
Seung Ho berdiri terpaku di seberang jalan zebra cross. Menunggu bersama pengguna jalan lain yang akan ke seberang jalan. Seung Ho tidak mengerti kenapa suara tertawa dan ucapan demi ucapan yang dikeluarkan oleh Shin Hyeok dan Eun So begitu tenangnya itu membuatnya terngiang-ngiang terus. Semakin ia berusaha untuk tidak mengingatnya, semakin ucapan itu menari-nari di atas kepalanya.
“Dia memang Jung Eun So, kautahu? Bahkan sebelum kau yang mengetahuinya aku sudah lebih dulu mengetahuinya.” Masih terbayang dengan jelas wajah Shin Hyeok yang menertawakan kebodohannya. “Dan yang harus kauperlu tahu dia ini adalah adikku. Bukan kekasihku.” Suara tawanya juga masih terdengar dengan jelas di kedua telinganya.
“Bertahun-tahun aku meyakini ibuku telah meninggal, tapi di malam itu ayahku menceritakan semuanya. Ibuku tidak meninggal dunia melainkan meninggalkan ayahku bersama mantan kekasihnya.” Penjelasan itu bahkan membuatnya semakin merasa konyol.
“Ini seperti drama seri saja…” Seung Ho menarik napas kemudian. Diliriknya lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Seraya menunggunya menjadi merah Seung Ho menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghilangkan sensasi dingin yang sejak tadi ia tahankan. Tadi ia pergi begitu saja hingga tak sempat mengenakan mantel hangat.
Tak lama, lampu merah telah menyala dan gerombolan pengguna jalan yang akan menyebrang mempercepat langkahnya. Baru sampai di tengah zebra cross, pejalan kaki sudah dikacaukan oleh pengguna mobil yang membunyikan klakson dengan keras. Pengemudi mobil itu tidak mematuhi lampu merah sehingga banyak pejalan yang menyebrang berhamburan menghindari mobil tersebut.
“Awaaaasss…!”
Seung Ho pun tersentak, secepat kilat lampu sebuah mobil menyilaukan pandangannya. Seung Ho tidak sempat berlari untuk menghindar karena sesuatu telah mengenai tubuhnya. Seung Ho merasakan tubuhnya terhempas begitu jauh. Setelahnya, pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.
**
Shin Hyeok yang tengah santai menikmati acara TV menjadi risih ketika ekor matanya melihat Eun So mondar-mandir sambil meracau tak jelas. Mungkin perasaannya sedang gelisah.
“Hei—tidak bisakah kau duduk?”
Eun So menoleh dan mencebik.
“Oppa, ini sudah hampir larut. Kenapa Seung Ho belum pulang juga?” Eun So beralih dan menduduki sofa yang berada di sebelah Shin Hyeok.
“Seung Ho? Kenapa tiba-tiba kaumengkhawatirkannya seperti ini? Memangnya kau ini ibunya?” Shin Hyeok sedikit tertawa ketika mengatakannya.
“Ahh, bukan begitu Oppa—”
“Mungkin dia memang belum bisa menerima kenyataan. Aku rasa ia sekarang sedang menyepi di tempat favoritnya.” Yang dimaksudkan Shin Hyeok adalah Namsan Tower.
“Tidak Oppa… Tapi ini sudah hampir tengah malam, dan ia belum juga—”
“Hei…” Shin Hyeok memotong. “Seung Ho itu memang sulit sekali di tebak, tapi aku tahu bagaimana sifatnya. Dia pasti sedang menikmati makan malam di sana. Tidak perlu mengkhawatirkannya terlalu berlebihan.”
Meskipun Shin Hyeok sudah memperingatinya namun suasana hati Eun So belum juga lepas dari perasaan gelisah. Ia juga sudah berusaha menepisnya namun di kepalanya hanya terbayang ekspresi kaku Seung Ho sebelum meninggalkan rumah tadi. Eun So benar-benar tidak tenang semenjak perasaan bersalah lamat-lamat menggerogoti pikirannya.
“Tapi Oppa, dia pergi dalam suasana hati yang tidak baik. Aku takut kalau—“
“Kalau Seung Ho akan bunuh diri?” Shin Hyeok memotong. “Itu tidak mungkin, kau tenang sajalah di rumah. Jangan mondar-mandir seperti itu, karena aku mulai pusing melihatnya.” Dengan santai Shin Hyeok memusatkan perhatiannya pada tayangan televisi kembali.
