Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 16



“Ya—aku berangkat duluan,” pamit Seung Ho seraya memutar knop pintu.


Shin Hyeok yang masih disibukkan dengan sarapan paginya hanya mengangguk beberapa kali dan membiarkan Seung Ho mendahuluinya. Pagi ini laki-laki itu terlihat terburu-buru sekali.


Baru saja membuka pintu, Seung Ho sudah menemukan seorang gadis bermantel kuning cerah dengan beanni hat berwarna hitam membalut rambut panjang blonde-nya.


“Hai—” sapa gadis itu terlihat canggung.


Begitu pula dengan Seung Ho, “Oh, hai…” balasnya seraya melewati gadis itu tanpa berkontak mata. “Shin Hyeok masih di dalam.” Katanya cepat.


“Ah, Seung Ho-ssi…” panggilnya cepat-cepat.


Seung Ho menghentikan langkahnya namun tak sekalipun badannya berbalik untuk menatap gadis yang masih merasa bersalah atas kamera yang dirusaknya tanpa sengaja.


Sudah tiga hari ini gadis itu menemui Seung Ho namun pemuda itu seperti acuh tak acuh. Bibirnya selalu mengatakan kalau perkara kamera tidak akan dipermasalahkan, namun sikapnya kepada Tae Yoon menjadi sangat dingin dan tidak bersahabat. Sangat kontras dengan sikap yang ditampakkan di malam tahun baru kemarin—tepatnya ketika


Seung Ho hanya memendam kekesalannya. Karena itulah Tae Yoon terus datang untuk terus meminta maaf. Pasalnya, laki-laki yang kini bermantel dan bersyal hijau tua itu hanya memaafkan namun tidak bersikap bersahabat dengannya.


“Apa kaumasih marah padaku?”


“Tidak. Bukannya aku sudah memaafkanmu?”


“Tapi kau dingin sekali terhadapku.” Keluhnya dengan suara lembut. “Aku bersedia mengganti kameramu, Seung Ho-ssi, asal kaumau ikut denganku untuk memilihnya karena aku tidak tahu kausuka kamera yang seperti apa? Aku tidak mengerti soal kamera, takutnya setelah kubelikan kautidak akan menyukainya.” Ucapnya dengan nada yang begitu cepat.


“Bicaramu cepat sekali, Nona. Aku tidak butuh kamera baru.” Katanya sedikit ketus. Setelahnya Seung Ho pergi begitu saja. Meninggalkan gadis yang datang dengan tulus, sendirian di halaman rumahnya.


“Eih, Tae Yoon-ah… Sudah lama kau di sini?” Shin Hyeok yang tiba-tiba muncul lalu melihat punggung Seung Ho menjauh dengan langkah lebar-lebar.


“Oppa… Dia belum sepenuhnya memaafkanku…” Tae Yoon merengek pada Shin Hyeok yang mengunci pintu dan mendekatinya.


“Sudahlah, Tae Yoon-ah… Sebentar lagi dia pasti akan menyesal karena tidak mengacuhkanmu. Aku yakin itu.” Shin Hyeok merangkulkan sebelah tangannya pada Tae Yoon kemudian menggandeng gadis itu menjauhi rumahnya.


“Oppa, sampai kapan kita harus—”


“Sampai si bodoh itu benar-benar menyadarinya…”


**


Kening Seung Ho mengernyit ketika melihat Shin Hyeok yang membukakan pintu untuknya. Tadinya ia telah mencari kunci di bawah keset, setelah tak menemukan ia segera menelepon Shin Hyeok dan memintanya agar cepat pulang. Hal yang tidak diduganya, pintu terbuka berselang beberapa detik setelah panggilan telepon terputus dan wajah Shin Hyeok menyembul dengan kalimat selamat datang yang begitu berlebihan buat Seung Ho yang baru saja pulang dari pulau Udo.


“Welcome home buddy…” Shin Hyeok merentangkan tangannya dan berlaku seperti Seung Ho baru pulang setelah bertahun-tahun merantau jauh.


“Kau sudah pulang?” Seung Ho melirik jam tangannya. “Secepat ini?” lalu ia melewati Shin Hyeok sembari mengencangkan tas selempangnya di bahu kirinya.


