Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 18



Kedua mata Seung Ho menangkap seorang gadis berambut blonde panjang yang diikat dengan asal sedang menunduk, menaungi mangkuk lalu mendangak dengan mulut tersumpal mi ketika mendengar bunti langkahnya. Tae Yoon menyedot mi di mulutnya hingga habis lalu mengunyahnya dengan perlahan. Gadis itu menghabiskan makan malamnya—semangkuk ramyoen—ketika Seung Ho duduk di depannya.


“Eh, kau… kebetulan aku menyisakan semangkuk ramyoen untukmu…” Tae Yoon mengemasi mangkuk dan sumpitnya lalu mencuci bekas makannya di pantry.


“Jadi kaumemberiku makanan sisa?” Seung Ho menggeleng frustasi.


“Jangan berburuk sangka dulu. Aku tidak menyisakan makananku untukmu, tapi aku menyisakan masakanku untukmu.” Sangkalnya bernada santai. Setelah menyimpan bekas mangkuknya yang telah bersih, Tae Yoon menghantarkan semangkuk ramyoen di hadapan Seung Ho. Setelahnya, gadis itu tak mengatakan apapun lagi dan langsung meninggalkan Seung Ho sendirian.


“Terima kasih…” gumam Seung Ho setelah Tae Yoon menghilang di ujung tangga. Seung Ho lantas mengambil sumpit dan siap menyantap makan malam bikinan teman serumah yang notabene-nya adalah kekasih Shin Hyeok itu.


Entah apa yang dipikirkan Shin Hyeok saat mengambil keputusan untuk membiarkan kekasihnya tinggal bersama mereka? Apa ini taktik terbaru dari seorang Shin Hyeok agar dengan mudah memeluk dan mencium mesra gadis itu? Nakal sekali pikiran laki-laki itu. Kenapa ia tidak membawanya ke hotel saja?


Ah! Seung Ho mendesah berat. Pikiran apa yang merasukinya barusan? Apapun rencana Shin Hyeok untuk memasukkan kekasihnya ke dalam rumah, itu bukan urusannya. Ambil keuntungan dari hal ini, salah satunya… Seung Ho tidak perlu repot lagi membuat sarapan ataupun makan malam. Ia juga tidak perlu kebagian bersih-bersih rumah karena gadis itu mengerjakan apapun yang memang seharusnya dikerjakan seorang wanita rumahan.


Tiba-tiba saja Seung Ho teringat pada seorang gadis yang dulu juga melakukan hal yang sama di rumahnya. Bersih-bersih, memasak untuknya dan menginap di kamar yang sama dengan kamar yang sekarang ditempati Tae Yoon. Gadis itu… sudah setahun lebih Seung Ho tak mendengar kabarnya. Setelah malam mengerikan yang membuat mereka berpisah dengan ‘tidak’ baik, tak sekalipun Seung Ho melihatnya. Nomor ponsel, email, akun skype bahkan facebook sekalipun Seung Ho tidak punya ataupun mengetahuinya. Pernah sekali ia mencoba mencari di jejaring sosial, namun yang didapat bukanlah gadis yang ia maksud.


Diam-diam, Seung Ho mempunyai rasa rindu yang amat dalam terhadap gadis itu. Gadis yang sempat membuatnya terkejut begitu mengetahui penyakit apa yang sedang diidapnya. Gadis yang begitu keras kepala karena memilih kabur dari rumah menjelang operasi pengangkatan penyakitnya. Gadis yang begitu angkuh dengan tidak mengacuhkan pertolongannya saat penyakit ‘tak biasanya’ itu kambuh.


Jung Eun So…


Suatu bunyi nyaring membuyarkan lamunan Seung Ho. Laki-laki itu melirik sekitar meja dan mendapatkan ponsel milik Tae Yoon yang tertinggal di sudut meja makan. awalnya Seung Ho bersikap defensif, namun panggilan yang kembali berdering setelah beberapa detik bunyi itu berhenti benar-benar membuat Seung Ho terganggu. Berulang kali ia berteriak memanggili nama gadis itu namun Tae Yoon tidak juga datang dan menghentikan dering ponsel yang membuat Seung Ho muak.


