Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 17



Seung Ho sudah berseragam kantor rapi, mantel tebal pun sudah ia kenakan namun pikirannya belum juga tenang. Bolak-balik Seung Ho melirik jam weker ketika kedua tangan sibuk membereskan meja lalu memasukkan laptop ke dalam tas kantornya. Jarum jam yang terus bergerak melewati angka-angka dengan cepat membuat Seung Ho semakin gelisah. Tentu bukan karena kecepatan jarum jam yang bergerak itu, melainkan karena jarum pendek yang diam. Jarum itu sebentar lagi akan bergeser pada angka di mana seharusnya ia sudah tiba di halte karena beberapa menit lagi bus yang akan membawanya ke kantor akan datang.


Pagi ini Seung Ho sedikit kesiangan. Liputan kemarin begitu menguras tenaganya sehingga ia terlelap dan tidak sadar jam wekernya telah berbunyi nyaring. Ketika ia terbangun, hari sudah sangat siang, padahal hari ini ia harus rapat dengan tim kreatif untuk membicarakan tema ‘Travellizous’ minggu depan. Wacananya, minggu depan mereka—tim Travellizous—akan pergi ke luar negri untuk meliput keeksotisan negara lain. Dan hari ini mereka akan membicarakan negara mana dulu yang akan mereka kunjungi.


Travellizous telah meng-explore setiap sudut Korea Selatan dengan rating yang kian hari kian meroket. Sang produser ingin menyuguhkan tayangan yang lebih fantastis untuk para penonton setianya dengan menayangkan keragaman negara lain pada episode selanjutnya. Itu berarti, mulai episode bulan depan, Seung Ho akan berselancar dari negara yang satu ke negara yang lain. Bukankah itu hal yang menyenangkan?!


Seung Ho benar-benar mencintai pekerjaannya.


Langkah Seung Ho begitu terburu-buru sehingga ketika ia menginjakkan kedua kakinya pada pertengahan tangga, kakinya tergelincir. Seung Ho terjatuh dari ketinggian yang tidak begitu tinggi namun sanggup membuat sekujur tubuh serasa remuk. Tubuh Seung Ho berguling-guling, melewati tangga lalu terjatuh—dengan bokong yang mengenai lantai lebih dahulu. Tas kantornya terhempas begitu saja sehingga menambah keributan. Entah bagaimana nasib barang yang ada di dalamnya. Seung Ho mengaduh keras. Sambil memegangi pinggangnya yang seperti patah ia terus mengerang keras sehingga tidak mungkin Tae Yoon tidak mendengarnya.


“Ya Tuhan… Seung Ho-ssi…” Tae Yoon melepaskan tongkat pel-pelannya begitu saja lalu berlari mendekati Seung Ho yang sudah mengerang kesakitan.


Bokongnya begitu keras menghantam lantai. Seung Ho mengaduh keras kesulitan untuk bangkit. Pinggangnya terasa nyeri sehingga tidak bisa menopang tubuhnya, bahkan untuk sekedar berdiri sendiri pun Seung Ho sedikit kesulitan. Beruntung Tae Yoon segera mengulurkan kedua tangannya lalu membantunya berdiri.


“Kau—kau—Apa yang kaulakukan?? Kau maumembuatku mati muda, hah?” omelnya ketika seluruh tubuhnya sudah berdiri dengan bantuan Tae Yoon.


“Ma-afkan aku. A-aku sedang mengepel-lantai tadi.” Wajah Tae Yoon memancarkan perasaan bersalah.


“Mengepel? Kau bilang meng—aauuuwww…” aduh Seung Ho ketika pinggangnya kembali merasakan nyeri. Sepertinya Tae Yoon memapahnya begitu cepat. “Heh, bisakah kau pelan sedikit?”


“Maaf-maaf. Apa yang sakit?” katanya kemudian memelankan langkahnya. Tae Yoon memapah Seung Ho menuju sofa, tempat terdekat untuk membaringkan seluruh tubuh Seung Ho yang sepertinya sedikit parah.


“Entah berapa kali kaumeminta maaf tapi tetap saja membuatku sial!”


Kalimat barusan membuat kesabaran Tae Yoon terlepas. Ia seperti melupakan kesalahannya. “Kau—kenapa kaukasar sekali padaku??” Rahang Tae Yoon mengeras. Kekesalannya memuncak ketika Seung Ho terus menyalahkannya, padahal ia juga tidak sengaja melakukannya. “Dasar tidak tau terima kasih?” Tae Yoon melepaskan papahannya dan membiarkan Seung Ho menopang tubuhnya sendirian.


“Hei—” Seung Ho kembali terhempas ke lantai sehingga sakit pada pinggang ke bawah menjadi lebih sakit.


