
Seung Ho masih mengutak-atik kamera DSLRnya sebelum berangkat ke kantor. Sejak menggantikan posisi Kim Shin Hyeok di acara TalkShow, kamera tersebut tidak dibawanya ke kantor. Agak repot kalau harus meninggalkannya begitu saja di kantor, alhasil ia harus meninggalkannya di rumah. Hari ini pun ia masih menggantikan tugas Kim Shin Hyeok—entah kapan housemate-nya itu pulang, sehingga ia juga akan meninggalkan kameranya itu di rumah, tapi bukan berarti kamera tersebut harus luput dari perawatannya. Seung Ho menyintai kamera itu sama seperti ia menyintai pekerjaannya sebagai trainee reporter.
Baru saja menyimpan kameranya, hidung Seung Ho sudah digoda dengan aroma yang asing namun kelihatan lezat. Ia belum pernah menyium aroma tersebut di dalam rumahnya.
"Hei, apa si Nona merepotkan itu yang membuat aroma seperti ini? Tapi, apa dia sudah bisa berjalan?" Seung Ho tidak sabar ingin cepat-cepat mengetahuinya. Ia pun segera turun dan mengecek isi dapurnya.
"Nona Jung... Apa yang sedang kaulakukan?"
Gadis itu mengenakan hoody abu-abu yang terlihat kebesaran dan jeans belel yang ia belikan semalam. Seung Ho yang penasaran langsung mendekat dan membuat Eun So yang refleks menoleh ke belakang pun langsung menyuguhkan seulas senyum selamat pagi untuk Seung Ho. Namun sayang, laki-laki itu tidak menatapnya, melainkan melirik apa yang sedang ia masak.
"Kausuka tidak? Aku hanya melihat ayam di dalam kulkasmu." Katanya seraya memainkan spatulanya di atas wajan.
"Apa itu enak?" tanyanya sedikit kurang yakin.
"Apa aromanya tidak meyakinkanmu?"
Seung Ho mengernyitkan dahinya. Ia memang tergoda dengan aroma dak galbi yang dimasak oleh Eun So namun ia bukan seseorang yang cepat memutuskan hanya dengan menyium aromanya saja. "Aroma bisa saja menipu kan?"
Eun So mendecak lidah ketika mendengar kalimat sanggahannya. Ia sedang berpikir kalau Seung Ho yang kerap melontarkan kata-kata sarkastis itu tengah meragukan hasil masakannya.
"Kau meragukanku? Baiklah... tunggu saja di meja makan, setelah masakan ini selesai kau akan tahu jawabannya." Eun So mematikan kompor lalu memindahkan dak galbi tersebut ke dalam piring sementara Seung menuruti perintah Eun So untuk menunggunya di meja makan.
Aroma masakan Eun So itu semakin membuatnya lapar. Tentu saja Seung Ho tidak akan mengakuinya sebelum benar-benar bisa merasakan potongan-potongan dadu ayam itu masuk ke dalam perutnya.
"Silakaaann...!" Eun So segera mengambil sumpit dan sendok, menyendokkan nasi ke mangkok Seung Ho lalu membiarkan laki-laki itu menyicip hasil masakannya. "Aku bertaruh kau pasti akan ketagihan dengan dak galbi-ku ini." katanya penuh keyakinan.
"Ghamsahamnida...!" Seung Ho menundukkan kepalanya sejenak lalu menyuapkan nasi yang sudah dicampur dengan masakan Eun So itu ke mulutnya secara perlahan.
Selama tinggal di Seoul, ini adalah pertama kalinya Eun So makan selain bubur ayam buatannya sebagai sarapan pagi. Setelah campuran bahan-bahan juga potongan dadu ayam menyentuh lidahnya, Seung Ho tidak bisa menjelaskan bagaimana kenikmatan itu terjadi di dalam mulutnya.
Eun So yang duduk di depannya menopang dagunya demi menunggu hasil keputusan Seung Ho. Melihat kedua mata laki-laki itu berbinar ketika menelan masakannya, Eun So mengulas senyum senang.
"Bagaimana?" tanya Eun So tak sabaran.
Seung Ho menahan sejenak lalu mengeluarkan kata yang dinantikan namun sudah diduga oleh Eun So sebelumnya.
"Memang tidak seenak masakan Yoogane, tapi bagi lidahku, masakanmu begitu lezat, Nona Jung..."
Senyum Eun So semakin sumringah mendengarnya. "Ghamsahamnida..." ucapnya seraya menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Keduanya melanjutkan sarapan pagi mereka dengan khidmat. Sampai akhirnya Eun So mengingat suatu hal yang ingin ia tanyakan sejak memasuki rumah ini.
"Ah, Seung Ho-ssi, apa kau sudah punya kekasih?"