“Tidak bisa Oppa… Bukan begitu. Aku mulai mera—”
Belum sempat Eun So melanjutkan ucapannya, ponsel Shin Hyeok berbunyi. Ketika Shin Hyeok melihat nama Seung Ho yang tertera, Shin Hyeok segera menunjukkannya pada Eun So.
“Kau lihat?” Shin Hyeok memperlihatkan layar ponselnya pada Eun So. Gadis itu sedikit terpana. “Dia sedang meneleponku, itu berarti tidak terjadi apa-apa dengannya.”
“Yeoboseyo—Ya, kau—” Ekspresi Shin Hyeok langsung berubah. “Apa? Kautidak sedang bercanda kan? Apa dia parah? Di mana dia sekarang?”
Eun So yang mendengar dan melihat ekspresi Shin Hyeok menjadi semakin cemas. Memangnya apa yang sedang terjadi?
“Oppa—”
Shin Hyeok menutup telepon lalu bangkit dengan terburu-burunya.
“Eun So-ya, kaubenar. Dia sedang berada di rumah sakit sekarang. Dia ditabrak seorang pemabuk, keadaannya kritis. Cepatlah, kita harus ke sana sekarang juga.” Katanya cepat, nyaris tanpa jeda.
Eun So mengerjap tak percaya. “Ya Tuhan!” Ia lalu mempercepat gerakan tubuhnya. Berlari menyusul Shin Hyeok yang sudah mengenakan sepatu, dan sekarang mereka berdua sudah meninggalkan rumah.
**
Air mata Eun So jatuh begitu saja ketika melihat tubuh Seung Ho terbaring lemah dengan perban mengelilingi dadanya. Ia telah mendengar kronologi kecelakaan Seung Ho dari seseorang yang membantu Seung Ho ke rumah sakit dan merasa sangat terpukul. Jika saja ia tidak melakukan permainan itu mungkin Seung Ho tidak akan ke sana dan mengalami kecelakaan itu malam ini.
“Seung Ho-ssi…” suara Eun So bergetar. Ia seperti ingin mengeluarkan banyak kata yang akan menunjukkan perasaan bersalahnya, namun Eun So tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan satu katapun.
Eun So merasa setiap kalimat yang keluar nantinya akan terasa sia-sia. Seung Ho tetap tidak sadarkan diri dengan kondisi yang memprihatinkan. Dan semua itu karena kesalahannya.
“Eun So-ya…” Shin Hyeok yang baru masuk ke dalam ruang rawat, menyentuh pundak Eun So pelan. “Dia pasti akan baik-baik saja.” Shin Hyeok hanya sekadar menenangkan adiknya itu.
Dokter telah mengatakan luka yang diterima Seung Ho begitu parah sehingga Seung Ho harus dirawat secara intensif. Setelah ia pulang dari rumah sakit nanti, Seung Ho masih tidak diperbolehkan untuk melakukan apapun selama beberapa hari guna mempercepat lukanya.
“Oppa—” Eun So mengusap air matanya. “Aku tidak tega melihatnya seperti ini,”
Seung Ho bukan satu-satunya korban pengemudi mabuk itu, sekitar 3 orang juga mengalami luka ringan di sekujur tubuhnya namun Seung Ho adalah satu-satunya yang terparah.
Di dalam keheningan, Shin Hyeok menangkap kedua bola mata Seung Ho berputar. Lamat-malat, kedua mata itu membuka. Seung Ho telah sadarkan diri.
Eun So buru-buru mengeringkan air matanya, lalu menyunggingkan kedua sudut bibirnya pada Shin Hyeok yang juga melakukan hal yang sama. Kedua bersaudara itu terlihat bersuka cita dengan kesadaran Seung Ho.
Seung Ho mengangkat tangannya dan memegangi kepalanya yang dipenuhi benda putih. Seung Ho tampak meringis, menahan sakit.
“Seung Ho-ya… Kau jangan bergerak terlalu banyak dulu,” ujar Shin Hyeok seraya membantu Seung Ho menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur.
Seung Ho melemparkan pandangannya lekat pada Shin Hyeok, lalu pada Eun So yang wajahnya memerah—habis menangis.
“Ka-ka-lian…” ucapan Seung Ho terbata-bata.
“Ya? Kaumau mengucapkan apa?” Shin Hyeok mendekatkan kepalanya pada Shin Hyeok agar suara samar Seung Ho dapat didengar olehnya.