“Tae Yoon-ah… Apa kautuli??? Ponselmu benar-benar menggangguku…!” teriaknya lagi.


Tak lama setelah Seung Ho memanggil pemiliknya, black slide phone itu berhenti berdering. Seung Ho merasa lega sedikit. Setidaknya ia bisa melanjutkan makan malamnya dengan tenang.


Ketenangan itu tidak berlangsung lama karena lagi-lagi ponsel Tae Yoon terus menimbulkan suara yang tidak disukai Seung Ho. Mau tak mau Seung Ho harus menilik panggilan siapa yang begitu tergesa-gesa itu. Jika nanti ia menemukan nama Shin Hyeok pada layarnya, ia bersumpah akan memaki laki-laki itu langsung setelah ia mengangkat sambungan itu dengan lancang.


Seung Ho menyamber ponsel Tae Yoon dengan kasar. Kedua matanya membaca nama ‘Appa’ tertera pada layarnya. Jika saja tadi yang memanggil adalah Shin Hyeok mungkin Seung Ho akan dengan sangat yakin menjawabnya.


Berselang beberapa detik Seung Ho mendengar langkah kaki menuruni tangga. Begitu terburu-buru sehingga menimbulkan dentuman yang sedikit berisik ketika kedua kakinya menghentak setiap anak tangga. Seung Ho langsung meletakkan ponsel itu ke tempat semula dan bersikap bahwa ia tidak melakukan apapun terhadap ponsel tersebut. Ia pun segera melupakan prasangka yang sempat mampir di atas kepalanya tentang si pemanggil yang namanya tertera di layar ponsel Tae Yoon.


“Berisik sekali ponselmu!” ujarnya sarkastis.


“Ck! Kauyang lebih berisik. Kalau kaumerasa terganggu, kau kan bisa mengangkatnya lebih dulu, tidak perlu berteriak-teriak seperti itu…”


“Bersikap lancang dan mau tahu urusan orang lain bukanlah tipeku!” katanya seraya beralih dari meja makan. “Camkan hal itu baik-baik di dalam kepalamu!” lalu ia benar-benar pergi dari hadapan Tae Yoon.


“Sombong sekali…!” Tae Yoon mengangkat ujung bibirnya sebelah. Jika saja Seung Ho melihatnya, mungkin keributan yang panjang akan kembali terjadi namun Seung Ho sudah terlanjur membelakanginya jauh.


Begitu ponselnya berdering kembali, Tae Yoon terkesiap dan begitu terpana melihat nama yang tertera di ponselnya. “Oh God! Untung dia tidak melihatnya…” Tae Yoon langsung menempelkan ponselnya ke telinga dan berbicara dengan seseorang di seberang telepon dengan sangat cepat.


“Ya, Appa… Aku baik-baik saja bersama Ibu… Kau tidak perlu khawatir seolah aku adalah anak kecil… Ya… ya… ya… Appa…! Mereka baik, sangat-sangat baik kepadaku. Berhentilah cemas terhadapku. Aku janji, secepatnya akan pulang… Okay, Appa…? Bye…!” Tae Yoon menghela napas lega, lagi.


**


5 Maret 2014, Ibaraki, Japan.


“Ya Tuhan… Hitachi Seaside Park ini indah sekali, bukan? Kalian bisa lihat sendiri kan bagaimana indahnya taman ini.” Jun Hee begitu takjub melihat lautan bunga yang ada di sekitarnya. “Ada 170 jenis bunga di sini dan semuanya begitu indah sekali, pemirsa. Aku yakin kalian pasti iri sekali padaku.” Jun Hee mempercepat langkahnya dan tidak begitu memedulikan Seung Ho yang mengikutinya begitu kualahan.


