
Eun So merasa hari ini terlalu banyak mata yang mengawasinya hingga ia tidak bisa bertahan lama di luar rumah. Dengan lesu, Eun So kembali ke rumah. Menenangkan diri untuk mencari cara agar kejadian tadi pagi tidak mengganggunya lagi.
"Benar-benar mengganggu sekali. Diktator itu sudah membuat hidupku tidak tenang." gerutunya seraya menggeser keset kaki untuk menemukan kunci rumah.
Sepasang mata bulat Eun so melebar ketika tak ada kunci di bawah keset kaki. Setahunya Seung Ho meletakkan kunci rumah di bawah benda tersebut, lantas ke mana kunci tersebut?
Eun So mulai panik, ingin menghubungi Seung Ho tapi ia tidak tahu bagaimana menghubungi laki-laki itu. Memang memalukan sekali kalau ia harus menelepon dari telepon umum dan mengatakan kalau ia tidak mempunyai ponsel. Lagipula, Eun So tidak tahu persis berapa nomor ponsel Seung Ho.
"Bagaimana ini? Masa harus menunggunya sampai pulang?"
Eun So hanya mondar-mandir di teras rumah sementara pikirannya mencari cara agar bisa masuk ke rumah.
"Dobrak saja!" cetusnya yang langsung membawa badannya mendekat dengan pintu. Eun So memegang knop pintu dan bersiap-siap untuk mendobrak pintu tersebut. Alangkah kagetnya Eun So ketika tangannya tidak sengaja memutar knop tersebut dan pintu terbuka dengan sendirinya.
"Eih, tidak dikunci?" Eun So mengernyit bingung.
Eun So mendorong tubuhnya terus masuk namun langkahnya berjingkat. Ia curiga kalau ada seseorang yang masuk tanpa izin ke rumah ini dan bermaksud jahat. Eun So memelankan langkahnya, mengecek setiap ruangan yang ada di rumah. Ketika langkahnya mengendap-endap ke arah dapur, ia mendengar suara ribut. Ia terkesiap dan menyadari bahwa memang ada orang dengan niat jahat yang masuk ke dalam rumah ini.
Eun So melongokkan kepalanya ke dapur, sepasang matanya yang begitu ketakutan menangkap sosok jangkung, bermantel hitam tengah membuka dan menutup almari dengan tergesa-gesa.
Eun So menarik kepalanya dan merapatkan sekujur tubuhnya pada dinding. Gadis itu mengatur napasnya yang memburu dan berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya. Matanya meliar, mencari benda apapun yang bisa ia jadikan senjata. Bagaimanapun ia harus menangkap basah pencuri itu dan menyerahkannya sendiri pada polisi.
Eun So menemukan sapu di dekatnya. Dengan gerakan cepat, Eun So mengambil sapu tersebut. Ia akan menghabisi pencuri itu dengan sapu tersebut.
"Tenang Eun So... tenang..." Eun So kembali mengatur napasnya. Ia sedang mensugestikan dirinya agar berani menghadapi pencuri tersebut. "Seung Ho pasti akan bangga kepadaku." Katanya seraya menarik ulur napasnya.
Eun So membuka langkahnya pelan, berusaha agar tidak terdengar sama sekali oleh pencuri yang masih mengacak-acak lemari dengan kedua tangannya yang kokoh. Ketika melihat kesempatan besar, Eun So mempercepat langkahnya dan langsung menyerang pencuri itu dari belakang.
"Dasar pencuri! Beraninya kaumasuk ke rumah ini? Rasakan ini! Rasakan!" Eun So terus memukulkan tongkat sapu itu ke punggung pencuri secara bertubi-tubi. Eun So tidak memberikan jeda sedetikpun untuk pencuri itu menangkis serangannya.
"Hei... Berhenti! Berhenti!" Perintah pencuri itu yang tak sekalipun diindahkan oleh Eun So. Gadis itu masih punya kekuatan penuh untuk membuat wajah pencuri itu hancur dengan jurus pukulan tongkat sapu dahsyat.
"Dasar pencuri! Rasakan! Rasakan!" bahkan Eun So belum berhenti walaupun orang yang ia sebut pencuri terus mengadu dan memintanya untuk berhenti menghajarnya.
"Apa salahku hei???" Pencuri itu masih melindungi wajahnya—yang sempat kena pukul, dengan kedua lengannya, tapi Eun So tak gentar untuk menghabisi pencuri berambut landak itu.
