
Jalanan yang tertutup salju itu begitu sepi dan gelap namun tiga orang yang tengah berpacu dengan waktu itu terus menyusuri demi mendapatkan tempat persembunyian. Keringat yang mengucur di kening dan beberapa bagian tubuh lainnya tidak begitu dipedulikan ketiganya, asal mereka bisa lolos dari kejaran lima—bahkan lebih—pengawal.
“Oppa, kakiku mulai lelah.” Keluh Eun So setelah bermil-mil jauhnya mereka berlari. Sepertinya kedua kakinya sulit untuk diajak berlari jauh lagi. Gadis itu tidak mungkin bisa melakukannya.
Shin Hyeok dan Seung Ho berhenti sejenak, di jalanan sepi dan senyap.
“Kurasa mereka tidak akan menemukan kita di sini.” kata Seung Ho yang memastikan bahwa di belakang mereka tidak ada yang mengejar. Mereka dalam posisi aman sekarang sehingga Eun So bisa duduk berselonjor kaki di sebuah gang yang gelap dan sepi. Sepertinya gang tersebut jarang dilalui warga sekitar.
“Kakiku…” Eun So mengeluh lagi. Tak lama gadis itu memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Bahkan kedua tangannya mulai terasa kram. Sulit untuk digerakkan.
Seung Ho dan Shin Hyeok yang melihatnya menjadi prihatin, namun tak dapat melakukan lebih dari, “segera minum obatmu, Nona Jung—Eun So-ya.” Kata keduanya bersamaan.
Eun So menarik ransilnya dan mencari silinder kecil berisi obat penahan rasa sakit miliknya. Begitu ia mendapatkannya, Eun So menemukan obatnya habis tak bersisa. Kelalaiannya yang lupa membeli obat baru membuatnya mau tak mau harus menahan rasa nyeri di pinggang dan kedua kakinya semakin tak tertahankan.
“Eun So-ya, kaubaik-baik saja, kan?” Shin Hyeok mendekati gadis itu untuk mengecek keadaannya dan membantu gadis itu untuk berdiri.
“Kalian melakukannya dengan baik sekali,” seruan itu membuat Eun So terkesiap. Ia mengenali suara itu, bahkan sangat mengenali.
Bersamaan dengan seruan tak berwujud tersebut, sebuah cahaya yang berasal dari lampu mobil bagian depan. Tepat di depan Eun So beberapa meter, gadis itu melihat seorang laki-laki paruh baya berdiri di depan mobil.
“Appa…” gumam Eun So masih tak percaya.
Eun So menatap Shin Hyeok yang memapahnya dengan mata yang membola. Siapa kalian yang dimaksudkan oleh sosok yang dimaksud ayahnya tersebut? Benarkah salah satu dari Shin Hyeok ataupun Seung Ho? Atau malah keduanya? Bukannya mereka sudah berjanji?
Bersamaan dengan itu pula, pengawal yang tadi mengejarnya tiba di tempat yang sama. Hal itu membuat Eun So yakin bahwa Shin Hyeok dan Seung Ho adalah dalang di balik ini semua.
“Jadi kalian… sengaja… membawaku… ke sini…?” kedua mata Eun So mulai berkaca-kaca. Kenyataan yang ia terima—bahwa Shin Hyeok dan Seung Ho yang sangat ia percaya telah mengkhianati dan mengingkarinya—lebih pahit dibandingkan pertemuannya dengan ayahnya kini. Rasa sakit yang ia dera bukan lagi pada persendian, penkhianatan ini secara tak kasat mata telah melukai relung hatinya.
Sementara itu ayahnya menyeringai lebar, kedua matanya menyiratkan ucapan terima kasih yang begitu dalam pada dalang di balik kejadian ini semua. Dengan beberapa gerakan kepala, Dokter Jung telah memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mendekati Eun So, mengantisipasi Eun So melarikan diri lagi.
“Kenapa… kalian begitu tega… padaku…!” Eun So melepaskan tangannya yang tergantung pada bahu Shin Hyeok yang tadinya ingin memapahnya dengan perasaan kesal.
“Eun So-ya…” Shin Hyeok tersentak dan ingin kembali merangkul gadis itu namun Eun So menolak dengan garang.
“Jangan sentuh aku!!!” teriaknya kasar. “Kalian pembohong! Pengkhianat!” makinya dengan airmata membasahi kedua pipinya.
