Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 15



Seung Ho masih menyikat gigi di depan cermin wastafel ketika kamar hotelnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti Jun Hee. Kalau tahu akan begini, ia tidak akan mengunci kamarnya sehingga ia tidak perlu buru-buru menyelesaikan aktivitasnya. Gadis itu pasti sudah siap untuk jalan-jalan ke luar hotel. Malam ini malam tahun baru dan mereka akan bekerja sambil menikmati pergantian tahun yang setiap tahun menjadi semarak di Nami Island.


Seusai berkumur-kumur, Seung Ho langsung bergegas dan membuka pintu untuk Jun Hee. Alih-alih melihat Jun Hee yang sudah berpakaian rapi, Seung Ho malah melihat sosok lain yang membuat kedua matanya mengerjap tak percaya.


“Shin Hyeok-ya?!”


Laki-laki yang disebutkan namanya hanya mengumbar senyum seraya mengangkat kedua bahunya. “Syukurlah… aku tidak salah kamar lagi.”


“Bukannya kau ada di Busan?” Seung Ho masih berdiri di depan pintu dan tidak segera menyilakan laki-laki bermantel hitam—Shin Hyeok masuk ke dalam kamar.


“Bukannya kautahu kalau aku tidak suka berlama-lama di Busan? Jadi, kuputuskan untuk menghabiskan sisa liburan akhir tahunku dengan menyusulmu dan berlibur bersama…” Shin Hyeok melangkahkan kakinya selangkah ke kiri dan menyisakan seorang gadis bermantel merah mudah, beanni hat senada dengan mantel yang menaungi rambut blonde ikalnya di hadapan Seung Ho. Gadis itu menyunggingkan bibirnya dan bersikap ramah kepada Seung Ho.


Seung Ho memandang takjub. Rupanya Shin Hyeok tidak sendirian mengunjunginya ke Nami Island. Seung Ho menebak bahwa gadis ini pasti kekasih barunya.


“Kenalkan, namanya Kim Tae Yoon.” Lanjut Shin Hyeok menyeringai.


“Oh… Silakan masuk…” akhirnya Seung Ho tersadar kalau mereka terlalu lama berdiri di depan pintu.


Shin Hyeok dan gadis bernama Tae Yoon itu pun masuk lalu menyilakan keduanya duduk di sofa.


“Untung kaucepat datang. Kalau tidak, kaupasti tidak akan menemukanku.” Ucapnya seraya menyuguhkan kedua tamunya itu dengan Soju. “Aku hanya punya itu di kamar.”


“Terima kasih,” ucap Tae Yoon masih tersenyum ramah kepada Seung Ho.


“Ya Tuhan, aku ingat kalau kau ke sini bukan untuk berlibur ya. Kasihan sekali kau ini. Di malam tahun baru begini kaumasih saja bekerja.” ledek Shin Hyeok menggelengkan kepala tanda prihatin. Berselang beberapa detik, laki-laki itu pun menenggak soju untuk menghangatkan tubuhnya.


“Terserah apa katamu, tapi aku sangat menyukai pekerjaanku ini. Lagipula, ini sama saja seperti liburan bagiku. Bahkan aku tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk ke sini.” katanya merespon ucapan Shin Hyeok.


Seung Ho beralih ke arah single bad lalu mengenakan mantel dan beannie hat yang tadi tergeletak di atas tempat tidurnya.


“Omong-omong, selama kau di sini, kau menginap di mana?” tentu Seung Ho ingin tahu di mana Shin Hyeok menginap selama di Nami Island.


“Di hotel yang sama denganmu.” Sahut Shin Hyeok singkat.


Seung Ho melirik Tae Yoon sejenak lalu mengambil kamera yang juga tergeletak di atas tempat tidurnya. Beberapa kali memperhatikan gadis itu, Seung Ho merasa tak asing. Namun perasaan seperti itu segera di tepisnya mengingat ia tidak mengenal banyak gadis di Seoul seperti Shin Hyeok. Mungkin hanya perasaannya saja.


“Kamar nomor berapa?” tanya Seung Ho benar-benar ingin tahu.


Shin Hyeok menyeringai miring, “Di kamar yang sama denganmu.”


Seung Ho terhenti. Keningnya berlipat. Alisnya naik sebelah. “Apa? Kaubilang apa? Kamar yang sama?” Seung Ho menangkap makna implisit yang diucapkan Shin Hyeok padanya. “Maksudnya kau ingin menumpang di kamarku?”


Shin Hyeok tertawa lebar. “Memangnya kenapa? Kaukeberatan? Bukannya kaujuga tidak mengeluarkan sepeserpun dana untuk kamar ini?” sindirnya.


“Ya Tuhan… Ssshhh… Kau ini…” Seung Ho mengigit ujung bibir bawahnya. Mendengar penuturan Shin Hyeok yang begitu santai itu membuatnya kesal. Bagaimana mungkin ia harus berbagi tempat tidur dengan Shin Hyeok.


“Lalu gadismu?”


“Bukannya Jun Hee juga ada di hotel ini?” sahutnya enteng.


Seung Ho menghela napas berat. Benar-benar merepotkan, pikirnya.


“Seung Ho-ya… kenapa kaulama seka—” Jun Hee yang baru datang terpaku di tempatnya ketika melihat Shin Hyeok dan gadis yang tak dikenalnya ada di dalam kamar Seung Ho. “Ya ampun, Shin Hyeok? Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya beramah-tamah.