Shin Hyeok hanya mengumbar senyum penuh makna miliknya tanpa berminat sekalipun untuk menanggapi komentar Seung Ho terhadap dirinya.


“Biasanya kausibuk sampai larut dengan pacar-pacarmu.” Komentarnya setelah menyimpan sepatunya di rak yang berada tepat di belakang pintu.


Seung Ho langsung naik ke kamarnya dan membiarkan Shin Hyeok melakukan apapun yang ia inginkan di ruang tamu. Ketika ia memutar knop pintu kamarnya ia mendengar sebuah nyanyian yang begitu familier di telinganya. Seung Ho menghentikan langkah untuk memastikan, dan lagu yang diputar dari media ponsel itu semakin jelas di dengarnya.


“Ya, apa kaumeninggalkan ponselmu di dalam kamarku?” teriaknya pada Shin Hyeok.


“Aniya—” teriak Shin Hyeok membuat Seung Ho kalem. Itu berarti teman satu rumahnya itu tidak keranjingan masuk-masuk ke dalam kamarnya selama ia pergi ke luar Seoul untuk beberapa hari.


Lalu, itu bunyi apa?


Oh, mungkin suara TV yang sedang menanyangkan acara musik.


Seung Ho tak memedulikannya lagi lantas memutar knop pintu dan membuka pintu kamarnya. Ia masuk dan hampir menutup rapat pintu kamarnya kalau saja ia tidak mendengar musik yang mengalun itu lagi dengan jelas.


Seung Ho burbu-buru meletakkan tasnya sembarangan lalu mengoreksi kamar yang terletak tepat di depan kamarnya. Seung Ho begitu heran ketika melihat pintu kamar yang sudah lama dikosongkan itu sedikit terbuka. Seung Ho mengintip dari celah dan menangkap sebuah bayangan.


Seung Ho terlonjak kaget. Siapa gadis berambut blonde yang tengah terbaring di atas ranjang sembari menggoyang-goyangkan kepalanya itu?


Ya, tidak salah lagi. Musik yang belakangan Seung Ho ketahui adalah milik SM The Ballad itu mengalun merdu di setiap sudut ruangan. Lantas, siapa gadis yang masih menikmati lagu tersebut dengan begitu asyiknya itu?


“Apa dia semacam hantu?” batinnya.


Seung Ho memberanikan diri untuk masuk dan berharap gadis itu hanyalah halusinasi yang akan hilang ketika ia masuk ke dalam kamar tersebut. Nyatanya, gadis yang mengenakan piyama biru muda dengan gambar teddy bear di setiap kainnya itu malah terlonjak dari tempat tidurnya ketika Seung Ho masuk dengan tiba-tiba.


“Kau—” setelah melihat dengan jelas, Seung Ho lebih kaget lagi. Matanya melebar ketika menangkap basah gadis yang rambutnya kini digulung secara tak beraturan. Acak-acakan.


“Seung Ho-ssi… Mau-apa-kau-masuk…” suara gadis itu sedikit serak dan agak terbata-bata.


Seung Ho seolah tak mendengar ia malah menyerbu gadis itu dengan pertanyaan lain. “Apa yang kaulakukan di kamar ini?”


Gadis itu adalah Kim Tae Yoon, kekasih baru Shin Hyeok yang seminggu lalu telah merusakkan kamera kesayangannya. Gadis yang berulang kali meminta maaf padanya namun tidak diindahkannya. Sejak kejadian malam tahun baru itu, Seung Ho seperti melihat seorag musuh ketika melihat Tae Yoon.


“Aku—aku… Aku-tinggal-di-sini-se—”


“Ini pasti ulah Shin Hyeok.” Seung Ho langsung memotong omongan tersendat gadis itu, “Sejak kapan kautinggal di sini? bagaimana—”


Belum selesai Seung Ho menyelesaikan pertanyaannya, Shin Hyeok tiba-tiba menyerobot masuk dan langsung melingkarkan lengannya di leher Tae Yoon. “Sejak kau pergi ke Pulau Udo…” sambarnya yang dilanjutkan dengan sebuah kecupan di pipi kiri Tae Yoon. Senyum yang diperlihatkannya menyiratkan sebuah kepuasan atas reaksi Seung Ho yang langsung terdiam setelah mendengarnya.


