
Musim dingin yang membekukan sungai Han tetap tak menyurutkan keinginan pengunjung untuk berjalan-jalan di Banpo Bridge—jembatan sungai Han. Termasuk Eun So yang diajak oleh Shin Hyeok sebagai bayaran atas pemukulan kemarin itu. Lagipula, Eun So tidak pernah berpikir kalau ini semacam bayaran atau ganti rugi, karena ia begitu menikmati kebekuan suangi Han yang masih menarik perhatian pengunjung lokal.
“Sayang sekali musim dingin membuat sungai Han beku. Jika tidak, aku kan bisa melihat air mancur pelangi.” Gumam Eun So seraya menyusupkan kedua telapak tangan pada kantong mantelnya.
Shin Hyeok hanya tersenyum mendengar celotehan gadis di sebelahnya. Kini mereka berada di susuran untuk menikmati kebekuan sungai Han dari jembatan. Tak lama setelah keduanya dilanda keheningan, Shin Hyeok meliarkan pandangannya ke pengunjung yang menikmati pemandangan yang sama dengannya. Bersamaan dengan itu pula, sorot matanya menangkap seorang gadis yang baru mengalihkan pandangan darinya. Shin Hyeok sangat mengenali gadis itu meskipun kini penampilannya tidak seformal yang ia lihat biasanya, hanya mengenakan mantel kuning dengan rambut berkuncir kuda. Shin Hyeok menyeringai, lalu dengan sengaja tangan kanannya merangkul Eun So yang masih serius menatap air mancur pelangi di hadapannya. Ia tahu, gadis itu pasti akan memerhatikannya lagi.
“Oppa…” rupanya Eun So merasa risi dengan tangan Shin Hyeok yang menempel di pundaknya. “Tidak ada adegan seperti ini dalam perjanjian kita setelah menemui mantan kekasihmu itu kan?” kata Eun So mengingatkan.
Shin Hyeok hanya menyeringai, “Mian…” katanya enteng. Tak merasa bersalah sama sekali. “Aku hanya ingin membuatmu hangat, Eun So-ya...” bahkan kedua matanya mengerling pada gadis yang diperhatikannya tadi. Sekarang, gadis sudah berjalan membelakangi mereka. Gadis itu pergi dan membuat seringai Shin Hyeok semakin lebar.
“Drama sudah berakhir Oppa, biarkan aku menikmati langit dari sini.” pinta Eun So yang kembali memantapkan pandangannya pada langit malam.
“Baiklaahh… Aku tidak akan menganggumu.” Katanya mengalah.
Baginya membuat seorang gadis tadi berwajah muram sudah lebih dari cukup. Sehingga ia akan berdiam saja sambil menunggu Eun So puas memandangi bulan di langit.
“Nona… Kauharus ikut kami!” seruan itu membuat Eun So dan Shin Hyeok langsung berpaling.
Seketika itu pula bola mata Eun So melebar. Kejutan ini benar-benar telah mengejutkannya, juga Shin Hyeok yang tidak tahu menahu siapa 4 laki-laki berpenampilan seperti pengawal di depan mereka.
“Kalian berbicara pada kami?” tanya Shin Hyeok yang sama sekali tak diacuhkan orang asing itu.
Eun So menelan ludah. Kepalanya langsung memikirkan sesuatu namun langkahnya seperti terkunci.
“Hei, siapa kalian?” tanya Shin Hyeok membalas tatapan dingin orang-orang yang dengan lancang mengganggu acaranya. “Tolong pergi!” katanya memerintah, namun orang-orang serupa pengawal itu bergeming.
“Nona, kauharus ikut kami sekarang juga.” Ulang orang-orang itu dengan air muka yang sama. Dingin dan nyaris tanpa ekspresi.
Shin Hyeok refleks mengerling pada gadis di sebelahnya. “Eun So-ya, apa kau mengenal mereka?” keningnya mengkerut sementara kedua alisnya saling bertaut.
