Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 5



Eun So buru-buru mengenakan satu-satunya mantel berwarna merah miliknya dan memadupadankan dengan syal berwarna senada lalu secara tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Dilihatnya Seung Ho sudah selesai mengenakan sepatu dan itu membuat Eun So semakin memperkilat gerakannya.


"Nona Jung, jangan lupa kunci pintunya..." perintah Seung Ho seraya berdiri. Laki-laki itu bergegas dan bersikap seolah-olah ia tidak perlu menunggu si lelet 'Jung Eun So'


Eun So tidak jadi mengenakan sepatunya. Ia mengepitnya di sela-sela lengan lalu mengunci rumah dengan kecepatan kilat. Ia tidak ingin Seung Ho meninggalkannya.


"Seung Ho-ssi, tunggu!" gadis itu tidak membawa sepasang sepatunya dan menyejajarkan langkahnya dengan Seung Ho.


Hari minggu begini Seung Ho yan sedang tidak bekerja mengajak housemaite barunya, Eun So ke Namsan Tower. Tentu saja gadis itu begitu antusias menerima ajakannya. Setidaknya ia tidak akan mati kebosanan di rumah. Lagipula ia harus membeli beberapa pakaian di luar karena saat ini ia tidak punya pakaian ganti lebih dari satu. Seung Ho yang suasana hatinya mudah berubah itu menawarkan untuk menemaninya asal ia mau memasakkan makanan lezat kapan-kapan untuknya. Dengan senang hati tentu saja Eun So menerimanya.


"Lagipula, apa susahnya sih masak?" ucap Eun So kala itu.


Eun So berjingkat-jingkat karena kakinya yang bersentuhan langsung dengan salju menyebabkan sensasi dingin yang sangat luar biasa. Eun So tidak tahan namun ia lebih tidak ingin ketinggalan jauh oleh Seung Ho.


"Seung Ho-ssi, apa kautidak bisa menungguku sebentar saja?" Eun So sampai harus memakai sepatunya sambil mengejar Seung Ho. Satu persatu dikenakannya, lalu berlari mengejar Seung Ho, ketika langkahnya sejajar Eun So mengenakan yang satunya.


"Aku tidak suka menunggu bus berikutnya itu sebabnya aku harus naik bus pertama yang menuju Namsan." Kilah Seung Ho yang tak memedulikan Eun So bersusah payah mengejarnya.


"Seung Ho-ssi..." napas Eun So tak beraturan ketika ia berhasil mengenakan sepatunya secara sempurna lalu berlari mengejar Seung Ho yang nyaris sampai ke halte. "Kauingin membuatku cepat mati ya?"


Seung Ho hanya menyeringai jahil ketika Eun So terus memprotesnya. Ini kali pertama ia ke Namsan dengan seorang gadis. Sehari-harinya—sejak tiba di Seoul, Seung Ho selalu menikmati suasana Namsan ala sebatang kara, sehingga ia tidak terbiasa menunggu seseorang ketika berangkat ke tempat favoritnya tersebut.


Bus tiba di halte sebelum Seung Ho dan Eun So benar-benar sampai. Alhasil mereka berdua harus berlari-lari agar tidak tertinggal bus.


"Haahh? Lari lagi???" Eun So dengan terpaksa berlari lagi, padahal napasnya belum normal kembali akibat berlari mengejar Seung Ho.


"Nona Jung, lebih cepat lagi. Bus berikutnya itu lama sekali." beruntung Seung Ho sudah mendekati bus, namun keterlambatan Eun So membuatnya harus menunggu. "Nona Jung, cepatlah...!" teriaknya lagi.


Susah payah Eun So mempercepat langkahnya, namun upayanya tidak membuahkan hasil yang berarti. Ia malah terlihat semakin lamban. Belum lagi teriakan Seung Ho yang membuatnya tak tahan.


"Nona Jung, busnya akan segera jalan. Apa kautidak bisa cepat sedikit?" Seung Ho mulai gelisah menunggu Eun So yang larinya sangat-sangat lamban.


"Sebe-ntar...!" Eun So berhenti sejenak untuk mengatur kembali napasnya yang seperti di rampas iblis jalanan. Sedang Seung Ho masih menunggu di pintu bus dengan perasaan was-was.


"Nona Jung...!" teriak Seung Ho lagi, "Busnya akan se—" teriakannya terputus ketika secara tidak disangka-sangka gadis itu ambruk di bawah lampu jalan. "Nona Jung!" tanpa pikir panjang Seung Ho berlari secepat kilat mendekati Eun So.


Bus pun berlalu tanpa Seung Ho ataupun Eun So.


