
Seung Ho masih berdiri tegak di sebelah posisi kameramen yang meliput wawancara dengan ayah dari seorang penyanyi ketika ponsel di saku celananya bergetar. Seung Ho enggan menjawabnya dan membiarkan ponselnya itu terus bergetar. Baru-baru ini penyanyi wanita muda berbakat yang album dan single¬¬-nya sempat merajai chart korea Selatan itu sedang tersangkut kasus pelecehan dengan seorang agensi tempatnya bernaung. Tae Yang Hyung yang masih mewawancarai terus meminta artis tersebut menceritakan kronologi secara jelas. Seung Ho hanya bisa memerhatikan dengan seksama, sekaligus belajar menjadi seorang reporter andal seperti Tae Yang Hyung. Dalam benaknya, di masa depan ia harus bisa seperti Tae Yang Hyung yang kiprahnya di dunia jurnalistik tak diragukan lagi.
Tak lama setelah getar ponselnya berhenti, ponsel Seung Ho kembali bergetar dan membuat Seung Ho geram. Ia pun harus menjauh bahkan keluar dari apartemen si artis untuk mengangkat panggilan dari Shin Hyeok.
“Ya… Ada ap—”
“Ya! Kauharus menonton TV sekarang juga!” suara Shin Hyeok yang begitu tergesa-gesa itu membuat Seung Ho ingin
“Ya Tuhan, jadi kau repot-repot meneleponku hanya untuk mengatakan ini? Menyuruhku menonton TV? Ssshhh!” Seung Ho ingin sekali memukul kepala Shin Hyeok sekarang juga. “Apa kau tidak tahu aku—se”
“Seung Ho-ya, kumohon, carilah TV di tempat terdekatmu dan tonton acaraku sekarang juga. Please, ya, kau akan mengerti kenapa aku meneleponmu. Cepatlah Seung Ho, cepat!”
Ucapan Shin Hyeok itu benar-benar membuat Seung Ho bingung. Shin Hyeok berbicara padanya seolah-olah talkshow-nya yang tayang hari ini memberitakan berita darurat atau bahkan lebih penting dari wawancara Tae Yang Hyung hari ini. Dengan berat hati, Seung Ho menuruti perintah housemate-nya itu dengan segera.
Ponsel di tangannya masih tersambung dengan Shin Hyeok ketika ia memutuskan masuk lagi ke apartemen dan nekat menonton TV di kamar si artis—yang kebetulan terbuka.
“Ya, aku sudah menemukan TV.” Katanya pada Shin Hyeok dengan nada malas.
“Cepat nyalakan dan tonton acaraku segera, Seung Ho. Cepatlah!”
Seung Ho tidak mengerti dengan gelagat Shin Hyeok hari ini, namun diturutinya saja perintah temannya itu. Begitu memindah chanel, kedua mata Seung Ho langsung melebar ketika melihat wajah seorang gadis yang memenuhi monitor TV.
“Nona Jung?” keningnya mengernyit bingung. “Apa yang terjadi?”
“Dia putriku satu-satunya…” Seketika itu pula monitor TV memperlihatkan rekaman hasil wawancara Tae Yang Hyung beberapa hari lalu—ketika ia harus menggantikan Shin Hyeok sehingga tak ikut Tae Yang Hyung mewawancarai Dokter Jung—ayah Eun So.
“Semua pengawal sudah dikerahkan untuk mencarinya, namun sampai sekarang ia masih bersembunyi. Ini adalah jalan satu-satunya untuk menemukan putriku secepatnya.” Ucap Dokter Jung dalam wawancara bersama Tae Yang Hyung.
Jadi Eun So lari dari rumah?
Tiba-tiba saja pikiran Seung Ho mengingat kejadian tadi pagi, kejadian sebelum ia berangkat ke kantor. Kejadian yang berhasil membuat wajah sebelah kirinya terasa nyeri akibat pukulan dari pria misterius yang ternyata pengawal-pengawal Dokter Jung.