Eun So menggeleng pelan sementara kakinya menyiapkan kuda-kuda. “Oppa! Lariii!!!” Eun So mengambil kekosongan di sebelah kirinya untuk melarikan diri.
Sesuai aba-aba dari Eun So, Shin Hyeok pun berlari mengikuti Eun So yang sudah lebih dulu melaju darinya. Sesekali Shin Hyeok menoleh dan masih mendapati pria-pria misterius itu mengejar mereka.
“Ayo Oppa… Lebih cepat lagi!”
Salju-salju yang memenuhi jalan sedikit menyulitkan mereka, juga langkah pria-pria yang masih berusaha mengejar. Di langkah berikutnya, Shin Hyeok terpeleset dan terjatuh.
“Eun So!” teriak Shin Hyeok memberitahukan keadaanya.
Eun So menoleh dan langsung berbalik, “Oppa, ayo cepat!” katanya seraya membantu Shin Hyeok berdiri lalu mereka kembali berlari.
“Nona! Jangan lari!”
Shin Hyeok semakin mempercepat larinya, “Eun So-ya, kenapa mereka mengejar kita dan ingin menangkapmu?” Sampai detik ini Shin Hyeok masih belum mengerti kenapa tiba-tiba ada empat orang pria berjas hitam yang tidak dikenalnya menghadang mereka dan ingin menangkap Eun So.
“Mereka itu penagih utang, Oppa.” Kata Eun So lantang namun kakinya masih belum berhenti berlari.
“Utang?” Shin Hyeok mengernyit bingung.
“Ya Oppa. Aku telah berutang dan tidak bisa membayar sepeserpun. Oppa, kita harus lari secepaaaaatnya. Don’t say anything else…” teriak Eun So mempercepat laju kakinya.
Mulut Shin Hyeok belum terkatup rapat. Meski langkahnya terus mengikuti gadis di depannya, ia masih saja bingung. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya secara bertubi-tubi. Bahkan ia tidak tahu yang mana yang akan ia tanyakan terlebih dahulu. Semuanya terlalu cepat bergema di seluruh pikirannya. Yang ia tahu ia harus terus berlari, menjauhi orang-orang yang tak dikenal dan tak punya urusan apapun dengannya.
Ia hanya mengikuti ke mana Jung Eun So berlari. Lari dengan kekuatan penuh seperti gadis itu yang dengan cepat menyusuri setiap jalan untuk menemukan tempat persembunyian.
“Hei Nona! Jangan lari Nona! Jangan lari!” teriakan si penagih utang itu semakin membuat Eun So maupun Shin Hyeok terus berlari.
“Ke sini Oppa…” teriak gadis itu ketika menemukan tempat persembunyian. Sebuah kolong meja persegi—lengkap dengan meja kursi di salah setiap sudutnya sehingga mereka tertutupi—yang teronggok di halaman depan rumah warga yang pagarnya tidak ditutup sama sekali. Halaman itu gelap, seperti telah ditinggal tidur oleh pemiliknya. Tapi yang terpenting, mereka terselamatkan.
Ketika suara lari yang berdesak-desakan itu melewati tempat persembunyiaan, keduanya membuang napas lega secara bersamaan. Eun So tidak menyangka malam ini ia akan berurusan dan berlari lagi dari orang-orang berjas hitam itu.
“Ya, hampir… sepuluh tahun aku… tinggal… di Seoul dan… mengencani banyak gadis… tapi… baru… kau… saja yang… mengajakku… memacu adrenalin… seperti ini…” bisik Shin Hyeok di bawah tempat persembunyian.
“Hsshhh! Aku ini… bukan… kekasihmu, Oppa. Drama… sudah berakhir!” tegasnya dengan napas yang terputus-putus.
“Oppa… capeekk…!” keluhnya seraya memegangi pinggangnya. Berlari seperti tadi membuat kaki dan pinggangnya merasa nyeri.