Reaksi pertama Seung Ho ketika mendengar pertanyaan itu adalah terbatuk-batuk. Laki-laki yang mengenakan seragam kebesaran tempatnya bekerja itu tersedak ketika Eun So dengan tak transparan lagi menanyakan soal kekasih.
"Seung Ho-ssi... Apa kau baik-baik saja?" tanya seraya menuangkan segelas air putih dari teko lalu menyodorkannya pada Seung Ho.
Seung Ho menggerakkan tangan kananya, pertanda kalau ia tidak apa-apa. Kontras sekali dengan apa yang terjadi, padahal sudah jelas Seung Ho terbatuk-batuk akibat mendengar pertanyaan tersebut.
"Memangnya kenapa kalau aku sudah punya kekasih?" tanyanya seraya kembali meneguk minumannya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku takut kekasihmu marah kalau kau terlihat bersamaku. Bisakah kaumemberitahunya kalau kita tidak akan macam-macam?" sepertinya apa yang dipikirkan Eun So sudah berlebihan sekali. Sampai-sampai Seung Ho tertawa lebar mendengarnya.
"Macam-macam seperti apa?" katanya menahan tawa.
Eun So memutar bola matanya, "Seperti perselingkuhan misalnya. Aku tidak ingin kekasihmu cemburu apalagi sampai meminta putus padamu. Aku tidak enak hati kalau sampai hal itu benar-benar terjadi,"
Belum sempat Eun So menyelesaikan ucapannya, Seung Ho sudah menyemburkan tawanya lagi. Ucapan polos Eun So itu sungguh menggelitik di telinganya sehingga ia tidak bisa menahan rasa geli di perutnya.
"Seung Ho-ssi, apa yang lucu?" Eun So begitu terganggu dengan reaksi Seung Ho barusan.
Seung Ho terdiam. "Cara berpikirmu itu." tukasnya penuh penekanan.
"Memangnya kenapa? Aku 'kan hanya mengantisipasi saja kalau-kalau—"
"Sayangnya aku belum punya kekasih, Nona Jung." Potong Seung Ho yang tidak ingin lagi mendengar ekspektasi apapun dari gadis yang baru saja memasakkan sesuatu yang lezat untuknya itu.
Eun So pun menghela napas lega mendengar pengakuan tersebut. "Syukurlah. Dengan begitu aku tidak perlu was-was jika kaumengangkatku jika terjatuh lagi."
"Memangnya kaumau jatuh berapa kali, Nona Jung?" sahut Seung Ho menanggapi kalimat Eun So barusan.
Seperti baru saja mengakui kesalahannya, Eun So langsung terkesiap sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Kekasih itu merepotkan sekali. Aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk makhluk yang dinamakan kekasih karena itu sungguh tidak berguna. Melihat kekasih Kim Shin Hyeok yang kerap meneleponnya sepanjang malam saja aku sudah pusing." lanjutnya begitu santainya.
"Begitu?"
Seung Ho hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Eun So yang sempat salah tingkah oleh ucapannya sendiri pun juga kembali melanjutkan sarapannya.
"Omong-omong, Seung Ho-ssi hoody yang kaubelikan ini kebesaran sekali untukku." Lapor Seung Ho ketika sarapan keduanya hampir habis.
Seung Ho yang mendengar laporan itu hanya menundukkan muka sambil menyembunyikan tawanya.
"Seung Ho-ssi," Eun So tidak mengerti kenapa housemate-nya itu menyembunyikan wajahnya, sedangkan suaranya terdengar tertahan.
Seung Ho mengangkat wajahnya yang sudah kembali normal. Ia tidak ingin membuat gadis di hadapannya itu merasa tersinggung. "Lain kali jangan suruh aku berbelanja pakaianmu. Kau tidak tahu bagaimana malunya aku ketika membeli beberapa barang." Keluhnya yang tak lama menyemburkan tawa ketika mengingat bagaimana wajahnya memerah saat memasuki toko pakaian dalam wanita.
"Seung Ho-ssi, apa yang lucu?"
Seung Ho hanya menggeleng dan melanjutkan kembali sarapannya. Seusainya Seung Ho langsung berangkat ke kantor sedangkan Eun So memilih untuk jalan-jalan di sekitar Seoul sendirian.
**
Eun So mengencangkan syal di lehernya lalu mulai menyusuri pertokoan di lantai dasar. Hari ini ia ingin melihat-lihat saja dan akan membeli jika benar-benar tertarik.
"Seperti inilah hidup yang sesungguhnya..." gumamnya seraya meliarkan pandangan ke toko-toko di sekelilingnya.
Hiruk pikuk pengunjung turut menjadi perhatiannya. Padahal hari masih terbilang pagi namun shopaholic yang menggilai barang-barang branded tidak pernah mengenal waktu. Atau bisa saja pengunjung yang tak pernah sepi meskipun masih pagi itu adalah penikmat saja seperti Eun So. Bisa saja begitu...
