
Sejak baku hantam yang terjadi antara Shin Hyeok dan Seung Ho malam itu, hubungan diantara keduanya menjadi tidak baik. Mereka tidak saling bicara dan hal itu membuat Tae Yoon begitu penasaran. Biasanya kalau sedang kumpul, mereka berdua terlihat ribut sekali, namun beberapa hari ini mereka seperti berperang dingin. Padahal musim telah lama berakhir namun keduanya malah berperang dengan alasan yang tidak diketahuinya.
Belum lagi dengan luka lebam di wajah keduanya yang membuat Tae Yoon semakin tidak mengerti. Mengapa keduanya mempunyai masalah yang sama—sama-sama berwajah lebam seperti habis bertarung dengan pegulat?
Ada apa dengan kedua sahabat ini?
Tae Yoon pernah sekali menyinggung kebisuan keduanya di meja makan, namun keduanya saling melempar pertanyaan.
“Kautanya saja padanya.” kata Shin Hyeok seraya melayangkan tatapan sinis kepada Seung Ho yang hanya tertunduk.
“Seung Ho—” alih-alih menjawab, laki-laki itu malah beranjak dari kursinya.
Tae Yoon semakin bingung. Satu-satunya orang yang masih berada di dekatnya hanyalah Shin Hyeok.
“Oppa, kau bisa ceritakan padaku kan apa yang sebenarnya terjadi?” wajah Tae Yoon seperti memohon.
“Entahlah… Aku tidak tahu harus bercerita dari mana? Malam itu aku dan ia bertengkar. Aku sudah meminta maaf padanya, tapi kaulihat sendiri kan bagaimana perangainya terhadapku? Jadi untuk apa aku terus mengemis memohon maaf sementara dia tidak.” Shin Hyeok mengakhiri ucapannya juga makan malamnya.
Ia segera masuk ke dalam kamarnya lalu keluar lagi dengan pakaian rapi. Shin Hyeok pamit ingin keluar kepada Tae Yoon.
“Aku pikir hanya persahabatan para gadis saja yang rentan pertengkaran. Ternyata para laki-laki juga seperti itu. Apa mereka bertengkar untuk memperebutkan seorang gadis?” Tae Yoon membuang napas berat lalu beralih kembali ke dapur untuk membereskan sisa-sisa makan malam mereka.
**
Seung Ho sibuk menekan-nekan keyboard pada laptopnya ketika seseorang mengetuk pintu dan masuk tanpa izin darinya. Seung Ho hanya menoleh sebentar lalu kembali pada permainannya ketika mengetahui Tae Yoon masuk dengan segelas cokelat hangat di tangannya.
Ini pertama kalinya Tae Yoon masuk ke dalam kamar Seung Ho. Kalau bukan karena perseteruan yang memaksanya harus tahu, mungkin ia tidak akan melancangkan dirinya untuk masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya itu.
“Seung Ho-ssi, kau sedang apa?” tanya Tae Yoon berbasa-basa. Tangannya yang membawa cokelat hangat diturunkan untuk meletakkan gelas tersebut di nakas.
Kedua mata Tae Yoon terpana begitu melihat sebuah bingkai yang terpajang di atas nakas tersebut. Semula Tae Yoon tidak memedulikan, namun seorang gadis yang berada di sebelah Seung Ho di dalam foto tersebut membuatnya tak berhenti menatap. Tak lama kemudian senyum dan rona merah di pipinya terbit.
“Seung Ho-ssi, siapa gadis yang berambut merah ini?” Tae Yoon sengaja menggodanya. “Bukankah kalian berfoto di observation Namsan? Benar, kan?”
“Apa Shin Hyeok yang menyuruhmu ke sini?” Seung Ho bahkan tak menggubris pertanyaan Tae Yoon barusan.
“Eeemmm, aku—” gadis itu menjadi gugup dengan tiba-tiba.
Seung Ho melongok kepada gelas, “Terima kasih cokelat panasnya.” Ucapnya tak berekspresi sama sekali. Wajahnya bahkan terlalu ketat untuk hanya sekadar bermain game laptop.
“Bolehkah aku tahu apa alasan kau dan Oppa bertengkar?” Tae Yoon tidak ingin berbasa-basi terlalu lama.
Seung Ho spontan menghentikkan gerak jari-jarinya ketika pertanyaan itu dengan gamblangnya meluncur dari mulut Tae Yoon. Gadis itu benar-benar sudah merusak mudnya dengan mempertanyakan pertanyaan yang sama seperti di meja makan tadi.
“Maaf jika aku terlalu ikut campur dalam masalah kalian berdua. Tapi-aku-sudah berada lama di rumah ini, jadi aku berhak untuk mengetahuinya,” Tae Yoon menelan ludah setelah selesai mengatakan apa yang ada di benaknya.
Seung Ho menutup laptopnya seketika itu. “Apakah aku harus menjelaskan semuanya padamu?” Seung Ho menarik napas dalam. Di dalam pikirannya, ia akan menceritakan semuanya jika gadis di sebelahnya ini masih memaksa.
“Tentu harus,” jawabnya singkat.
“Tapi sebelumnya kau harus menjawab pertanyaanku,” Seung Ho meletakkan laptopnya begitu saja, kakinya lalu turun dari ranjang dan sekarang Seung Ho hanya berjarak beberapa senti saja dari Tae Yoon.
Tae Yoon refleks memundurkan langkahnya beberapa langkah.
“Apa benar Shin Hyeok adalah kekasihmu?”
Tae Yoon terbelalak, “Ya—tentu!” ia sedikit terbata.