“Aniya… Aku terbiasa… berlari… lebih… jauh dari ini, kautahu...?” katanya masih sulit berbicara dengan lancar.
“Bukan, Oppa. Aku yang… capek. Pinggangku… mau patah… rasanya.” Akunya membuat Shin Hyeok mendecak lidah.
Laki-laki itu sempat berpikir kalau Eun So mengkhawatirkan kondisinya. Oleh karenanya pula, laki-laki itu hanya tertawa kecil menyadari bahwa ia telah salah mengartikan. “Ya? Berapa utangmu… pada rentenir itu…?” Shin Hyeok memegangi dadanya, berusaha menormalkan kembali detak jantungnya.
Eun So menelan ludah dan menghirup napas dalam-dalam. “Wae? Oppa… mau membayarkannya…?”
“Daripada aku harus… menemanimu berlari seperti ini.” ujarnya yang mulai bisa bernapas dengan normal. “Berapa, Eun So-ya? Kau tidak perlu sungkan.”
Eun So hanya mengulas senyum sekilas, lalu keluar dari kolong meja yang gelap gulita. “Tidak perlu, Oppa. Bahkan jika kau… menghabiskan banyak tabungan… dan gajimu, itu tidak akan cukup… untuk melunasinya.” Eun So mendorong kursi yang melindungi mereka lalu keluar dari tempat persembunyian.
Sambil melepaskan sarung tangannya yang sedikit basah oleh salju di halaman rumah tersebut, Eun So memandang ke langit malam.
Tak lama Shin Hyeok juga mengikuti langkah Eun So, keluar dari kolong meja yang sempat membuat lututnya kedinginan karena bersentuhan dengan salju, “Yang benar saja… Kauberutang sebanyak itu untuk…” lalu menyejajarkan dirinya dengan Eun So yang masih menatap si bulat bercahaya—bulan—di langit.
“Kau tidak akan mengerti, Oppa.” Eun So hanya menyunggingkan bibirnya. “Oppa, ayo kita pulang. Aku tidak kuat jalan-jalan lagi.” Gadis itu membuka langkahnya, menjauhi rumah dengan meja yang telah berhasil menyelamatkan mereka.
“Memangnya setelah apa yang kita alami tadi, aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi? Konyol sekali.” komentar Shin Hyeok yang mood jalan-jalannya telah dirusak oleh pria-pria berseragam formal ala pejabat negeri itu. “Mereka ceroboh sekali, ya. Sudah selarut ini tidak menutup pagar.” Komentarnya lagi.
Shin Hyeok menarik pagar untuk kemudian menutupnya rapat. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk terima kasih.
“Oppa!!!” teriakan itu membuat Shin Hyeok spontan berpaling. Kedua matanya melihat kedua tangan Eun So sudah tercekal oleh pria-pria berjas hitam yang tadi mengejar mereka.
“Oppa!!! Tolooong!” Eun So meraung, berusaha melepaskan diri dari pria-pria formal penagih utang namun pria-pria itu malah membawa Eun So pergi.
“Shit!” Shin Hyeok mempercepat larinya. “Lepaskan dia!” namun langkah penagih utang yang menangkap Eun So lebih cepat dibanding Shin Hyeok. Sedangkan yang dua lagi, menghadang Shin Hyeok dan memberikannya pukulan keras di wajahnya.
Shin Hyeok terdiam sesaat, rasa sakit akibat pukulan itu membuat Shin Hyeok merasa ada yang mengalir dari hidungnya. Ketika ia merabanya, jari telunjuknya sudah dipenuhi cairan merah.
“Bajingan!” Rahang Shin Hyeok mengeras. Kepalan tangan kanannya terangkat untuk membalas tinjuan di wajah salah satu pria. Tapi sayang, pukulannya dapat ditangkis sehingga pria satunya kembali melayangkan bogem mentah ke wajahnya lagi.