Jun Hee berjalan ke arah spesies lainnya dan berdiri di antara bunga Deffodil yang membuatnya merasa seperti di surga. Tak lama ketika ia menikmati aroma dan warna bunga tersebut Seung Ho malah membuyarkannya. Ia memberi kode padanya untuk kembali mengatakan sesuatu ketika Seung Ho menyalakan kamera.


“Ketika Jepang ditimpa bencana tsunami yang maha dahsyat di tahun 2011 silam, taman ini telah kehilangan 4,5 juta spesies bunga. Namun seperti yang kita lihat sekarang, taman ini sudah pulih dan menampilkan kemegahan yang menakjubkan…”


“Hitachi Seaside Park juga menjadi alternatif kencan romantis ala remaja Jepang. Kalian lihat, di sini banyak yang berpasangan.” Jun Hee memasang mimik sedih ke kamera. Jun Hee sekarang sudah berada di tempat lain di taman tersebut. “Aku menyesal karena tidak datang bersama kekasihku, Lee Min Ho… dia memang sibuk sekali akhir-akhir ini,” pandangannya lalu terangkat, seperti sedang membayangkan sesuatu.


Seung Ho yang merekam setiap perubahan ekspresi Jun Hee—ketika menyebutkan nama Lee Min Ho—menyemburkan tawa yang mengganggu khayalan Jun Hee di depannya.


“Tidak…” Seung Ho mengelak demi keselamatannya sendiri. Kalau sampai ia mengiyakan, mungkin saja wajah Seung Ho langsung dibuat lebam oleh Jun Hee. Baiklah… itu hanya khayalan tingkat tingginya Seung Ho saja. Ia hanya akan mendapatkan pukulan kecil di bahunya kalau sampai Jun Hee tidak menyukai suara tertawanya tadi.


Seung Ho kembali mengikuti ke mana arah kaki Jun Hee membawanya dengan kamera yang menyala. Mengarah pada panorama di sekeliling mereka yang sayang jika tidak diabadikan dan disuguhkan pada penggemar berat ‘Travellizious”.


Baru saja Jun Hee mau menghampiri dan mewawancarai sepasang kekasih, langkahnya langsung terhenti. Tidak sesuai harapan. Sepasang kekasih yang awalnya terlihat mengobrol biasa, kini terlihat saling mengotot. Meskipun Jun Hee tidak begitu mengerti dengan bahasa jepang, namun bahasa tubuh dan suara mereka yang kian lama kian meninggi membuat Jun Hee yakin kalau sepasang kekasih itu tidak dalam mood yang baik untuk diwawancarai.


“Sepertinya mereka sedang bertengkar…Ssstt…” bisik Jun Hee yang mendekatkan wajahnya pada kamera Seung Ho. “Bagaimana kalau kita cari pasangan yang lain saja…” lanjutnya seraya berjalan mundur.


Seung Ho mengalihkan pandangannya pada sepasang kekasih namun tidak melalui kameranya. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana sepasang orang jepang itu tengah mengadu mulut.


“Kalian ini seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar saja.” Seung Ho tidak tahu bagaimana caranya kalimat yang pernah diucapkan Shin Hyeok ketika melihatnya dan Tae Yoon bertengkar.


Diluar dugaan, Seung Ho mengenang kalimat itu dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya kemudian. Ia merasa konyol karena telah melakukan banyak pertengkaran dengan Tae Yoon. Seandainya setiap pertengkaran bisa ia saksikan sendiri—seperti sekarang—mungkin ia akan menghindari pertengkaran untuk menjaga imejnya.


Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi mengingat perangai Tae Yoon yang sudah berubah menjadi gadis yang galak. Sudah tidak bisa diam ketika ia mengucapkan kalimat kasar padanya.