**


Eun So bersikeras tidak ingin dibawa ke rumah sakit saat Seung Ho menghentikan taksi. Gadis itu begitu keras kepalanya dan tidak memedulikan tubuhnya jatuh dan mengakibatkan memar di kedua lututnya. Bahkan pipinya sedikit tergores karena menyentuh trotoar.


"Tiba-tiba saja terjatuh lalu mendapat luka di mana-mana kaubilang tidak apa-apa? Kau harus kuantar ke rumah sakit, Nona Jung." Seung Ho menggapai lengan Eun So dan akan membantunya masuk ke dalam taksi, namun gadis itu terus menepis seraya berusaha bangkit sendiri.


"Kakiku hanya kelelahan, Seung Ho-ssi. Aku tidak apa-apa dan tidak perlu di bawa ke rumah sakit segala." Katanya menghindari kontak mata dengan Seung Ho. "Pergi ke rumah sakit sama dengan menghancurkan misiku," bisiknya nyaris tak terdengar oleh Seung Ho.


"Apa? Kaubilang apa barusan?"


"Aniya." Eun So masih kesulitan untuk berdiri namun tidak membiarkan Seung Ho membantunya. Sebab itulah Seung Ho menjadi geram.


"Bagaimana mungkin kau tidak apa-apa kalau berdiri saja kau tidak bisa Nona Jung." Dan Seung Ho masih berusaha membujuk gadis itu agar mau memeriksakannya ke rumah sakit.


"Nona Jung, kau—"


"Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku mau pulang saja." Eun So memotong omongan Seung Ho karena ia benar-benar tidak ingin kerumah sakit.


"Baiklah... tapi kita harus tetap naik taksi. Aku tidak akan sanggup membantumu berjalan sampai rumah dengan berjalan kaki, Nona Jung."


Eun So pun melunak. Ia membiarkan Seung Ho membantunya berdiri untuk kemudian memapahnya sampai ke dalam taksi.


"Kauseperti anak kecil yang baru bisa berlari Nona Jung." Komentar Seung Ho saat berada di dalam taksi.


Eun So tidak menepis komentar sarkastis itu. Ia membungkam mulutnya—sambil menahan sakit di sekitar pinggangnya—sampai taksi tiba di depan rumah. Seung Ho kembali membantu gadis itu berjalan hingga ke kamarnya.


"Padahal kauhanya terjatuh tapi kenapa sampai tak bisa berdiri segala? Kauini membingungkan Nona Jung." Komentar Seung Ho yang lagi-lagi tak begitu dihiraukan oleh Eun So yang sedang bersusah payah menggerakkan kakinya.


Memang hanya terjatuh biasa, harusnya Eun So bisa kembali berdiri dan berjalan dengan normal. Wajahnya masih meringis menahan sakit yang begitu luar biasa di sekitar pinggangnya.


"Terima kasih, seung Ho-ssi. Maaf sudah merepotkanmu." Ucapnya dengan kepala menunduk, tanda penyesalan.


"Apa pinggangmu juga terbentur tadi? Yang kulihat lututmu terjatuh lebih dahulu dan bukan pinggangmu, kan?"


Eun So mengerlingkan pandangannya dari Seung Ho. "Seung Ho-ssi, ini perih sekali." katanya seperti bentuk pengalihan.


"Ah, ya. Sebentar...!" Seung Ho langsung berlari dari kamar Eun So dan kembali dengan kotak P3K dan segelas air minum di tangannya.


"Terima kasih," ucap Eun So meraih segelas air putih dari Seung Ho yang dengan gerakan cepat, membersihkan luka-luka itu dengan kapas basah yang mengakibatkan Eun So harus meringis menahan perihnya.


Sebenarnya perih di lutut dan wajahnya masih bisa tertahan. Sangat berbeda dengan nyeri yang menjalar di sekeliling pinggangnya. Diam-diam, setelah Seung Ho keluar dari kamar untuk mencari gunting—untuk menggunting perban—Eun So menelan beberapa butir obat yang ia ambil dari dalam ranselnya sehingga berangsur-angsur nyeri itu hilang.


"Apa sekarang sudah merasa lebih baik?" tanyanya setelah berhasil membungkus kedua lutut Eun So dengan perban.


Eun So hanya mengangguk. Seung Ho kembali memeriksa isi kotak P3K miliknya dan menyerahkan sebuah plaster kepada Eun So.


"Ini... Pakailah di wajahmu."


Alih-alih menerimanya, Eun So malah membelokan matanya sementara keningnya mengernyit bingung. Detik-detik berikutnya untuk pertama kalinya pandangan keduanya saling terpaut. Seung Ho merasakan sebuah ketertarikan dalam tatapan mata Eun So hingga ia seperti terpenjara di dalam sepasang mata hitam kecokelatan itu.