Tapi kenapa?
Tak lama, monitor televisi menampilkan suasana studio 3 yang mana Dokter Jung telah hadir sebagai satu-satunya narasumber. Seung Ho memasang telinga baik-baik. Jawaban dari pertanyaan Hyo Hyun selaku pembawa acara tidak akan ia lewatkan. Sementara telepon Shin Hyeok, diabaikannya begitu saja.
“Mungkin aku akan membiarkannya berlibur, mengelilingi Seoul atau bahkan mengelilingi dunia sekalipun. Aku akan mengizinkannya pergi ke mana saja yang ia inginkan, hanya jika saja kondisinya benar-benar dalam keadaan sehat.”
Ucapan Dokter Jung membuat Seung Ho semakin tidak mengerti. Memangnya apa yang terjadi di antara ayah dan anak itu?
“Putriku Jung Eun So menderita osteosarkoma sekunder , ia seharusnya sudah menjalani operasi jika tidak melarikan diri dari rumah.”
Jung Eun So menderita osteosarkoma sekunder?
Seung Ho kaget bukan main mendengarnya. Begitu kagetnya sampai membuat sekujur tubuhnya serasa beku. Dadanya sesak hingga ia sulit sekali berpikir jernih. Bayangan Eun So berkelebat begitu saja di kepalanya. Bayangan ketika pertama kali melihat gadis itu terjatuh dengan tiba-tiba lalu pingsan, juga bayangan ketika Eun So menenggak beberapa butir yang dikatakan Dokter Jung sebagai obat penahan rasa sakit.
Kenapa ia tidak menyadari keganjilan itu sebelumnya?
**
Malam hampir larut ketika Eun So membuka pintu sementara tangan satunya menggenggam beberapa tas belanjaan. Wajahnya begitu ceria ketika mendapati dua teman serumahnya, Seung Ho dan Shin Hyeok duduk membisu di sofa. Gadis itu langsung menghampiri dan memamerkan penampilan barunya.
“Hei, apa kalian menungguku pulang? Lihat apa yang kubawa? Aku bawakan makanan lezat untuk kalian.” katanya seraya menyodorkan salah satu kantung kertas besar yang berisi makanan yang diakui Eun So dari salah satu restauran terlezat di Seoul.
Baik Seung Ho maupun Shin Hyeok tidak begitu memedulikan apa yang disodorkan Eun So kepada mereka. Satu ta Keduanya membisu dengan ekspresi wajah yang sulit sekali diterjemahkan oleh Eun So.
“Oppa…! Kenapa kalian masih diam? Ada apa dengan kalian? Oh, iya, bagaimana dengan penampilan baruku?” Eun So menyisir jari rambut—yang tadinya sepanjang bahu—kini menjadi lebih pendek lagi. Eun So memotong beberapa senti hingga rambutnya yang baru hanya sebatas telinganya. Rambut ikalnya yang hitam pekat sudah tidak ada lagi, berganti rambut merah yang lurus dengan poni memenuhi keningnya.
Dengan potongan rambut seperti itu, Eun So terlihat lebih muda dari umurnya yang sebenarnya.
“Kauterlihat seperti umur belasan tahun,” ujar Shin Hyeok menanggapi seadanya. Senyum di bibirnya terlihat tidak ikhlas. Baik Shin Hyeok dan Seung Ho memang tidak begitu memedulikan seperti apa penampilan Eun So yang sekarang.
Eun So tersenyum sumringah. Puas sekali mendengar pujian seperti itu. “Terima kasih. Oh iya, rasanya seluruh tubuhku mulai pegal, aku tidur duluan ya…” Eun So lalu beralih dan hendak naik ke kamarnya.
“Jung Eun So-ssi…!” panggilan Seung Ho membuat kedua kaki Eun So terhenti. “Bisakah kita bicara sebentar?”
