
Shin Hyeok dan Seung Ho menepati janjinya pada Eun So untuk tidak menghubungi ayah Eun So dan melaporkannya. Kedua laki-laki itu pun bersikap biasa saja pada satu-satunya gadis di rumah mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengungkit perihal penyakit yang diderita Eun So. Mereka bersikap seolah-olah Eun So adalah gadis normal yang bisa melakukan apa saja, makan apa saja tanpa menghiraukan segala pantangan.
Bahkan ketika rekan Shin Hyeok, Min Ji mengungkit perihal tayangan yang menghadirkan Dokter Jung, laki-laki yang mempunyai senyum memesona itu menyangkalnya.
“Shin Hyeok-ya, aku merasa familier sekali pada gadis yang kaubawa di jembatan waktu itu.” ujar Min Ji ketika mereka sehabis rapat dengan rekan tim lainnya.
Shin Hyeok sempat gugup ketika Min Ji menyetuskan pernyataan tersebut di telinganya. Bola matanya berputar, mencari jawaban yang akan membuat Min Ji berhenti mengungkitnya.
“Jeongmal? Sebegitu cemburunya kah kau, sampai-sampai kaukatakan gadisku begitu familier untukmu?” tak lupa, Shin Hyeok mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda mantan kekasihnya itu. Setelah lama berpisah, Shin Hyeok memang kerap menggoda Min Ji. Sementara Min Ji seolah kebal dengan segala macam rayuan Shin Hyeok, sehingga sampai saat ini ia masih mempertahankan profesionalitasnya dalam bekerja bersama Shin Hyeok.
Min Ji mencebik kesal. “Aku hanya merasa, gadismu itu mirip sekali dengan putri Dokter Jung yang hilang itu.”
Shin Hyeok tersenyum mlebar, meskipun hatinya kini sedang berdebar-debar. Kali ini ia takut jika ia tidak memerhatikan bicaranya, Min Ji akan curiga. “Di korea ini banyak sekali yang wajahnya mirip, bukan? Bahkan banyak yang bilang kalau aku ini adalah kembaran Choi Si Won, kaupernah dengar kan?” Shin Hyeok pun tertawa lebar ketika mengungkapkannya.
“Kaubenar juga sih,” kata Min Ji kalem. Sepertinya ia begitu setuju.
“Benar tentang apa? Tentang kemiripanku dengan Si Won? Ghamsahamida,” kini tawanya terlihat makin lebar. Sepertinya Shin Hyeok puas sekali mendengarnya. “Dan kautahu? Aku ingin bilang kalau kaumirip sekali dengan Suzy, aktris favoritku.” Godanya lagi.
Alih-alih mengiyakan, Min Ji malah melirik Shin Hyeok begitu tajam. “Aku tidak membenarkan bahwa kau kembaran Si Won. Aku hanya bilang kalau di Korea ini banyak sekali wajahnya yang mirip.” Min Ji langsung bangkit dari tempat duduknya. Baru beberapa langkah, tubuhnya berbalik dan, “Oh ya, terima kasih telah mengatakanku mirip Suzy. Kauorang keseribu yang mengatakannya.” Katanya dengan senyum penuh kemenangan.
Sementara Shin Hyeok yang mendengarnya langsung terdiam, memberenggut bibir. Tapi di sisi lain, ia merasa lega karena bisa mengatasi persoalan Min Ji.
**
Hari-hari Eun So berjalan seperti yang ia mau. Semenjak ia mengubah gaya dan warna rambutnya, ia tidak pernah mengkhawatirkan akan bertemu dengan pengawal-pengawal yang akan membuat penyakitnya kambuh lagi. Eun So benar-benar mendapatkan apa yang ia mau. Gadis itu selalu merusak jadwal Shin Hyeok yang seharusnya dihabiskan dengan kekasihnya, juga merusak acara harian Seung Ho ke Namsan Tower dengan mengajak mereka berkeliling ke tempat-tempat menakjubkan di Seoul. Sialnya, baik Shin Hyeok dan Seung Ho seolah terhinoptis sehingga mereka tidak bisa menolak ajakan Eun So. Termasuk ajakan Eun So kali ini.
“Ya Tuhan, aku tidak pernah memikirkan akan kembali ke tempat ini dengan kalian berdua. Ini benar-benar buruk.” Keluh Shin Hyeok setibanya mereka di pelataran Namsan Tower. “dan hanya orang-orang kesepian yang ke sini sendirian,” dan ia menyindir Seung Ho.