“Ka-kalian… Ssii-siapa—”
**
Pertanyaan itu begitu sederhana dan lembut, namun sanggup menghujam jantung Shin Hyeok hingga
“Seung Ho-ya… Kaubicara ap—kau—tidak-mengingat—Seung Ho-ya, aku-aku ini—” sebulir air mata luruh begitu saja di pipi kanan Shin Hyeok. Entah bagaimana kenyataan yang terjadi sekarang lebih menyedihkan. “Aku—aku ini temanmu…”
Seung Ho hanya menatap Shin Hyeok dengan tatapan datar. Bahkan laki-laki itu tidak melihat air mata Shin Hyeok yang mulai kering.
“Oppa—Apa yang terjadi?” sepertinya Eun So mulai panik melihat Shin Hyeok terlihat gelisah.
“Dia—dia tidak-mengingat kita—” Shin Hyeok menundukkan frustasi. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Seung Ho mengalami amnesia? Tapi kenapa tadi Dokter tidak mengatakan hal ini?
Atau jangan-jangan… Dokter juga tidak tahu?
“Seung Ho-ssi, apa kau benar-benar tidak mengingat kami?” Eun So kembali bertanya. “Kau benar-benar tidak ingat?” bahkan nadanya sedikit meninggi. “Seung Ho-ssi, aku Eun So dan ini teman serumahmu, Shin Hyeok. Seung Ho-ssi, kaubenar-benar tidak mengingat kami?”
Seung Ho bereaksi, namun bukan reaksi yang diinginkan oleh Shin Hyeok ataupun Eun So. Seung Ho meringis menahan sakit dan berteriak. Kedua tangannya tarangkat dan meremas-remas rambutnya. Seung Ho terus melakukanya, bahkan ia terlihat seperti kesetanan ketika Shin Hyeok ingin menghentikannya.
“Tolong pergilah…! Pergi…! Pergi…!” Seung Ho mulai histeris. Ia terus memegangi kepalanya sambil meraung kesakitan.
“Ya, tentu kami akan pergi… tapi—” Shin Hyeok mengangkat kaki dan berencara memanggil dokter.
“Tidak… Aku tidak mau pergi…” Eun So membangkang.
Shin Hyeok langsung memegang kedua bahu Eun So dan menggeret gadis itu keluar agar Seung Ho tidak terus merasa tersiksa.
“Ya, sebaiknya kita jangan memporsisnya seperti itu…” bisik Shin Hyeok mencoba tenang.
Eun So menurut dan mengangkat kakinya. Dipandanginya sekali lagi Seung Ho yang masih mendesis kesakitan. Perasaannya kini semakin tidak tenang. Dan dengan berat hati, Eun So menjauhi Seung Ho bersama Shin Hyeok yang masih berusaha menenangkan perasaannya.
“Hey—kalian!”
Suara itu refleks menghentikan langkah Shin Hyeok dan Eun So. Keduanya terkesiap dan langsung berbalik secara bersama. Air muka keduanya begitu terkejut ketika mendapati Seung Ho duduk menyandar dengan tenang. Tidak sehisteris beberapa menit yang lalu.
“Bagaimana rasanya diisengi seperti tadi?” laki-laki itu menaikkan kedua alisnya. “Aku bahkan sudah terbangun jauh sebelum kalian datang ke sini. Aktingku bagus kan?” sekarang pandangan Seung Ho mengarah pada Shin Hyeok yang ekspresi wajahnya menunjukkan sebuah keterkejutan.
“Seung Ho—” Eun So hanya bisa menggumam dan kelegaan mulai menaungi perasaannya.
“Sepertinya kalian sedang terkejut.” Seung Ho mengurai senyum jahilnya. Lalu tertawa lebar, seperti sudah puas telah membuat kedua orang itu menjadi cemas tadi.
“Sialan!!!” Shin Hyeok geram dan langsung menghampiri Seung Ho dan memukul kepalanya. “Aku hampir mau mati melihat keadaanmu, kau malah bercanda. Kau tahu ini tidak lucu!” Shin Hyeok terus mencambak-cambak kepala Seung Ho seperti Seung Ho tadi melakukannya. “Kau bilang aktingmu bagus? Jelek sekali!” Sepertinya Shin Hyeok belum puas dan berencana merontokkan semua rambut Shin Hyeok.
“Hei—bukannya kita impas? Hentikan! Jangan lakukan lagi… Shin Hyeok—”
“Tidak akan—biar kurontokkan saja semua rambutmu!”
Eun So mendekati keduanya dengan langkah yang begitu tenang. Seiring jarak yang hilang, Eun So merasakan dadanya bergemuruh. Namun bukan gemuruh yang sama. Jantungnya telah berdegup lebih kencang dari biasanya ketika melihat senyum Seung Ho yang lepas.
**