"Salahmu? Dasar pencuri bodoh! Kaumasuk ke rumah orang dan kautanyakan salahmu apa? Dasar pencuri!!!" Eun So memperkeras pukulannya, hingga entah pukulan ke berapa, tongkat sapunya patah.
Eun So terkesiap dan membeku. Alat pukulnya sudah patah menjadi dua dan ia terlalu lemah untuk mencari alat pemukul lainnya.
"Jangan mendekat!" ancam Eun So yang merasa ketakutan.
Pencuri yang wajahnya memar akibat pukulannya itu menatapnya penuh kemarahan padanya. Berdirinya tidak tegak karena sekujur tubuhnya telah dilumpuhkan oleh pukulan Eun So dengan kekuatan penuh.
"Heh, gadis gila! Siapa kau?" pencuri itu matanya merah sekali, pertanda kalau ia tidak terima diperlakukan tidak menyenangkan.
Eun So terdiam. Sekujur tubuhnya bergemetar hebat. Detak jantungnya tak keruan lagi. Eun So berpikir untuk lari dan menyelamatkan diri yang sedang dalam bahaya ini.
"Heh! Kaupikir yang tadi itu tidak sakit, hah?" Pencuri itu memegangi wajahnya yang memar bahkan mengeluarkan sedikit darah. "Aaakkhhh..." dan pencuri itu pun mengerang atas nama rasa sakit. "Pinggangku seperti mau patah." Keluhnya lagi.
Eun So masih tidak berkutik di tempatnya sementara laki-laki yang dianggapnya pencuri, penyelundup, perampok—dan sebagainya, masih mengeluh kesakitan. Kedua tangannya bahkan belum berhenti memeriksa bagian-bagian tubuhnya yang terkena serangan.
"Apa? Tadi kausebut aku apa? Pencuri? Haah!" Pencuri itu membuang napas berat. "Ini rumahku. Kauyang harusnya kusebut penyelundup!" langkahnya terbuka dan hendak berbalik menangkap Eun So.
Gadis itu terkesiap. Ketakutan yang tadi membuat sekujur tubuhnya bergemetar berubah menjadi sebuah kepanikan karena baru saja menyadari sesuatu.
"Ap-apa kau yang..." Eun So terbata-bata. "berna-ma Shin Hyeok?"
"Hei... Kautahu namaku dari mana?" dan kening pencuri itu mengernyit bingung.
**
"Mianhae—" Eun So terus membungkukkan badannya ketika baru mengetahui apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar.
Yang memasuki rumah dan mengacak-acak dapur bukanlah seorang pencuri, penyelundup ataupun perampok melainkan teman serumahnya yang lain, Kim Shin Hyeok.
"Seung Ho harus bertanggung jawab atas ini. Aaauuw!" Shin Hyeok mengaduh ketika kapas yang ia pegang menyentuh luka di pipinya. Sepasang mata hitamnya masih memerhatikan wajahnya di dalam cermin kecil lalu mengoleskan obat merah pada luka memar lainnya.
"Tidak!" tolaknya lantang. "Bagaimana mungkin aku menerima bantuan orang yang memukuliku dengan keji. Jangan bergerak dari tempat dudukmu!" telunjuknya mengacung untuk mengancam gadis yang masih asing baginya itu.
"Mianhae..." Eun So kemudian hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana menyurutkan amarah laki-laki yang ada di seberang tempat duduknya.
"Maaf saja tidak cukup untuk membuat wajahku yang kaurusak ini menjadi tampan lagi, Nona..." katanya menyindir.
Eun So tidak berkutik.
"Lain kali kalau mau memukul orang lain, lihat dulu, apakah ia tampan atau tidak. Kalau tidak, kaumungkin bisa membuatnya menjadi tampan dengan pukulanmu. Tapi tidak untukku yang sudah tampan sejak lahir, kaubisa merusak masa depanku." Ceracaunya yang masih merasa sangat kesal dengan akibat yang diperbuat oleh gadis itu padanya.
Apa yang dia katakan?
Kedua alis Eun So saling bertaut ketika mendengarkan ceramah ala Kim Shin Hyeok yang tidak risi sama sekali ketika secara tak langsung menyebut dirinya 'tampan'. Dan ia tidak mengerti maksud dari perkataannya itu.
Kenapa orang-orang di rumah ini terlalu sarkastis? Sepertinya aku salah mencari tempat tinggal.
Eun So hanya bisa membuang napas berat.
**
Seung Ho terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja Kim Shin Hyeok menyerangnya, padahal ia baru saja masuk rumah. Rahangnya yang dihantam keras serasa retak.