“Ne, aku tahu itu,” sampai detik ini Tae Yoon belum begitu paham apa maksud dari pertanyaan Seung Ho barusan.
“Baiklah…” Seung Ho menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang dan berusaha memulai cerita. “Kau memang harus tahu tentang ini semua,”
“Tentang apa?” Tae Yoon mengernyit bingung.
“Kemarin malam aku memergoki Shin Hyeok dan Jun Hee berkencan.” Seung Ho tidak berani melihat wajah Tae Yoon maka ia hanya menunduk ketika menceritakannya. “Aku mengikuti mereka sampai ke Petite France,”
“Sejauh itu?”
Seung Ho mengangkat wajahnya, “Kenapa kau lebih memedulikan jarak daripada alasanku mengikuti mereka?” tatapan Seung Ho terlihat menusuk.
Tae Yoon malah berdeham, “Hhmm, memangnya kenapa kau mengikuti mereka?”
“Aku curiga mereka ada main di belakangmu, ternyata dugaanku benar. Shin Hyeok dan Jun Hee, mereka…” Seung Ho tidak melanjutkan, hanya menyentuh bibirnya sebagai isyarat.
Tae Yoon sedikit terlonjak etika mendengarnya. Gadis itu terlihat salah tingkah begitu mendengar sebuah kebenaran, bukan marah seperti gadis lain ketika mendengar kebenaran tentang perselingkuhan kekasihnya.
“Pantas saja ia tidak pernah mengajakmu keluar.” Seung Ho menggeleng pelan. Kali ini ia tidak bisa memaklumi apa yang telah dilakukan sahabatnya itu. “Kalian bahkan tidak terlihat sepasang kekasih semenjak kau tinggal di rumah ini. Aku mungkin akan membiarkannya, hanya saja aku turut mengenalmu sehingga aku menjadi lepas kendali malam itu. Aku memukul wajahnya ketika mereka selesai—”
“Jun Hee itu temanmu kan? Berarti dia juga teman Oppa, kenapa aku harus cemburu jika dia mencium gadis itu.” Tae Yoon memotong ucapan Seung Ho yang semakin panjang.
Mendengar reaksi Tae Yoon seperti itu, Seung Ho menjadi sangat heran. Dipandangnya lekat wajah Tae Yoon yang seperti menghindarinya.
“Benarkah?” Tatapan Seung Ho begitu lekat ketika kedua kakinya bergerak mendekati Tae Yoon yang mundur beberapa langkah.
“Ya—” gadis itu terlihat gelisah.
“Kautidak marah? Kau tidak akan bertengkar dengan Shin Hyeok karena dia—” Seung Ho mencoba menghapus jarak di antaranya.
Punggung Tae Yoon menyentuh tembok kamar sehingga Tae Yoon terpaksa harus berhenti meski Seung Ho berusaha mendekatinya lebih dekat lagi.
“Really?” Seung Ho masih memandangi kedua mata Tae Yoon lekat-lekat. “Apakah kau tidak akan marah jika Shin Hyeok mencium Jun Hee seperti ini?” Seung Ho mendekatkan wajahnya, semakin dekat sampai bibirnya dapat mendarat dengan tepat pada bibir gadis itu.
Tae Yoon terperanjat, kedua tangannya refleks mendorong tubuh Seung Ho menjauh darinya. Di saat itulah Seung Ho terbelalak kaget. Laki-laki itu seperti baru menyadari perbuatannya yang lancang.
Tae Yoon melemparkan tatapan ‘tak percaya’ pada Seung Ho, namun laki-laki yang membisu itu tetap bergeming. Bahkan tidak mengucapkan maaf sekalipun. Tae Yoon tidak tahan berlama-lama di dalam kamar Seung Ho yang mulai membuatnya jengah. Maka, tanpa sepatah katapun Tae Yoon segera mengambil langkah cepat keluar kamar.
“Nona Kim…!” panggilan Seung Ho sia-sia karena Tae Yoon sudah benar-benar keluar dari kamarnya.
**
Malam berikutnya, suasana makan malam lebih pelik dari sebelumnya. Baik Shin Hyeok dan Seung Ho, masih belum berbaikan. Begitu pula dengan Tae Yoon dan Seung Ho. Sejak kejadian malam itu keduanya pun turut membisu dan Shin Hyeok tidak tahu menahu soal itu.
Makan malam usai begitu saja. Tae Yoon membereskan meja makan dan mencuci piring, Shin Hyeok memilih menonton TV, sementara Seung Ho, entah apa yang diperbuatnya di dalam kamar. Setengah jam berikutnya, Seung Ho turun dengan mantelnya. Laki-laki itu lalu keluar rumah dan tidak berpamitan kepada siapapun.
Di tengah hiruk pikuk Namsan Tower yang tidak pernah kehabisan pengunjung, Seung Ho masih saja teringat kejadian malam itu di kamarnya. Sampai saat ini ia belum bisa berpikir jernih. Ia bahkan masih belum percaya kalau ia telah melakukan sesuatu pada gadis yang sebenarnya kekasih Shin Hyeok. Lalu, apa bedanya ia dengan si playboy itu?
Seung Ho membuang napas berat kemudian melajukan langkahnya menuju sebuah pub. Malam ini ia hanya ingin melupakan semua pikiran yang bersliweran tanpa izin di kepalanya dengan segelas atau sebotol wishkey.
Namun yang terjadi, Seung Ho telah menenggak berbotol-botol whiskey dalam beberapa jam. Ini pertama kalinya Seung Ho minum terlalu banyak hingga kepalanya menjadi sangat berat. Seung Ho telah mabuk berat, bahkan untuk mengingat namanya saja ia tidak sanggup.
**