"Seung Ho-ssi, aku perlu cermin." Celetuk Eun So menggugah kebungkaman Seung Ho.


Seung Ho yang baru tersadar menjadi sangat kikuk di depan Eun So. Pemuda itu memalingkan wajahnya sejenak dari Eun So dan mengembalikannya sambil melekatkan plaster yang ada di tangannya di wajah Eun So yang lecet.


**


Rutinitas harian Seung Ho ke Namsan telah digagalkan oleh permintaan Eun So yang memintanya untuk berbelanja pakaian ganti. Awalnya Seung Ho menolak mentah-mentah permintaan gadis itu dengan beribu alasan.


"Aku tidak biasa berbelanja Nona Jung, apalagi harus membeli barang-barang wanita. Kaucari saja orang lain yang bisa membantumu Nona Jung."


"Orang lain? Apa di sini ada orang lain selain kau Seung Ho-ssi. Ayolah... hanya pakaian ganti saja." Eun So merengek agar Seung Ho mau membantunya.


"Tapi berbelanja pakaian wanita—" Seung Ho sulit membayangkan dirinya mondar-mandir dari toko pakaian yang satu ke toko yang lainnya untuk membeli barang-barang wanita. Itu menyebalkan.


"Kakiku masih sulit digerakkan Seung Ho-ssi, sementara pakaian gantiku sudah tidak ada. Tidak mungkin kan aku meminjam pakaianmu yang sudah pasti oversize untukku. Kumohon sekali ini saja..." Eun So sangat tahu membuat laki-laki di depannya ini begitu kesal.


Seung Ho mencebik karena tidak tahan melihat wajah memelas gadis di hadapannya, juga kedua tangannya yang menyatu untuk meminta belas kasihan darinya. Seung Ho memang tidak bisa menjadi tega dalam situasi seperti ini.


Pada akhirnya Seung Ho memenuhi permintaan housemate barunya itu untuk berbelanja segala keperluan wanita.


Dan di sini lah ia berada sekarang. Distrik Myeongdong, salah satu pusat perbelanjaan raksasa di Korea Selatan. Dengan menenteng beberapa paperbag berisi pakaian, Seung Ho terus meracau tidak jelas.


"Berencana lama di Seoul bisa-bisanya gadis itu tidak membawa banyak pakaian." Romet Seung Ho ketika harus berkeliling distrik untuk mencari beberapa pasang pakaian ganti untuk Eun So yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.


Matanya terbelalak ketika membaca daftar barang terakhir yang ditulis Eun So dalam catatan.


"Ya Tuhan, aku harus masuk ke dalam toko pakaian dalam dan memilih pakaian dalam wanita?" wajah Seung Ho berubah menjadi sangat frustasi. "yang benar saja... Haaahh!" helaan napasnya begitu berat ketika ia mau tak mau harus memutuskan masuk ke dalam toko tersebut.


Di dalam toko dengan jejeran pakaian dalam wanita membuat Seung Ho benar-benar merasa risi. Belum lagi ketika beberapa pembeli di dalam toko tersebut memandanginya dengan tatapan aneh. Seung Ho benar-benar tidak nyaman berada di dalam toko dalam beberapa menit saja. Bagaimana ia harus tetap berada di toko tersebut sambil memilih pelbagai pakaian dalam untuk Eun So yang notabene-nya hanya housemate ilegal—karena belum mendapat izin dari Shin Hyeok.


"Ya Tuhan, kutukan semacam apa ini?"


"Tuan, ada yang bisa dibantu?"


Beruntunglah ada salah satu pelayan wanita yang menegurnya lalu menawarkan bantuan. Setidaknya Seung Ho bisa lega sedikit saja.


"Aku—aku ingin beberapa pakaian dalam wanita. Bisa kah kau membantuku memilihkannya? Atasan, bawahan juga dalaman..." Seung Ho pun harus berbisik-bisik dengan pelayan yang hanya setinggi bahunya itu.


Pelayan berseragam hitam itu tersenyum simpul lalu mempersilakan Seung Ho untuk mengikutinya. Seung Ho pikir setelah menemukan pelayan wanita ia tidak perlu repot-repot lagi untuk memilih. Kenyataannya, ia juga harus ikut repot memperkirakan ukuran 'bra' dan 'celana dalam' yang pas untuk Eun So. Bagaimanapun juga Seung Ho tidak terbiasa memikirkan apalagi harus membayangkan berapa ukuran yang pas.


"Yang akan memakaianya, mempunyai postur lebih kurus sedikit darimu, Nona," Kata Seung Ho pada pelayan tersebut.


Detik itu juga Seung Ho ingin mati saja daripada harus berdebat, 'berapa ukuran' pakaian dalam Eun So.


**