“Eun So-ya… kami melakukan ini demi kesembuhanmu. Kami tidak ingin kauterus-terusan merasakan sakit yang seperti ini terus. Eun So-ya, tolong mengertilah…!” jelas Shin Hyeok dengan perasaan bersalah.
Seung Ho terpaku di tempatnya berdiri. Wajah lelahnya kini menyiratkan sebuah penyesalan. Bayangan tentang masa lalu berkelebat di kepalanya, seperti film yang terus diputar tanpa henti.
“Dokter Jung, bisakah kita bertemu?” tanyanya di telepon malam itu. “Besok malam di café di dekat kantor stasiun TV,”
Dokter Jung menyanggupi, dan membuat pertemuan dengan Seung Ho dan Shin Hyeok. Dalam pertemuan itu, Seung Ho dan Shin Hyeok berjanji akan membawa gadis itu pulang namun tidak dalam waktu dekat.
“Kumohon, Dokter Jung. Biarkan Eun So bersenang-senang dan mendapatkan yang ia mau lebih dulu.” Pinta Shin Hyeok kala itu. “Setelah waktunya tepat, kami berjanji akan membawanya pulang.”
Dengan berat hati, Dokter Jung menyetujuinya, maka rencana ini pun di susun rapi. Kebetulan sekali, Eun So mengajak keduanya jalan-jalan ke Namsan Tower dan mereka merasa hari ini adalah hari yang tepat. Itu sebabnya kenapa Shin Hyeok sibuk dengan ponselnya ketika berada di ruangan observation beberapa jam yang lalu. Shin Hyeok menuturkan rencananya yang akan membuat seolah-olah mereka di hadang oleh pengawal Dokter Jung yang kenyataannya, mereka berdua tengah menggiring Eun So ke gang sepi dan gelap yang sengaja diblokir oleh Dokter Jung.
“Nona Jung, mianhae…” kata Seung Ho akhirnya. “Semua yang dikatakan Shin Hyeok benar. Ini semua demi kau, Nona Jung!”
“Diamlah kumohon! Jangan bicarakan apapun yang mengatakan kalau kalian begitu peduli dengan kesehatanku! Diaaamm!” teriak gadis itu histeris.
“Nona Jung…” Seung Ho pun mendekat, berusaha menjelaskan namun gadis itu seperti menolak. Dengan susah payah ia berjalan, menjauhi bahkan membuang mukanya dari kedua laki-laki yang selama ini begitu ia percaya.
“Eun So-ya… Kaujangan menyalahkan mereka berdua. Bahkan mereka tidak meminta apa-apa dariku.” Kata ayahnya menyusul.
Dokter Jung kini mendekati putrinya, mencoba memapah gadis itu agar bisa berjalan dan masuk ke dalam mobil.
“Mereka berdua sangat memedulikan kesehatanmu, Eun So-ya… Kauharus sembuh!” kata ayahnya lagi namun seolah tuli Eun So terus mengeluarkan air mata kebenciannya untuk Shin Hyeok juga Seung Ho.
“Mianhae, Eun So-ya…” kata Shin Hyeok pelan.
“Aku tidak ingin kenal dengan kalian lagi,”
“Setidaknya sembuhkan dirimu dulu baru kami akan menerima semua konsekuensinya,” sambar Seung Ho setengah berteriak.
“Eun So-ya,” dengan lembut Dokter Jung menyentuh pundak gadisnya lalu membawanya berjalan ke mobil. Dan gadis itu menurut tanpa penolakan sedikitpun.
“Dokter Jung…!” Seung Ho memanggil Dokter Jung yang hampir sampai pada mobilnya. Setelah Dokter Jung membalikkan tubuhnya, Seung Ho meneriakkan sesuatu pada ayahnya Eun So yang masih memegangi gadis itu begitu erat. “Kumohon jangan biarkan dia lari lagi sebelum kaubenar-benar menyembuhkannya!”
Dokter Jung tersenyum ke arah Seung Ho dan Shin Hyeok lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Malam itu menjadi malam terakhir bagi Seung Ho dan Shin Hyeok bertemu dengan Eun So. Hingga musim berganti bahkan telah kembali lagi, keduanya tidak pernah lagi bertemu dan mendengar kabar gadis tersebut.
**