Eun So berbalik, “Bicara apa? Bukannya daritadi kauhanya diam ketika aku berbicara?” keningnya mengernyit bingung. “Ya Tuhan, ini pertama kalinya kaumemanggil namaku dengan lengkap. Pasti ada hal yang penting, ya?” Eun So begitu takjub ketika menyadarinya. Saking takjubnya ia sampai harus menghampiri Seung Ho.
Seung Ho menatap Shin Hyeok sejenak lalu tatapannya beralih pada Eun So yang kini mendekati mereka.
“Kaumau bicara apa, katakanlah!” katanya menanti dengan tidak sabaran. Sesekali Eun So menggerakkan kepalanya, menunjukkan bahwa seharian ini ia telah melakukan banyak hal yang menguras tenaganya sehingga ia terlihat sangat kelelahan. Bahkan tangannya ikut memijat-mijat bahunya sebentar.
Namun keduanya hanya bisa saling melempar pandang. Bahkan Eun So tidak mengerti kenapa mereka berdua masih membisu, padahal ia sudah menunggu agak lama.
“Seung Ho-ssi, ada apa? Kenapa kalian terlihat sangat mencurigakan?” Eun So melirik Shin Hyeok dan Seung Ho bergantian, mencoba menerjemahkan kebisuan diantara keduanya dalam pikirannya sendiri.
“Seung Ho-ya… Kau saja!” perintah Shin Hyeok yang belum apa-apa sudah tidak tega.
“Ada apa sih?” Eun So terlihat tak sabaran. Belum lagi dengan ucapan Shin Hyeok barusan, semakin membuatnya penasaran saja. “Ada apa dengan kalian?”
“Ini bukan tentang kami, Nona Jung. Ini tentang… Ka-kau…” Seung Ho terbata-bata. Sama dengan Shin Hyeok, sebenarnya ia tidak begitu tega menanyakannya langsung. Ia takut gadis itu akan tersinggung.
“Aku?” Eun So menunjuk wajahnya sendiri.
“Pertama-tama… Kaujatuh ketika kelelahan berlari, kaujuga mengeluhkan pinggangmu yang selalu sakit. Aku tidak begitu memerhatikan kalau kau—”
Eun So yang mendengarnya menjadi was-was. Ia mengalihkan pandangannya untuk menyamarkan perasaannya itu. Eun So pun memotong omongan Seung Ho seketika itu pula. “Bukannya itu wajar? Orang setelah kelelahan berlari pasti akan jatuh. Iya kan?” sangkal Eun So cepat. Matanya kemudian beralih pada Shin Hyeok yang hanya diam.
“Obat itu hanya penawar sakit. Sama seperti obat biasa,” Eun So terus menyangkal, sementara wajahnya sudah menyiratkan kekhawatiran yang sangat besar.
“Lalu siapa pengawal yang mengejarmu ketika pergi bersama Shin Hyeok kemarin malam?”
“Me-mereka pe-nagih u-utang, Seung Ho-ssi…” Eun So memejamkan kedua matanya, berat rasanya melihat Seung Ho yang terus mendiktenya.
“Kautahu? Tadi pagi mereka datang kemari dan memberiku memar ini,”
Eun So terbelalak, “Me-mereka ke-sini?” Eun So hanya bisa menelan ludah.
Seung Ho masih menatap Eun So dengan tenang. “Kau menderita Osteosarkoma, benar?” tembaknya enggan bertele-tele lagi. “Mereka bukan penagih utang tapi pengawal yang diutus ayahmu untuk membawamu kembali pulang. Kau harus menjalani operasi Nona Jung, benar kan?”
Seketika itu pula Eun So merasa buku-buku tangannya menjadi kaku. Wajahnya yang putih memucat.
“Nona Jung, kau ini pasien osteosarkoma yang melarikan diri, kan?” tembak Seung Ho ingin mengetahui sebuah kebenaran dari mulut Eun So sendiri. Bukan melalui berita yang ia tonton tadi sore, juga bukan dari media lainnya. Seung Ho dan Shin Hyeok hanya ingin mendengarnya dari seorang Jung Eun So.
