Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 21



Cahaya yang menyilaukan membuat tidur Seung Ho terganggu. Seseorang dengan sengaja membuka tirai dengan sangat keras hingga ia bisa mendengarnya seiring refleksnya yang langsung menutupi pandangannya dengan sebelah tangannya.


“Seung Ho-ssi, apa kau tidak tahu kalau ini sudah pagi? Bukannya kau harus pergi ke kantor? Oppa sudah daritadi pergi dan kau masih tertidur pulas?”


Belum lagi terbiasa dengan cahaya yang masuk dan menimpa pandangannya, Seung Ho sudah dihujanin dengan suara yang berisik.


“Di mana aku sekarang?”


“Bangunlah dan kau akan segera tau kau sedang berada di mana?” ujar gadis itu seraya menyibakkan selimut tebalnya.


“Di kamar—” kini wajahnya terlihat keheranan.


“Kaupikir di mana? Semalam kau mabuk di pub. Oppa yang membawamu pulang.” Ujar Tae Yoon seraya beralih dari kamarnya.


“Shin Hyeok?” gumamnya. “Bagaimana—caranya—dia,” Seung Ho merasakan kepalanya sangat pusing dan ia tidak bisa mengingat apapun termasuk Shin Hyeok yang membawanya pulang.


“Cepatlah berbenah, kau harus ke kantor kan?” Tae Yoon pun segera mengangkat kaki dari kamar Seung Ho.


“Ah, Nona Kim…!”


Tae Yoon menahan langkahnya di depan pintu lalu membalikkan tubuhnya untuk memenuhi panggilan Seung Ho.


“Maafkan aku…” ujar laki-laki itu dengan gamblang. Seperti tidak punya beban namun reaksnya justru kontras dengan ucapannya.


Tae Yoon yang sempat terperanjat ketika menerima ucapan maaf Seung Ho kini hanya mengumbar senyum, “Untuk apa?”


“Mengenai ciuman malam itu… Aku tidak sengaja, aku minta maaf…”Seung Ho memegangi kepalanya yang masih terasa berat dan pusing.


“Minta maaf dan berterima kasih lah pada Oppa, maka aku akan memaafkanmu dan melupakan semua yang terjadi.” Katanya lalu benar-benar keluar dari kamar Seung Ho.


**


Seung Ho tidak sengaja bertemu Shin Hyeok di lobby kantor. Tanpa ragu lagi, Seung Ho langsung memanggil dan mengejar Shin Hyeok yang semula berpura-pura tak melihatnya.


“Shin Hyeok-ya… Kau mendengarku kan?”


Shin Hyeok menghentikan langkahnya dan membuang napas kesalnya. “Ada apa?” tanyanya seraya berbalik.


“Apa kau masih marah padaku?” tanyanya to do point.


Shin Hyeok tidak menjawab. Laki-laki itu memutar bola matanya dan terlihat malas untuk membahasnya.


“Dengar, aku berterima kasih sekali kau sudah membawaku yang sedang mabuk pulang. Dan maafkan aku soal kejadian malam itu.” Seung Ho terlihat bersungguh-sungguh dengan memegang kedua telinganya.


Shin Hyeok menarik kedua ujung bibirnya dan mendekati Seung Ho perlahan-lahan. “Gwaenchana… Lupakan saja…!” katanya seraya merangkul sahabatnya itu dengan sebelah tangannya.


“Aku berjanji, mulai sekarang aku berjanji tidak akan mencampuri urusan percintaanmu lagi…”


Shin Hyeok hanya tergelak ketika mendengarnya. “Kauharusnya meminta maaf sambil mentraktirku…”


“Baiklah… Aku akan mentraktir kalian berdua malam ini.” katanya dengan sepenuh hati.


“Maksudmu, aku dan…” Shin Hyeok menggantung ucapannya.


“Memangnya siapa lagi? Sudahlah… Aku harus ke studio sepuluh sekarang. Sampai jumpa nanti malam…!” kemudian Seung Ho melarikan diri dari Shin Hyeok.


Dan sesuai janjinya pagi tadi, Seung Ho memenuhi janji untuk mentraktir Shin Hyeok dan Tae Yoon di… Namsan Tower.


Shin Hyeok hanya menatap langit dengan pandangan takjub. “Memangnya kau tidak punya restauran lain yang lebih keren dari restaura atau café di sini? Tidakkah kau bosan?”


“Sudahlah Oppa… Turuti saja kemauan Seung Ho-ssi malam ini saja.”


Mendengar pembelaan Tae Yoon, Seung Ho mengumbar senyum lebarnya.


“Baiklah… Aku yang akan memilih restaurannya. Aku tidak percaya dengan pilihan si bodoh ini.” hujat Shin Hyeok yang langsung melangkahkan kakinya ke sebuah restauran.


“Pilihan yang bagus, Oppa. Sudah lama aku tidak memesan peppermint tea di kafe ini.” ujar Tae Yoon saat kakinya baru saja memasuki kafe.


Mendengar penuturan gadis itu secara tak sengaja membuat Seung Ho yang baru melepaskan pitu kaca kafe tersebut menjadi terkesiap.


Tae Yoon yang membelakangi Seung lalu menggandeng lengan Shin Hyeok dengan manja. Shin Hyeok dan Tae Yoon mendahului Seung Ho dan memilih tempat duduk mereka. Mereka berdua terlihat telah melupakannya dan menganggap bahwa malam ini tengah berkencan, bukan ditraktir olehnya.


Tiba-tiba saja Seung Ho menyesal telah mengajak mereka berdua.


**


Seusai menjelajahi setiap sudut Namsan Tower dengan perasaan bosan—hanya Shin Hyeok yang merasakan hal itu—kini mereka bertiga mengakhiri kunjungan mereka dengan berdiri di depan ratusan gembok yang terpasang di salah satu sudut Namsan Tower. Love Lock.