"Sepertinya aku pernah melihat gadis ini..." Celetuk salah satu pengunjung yang tak sengaja terdengar oleh Eun So.
Eun So tentu saja keheranan mendengar ucapan salah satu pengunjung yang berpapasan dengannya. Awalnya ia tidak begitu memedulikan, namun setelah ia menoleh ke belakang, kepala pengunjung yang mengenakan mantel kuning dan temannya mengenakan matel hijau muda itu masih belum lepas dari dirinya.
"Apa wajahku mirip artis?" katanya pada pengunjung tersebut sedikit galak.
Spontan saja dua gadis itu membalikkan wajahnya. Eun So sedikit tergelak melihatnya. Dua gadis itu memang terlihat mencolok di antara pengunjung yang lain karena memerhatikannya seperti melihat seorang artis.
"Teman-temanku dulu memang banyak yang bilang wajahku ini mirip Taeyon SNSD tapi ya apakah segitu mencoloknya?" gumam Eun So yang meyoba untuk melupakan soal dua gadis tadi.
Eun So melanjutkan melihat-lihat toko pakaian dan menemukan banyak keganjilan pada pengunjung di salah satu toko yang semua pakaiannya berharga mahal. Mulai dari pandangan yang dirasanya begitu aneh, sampai bisik-bisik pengunjung yang matanya selalu mengarah padanya.
"Apa ada yang aneh padaku?" Eun So memeriksa tubuhnya. Tidak ada yang aneh dalam dirinya. Ia masih terlihat waras.
"Aku seperti pernah melihatnya..."
Eun So benar-benar bingung dengan beberapa pengunjung yang berbisik-bisik di dekatnya. Tidakkah orang tersebut merasa dirinya telah membuat Eun So tak nyaman? Alhasil Eun So memilih jalannya sendiri, memakai t-shirt hoody-nya sambil merapatkan syal di lehernya lalu pergi dari toko tersebut.
"Aneh sekali orang-orang di sini." gumamnya kesal.
**
Seung Ho hanya duduk diam di salah satu kursi tim kreatif yang tengah mengajukan pendapat-pendapat mereka yang kreatif dan inovatif. Sebelum acara yang mereka gawangi tayang secara live di TV, mereka memang sering melakukan rapat seperti ini guna memantapkan tema hari ini. Jika konsep untuk tayangan hari ini sudah matang biasanya mereka sudah mewacanakan tema untuk tayangan besoknya.
"Bagaimana kalau episod besok kita mengundang Dokter Jung?" usul Kang Min Ji selaku bagian dari tim kreatif.
Yang Seung Ho dengar dari Shin Hyeok, perempuan berambut bergelombang itu memang sering mengajukan banyak narasumber untuk acara mereka. Dan untuk informasi saja, Kang Min Ji pernah menjadi kekasih Shin Hyeok selama beberapa bulan. Setelah mereka putus, mereka tetap berada di dalam divisi yang sama dengan mengatasnamakan 'profesionalitas'.
"Tentu, Dokter Jung memang akan diagendakan menjadi salah satu narasumber, tapi tidak untuk besok, Min Ji-ya..." ujar Han Hae Yeon memberitaukan yang lain. Laki-laki berperawakan tinggi dan menggunakan kacamata itu adalah leader di divisi ini.
"Akhir-akhir ini wajah Dokter Jung kerap muncul dalam reportase TV kita, namun tak sekalipun ia diundang ke dalam talkshow kita agar penonton bisa mengetahui dengan jelas apa yang sedang ia alami sehingga dapat membantunya dengan maksimal." Komentar Choi Ha Ra, satu-satunya anggota yang hobi bergosip. Kenapa ia tidak masuk bagian acara gosip saja ya?
Dan pergosipan pun menguar diantara sembilan tim kreatif tersebut. Suara-suara yang berdengung di telinga Seung Ho itu membuatnya sedikit bosan.
Seung Ho menguap saking bosannya mendengar mereka berbicara. Kegunaannya di ruang tersebut hanya pelengkap penderita saja. Jikalau ada voting tentu akan sangat membantu, jika tidak, Seung Ho hanya bisa menguap sambil merencanakan jurus apa yang akan ia layangkan pada Shin Hyeok kalau pulang nanti. Bagaimanapun juga, rekan sekantornya itu sungguh-sungguh membuatnya kesal dengan merekomendasikannya untuk menggantikannya selama pergi berlibur.
"Park Seung Ho-ssi... Apa Shin Hyeok masih lama berlibur? Kapan ia kembali?" pertanyaan seperti inilah satu-satunya yang bisa dijawab oleh Seung Ho. Selain Seung Ho, tentu saja Min Ji tahu bagaimana tabiat mantan kekasihnya itu sehingga ia mengucapkan kata 'berlibur' bukannya 'menjenguk ayahnya'.