“Aku yakin sebentar lagi Shin Hyeok akan memutuskanmu karena perangaimu yang jauh dari kata manis. Kautahu, Shin Hyeok bisa mendapatkan gadis yang lebih manis darimu.” Sepertinya Seung Ho terlena dalam kenangannya.


“Oh, benarkah? Bahkan aku merasa beruntung karena kaubukan Shin Hyeok. Tidak mungkin Shin Hyeok mengakhiri hubungan kami seperti yang kaukatakan barusan. Dasar serigala…”


“Seung Ho-ya, apa kausedang melamun?”


Seung Ho tersentak. Ia hanya mengumbar senyumnya sebelum mematikan kamera lalu berjalan ke sisi lain dari taman. Kali ini mereka akan ke puncak taman yang sering disebut juga dengan bukit warna yang menggradasikan lebih banyak warna yang lebih menakjubkan.


**


Akasuka, Jepang


“Ini adalah Tokyo tempo dulu… Selamat datang di Akasuka…” Jun Hee berbicara sambil menyusuri jalanan akasuka menuju kuil Sensoji. “Sebentar lagi kita akan sampai di kuil Sensoji. Bisa dilihat banyaknya pengunjung, Akasuka adalah destiny paling populer bagi para traveller yang menyukai sejarah.”


Seung Ho masih merekam perjalanan Jun Hee menuju kuil Sensoji mesti gadis yang tengah mengenakan kaos hitam dengan tulisan ‘I love Japan’ itu tidak mengatakan apapun lagi.


Sekarang, Jun Hee tengah berada di kerumunan kuil Sensoji. Gadis itu terus menuturkan kalimat-kalimat informatif mengenai Akasuka khususnya kuil Sensoji pada pecinta Travellizous.


“dan gerbang yang kita lewati tadi itu disebut gerbang petir,” katanya seraya menunjuk gerbang masuk ke kuil Sensoji, gerbang kaminarimon. “Kalian bisa lihat lampion di tengah gerbang itu, itu adalah lampion raksasa. Lampion terbesar yang belum pernah kulihat sebelumnya.”


Tiba-tiba saja pandangan Seung Ho terpaku pada gadis remaja dan teman laki-lakinya yang kemungkinan berusia sama. Si gadis sibuk berpose di depan lampion raksasa sementara si laki-laki mengambil fotonya. Tawa dan kegembiraan gadis itu berpose mengingatkan Seung Ho pada seorang gadis yang pernah ia foto di dalam Namsan Tower.


Gadis itu melakukan banyak pose sementara ia sibuk memotret. Kurang lebih sama dengan yang dilakukan dua remaja tadi.


“Seung Ho-ya, perhatikan kameramu…!” Sindir Jun Hee yang sedari tadi memerhatikan Seung Ho tengah menatap dua remaja yang kini sibuk melakukan selca—self camera.


Lamunan Seung Ho pun tergugah, lalu ia kembali dengan kamera di tangannya. Merekam setiap gerakan yang akan dilakukan Jun Hee selama di Akasuka.


Kenapa akhir-akhir ini aku bisa memikirkan dua gadis sekaligus? Apa aku sudah mulai ketularan seperti Shin Hyeok?


Seung Ho menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia malu pada dirinya sendiri karena sibuk mengingat gadis yang sekarang entah berada di mana.


“Mianhae…” Seung Ho menundukkan kepalanya. “Mereka lucu sekali,” katanya pada Jun Hee yang langsung ditanggapi dengan senyum meragukan—alasannya barusan.


Jun Hee kemudian harus berjalan sekitar 250 meter untuk sampai ke gerbang kuil Sensoji. Sementara Seung Ho tentu tidak melewatkan apapun di sekitarnya selama perjalanan menuju pintu kuil sensoji.


“Nah, sekarang kita telah sampai di kuil Sensoji…” Jun Hee merentangkan tangan selamat datangnya di depan pintu kuil.


**