihat. Namun foto-foto tersebut masih foto Tae Yoon. Seung terus menggulir hingga ia menemukan sebuah foto yang membuat jarinya berhenti seketika itu.


Foto seorang gadis manis dengan pose mengacungkan dua jarinya membentuk huruf ‘V’ di depan dinding kaca bertuliskan nama-nama negara di Eropa. Seung Ho tahu dan ingat betul di mana foto itu di ambil.


“Pasti ada foto lain yang akan menjelaskan bahwa foto ini hanya kebetulan,”


Seung Ho kembali mencari foto lain dan menemukan foto seorang gadis yang sama dengan seorang laki-laki tua yang juga ia kenali.


“Ini kan Dokter…”


Seung Ho refleks menutup jendela tampilan foto dan folder pada laptop Tae Yoon ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Tak lama setelah Seung Ho membuka word, pintu kamar terbuka dan menampakkan gadis dengan segelas air putih di tangannya.


“Ini air putihmu. Kauharus membayar untuk ini.” ujar Tae Yoon bercanda.


**


Tae Yoon tersenyum simpul ketika melihat dua laki-laki penghuni rumah sedang bersantai di ruang tamu. Menikmati tayangan di salah satu stasiun TV tersohor di korea. Sorot mata Seung Ho yang pertama kali disorotnya mempertontonkan sebuah keantusiasan tinggi pada tayangan reality show yang mengharuskan pesertanya untuk berlari kencang.


Ketika Tae Yoon menghempaskan bokongnya di salah satu sofa yang kosong, Shin Hyeok meliriknya dan sempat menanyakan apa yang sedang ia kerjakan sampai baru turun sekarang. Tae Yoon menjawab seadanya lalu ikut menenggelamkan pandangannya pada tayangan TV. Kebetulan sekali artis yang tengah bermain dalam reality show tersebut adalah aktor favoritnya sehingga ia berniat ingin menyelesaikan tayangan ini.


“Tae Yoon-ah…” panggil Seung Ho begitu lembutnya.


“Hhhmmm…?”Tae Yoon menoleh sekilas, setelah dilihatnya Seung Ho tak memandangnya Tae Yoon kembali menancapkan pandangannya pada layar kaca berukuran 20 inch tersebut.


“Bagaimana kabar Dokter Jung Il Woo sekarang?” tanya Seung Ho enteng.


Namun kesederhanaan pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam diri Tae Yoon mencelos. Membuat pandangan yang tadinya begitu jelas menangkap seseorang berlari kini mengabur seketika itu juga.


“Kau… Kau bertanya… tentang… kabar… siapa?” suara Tae Yoon bergetar. Pandangannya takut-takut pada Seung Ho yang kini melekatkan tatapannya padanya.


“Kenapa kau jadi tegang begitu?” skakmati. Pandangan Seung Ho belum juga lepas darinya sehingga Tae Yoon merasa harus segera pergi dari ruangan itu sekarang juga.


“Aku… aku-melupakan-sesuatu—” Tae Yoon langsung membuka langkah pertama dan mempercepat langkah berikutnya.


“Kau mau ke mana… Nona… Jung Eun So!?” bibir Seung Ho tersenyum miring saat ia memandangi punggung Tae Yoon sementara tangannya memencet tombol off pada remote control.


Tv telah mati dan situasi rumah menjadi hening seketika itu pula.


Kedua kaki Tae Yoon yang nyaris menyentuh anak tangga pertama langsung terhenti. Kedua tangannya dingin sekali sekarang sementara degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.


“Seung Ho-ya…” panggil Shin Hyeok lirih. “Kaubilang apa barusan?” ada banyak kerutan di dahi Shin Hyeok begitu mendengar sahabat karibnya menyebutkan sebuah nama yang sudah lama di lupakan mereka.


Tae Yoon masih terpaku di tempatnya. Jangankan menanyakan, memalingkan wajahnya pada Shin Hyeok ataupun Seung Ho ia pun tak berani. Dadanya bergemuruh, kedua bahunya bergetar dengan tak kasat mata. Tae Yoon merasakan perasaan yang sebelumnya tak pernah dirasakan sebelumnya dan sulit untuk diterjemahkan ke dalam bentuk kata-kata.