“Oppa…!!!” Gadis itu masih meminta pertolongan Shin Hyeok. “Lepaskan!” bentaknya seraya berusaha melepaskan diri namun cengkaraman pria-pria itu lebih keras. Eun So menggigit salah satu tangan pengawal tapi tetap saja ia lolos. Dua pengawal itu lebih cepat bereaksi dari dirinya.
Shin Hyeok kehilangan Eun So yang sudah dibawa jauh oleh rekan mereka.
“Heeeiii!!! Jangan pukul wajahku!” teriak Shin Hyeok menggerakkan kedua tangannya secepat kilat, membalas dan memberikan pelajaran atas pukulan yang ia terima di wajahnya berkali-kali. “Bagaimana kalau hidungku patah dan aku tidak tampan lagi?” ujarnya seraya melayangkan pukulan terakhir pada penagih utang yang terkulai di tanah. “Kauharus membayarnya!” Shin Hyeok menginjakkan kakinya sebagai jurus terakhir.
Lalu berlari menyusul Eun So.
**
“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Eun So yang masih berusaha lolos. Tubuhnya bergerak lincah, namun tangan kedua pengawal itu seolah terlem sehingga Eun So tidak bisa juga melarikan diri dari kedua pengawal itu. “Hei! Lepaskan aku sekarang juga! Kalian pikir tanganku tidak sakit? Hei… Kalian harus bertanggung jawab soal ini!”
“Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah. Masuk!” kedua pengawal itu serentak mendorong tubuh Eun So hingga membentur jok mobil. Nyaris saja kepalanya membentur pintu satunya.
“Hei! Kenapa kalian kasar sekali, hah? Aku akan membuat kalian berdua dipecat!” teriaknya tak terima diperlakukan seperti itu. Eun So yang dihempas begitu kerasnya tidak bisa lagi bangkit untuk memanfaatkan situasi sebelum para pengawal itu menutup pintu mobil.
Baru saja pintu ditutup, seseorang dengan cepat membuka pintu tersebut dan menarik tangan Eun So.
“Oppa!” syukurlah Shin Hyeok cepat datang untuk menyelamatkannya. Keduanya langsung menjauhi mobil. Berlari sekencangnya sampai kedua pengawal itu kehilangan jejak.
“Hei!” pengawal itu mengejar keduanya.
“Ayo lebih cepat, Eun So!” teriak Shin Hyeok yang berlari mendahului Eun So.
Dengan napas terengah-engah, Eun So berusaha menggerakkan langkahnya lebih cepat lagi. “Oppa…!” Eun So merasa tubuhnya mulai lemah.
“Eun So!” Shin Hyeok berlari ke belakang dan menarik tangan Eun So agar bisa berlari lebih cepat lagi.
Eun So merasa kedua kakinya kelelahan sehingga rasa nyeri di kedua lutut dan pinggangnya terasa begitu dahsyat. Eun So tidak sanggup lagi untuk berlari menghindari pengawal itu lagi. “Oppa… kakiku…”
“Ayolah Eun So-ya… Tahan sebentar lagi, sebelum mereka berhasil menangkapmu lagi.”
“Tapi Oppa… Ssshhh!” Eun So tetap memaksakan kedua kakinya berlari meskipun sebenarnya ia tidak sanggup.
“Nona Eun So…!” teriakan kedua pengawal itu membuat Shin Hyeok terkesiap dan refleks mempercepat gerak kakinya.
“Eun So-ya… Lebih cepat! Mereka sudah hampir dekat!”
“Oppa… aku—” Eun So langsung terjatuh dan pingsan di tempat.
“Eun So-ya…!” Shin Hyeok berhenti berlari. Kedua tangannya menggugah-gugah Eun So, namun gadis itu tidak juga bangun. Tidak ingin mengambil resiko, Shin Hyeok langsung membopong gadis itu lalu berlari sekencang mungkin.