"Ya! Apa-apaan kau ini?" teriaknya sangat tidak terima.
"Itu pantas untukmu, bodoh!" kedua mata Shin Hyeok begitu sinis sehingga membuat Seung Ho tidak mengerti kenapa tiba-tiba housemate-nya itu menyerangnya.
"Memangnya apa yang sudah kuperbuat?" Seung Ho menegakkan badannya dan siap memberikan serangan balasan. Nyaris saja kena. Jika saja tidak dilihat plaster yang memenuhi wajah Shin Hyeok, mungkin Seung Ho akan memperkacau tatanan wajah Shin Hyeok yang selalu dibanggakannya itu.
"Wajahmu... Ada apa dengan wajahmu?" keningnya mengernyit. "Kau ini habis pulang dari ring tinju, ya?" ledeknya nyaris menyemburkan tawa. Pasalnya, Shin Hyeok terlihat 'agak' lucu dengan beberapa plaster yang memenuhi wajahnya. Belum lagi lebam di keningnya, Kim Shin Hyeok pasti akan berhenti memandang cermin untuk beberapa hari.
"Haaisshh! Ini semua ulahmu, kautahu?"
Mata Seung Ho refleks melirik pada gadis yang baru saja turun dari lantai atas. Langkahnya seperti berat sementara airmukanya lesu.
"Kausudah bertemu dengan Nona Jung?" tanyanya seraya menatap Shin Hyeok dan Eun So secara bergantian.
Kim Shin Hyeok tidak menjawab apapun, ia melengos pergi dan duduk di sofa ruang tamu. Seung Ho melepas dan menggantungkan mantelnya lalu mengikuti ke mana Shin Hyeok pergi.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Sejak kapan ada orang ketiga di rumah ini?"
Seung Ho terdiam dan terduduk lesu di sofa yang berhadapan langsung dengan Shin Hyeok. Seung Ho tidak tahu harus memulainya dari mana. Diliriknya sekilas Eun So, gadis itu masih berdiri menyandar susuran tangga. Wajahnya terlihat cemas.
"Kautahu apa yang terjadi dengan wajahku?" Masih tampak jelas kekesalan di wajah Shin Hyeok. "Aku sedang mencari soju di dapur tapi gadis ini tiba-tiba saja datang dan menyerangku. Kaulihat sapu itu?" tanyanya seraya menunjuk pada sesuatu di sebelah kursinya.
Seung Ho menoleh ke arah yang ditunjukkan Shin Hyeok padanya. "Omo???! Kenapa sapu itu sampai patah begitu?"
Mendengar pertanyaan tersebut, membuat Shin Hyeok ingin menyekik leher Seung Ho. "Seung Ho-ya... Kauseharusnya menanyakan keadaanku, bukan malah mengkhawatir sapu sialan itu!"
Kedua alis Seung Ho naik sebelah.
"Seung Ho-ssi," Eun So menyela lalu berjalan mendekat. "Ini semua salahku. Aku yang membuat sapu itu patah."
"Ya Tuhaaann..." Shin Hyeok menepuk keningnya. Merasa depresi karena hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. "Kenapa kalian lebih memedulikan sapu itu dibanding aku, hah?" berulang kali laki-laki berambut landak itu menepuk keningnya.
"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Seung Ho kembali menatap Eun So dan Shin Hyeok secara bergantian.
Shin Hyeok tidak berminat bercerita karena kepalang depresi dengan respon yang diterimanya. Maka Eun So menyeritakan semuanya pada Seung Ho. Alih-alih prihatin, Seung Ho malah tertawa lebar. Tawanya membahana ke setiap sudut ruangan dan menyiptakan sensasi geli yang luar biasa di perutnya.
"Tampangmu itu memang tidak jauh beda dengan pencuri. Wajar saja-kalau—" Seung Ho tidak jadi melanjutkan omongannya karena geli diperutnya membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. Sementara kepalanya terus membayangkan bagaimana adegan pemukulan yang mengakibatkan rusaknya wajah tampan seorang Kim Shin Hyeok itu.
"Nona Jung, aku bangga sekali padamu..." lanjutnya masih menahan tawa yang akhirnya tidak bisa juga ia tahan.
"Ya! Kau—" Shin Hyeok menggigit ujung bibirnya. Kalau saja tidak ada anggota baru yang masih terdiam itu, pasti ia akan menyekik leher Park Seung Ho dan menghisap darahnya sampai habis.
**