Seung Ho mengulas senyum tipisnya pada Shin Hyeok. Sorot matanya yang tajam membuat laki-laki tegap di hadapannya kini semakin penasaran.


“Shin Hyeok-ya, yang kauharus tahu adalah… gadis yang ada bersama kita beberapa minggu ini adalah gadis yang menginap di kamar yang sama tahun lalu. Jung Eu So…” nada ucapannya begitu berat, seolah menegaskan sesuatu.


Seung Ho menggeser tubuhnya dari sofa dan mendekati Tae Yoon yang berwajah pucat. Tubuh Tae Yoon seperti telah dipaku di tempat sehingga ia hanya bisa diam. Menatap kedua mata Seung Ho yang kini menatapnya tajam pun ia tidak berani. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba tak bernyali. Apakah semua tuduhan itu benar?


“Eun So-ya… Kenapa selama ini kau menyembunyikan dirimu yang sebenarnya dan membohongi kami?” pertanyaan itu bergulir seiring dengan tatapan tajam Seung Ho yang belum juga berubah.


“Seuung Ho-ya… Bagaimana mungkin dia seorang Eun So? Dia Tae Yoon yang kebetulan mirip saja.” Shin Hyeok ikut bangkit dari sofa dan berdiri di sebelah Seung Ho. Menatap Seung Ho dan Tae Yoon secara bergantian, tak ketinggalan raut wajah bingung masih menghiasi wajahnya.


“Aku punya banyak bukti yang bisa menjelaskan kalau gadis ini adalah Eun So, salah satunya adalah kebisuannya.” Alis Seung Ho naik sebelah ketika mengatakan kalimat tersebut. “Bahkan dia sama sekali tak menyangkalnya. Bukankah itu cukup jelas?” Seung Ho berlaku seperti seorang pengacara yang sedang mengupas habis kejahatan seseorang di depan hakim.


Shin Hyeok semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang dipertunjukkan Seung Ho padanya.


“Seung Ho-ssi… A-a-aku…” Tae Yoon baru membuka suara. “A-aku…”


Seung Ho malah menjentikkan jemarinya, “Bukti kedua, dia sama sekali belum menghilangkan caranya memanggilku. Begitu sopan dan sangat formal.” Seung Ho tersenyum miring.


“Ya, yang memanggilmu seperti itu kan banyak…” Shin Hyeok memotong.


Seung Ho langsung merespon ucapan Shin Hyeok barusan dengan gelengan sangat mantap. “Teh Peppermint dan tidak bisa tidur jika lampu padam, apa itu kurang membuktikan? Hanya Eun So yang mempunyai kebiasaan seperti itu,”


“Kau aneh, Seung Ho-ya…” Shin Hyeok masih belum mempercayai. “Keduanya tidak bisa menjadi buktimu yang akurat. Bisa saja kan—”


“Dokter Jung?” Shin Hyeok semakin tidak mengerti.


“Aku tidak tahu apa motifnya melakukan ini semua. Tapi yang jelas dia telah lancang mempermainkan kita!” Seung Ho mengangsurkan jari telunjuknya tepat di depan mata Eun So. Sorot matanya terhenti pada Eun So yang seperti kena skakmati. Gadis itu begitu terkejut menerima perlakan Seung Ho saar ini sehingga bibirnya terkatup rapat sedangkan sekujur tubuhnya bergemetaran.


“Kau tidak bisa berbicara sekarang?” Seung Ho masih mengeluarkan kalimat sarkastis andalannya. Pandangannya langsung beralih pada Shin Hyeok untuk mempertanyakan pendapatnya.


“Shin Hyeok—” namun air muka tegangnya berubah bingung ketika Shin Hyeok mengembungkan pipinya. Seperti orang yang sedang menahan tawa, laki-laki itu menundukkan kepala. Bunyi ‘mmpphhhh…’ tak sengaja didengar Seung Ho hingga membuatnya begitu kebingungan.


“Ya, kau kenapa? Apa yang kau lakukan?”


BUAHAHAHAHA…


Seketika itu tawa menyembur dari mulut Shin Hyeok. Didekatinya Shin Hyeok namun tawanya semakin keras sampai ia tidak bisa berpikir dengan jernih ataupun menduga-duga apa yang sedang terjadi pada Shin Hyeok.