Seung Ho melotot lebar dan siap memukul kepala Shin Hyeok dengan benda apa saja yang sekiranya bisa membuat laki-laki itu berhenti menyindirnya, padahal sebelumnya ia tidak memedulikan Shin Hyeok yang bicara apa saja.
Sementara Eun So yang berdiri di antara mereka, hanya bisa menahan tawanya saja.
“Oppa, berhentilah mengeluh. Ayo kita rayakan hari ini dengan penuh tawa.” Katanya seraya mengapit kedua laki-laki itu di kedua lengannya kemudian berjalan masuk ke arah menara.
Observatorium berhasil membuat Eun So tercengang untuk ke sekian kalinya. Beberapa kali ke Namsan Tower, baru kali ini ia masuk ke dalam ruangan yang dinding kacanya dipenuhi nama kota-kota besar di dunia, beserta jarak tempuhnya.
“Seung Ho-ya, tolong ambilkan fotoku di sini…!” Eun So berdiri tegak di sebelah tulisan kota besar dari Prancis, yaitu Paris. “Aku ingin ke Paris suatu hari nanti. Tapi, kalau tidak bisa ke sana, minimal aku sudah pernah berfoto dengan tulisannya saja.” Katanya dengan senyum khas anak kecil. Memamerkan deretan giginya yang rapi, dan matanya yang semakin indah terlihat jika ia tersenyum.
Sementara Shin Hyeok sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya ketika Eun So m embuat beragam gaya dan Seung Ho mengabadikannya. Laki-laki itu terlihat serius ketika berhadapan dengan ponselnya. Mungkin ada sesuatu yang penting.
“Seoul pada malam hari terlihat indah sekali dari ruangan ini,” katanya takjub. Sejurus kemudian matanya mencari-cari keberadaan Shin Hyeok Oppa yang sedari tadi tidak di dekatnya.
“Seung Ho-ya, ke mana perginya Oppa?”
Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya. Seolah tak begitu memedulikan Shin Hyeok yang sedari awal tidak begitu antusias datang ke tempat favoritnya ini. Kedua matanya masih terpaku pada pemandangan malam dari observatorium.
“Ck! Dia pasti sudah menemukan gadis cantik untuk digoda,” gumamnya seraya beralih, mengelilingi ruangan tersebut demi mendapatkan tempat yang keren untuknya berselca—self camera.
Usai mengunjungi Observatorium, Eun So mengajak Seung Ho ke tempat di mana banyak gembok bertaburan. Awalnya Seung Ho enggan menuruti, namun setelah dibujuk sekian lama laki-laki itu mengikut saja.
“Apa menariknya tempat itu? Tempat itu sering kuhindari, kautahu?”
Eun So mencebik lidah, “Kau ini cerewet sekali. Ikut saja apa susahnya sih?”
“Shin Hyeok bagaimana?” Seung Ho beralasan. “Kita tunggu dia muncul dulu.”
Kedua mata Eun So mengelilingi ruangan, mencari sosok Shin Hyeok yang sejak tiba di ruangan itu tidak terlihat bersama mereka. Eun So berinisiatif untuk mencarinya sendiri, dan menemukan laki-laki flamboyan itu sedang berselca dengan seorang gadis. Eun So menggeleng pelan, benaknya menebak kalau gadis cantik itu adalah hasil buruan Shin Hyeok Oppa malam ini.
“Oppa…!” panggil Eun So setengah manja. Gadis itu sepertinya ingin berbuat iseng dan memberi sedikit pelajaran untuknya. “Akumencarimu daritadi.” Katanya seraya mendekat.
“Kaumengenalnya?” tanya gadis yang mengenakan beannie hat merah itu pada Shin Hyeok.
“Oppa, kau kemana saja? Bukannya tadi aku menyuruhmu membeli cokelat panas, kenapa lama sekali?” Eun So mengelus-elus perutnya seolah ia sedang hamil. “Anak kita butuh kehangatan dari cokelat panas itu,” Eun So berusaha meyakinkan gadis di sebelah Shin Hyeok.
Shin Hyeok tercengang mendengarnya. Ia melirik gadis di sebelahnya dengan ekspresi ‘jangan dengarkan apa yang dia katakan’, namun terlambat. Gadis yang tadi bersamanya terlihat marah.
Eun So pun tertawa lebar mendengarnya.