Untungnya rapat tersebut sudah selesai sehingga yang tersisa di dalam ruang rapat hanyalah Seung Ho yang baru ingin memejamkan kedua matanya. Kang Min Ji yang seharusnya ikut ke mana rekan-rekannya pergi pun berhenti sejenak untuk menanyakan sesuatu yang penting baginya itu pada Seung Ho.
"Na molla..." jawabnya pendek. "Kang Min Ji-ssi, kenapa kau tidak menghubunginya saja dan tanyakan padanya, kapan ia akan membebaskanku dari semua ini."
Perempuan berpotongan rambut sebahu dengan poni menyimpang ke kiri itu kembali ke tempat duduknya dengan senyum yang terkembang.
"Kenapa? Apa di sini ada yang membuatmu tidak nyaman? Katakan saja, Seung Ho-ssi, aku tidak akan mengadu."
Seung Ho spontan menggeleng, "Tidak... Hanya saja ini bukan passion-ku."
Min Ji mengernyit, "Bukannya kami tidak menuntutmu banyak? Kau hanya diperintah untuk memegang papan tanda break, bukan?"
Memang tidak ada yang salah dengan itu, tapi Seung Ho tetap tidak menyukai pekerjaan seperti ini.
"Entahlah Min Ji-ssi, mungkin aku hanya merindukan Tae Yang Hyung," desahnya.
Kang Min Ji bangkit dari tempat duduknya lalu mengucapkan, "Tenang saja Seung Ho-ssi, aku punya firasat kalau temanmu itu tidak akan lama berlibur, juga tidak akan lama dengan gadis yang bersamanya sekarang." Senyum Min Ji begitu misterius sehingga Seung Ho yang tadinya lesu menjadi terpukau mendengar ucapannya tersebut.
"Apa dia seorang cenayang? Kang Min Ji, kelihatannya kaumasih menyukai mantan kekasihmu..." gumam Seung Ho seraya bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti ke mana Kang Min Ji pergi.
Tentu saja mereka akan ke studio.
**
Aroma kimchi bokkeunbap yang disuguhkan pramusaji Yoogane restaurant begitu menggoda caping hidung Eun So. Gadis itu tidak sabar ingin menghabiskan makanan tersebut sehingga punya tenaga ekstra untuk berjalan lebih lama di MyeongDong. Bahkan sendok dan sumpit sudah ia ambil dari laci meja sebelum pramusaji sampai di tempat duduknya.
"Ghamsahamnida..." ucap Eun So pada pramusaji tersebut.
Ketika Eun So ingin memakan kimchi bokkeunbap, Eun So merasa sedang diperhatikan oleh... pramusaji yang belum juga pergi dari tempat duduknya. Eun So terpaksa harus menunda makannya, padahal mulutnya sudah ternganga dan makanan hampir masuk, namun melihat pramusaji yang belum beranjak tersebut Eun So jadi enggan melanjutkan.
"Maaf Tuan, apa ada yang bisa kubantu?" tanyanya sedikit sinis.
"Aniya, lanjutkan saja makannya." Kata pramusaji tersebut sembari mempersilakan Eun So kembali.
"Apa kauingin makan ini juga?" tanyanya sarkartik, mungkin Eun So kelewat kesal dengan tingkah pramusaji tersebut yang membuatnya tidak nyaman.
Pramusaji tersebut hanya menyunggingkan bibirnya lalu melengos dari tempat Eun So.
"Apa aku sebegitu mirip artis sampai-sampai dia memandangiku terus seperti tadi?" gerutu Eun So yang langsung disambung dengan mengunyah nasi goreng khimci-nya.
Eun So mengerlingkan pandangannya pada siaran TV yang tergantung di dinding dekat mejanya berada. Sambil mengunyah makanannya, Eun So berusaha menikmati iklan TV sama dengan menikmati makanan di dalam mulutnya. Iklan-iklan makanan, produk kecantikan bahkan iklan barang elektronik bergulir begitu saja tanpa diperhatikan Eun So dengan seriusnya. Tapi tidak dengan reportase yang tiba-tiba saja muncul dan membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Kedua mata Eun So langsung membola. Ditelannya makanannya untuk terakhir kalinya. Dengan perlahan Eun So melihat ke sekelilingnya, lalu mengambil beberapa lembar uang kertas dan meletakkannya di atas meja begitu saja. Seolah terburu-buru, Eun So lalu bergegas keluar dari restaurant sebelum semua orang berhasil mencurigainya.
"Diktator itu..." Eun So mengentakkan kakinya untuk kemudian mengenakan kembali hoody-nya lalu berjalan menunduk.
**