Tae Yoon sedikit terkesiap ketika menerima kejutan tiba-tiba dari Shin Hyeok barusan. Lidahnya terasa kelu dan bibirnya seperti terkunci.


Seung Ho tercengang mendengar dan melihat sikap Shin Hyeok terhadap Tae Yoon, ia mengerling kesal dan mencebik bibir. “Dan kau tidak meminta pendapatku soal ini?” Seung Ho menghela napas berat dan menyiratkan sebuah ketersinggungan.


“Maaf Seung Ho-ssi…” Tae Yoon membungkukkan tubuhnya.


Sementara Shin Hyeok siap memotong, “Kenapa aku harus meminta pendapatmu dulu? Bukannya dulu kaupernah membiarkan seorang gadis masuk ke rumah ini tanpa meminta pendapatku? Lantas, mengapa sekarang kauprotes? Kita impas, bukan?” Senyum Shin Hyeok terlihat begitu jahat bagi Seung Ho.


Sementara Tae Yoon yang berada di antara mereka hanya bisa membisu. Kedua matanya mengerling bergantian, menatap Shin Hyeok yang masih tersenyum miring lalu ke Seung Ho yang terpelongo.s


“Ya Tuhan… Kau…” Seung Ho menggigit ujung bibirnya lalu memegangi kening dan meremas rambutnya. Sedikit frustasi dengan tameng yang diajukan oleh Shin Hyeok kepadanya.


Seung Ho tidak pernah menyangka sama sekali kalau Shin Hyeok akan mengungkit kejadian masa lalu itu. Pasalnya, waktu itu berbeda dengan sekarang. Gadis yang ia bawa hanya seorang turis lokal yang tidak punya tempat tinggal di Seoul. Sementara kekasihnya ini, tidak mungkin tidak punya tempat tinggal di Seoul. Seung Ho hampir saja menyangkalnya dengan keras namun diurungkan karena ia merasa akan percuma berdebat dengan Shin Hyeok.


“Baiklah… Terserah kau saja. Asal dia tidak menyentuh benda apapun milikku, dia bebas tinggal di sini selama kapanpun yang dia mau.” Cetusnya tegas.


Seung Ho tidak ingin kehadiran gadis itu akan membuat masalah baru pada dirinya, termasuk karirnya. Bahkan Seung Ho masih ingat dengan jelas bagaimana gadis itu ‘tidak sengaja’ menghancurkan kamera kesayangannya. Seung Ho tidak ingin kejadian itu kembali menimpanya.


“Aku berjanji tidak akan mengganggumu, Seung Ho-ssi…” sahut Tae Yoon kalem.


Mendengar penuturan yang terasa seperti sindiran itu di telinganya membuat penyesalannya muncul kembali. Demi apapun, Tae Yoon tidak pernah bermaksud membuat Seung Ho kehilangan kamera kesayangannya apalagi membuat mood laki-laki itu rusak ketika melihatnya. Tae Yoon ingin perangai laki-laki itu cepat berubah padanya. Setidaknya, tidak ada ucapan sarkastis atau bahkan tidak mengacuhkannya. Karena bagaimana pun juga, diperlakukan seperti itu oleh teman satu atap itu tidaklah baik.


“Ya, kauharus lebih bersabar menghadapinya. Seung Ho itu tidak seperti yang kaulihat barusan. Aslinya, dia baik sekali…” hibur Shin Hyeok seraya mengecup kening gadis itu.


“Oppa…” Tae Yoon menyikut lengan Shin Hyeok karena merasa risih. “Jangan terlalu sering melakukan ini padaku. Aku tidak terbiasa…” Tae Yoon menyingkirkan lengan Shin Hyeok yang kekar itu dari bahunya dan beranjak ke tempat tidurnya.


Shin Hyeok pun menyusul, “Apa aku harus melakukannya berulang-ulang supaya kau terbiasa—”


“Shut up, Oppa…!” Tae Yoon melempar bantal ke wajah Shin Hyeok lalu memaksa laki-laki itu keluar dari kamarnya.


**