“Hei… dia bukan istriku. Kembali lah! Kumohon—”
Gadis itu sudah terlanjur jauh. “Eun So-ya, apa yang kaulakukan?” Min Wo mencambak rambutnya sendiri, itu karena ia begitu kesal dengan perbuatannya. Mungkin jika Eun So adalah Seung Ho, mungkin ia akan menghajarnya.
Eun So mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf ‘V’ seraya menjulurkan lidah. Melihatnya, Shin Hyeok pun semakin kesal namun tak bisa menghajarnya karena Eun So bukanlah Seung Ho.
“Oppa… Ayo!” Eun So menggandeng Shin Hyeok dan pergi dari ruangan itu.
**
“Seung Ho-ssi, apa kaupernah memasang satu gembok di sini?” tanya Eun So yang sudah menuliskan permohonannya pada sebuah gembok biasa berwarna pink di tangannya.
Kini, Eun So dan dua pengawalnya—maksudnya Shin Hyeok dan Seung Ho—sudah berada di hadapan gembok-gembok cinta yang memenuhi space. Pandangannya belum lepas, semakin takjub melihat begitu banyaknya gembok dengan permohonan yang indah.
Seung Ho menggeleng cepat. “Kenapa?”
Sementara Shin Hyeok yang berada di antara mereka hanya membuang napas seolah jemu dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
“Bisakah kita—” ujar Shin Hyeok yang langsung dipotong Eun So. Gadis itu berlaku seolah tak ada dirinya di sebelahnya.
“Kenapa belum?”
Seung Ho malah tertawa. “Kaupercaya dengan mitos ini? Yang bilang, bahwa sepasang kekasih tidak akan berpisah selamanya kalau menggantungkan sebuah gembok di sini?” Seung Ho semakin mengeraskan suara tawanya. Tawa itu seperti mengejek. “Ribuan kali Shin Hyeok menggantungkan gembok dengan kekasihnya, tapi yang terjadi, mereka berpisah.”
Mendengarnya, Shin Hyeok membelalak. “Ya, kausedang membalas dendam ya?”
“Benarkah, Oppa?” Eun So memotong, padahal tadinya Shin Hyeok ingin menyekik leher Seung Ho.
Shin Hyeok kepalang malu, ia hanya mengangguk lalu melengos pergi. Seung Ho yang melihatnya hanya tertawa saja.
“Seung Ho-ssi, kautelah melukai hatinya.” Ujarnya seraya menggantungkan gembok dengan harapan di antara banyak gembok.
“Biarkan saja.”
Kemudian Eun So menyusul Shin Hyeok yang belum jauh.
“Eh, Nona Jung, tadi kaumeminta apa?” tanya Seung Ho seraya mensejajarkan langkahnya dengan Eun So. Laki-laki itu begitu penasaran.
“Kenapa kau tidak membacanya tadi?”
“Aku lebih suka menanyakannya langsung padamu.” Kilahnya masih penasaran dengan permohonan yang dituliskan Eun So pada gemboknya tadi.
“Aku cuma meminta supaya lain kali aku bisa ke sini bersama orang yang aku sayang. Permintaan yang sederhana, bukan?” katanya seraya berlari mendekati Shin Hyeok. “Oppa, tunggu aku!” teriaknya semakin mempercepat langkahnya.
Seung Ho mempercepat langkahnya, namun langkah itu terhenti ketika pandangannya tak sengaja melihat pria-pria berjas hitam yang tempo hari menghajarnya demi mendapatkan Eun So. Pria-pria itu sudah menangkap keberadaan Eun So yang kini berjalan di sebelah Shin Hyeok.
“Nona Jung…!” Seung Ho berlari cepat dan menarik tangan Eun So untuk berlari, menghindari pengawal-pengawal yang datang ke Namsan Tower untuk membawanya pulang.
Jung Eun So menjadi sangat bingung namun langkahnya terus mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Seung Ho. “Kenapa kaumembawaku berlari?”
“Lihat di sebelah kirimu!” perintah Seung Ho yang tidak menghentikan langkahnya sedetikpun.
Eun So menurut dan mendapati pengawal-pengawal ayahnya sudah berlari mengejar mereka. Eun So mempercepat langkahnya dan melewati banyak kerumunan meskipun ia harus mendapatkan makian dari orang-orang yang tidak sengaja ia senggol.
“Hei, ada apa?” teriak Shin Hyeok, lalu pandangannya menangkap pemandangan yang sama. Tanpa aba-aba, laki-laki itu mengekor Seung Ho dan Eun So yang sudah berlari lebih dulu.
“Cepatlah Oppa…!” teriak Eun So yang terus berlari sekuat yang ia mampu.
**