“Hei, kau… berhenti!” kedua pengawal itu berhasil mengejar Shin Hyeok yang kecepatan larinya melemah saat menggendong Eun So. “Serahkan Nona Eun So kepada kami!” teriak pengawal itu menghentikan Shin Hyeok.
“Hanya jika kalian bisa mencabut nyawaku!” Perlahan Shin Hyeok menurunkan tubuh Eun So yang terkulai, lalu menghadapi kedua pengawal itu dengan muka sangar.
“Tunggu dulu!” Shin Hyeok menggantung pertarungan mereka. Kontan saja kedua penagih utang itu saling melempar pandangan bingung. “Kita bikin satu perjanjian. Kalian boleh memukul seluruh tubuhku, kecuali wajahku! Bagaimana?”
Kedua pria itu tidak menjawab, hanya mengernyit bingung.
“Baiklah… Ayo serang aku!” perintahnya menyiapkan kuda-kuda.
Kedua pengawal itu langsung menyerang Shin Hyeok meskipun Shin Hyeok tidak memerintahnya. Bagaimanapun juga mereka berdua harus membawa Eun So bersama mereka maka dengan gerak cepat kedua pengawal itu menendang perut dan meninju wajahnya.
Shin Hyeok tidak sempat menangkis sehingga kedua pengawal itu berhasil melayangkan pukulan dan terus memukul hingga Shin Hyeok terkulai di atas salju yang dingin.
“Ssshhh!” Shin Hyeok mendesah kesakitan, namun amarahnya memuncak begitu melihat darah di tangannya ketika ia menyentuh pipinya. “Brengsek!” Shin Hyeok seolah mendapatkan kekuatan untuk berdiri dan mendamprat kedua pengawal yang terbahak-bahak melihatnya. “Sudah kubilang jangan wajahku!” marah Shin Hyeok yang langsung mendorong dan memukul wajah kedua pengawal itu sebagai aksi balasan. “Rasakan ini!”
Shin Hyeok memberikan pukulan terbaiknya kepada kedua pemukul itu hingga keduanya tertahan di atas salju dengan wajah penuh lebam dan sekujur tubuh yang serasa remuk.
“Sudah kubilang, jangan pukul wajahku!” katanya seraya mengelap kedua telapak tangannya yang basah.
**
Seung Ho sudah terlelap ketika Shin Hyeok membawa Eun So pulang dengan keadaan pingsan. Laki-laki dengan muka lebam itu terus membawa Eun So sampai ke kamarnya. Setelah membaringkan tubuh lemah Eun So, Shin Hyeok masih berusaha menyadarkan gadis itu.
“Eun So-ya… Bangun, ya…!”
Tidak ada reaksi. Kedua mata Eun So masih tertutup rapat. Shin Hyeok frustasi. Ia tidak tahu bagaimana harus membangunkan gadis itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengganggu housemate-nya yang lain.
Park Seung Ho.
Shin Hyeok berlari ke luar kamar dan menerobos masuk kamar Seung Ho yang memang tidak pernah dikunci. Laki-laki itu masih berselimut tebal kalau saja Shin Hyeok tidak menggugahnya. Setelah bersusah payah meyakinkannya, Seung Ho akhirnya terbangun dan mengecek keadaan Eun So.
“Apa kaubilang? Dia pingsan setelah berlari?” Kening Seung Ho mengernyit. Pada malam selarut sekarang pikirannya hanya mengarah pada kejadian tempo hari yang kurang lebih sama, tiba-tiba pingsan seusai berlari. “Apa kalian tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk jogging?”
“Gooshhh! Seung Ho-ya! Ini tidak seperti yang kaubayangkan. Ceritanya panjang sekali dan yang terpenting kita harus membuatnya terbangun. Aku sungguh mengkhawatirkannya.” Shin Hyeok ingin sekali menjitak kepala Seung Ho saat itu juga.
Seung Ho menggeleng, “Jangan dibangunkan. Kita kompres saja kepala dan seluruh kakinya.”
**