Tae Yoon tidak memedulikan raungan bahkan raut wajah yang mengisyaratkan sebuah kesakitan itu. Ia terlalu kesal setiap mendengar kalimat-kalimat sarkastis laki-laki itu sehingga kali Tae Yoon tidak bisa lagi menahannya.


“Kau—harus bertanggung jawab, hei… kau mau ke mana? Setidaknya bantu aku berbaring di sofa telebih dahulu…” teriaknya menghalau kepergian Tae Yoon. Namun sayang, Tae Yoon sudah naik ke lantai atas. Sama sekali tak mengindahkan teriakannya. Sepertinya kekesalannya sudah di luar batas.


Seung Ho tidak punya pilihan. Setelah bersusah keras, Seung Ho berhasil menggapai sofa panjang dan berbaring di atasnya. Bukan hanya kondisinya yang membuatnya begitu cemas namun juga pekerjaannya. Bahkan ini lebih buruk dari sekadar terlambat.


Di luar dugaan, Tae Yoon tiba-tiba turun dengan wajah memberengut. Seung Ho sedikit terkejut, namun merasa lega karena akhirnya tas kantornya ada bersama gadis itu.


Tae Yoon meletakkan tas Seung Ho di bawah kakinya, “Coba minum ini, mungkin bisa mengurangi sedikit nyeri di pinggangmu.” Tae Yoon mengangsurkan sebuah botol berisi obat ke hadapan Seung Ho.


“Ini obat apa?” Seung Ho menerima obat itu dengan kening mengernyit bingung. Diperhatikannya lagi kapsul berwarna oranye dan keningnya semakin mengernyit. Seung Ho baru melihat obat tersebut namun seperti pernah melihat sebelumnya. Seung Ho familiar sekali dengan obat itu, tapi benaknya segera menepis karena sebelumnya ia tidak pernah berurusan dengan yang namanya obat.


“Jangan banyak tanya. Cepat telan dua butir. Kuyakin sakit dipinggangmu akan terasa ringan.” Perintahnya tak kalah sinis. Gadis itu masih tidak terima dengan omongan Seung Ho yang tadi sehingga membuatnya lupa untuk bersikap manis.


“Kau mau aku menelan obat ini tanpa minum?” tatapan Seung Ho begitu menusuk.


Tae Yoon mengerjap. Ia menyadari kelalaiannya, namun di sisi lain ia tetap merasa jengkel. Seung Ho seperti seorang majikan kejam. Rasanya, Tae Yoon ingin menghantamkan kepala Seung Ho ke tembok agar tidak bisa bersikap kasar lagi kepadanya. Ia hanya merasa muak karena prilaku Seung Ho tak kunjung baik seperti pertama kali bertemu dengannya di Pulau Nami.


Kekanak-kanakan sekali kalau Seung Ho masih tidak memafkannya atas ketidaksengajaan itu. Lagipula ia sendiri kan yang tidak mau Tae Yoon mengganti rugi.


“Kau ini… Ssshhh!” Tae Yoon mengangkat tangannya lalu beraksen akan menyekik leher Seung Ho.


“Heh…!!” Seung Ho menyenggak Tae Yoon sebelum gadis itu benar-benar menyekik lehernya. “Kau sedang apa?”


Spontan Tae Yoon berhenti, lalu kakinya di sentakkan ke lantai. Dentuman keras pun kembali terdengar dan kekesalan tampak begitu jelas di wajah Tae Yoon. Gadis itu kemudian beralih ke dapur tanpa sepatah katapun.


Seung Ho jadi tersenyum puas melihat ekspresi gadis itu tadi.


**


Setelah kejadian tergelincir akibat lantai basah itu, hubungan Seung Ho dan Tae Yoon semakin memburuk. Tae Yoon yang semula tetap bersikap tenang meskipun Seung Ho mengucapkan sindiran padanya kini sudah tidak lagi. Gadis itu malah bisa bersikap lebih galak lagi. Shin Hyeok pun harus ikut-ikutan pusing ketika harus mendengar dan melerai pertengkaran mereka. Yang mengherankan lagi, terkadang mereka bertengkar hanya karena hal-hal sepele. Seperti misalnya ketika Seung Ho malas mencuci piring sehabis makan malam, maka esok paginya Tae Yoon akan mengomel pada Seung Ho. Jelas Seung Ho tidak menerima—terlebih Tae Yoon bersikap seolah ia adalah penghuni lama—semakin memperkeru masalah. Atau ketika Tae Yoon dengan tidak sengaja menggeser posisi sepatunya di rak sepatu maka Seung Ho akan mengomel besar-besaran.


Hampir setiap hari terjadi keributan. Dan sepertinya keduanya sengaja memancingnya daripada berusaha untuk meredamnya. Hal itulah yang terkadang membuat Shin Hyeok semakin tidak betah berlama-lama berada di rumah.


**