
Ketika Eun So membuka kedua matanya, langit masih belum memperlihatkan si bulat merah yang menggantikan gelap menjadi terang. Eun So terbangun ketika pagi masih dikatakan sangat pagi. Ketika kepalanya bergerak ke arah nakas yang berada di tepi ranjang sebelah kiri, kedua matanya menemukan jam weker dengan jarum pendek yang masih betah diangka 4. Di saat yang bersamaan pula Eun So merasakan ada sebuah benda yang merosot dari kepalanya. Eun So refleks menyentuh benda yang ternyata adalah lipatan handuk basah yang kini terasa hangat. Suhu di kepalanya lah yang membuat handuk itu setengah hangat.
Eun So mendesah pelan. Mengingat kejadian kemarin malam membuatnya sedikit frustasi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika pengawal itu menemukannya lagi. Seandainya kemarin malam ia tidak bersama Shin Hyeok, mungkin keempat pengawal itu berhasil membawanya. Eun So mulai bingung. Kepalanya mulai memikirkan cara apa yang harus ia lakukan supaya pengawal-pengawal itu tidak mengenalinya ketika nanti ia jalan-jalan di Seoul. Setelah menemukannya kemarin malam, hal yang tidak mungkin kalau bos dari pengawal itu tidak mengerahkan pengawal dengan jumlah yang lebih banyak untuk mencarinya. Dan akan dipastikan Seoul menjadi titik fokus dalam pencaharian atas dirinya.
Eun So menggerakkan tubuhnya, di situlah ia kembali merasakan nyeri di sekeliling pinggangnya. Eun So lantas memalingkan pandangannya ke sisi ranjang sebelah kanan, terlihat Seung Ho sedang menimpakan kepalanya di tepi tempat tidurnya.
“Seung Ho…” kedua mata Eun So juga benda yang sama—dengan yang di dahinya—menempel di kedua kakinya. “Dia yang mengompresku?” kedua ujung bibirnya tertarik dengan sendirinya. Ingatannya serasa dilempar pada kejadian sebelum ini, ketika kakinya menjadi lumpuh dan Seung Ho menurutinya untuk tidak membawanya ke rumah sakit. Seung Ho memang laki-laki yang baik. Seandainya ia tahu seperti apa kondisi sebenarnya dari Eun So, mungkin ia tidak akan mungkin masih mau membiarkan Eun So tinggal di rumahnya. Untungnya, sampai saat ini laki-laki itu tidak tahu menahu soal dirinya, sehingga ia masih bisa lebih lama lagi merasakan kebebasan sebelum akhirnya pengawal itu datang dan membawanya kembali.
Eun So menggerakkan tangannya, bermaksud ingin membangunkannya namun enggan karena Seung Ho terlihat masih pulas. Eun So tidak begitu tega membangunkannya. Dengan gerak pelan, gadis itu merangkak ke tepi ranjang satunya—yang tidak ditiduri Seung Ho—lalu turun untuk menemukan sesuatu. Sakit dipinggangnya masih bisa ia tahan jika harus berjalan di sekitar kamar saja. Sambil memegangi pinggangnya, Eun So berjalan berjingkat, sehingga Seung Ho yang tertidur dengan kepala telangkup tidak terbangun.
“Ada di mana tasku?” Eun So mengelilingkan matanya ke setiap sudut ruangan, namun tak menemukan ranselnya.
Eun So harus segera menemukan ransel yang di dalamnya terdapat obat penahan rasa sakit atas sakit di pinggangnya. Ia harus segera meminumnya sebelum rasa sakitnya semakin tak tertahankan.
“Nona Jung… Kausudah bangun?” satu suara membuat Eun So terkesiap dan refleks memalingkan pandangannya ke belakang. Dilihatnya Seung Ho sedang meregangkan persendiannya sebelum akhirnya benar-benar bangkit dan berdiri.
“Seung Ho-ssi, maaf sudah membuatmu terbangun.” Raut wajah Eun So menyiratkan perasaan bersalah.
“Kausedang mencari apa, Nona Jung?” tanya Seung Ho mengabaikan pertanyaan Eun So barusan.
Eun So mendadak gugup, tangannya yang tadi menopang pinggangnya ia turunkan. “Aku-aku mencari tasku,” katanya pelan.
“Oh, benda itu?” Seung Ho membungkukkan tubuhnya dan menarik sesuatu dari bawah kolong tempat tidur Eun So. “Ini dia. Mungkin aku tidak sengaja menyenggolnya hingga masuk ke dalam kolong.” Ujarnya seraya menyerahkan tas tersebut pada pemiliknya.
“Terima kasih.” Eun So langsung menyambar tas tersebut dan mencari sesuatu dari dalamnya. Ketika menemukan sebuah silinder berukuran mini, gadis itu langsung membuka dan mengambil beberapa butir obat dari dalamnya. Matanya beralih ke arah nakas dan menemukan segelas air putih di sana. Tidak ada aba-aba, Eun So langsung mengambil gelas tersebut dan menelan beberapa butir obat di tangannya lalu menenggak habis isi dari gelas tersebut.
Sementara Seung Ho yang memperhatikan kejadian itu hanya bisa mengerutkan keningnya. “Itu… obat apa?” tanya Seung Ho begitu penasaran, namun Eun So hanya menggeleng diiringi senyum simpul yang membuat Seung Ho berhenti bertanya
**
Pagi-pagi sekali Eun So sudah meninggalkan rumah untuk pergi jalan-jalan. Shin Hyeok sempat melarangnya mengingat kondisinya sangat lemah setelah perkara kemarin malam namun gadis itu tidak mengindahkannya. Seung Ho yang tidak tahu menahu mengenai peristiwa yang membuat luka di wajah Shin Hyeok semakin banyak hanya diam saja. Laki-laki itu merasa tidak berhak melarang gadis itu pergi. Lagipula, apa pedulinya?