“Seung Ho-ya, kaulucu sekali. makanya aku tertawa…” disela-sela tawanya Shin Hyeok masih bisa mengucapkan dan menjelaskan sesuatu yang sama sekali belum dimengerti oleh Seung Ho.


Secepat kilat Seung Ho mengalihkan pandangnnya pada Eun So yang saat ini sedang menutup mulutnya. Kedua pipinya tampak naik, Eun So sedang menahan tawanya. Sekarang malah Seung Ho yang kebingungan dengan situasi ini.


Ia merasa dijebak.


Tapi untuk apa?


**


“Ya, kenapa kau tertawa seperti itu?” Seung Ho sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Shin Hyeok. Bisa-bisanya laki-laki itu tertawa dalam situasi seserius ini.


Shin Hyeok masih memegangi perutnya, seolah apa yang ia tertawakan barusan begitu lucu sehingga menggelitiki perutnya. Di lain dugaan, Tae Yoon mengulum senyum. Tak lama, Shin Hyeok bertepuk-tepuk tangan dan memuji Seung Ho.


“Caramu mengorek semua kebenaran mirip sekali dengan pengacara,” ujar Shin Hyeok yang membuat Seung Ho balik kebingungan. “Apa itu semacam keinginan terpendam?


“Apa?” kini dahi Seung Ho yang berkerut. “Apa maksudmu?” kali ini pandangannya mengarah pada Tae Yoon, maksudnya Eun So.


“Kenapa Seung Ho-ssi, kenapa kau kebingungan?” tanya Eun So sembari beralih dan bergelanyut mesra pada Shin Hyeok.


Shin Hyeok dengan senang hati membalas pelukan Eun So dengan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.


“Kaubenar Seung Ho-ssi. Kau benar sekali…” Eun So bertepuk tangan, menirukan gaya Shin Hyeok dengan mimik wajah yang begitu sulit diterjemahkan Seung Ho. Pandangan gadis itu seperti penuh kemenangan.


Tapi, kemenangan atas apa?


“Bagaimana aktingku, sangat bagus kan?” tanya Shin Hyeok pada gadis yang langusng mengacungkan dua jempol pada Shin Hyeok.


Keduanya kemudian melepaskan pelukan dengan senyum yang masih sama membingungkannya. Seung Ho seperti orang bodoh yang dipermainkan oleh kedua orang itu. Namun Seung Ho tidak tahu permainan seperti apa yang sedang dilakonkan keduanya sehingga Shin Hyeok begitu percaya diri kalau aktingnya begitu bagus.


“Dia memang Jung Eun So, kautahu? Bahkan sebelum kau yang mengetahuinya aku sudah lebih dulu mengetahuinya.”


“Apa?” Seung Ho begitu tercengang mendengarnya. Bagaimana mungkin Shin Hyeok menyembunyikan ini sendirian sedangkan ia seperti orang bodoh yang beberapa hari ini berusaha mengungkapkan kebenaran.


“Ya, Seung Ho-ssi, aku datang kembali kepada kalian dan merahasiakan ini darimu.” Eun So yang bersekongkol memberikan sebotol soju pada Shin Hyeok kemudian mereka bersulang.


Sementara Seung Ho hanya bisa menikmati adegan itu dengan muka penuh rasa penasaran yang tinggi.


“Dan yang harus kauperlu tahu dia ini adalah adikku. Bukan kekasihku.” Tawa Shin Hyeok begitu lebar. Sementara Seung Ho yang mendengarnya bagai disambar petir di siang bolong.


“Bagaimana mungkin kalian…” Seung Ho kehilangan kata-katanya.


Shin Hyeok menenggak habis soju dan menjawab. “Awalnya aku juga tak percaya, namun kautahu ayahku kan? Ternyata selama ini dia menikah dengan ibunya Eun So.” Ceritanya begitu tenang. Setelah itu ia kembali ke sofanya, “Eun So-ya, sekarang giliranmu.”


Eun So yang masih memegang gelas soju pun hanya tersenyum simpul lalu menceritakan semuanya pada Seung Ho. “Malam itu, setelah kejadian itu, aku bertengkar dengan Ayahku. Aku bilang padanya aku tidak ingin hidup. Aku ingin menyusul ibuku.” Wajah Eun So terlihat merona ketika menceritakannya. “Bertahun-tahun aku meyakini ibuku telah meninggal, tapi di malam itu ayahku menceritakan semuanya. Ibuku tidak meninggal dunia melainkan meninggalkan ayahku bersama mantan kekasihnya.”