“Ya Tuhan… Berapa kali sih kauharus menggantungkan gembok di sini?”


Shin Hyeok langsung mengangkat suara ketika Seung Ho mengucapkan kalimat itu ke arahnya. “Hey, aku hanya menemani. Kaulihat, aku tidak memegang satu gembokpun.” Sangkal Shin Hyeok yang tidak mau dihujat sebagai playboy yang percaya dengan mitos-mitos yang dianggap Seung Ho sebagai sebuah keanehan.


“Hey, kalian jangan bertengkar.” Lerai Tae Yoon yang tak menginginkan pertengkaran kembali terjadi pada dua sahabat itu. “Aku hanya ingin menggantungnya satu, Seung Ho-ssi. Kenapa kau jadi cerewet seperti ini? Lagipula, katanya kalau ke Namsan Tower tidak akan sah jika tidak menggantung gembok di sini.” Tae Yoon yang tidak memedulikan cibiran Seung Ho langsung menggantungkan gemboknya di salah satu space yang tersisa di love lock.


“Sekarang kita bisa pergi kan? Mataku mulai berkunang-kunang melihat gembok-gembok ini.” keluh Shin Hyeok yang langsung membalikkan tubuhnya dan menjauh tanpa Seung Ho ataupun Tae Yoon.


“Tahayul!” cibir Seung Ho yang langsung membuang muka.


“Kau ini…!” Tae Yoon menyikut perut Seung Ho dan membuatnya harus mengaduh kesakitan.


Tae Yoon kemudian menyusul Shin Hyeok dengan langkah pelan.


Seung Ho pun menyusul dan segera menyejajarkan langkahnya pada Tae Yoon. “Nona Kim, memangnya kau memohon apa? Agar bisa tahan lama dengan Shin Hyeok ya?” Seung Ho mendesah berat. “Haaa…hhh Aku tidak yakin kalau kaumasih saja mengharapkan si playboy itu…!”


Untungnya Shin Hyeok berada beberapa meter dari mereka sehingga kecil kemungkinan bagi Shin Hyeok mendengar ucapan Seung Ho barusan.


“Kenapa kau ingin tahu? Bukannya barusan kaubilang itu tahayul?”


Seung Ho mencebik, “Ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Bukan urusanku…!” kini Seung Ho mempercepat langkahnya dan mendahului Tae Yoon.


“Permohonanku cukup sederhana dan tidak akan pernah berubah.” Gadis itu mengulum senyumnya. Sementara Seung Ho sampai harus memelankan langkahnya demi untuk mendengar ucapan Tae Yoon yang ditujukan padanya. “Aku cuma meminta supaya lain kali aku bisa ke sini bersama orang yang aku sayang.”


Seperti telah di sambat petit, Seung Ho telah menjadi kaku ketika daun telinganya menyerap setiap kata yang dituturkan Tae Yoon barusan. Di kepalanya sekarang telah dipenuhi kalimat yang dengan mudah meluncur dari mulut Tae Yoon. Bukan… Seung Ho sangat yakin kalau suara yang baru saja menggema kepalanya bukanlah suara Tae Yoon.


“Seung Ho-ya, sedang apa kau di sana? Ayo lah… Oppa sudah tidak ada di depan…!”


Seung Ho terkesiap lalu berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Tae Yoon kembali. Malam ini ia seperti merasakan de javu.


**


Jika saja ucapan Tae Yoon di Namsan Tower beberapa jam lalu tidak mengganggu tidurnya, seung Ho tidak akan menjadi seorang pencuri yang menyelinap masuk di rumahnya sendiri. Langkahnya berjingkat-jingkat ketika membuka kamar Tae Yoon yang tidak terkunci.


“Dasar ceroboh!” umpatnya dalam hati.


Seung Ho lalu masuk ke kamar Tae Yoon yang lampunya masih menyala dengan langkah yang tak berubah sedikitpun. Masih hati-hati, agar tak terdengar oleh Tae Yoon yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya. Mungkin gadis itu sudah sangat pulas mengingat malam telah menjadi dini.


Seung Ho memperhatikan dengan saksama wajah Tae Yoon yang tertidur pulas dan membandingkannya dengan potret seorang gadis di dalam bingkai foto yang tengah ia pegang. Seung Ho tengah membayangkan jika rambut blonde Tae Yoon menjadi berwarna merah dengan poni memenuhi dahinya, ia akan terlihat persis seperti gadis yang ada di dalam foto. Matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya, juga garis tegas yang menciptakan dagunya, sama dengan yang ada di foto.


Mungkin kah apa yang ia rasakan belakangan ini benar? Tae Yoon dan Eun So adalah orang yang sama?


Tapi… bagaimana mungkin itu bisa terjadi?


Jika semuanya benar, untuk apa ia kembali?


Seung Ho menjatuhkan lengannya, langkahnya serasa berat ketika harus mendekati Tae Yoon yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih dari menatapnya.


Tapi Seung Ho ingin segera tahu jawaban atas kecurigaan dan keraguannya.


Seung Ho membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya semakin dekat dengan Tae Yoon. Seung Ho menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir Tae Yoon secara perlahan. Seung Ho dapat merasakan sensasi peppermint memenuhi bibirnya.


Seung Ho buru-buru melepaskan dirinya. Tidak bisa dipercaya. Seung Ho tidak bisa secepat itu mempercayainya. Peppermint adalah rasa ciuman pertamanya dengan Eun So.


“Tidak mungkin…!” Seung Ho lalu meninggalkan kamar Tae Yoon.


Lagi-lagi Seung Ho berusaha mengingkari dirinya sendiri.


**