Eun So menelan ludah, lalu terlihat gusar di tempat duduknya.
“Nona Jung,” panggil Seung Ho yang masih menantikan jawaban Eun So. Pandangannya masih lekat pada gadis yang sekarang telah membuang wajahnya darinya. Sementara Shin Hyeok hanya bisa diam seribu bahasa. Sambil memandangi kegusaran Eun So, Min Wo menanti jawaban dengan cemas.
“A-aku tidak mengerti. Ka-kausedang mem-bicarakan apa, Seung-Ho-ssi?” Eun So merapatkan kedua tangannya, mermas-remasnya terus. Darahnya mendidih, sementara degup jantungnya kini mulai berpacu cepat, seperti ketika ia berlari kencang demi menghindari kejaran para pengawal Dokter Jung—ayahnya.
“Eun So-ya… Sekarang bukan waktunya untuk berpura-pura.” Kini Shin Hyeok yang angkat bicara. Melihat sangkalan Eun So membuatnya tidak sabaran. Baginya, ini bukan lagi perihal kebohongan atau siapa yang tertipu, melainkan tentang hidupnya Eun So.
Eun So terlonjak, “Oppa… A-aku…” Eun So semakin gugup.
“Nona Jung… Kausudah terlalu lama meninggalkan rumah. Pulanglah!” kata Seung Ho yang membuat gadis yang duduk di sebelah kanannya itu terkesiap. “Jalani operasimu.” Lanjut Seung Ho yang kini berwajah teduh.
“Shirheo !” katanya cepat. Kedua matanya kini berkaca-kaca, menatap Shin Hyeok dan Seung Ho sinis. “Sejak berumur 15 tahun, penyakit itu benar-benar menggangguku. Hampir enam tahun, aku melakukan terapi dan operasi berulang kali, namun penyakit sialan itu terus mengikutiku. Aku lelah melakukannya, aku lelah berada di dalam pengawasan ayahku. Tidak boleh ini tidak boleh itu,”
Shin Hyeok dan Seung Ho terdiam sejenak. Keduanya sama sekali tidak menyangka kalau osteosarcoma telah bersama Eun So selama enam tahun.
“Bagaimana pun, aku ingin seperti gadis kebanyakan. Aku tidak butuh operasi! Aku hanya ingin bebas! Bebas pergi ke tempat mana saja yang kumau. Makan apa saja yang aku suka tanpa memikirkan pantangan dari penyakit sialan itu.” Gadis itu terus meracau sementara bulir bening menghiasi wajahnya. Jatuh begitu saja dari kedua matanya.
“Nona Jung, kumoh—”
“Ini hanya penyakit biasa, Oppa, Seung Ho-ssi.” Eun So menatap Seung Ho dan Shin Hyeok secara bergantian. “Dengan meminum beberapa butir obat saja, aku akan sembuh. Bisa berjalan bahkan berlari sejauh mungkin.” Lanjutnya tak menghiraukan ucapan Seung Ho. “Kaulihat aku sekarang? Aku bisa berdiri tegak. Aku tidak apa-apa. Untuk apa operasi?”
Eun So terduduk lemas juga tertunduk, terdiam dalam tangisnya. Wajahnya, kian lama kian memerah karena menahan airmata yang ternyata sia-sia ditahan. Jarum-jarum air itu terus mengalir tanpa disuruh. Sementara Seung Ho dan Shin Hyeok terus mengeluarkan kalimat bujukan agar Eun So mau pulang untuk menjalani operasi penyakitnya.
“Pulanglah, Eun So! Pulanglah!” Seung Ho berusaha membujuk. “Kami tidak ingin melihatmu menderita. Kami tidak ingin kau—”
Eun So mendongak, menatap Seung Ho dengan tatapan memohon. “Seung Ho-ssi, Oppa. Kumohon, jangan hubungi ayahku. Jangan katakan aku ada di sini. Jangan laporkan aku. Aku tidak mau pulang.” Eun So menyatukan kedua telapak tangannya, memohon dengan penuh harapan. “Aku tidak ingin pulang. Kumohon, Seung Ho… Jangan laporkan aku…!”