“Dan mantan kekasih itu adalah ayahku. Aku juga tidak mengerti kenapa si tua itu rela melakukannya.” Sambung Shin Hyeok yang air mukanya menampakkan kebanggan.


“Itu terjadi belasan tahun silam dan aku masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya. Ayahku bilang, usiaku belum genap dua tahun waktu itu.”


Seung Ho yang nyaris tak percaya dengan apa yang diceritakan Eun So padanya. Kisah yang diceritakannya seperti drama seri yang begitu memuakkan. Seung Ho tidak memercayainya semudah itu.


“Kalian bercanda, kan?”


Keduanya menggeleng bersamaan.


“Ceritanya belum selesai, ya.” Shin Hyeok meminta Seung Ho agar tidak memotong. “Eun So mengatakan kalau ia ingin bertemu dengan ibunya sebelum ia menjalani operasi dan ayahnya mengabulkannya.” Lanjut Shin Hyeok seolah hapal betul apa yang terjadi pada Eun So setelah perpisahan mereka tahun lalu itu.


Di luar dugaan, Eun So malah mengangguk setuju. “Aku bertemu dengan ibuku. Setelah menjalani operasi yang begitu rumit dan dinyatakan sembuh, aku meminta izin kepada ayahku untuk menghabiskan waktu bersama ibuku. Dan di rumah suami barunya itu aku menemukan foto Shin Hyeok Oppa.”


“Di hari pertemuan kami itu, Eun So menceritakan semuanya. Aku juga hampir tak percaya dan berpikir ini hanyalah mimpi. Setelah kucubit pipiku berulang kali, barulah aku sadar bahwa aku tidak sedang bermimpi. Eun So adalah adik tiriku. Dan ide mengerjaimu ini berasal dari kepalanya.” Shin Hyeok menuding adik tirinya yang masih berdiri tegak dengan senyum lebar.


“Oh,” bibir Seung Ho membulat sementara hatinya teriris. Ia merasa miris karena baru mengetahuinya sementara kedua orang itu telah menertawakan kebodohannya selama ini. “Semua ini tidak begitu lucu.” Komentarnya terdengar tersinggung.


“Salahmu sendiri tidak mengenaliku ketika pertama kali kita bertemu. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku harus menjadi gadis yang begitu kalem agar kau terjebak dalam permainan ini.”


Seung Ho tak merespon bahkan dengan ekspresi wajahnya sekalipun. Ia sedang berusaha memahami apa yang tengah terjadi di hadapannya. Otaknya sulit sekali mencerna apa yang telah ia dengar dari Shin Hyeok ataupun Eun So.


Ia ingin sekali marah besar ketika emosi berkecamuk di dalam dirinya, namun secepat itu pula ia menyadari kepentingannya sehingga harus marah ketika tahu bahwa ia telah dibohongi selama ini. Ia telah ditipu mentah-mentah oleh dua orang yang ada di hadapannya. Seung Ho kecewa sekali, namun ia hanya bisa menelan perasaannya tersebut hingga ia merasa setiap kalimat yang tertangkap di benaknya begitu menohok hatinya.


“Kelihatannya kaukecewa sekali,” celetuk Shin Hyeok bernada sindiran.


Seung Ho mengangkat wajah, menjatuhkan pandangan sinisnya pada senyum berisyarat puas dari bibir Shin Hyeok. Tak lama, Seung Ho berinisiatif untuk pergi. Meninggalkan Shin Hyeok dan Eun So berdua. Barangkali mereka ingin tertawa sepuasnya—karena sudah berhasil membuatnya seperti orang bodoh.


“Seung Ho-ya, kaumau kemana?”


Seung Ho tidak mengindahkan bahkan menolehpun tidak pada teriakan Shin Hyeok. Laki-laki yang berjalan begitu cepat itu telah menjadi dingin. Bahkan ia telah berjanji pada dirinya tidak akan kembali ke rumah itu selama ucapan demi ucapan yang mempermainkannya masih terbayang diingatannya.


**