Semuanya berjalan seperti biasanya. Shin Hyeok berangkat ke kantor lebih dulu sedangkan Seung Ho menyusul beberapa menit setelahnya dan bertemu kembali dengan Shin Hyeok. Seung Ho hampir masuk ke dalam bis, jika saja tak menyadari ponselnya tertinggal di rumah. Laki-laki itu terpaksa harus kembali ke rumahnya dan membiarkan Shin Hyeok mendahuluinya sampai di kantor.
Sesampainya di rumah, Seung Ho langsung masuk dan mencari ponselnya yang ternyata masih berada di dalam kamarnya. Ia pun segera keluar karena tidak ingin terlambat ke kantor. Ketika Seung Ho selesai mengunci pintu rumah, tiba-tiba saja lima orang berjas hitam formal menemuinya dengan wajah tak bersahabat.
“Apa kauyang punya rumah ini?”
Keheranan Seung Ho semakin bertambah ketika ternyata lima orang yang tak dikenalnya tadi menghadang dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya.
“Ne. Kalian-ada perlu apa?” kening Seung Ho masih mengernyit ketika salah satu dari lima orang tersebut menanyakan Eun So. Seung Ho mengiyakan—tentu—dengan perasaan yang semakin curiga kepada mereka.
Seung Ho ambruk menatap lantai tera, sedangkan kunci rumah yang masih tergenggam di tangannya terjatuh begitu saja. Salah satu teman dari pria misterius yang melayangkan pukulan ke perut dan menendangnya hingga terkulai itu mengambil kunci tersebut dan membuka pintu rumahnya secara paksa.
“Hei! Apa yang kalian lakukan? Hei! Ini rumahku! Hei!” Seung Ho masih sanggup untuk berdiri lagi dan menghadang empat orang pria yang sudah memasuki rumahnya dengan bebas. Seperti mencari sesuatu yang entah apa itu.
Sementara pria berjas hitam formal yang memukulnya tadi menahan Seung Ho bahkan kembali memukul wajah Seung Ho hingga hidung laki-laki itu mengeluarkan sedikit darah. Amarah Seung Ho meningkat ketika dilihatnya orang-orang misterius itu naik ke lantai atas. Baginya hal itu sudah keterlaluan. Diluar batas kesopanan.
“Hei, siapa kalian? Kenapa kalian lancang sekali masuk ke dalam rumahku, hah?” Seung Ho ingin berlari dan mengusir pria-pria asing itu keluar namun pria yang satu mencekal kedua tangannya sehingga Seung Ho tidak bisa berbuat apa-apa.
“Heh! Lepaskan aku!” Seung Ho memberontak namun cekalan pria tersebut begitu kuat hingga tubuhnya yang lebih kurus tak bisa menandinginya.
“Ya… Nona Jung tidak ada di dalam!” lapor salah satu pria yang tadi naik ke lantai atas kepada rekannya yang masih mengunci Seung Ho.
“Cari lagi dengan benar! Tidak mungkin informasinya salah!” perintahnya sangat ambisius.
“Nona Jung?” Seung Ho membatin dan mulai menerka-nerka siapa Nona Jung yang dimaksudkan mereka. memang ada seorang nona bermarga Jung yang tinggal di rumahnya, namun apakah nona Jung yang mereka maksud adalah nona Jung yang sama? Memangnya apa hubungan Jung yang ada di dalam pikirannya dengan tukang pukul seperti mereka?
Seung Ho terus berekspektasi sementara tubuhnya terus memberontak dari cekalan pria kekar tersebut.
“Tidak ada juga di mana-mana. Kami sudah mengecek seluruh ruangan di atas dan di bawah.” Kata salah seorang pria yang diikuti oleh anggukan ketiga rekannya.
“Bagaimana mungkin?” Pria yang mencekal tangan Seung Ho melepaskan genggamannya dan membiarkan keempat rekannya yang lain untuk menggantikan posisinya. Posisi Seung Ho semakin sulit jadinya. Saat ini bukan hanya ada satu pria yang memegangi tangan dan tubuhnya, melainkan tiga orang dengan kekekaran yang sama.
“Di mana kau sembunyikan nona Jung, hah?” sorot matanya begitu tajam dan membuat Seung Ho semakin bingung.
“Nona Jung siapa yang kaumaksud?” melihat sikap kelima pria tersebut, Seung Ho menjadi mantap untuk merahasiakan bahwa ada Jung lain di rumah ini. Ia tidak ingin Eun So mengalami hal yang lebih buruk darinya.
“Jangan berlagak bodoh, di mana kausembunyikan Nona Jung, hah?” laki-laki itu menampar wajah Seung Ho, namun Seung Ho tetap mencibir pria-pria itu dengan sarkastis.
“Apa mata kalian tidak sejalan dengan isi kepala kalian?”
“Sial! Apa maksudmu?” pria yang menamparnya tadi merasa tersinggung.
“Bukannya kalian sudah memeriksa, lalu kenapa masih bertanya. Aku akan melaporkan kalian atas kelancangan kalian di rumahku!” selesai mengucapkan kalimat tersebut, pria yang ada di hadapan Seung Ho langsung menyerang Seung Ho. Membuatnya kembali merasakan kesakitan di perutnya karena pria tersebut menendang Seung Ho dengan lututnya.
Seung Ho tidak bisa melakukan banyak hal kecuali memberontak dari cekalan mereka. Hingga mereka sukses menghajar Seung Ho, kelima pria misterius itu pun pergi dan meninggalkan lebam di wajah Seung Ho juga perasaan melilit luar biasa sakit di perutnya.
**