Seung Ho menggeleng pelan, berulang kali. Serasa menegaskan bahwa dia benar-benar tidak ingin mengabulkan permintaan Eun So.
Gadis itu masih belum putus asa. Diraihnya kedua tangan Seung Ho, “Kumohon Seung Ho. Izinkan aku tetap tinggal di sini sampai…”
“Sampai kaumati di rumah ini?” nada bicara Seung Ho mulai tinggi. Rasanya ia muak bersikap lembut pada gadis yang ternyata bengal itu. “Apa kami terlalu bodoh untuk melihatmu kesakitan setiap saat jika penyakitmu itu semakin menggerogoti tubuhmu?”
Eun So tertunduk namun tangisnya membuatnya mengisak. Ucapan Seung Ho barusan membuatnya terluka, tepat di hati.
“Nona Jung, apa kau tidak akan memikirkan nasib kami jika ayahmu mengetahui kalau kami lah yang menyembunyikanmu? Tidak Nona, Jung. Kita masih orang asing, dan kuharap kautidak membagi penderitaanmu itu kepada orang asing!” wajah Seung Ho memerah.
Eun So menggeleng pelan. “Bukan, Seung Ho-ssi. Bukan seperti itu…”
Seung Ho menghela napas berat. “Nona Jung, Dorawajyo, jebal !” pinta Seung Ho dengan nada yang kini lemah.
“Shirheo …! Shirheo …!” ucap Eun So pelan. “Aku tidak mau pulang.” Ketika melihat Shin Hyeok, harapannya kembali besar, “Oppa, kumohon. Izinkan aku tetap di sini.”
Shin Hyeok terdiam. Kali ini ia gamang. Di satu sisi ia ingin Eun So kembali kepada orang tuanya lalu menjalani operasi, di sisi lain, Shin Hyeok tidak tega melihat Eun So terus memohon dengan berurai air mata.
Eun So mendekati tempat duduk Shin Hyeok lalu memegang kakinya. Eun So belum putus asa untuk membuat kedua orang itu menerimanya kembali. “Oppa… Pleaseee…”
Shin Hyeok merasa risih, maka ia memegang tangan Eun So dan membuatnya bangkit kembali. “Ne, Eun So-ya. Kaumasih boleh tinggal di sini. Aku masih ingin kau memasak untukku.” Kata Shin Hyeok yang langsung disambut dengan senyuman sumringah Eun So.
Seung Ho yang mendengarnya langsung terkesiap. “Ya! Apa-apaan kau ini?” amarahnya kembali memuncak. “Kau—”
“Seung Ho-ya…” Shin Hyeok memberi kode pada Seung Ho lewat gelengan kepalanya, “Aku yang lebih dulu tinggal di rumah ini maka aku lah yang berhak menentukan siapa yang akan tetap tinggal.” Katanya tenang.
“Gurae, Oppa?” tanya Eun So dengan mata berbinar.
Seung Ho terdiam. Emosinya pun luruh seiring ditangkapnya isyarat dari ucapan dan airmuka Shin Hyeok barusan. Kedua mata laki-laki itu kini memperhatikan detail wajah Eun So yang memerah karena tangisannya.
“Seung Ho-ya… kumohon …!”
Seung Ho berjalan mendekati Eun So lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Seperti ada yang menyesaki dadanya, Seung Ho juga mengeluarkan air mata yang entah sejak kapan tertahan.
“Aku belum ingin pulang ke rumah,” ujarnya membalas pelukan Seung Ho.
“Nona Jung, Uljima !” kata Seung Ho sembari mengusap-usap rambut Eun So pelan.
Sementara Shin Hyeok mendekati lalu memeluk keduanya penuh kasih. Seperti seorang kakak yang tengah merangkul adik-adiknya.
**