Shin Hyeok tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan kepalanya, mengarah pada Tae Yoon yang tersenyum simpul kepada Jun Hee.


“Ooohh…” sepertinya Jun Hee mengerti apa yang dimaksudkan oleh Shin Hyeok barusan. Kemudian ia kembali menatap Seung Ho yang sudah selesai.


“Aku sudah siap, ya… Ayo kita pergi.” Katanya seraya menarik tangan Jun Hee untuk keluar dari kamarnya.


“Hei, kalian tidak mengajak kami…!?”


Shin Hyeok dan Tae Yoon pun menyusul. Malam ini mereka berdua akan bersenang-senang sebelum tahun ini benar-benar berganti.


**


Malam tahun baru begitu semarak di sekitar danau Nami Island. Orang-orang terlihat di mana-mana, sepanjang jalan menuju danau Seung Ho tidak menemukan orang yang berjalan dengan lesu. Rata-rata dari mereka memegang erat kembang api dan begitu antusian menantikan jam dua belas malam datang.


Setelah puas mengambil gambar lalu lalang yang begitu ramai tersebut, Seung Ho memutuskan untuk mengakhiri liputannya di tepi danau. Ia memasang kamera kantor di atas tripod di tepi danau karena dari tempat itu ia bisa menyaksikan ribuan kembang api menghiasi langit dalam waktu satu jam lagi.


“Jun Hee-ya… Apa kaulihat makanan pinggir jalan di sana tadi?” tanya Shin Hyeok ketika mereka sedang berada di salah satu bangku di tepi danau.


Jun Hee hanya mengangguk. Binar matanya menunjukkan keantusiasan.


“Kaubisa menemaniku? Aku akan mentraktirmu.”


“Of course…”


Sambil membenarkan posisi tripod-nya, Seung Ho melirik punggung-punggung Shin Hyeok dan Jun Hee yang meninggalkan mereka. Seung Ho tak habis pikir melihat teman serumahnya yang selalu cepat dalam menggaet banyak gadis. Bahkan gadis yang sudah ia dapatkan pun bisa ia abaikan demi gadis yang lain.


Seung Ho mengumbar senyum prihatin terhadap kelakuan sahabatnya itu. Kemudian diliriknya gadis yang tengah duduk menatap langit yang masih berwarna pekat dengan hiasan titik-titik cahaya. Gadis itu terlihat kalem di bangku kayu dengan menyandarkan siku kedua tangannya di atas meja. Seung Ho tersenyum tipis ketika melihatnya tak sekalipun mengalihkan pandangan dari langit. Mengingat sikap Shin Hyeok yang meninggalkannya dengan gadis lain membuat Seung Ho semakin heran.


Bagaimana bisa gadis duduk dengan tenang sementara kekasihnya tengah bersenang-senang dengan gadis lain?


Seung Ho baru melihat ada gadis yang seperti itu sekarang.


Seraya memasukkan kedua tangannya yang tanpa sarung tangan ke dalam saku mantel, Seung Ho menghampiri Tae Yoon dan duduk di sampingnya. Gadis itu tetap bergeming meskipun Seung Ho berdeham pelan.


“Kautidak ikut?” tanya Seung Ho yang merasa canggung karena ditinggal berdua oleh Jun Hee dan Shin Hyeok di tempat tersebut.


Tae Yoon menoleh lalu menyunggingkan bibirnya tipis. Secara perlahan gadis itu menggeleng.


“Kalau Shin Hyeok tertarik dengan Jun Hee bagaimana? Kaupasti akan menyesal? Kautahu, Shin Hyeok itu laki-laki yang mudah sekali tertarik dengan gadis.” Kata Seung Ho berusaha mengompori.


“Aku tidak memaksakannya,”


Kening Seung Ho berkerut. Entah apa maksud dari sangkalan gadis itu barusan. Seung Ho tidak paham dengan ucapan yang dikatakan gadis itu dengan senyum yang terlihat tulus.


“Oh, oke…” responnya berusaha bersikap tidak peduli.


Kemudian gadis itu tersenyum tipis lagi. Seung Ho menjadi canggung karenanya, padahal tadinya ia berusaha mengakrabkan diri. Pada akhirnya ia tidak bisa juga menerapkan teori Shin Hyeok.


“Aku—telah melihat tayangan perdanamu,” gadis itu membuka pembicaraan setelah sekian menit mereka dilanda kebisuan. “Kau kameraman hebat.” Pujinya akhirnya.


Seung Ho mengurai senyum bangganya. Gadis itu adalah gadis pertama yang memujinya seperti tadi. “Terima kasih…” ucapnya seraya membenturkan kedua sikunya di atas meja, sama seperti yang telah gadis di sampingnya lakukan. “Apakah kaupunya rekomendasi tempat keren setelah Nami Island?”


Gadis bermata hitam pekat itu tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir keras. “Apa kauakan pergi ke sana setelah kurekomendasikan?”


Seung Ho langsung mengangkat kedua bahunya, “Mengapa tidak? Kausalah satu penggemar ‘Travellizious’ kan? Kaupasti akan sedikit membantu tayangan baru kami ini.” Seung Ho masih berusaha meyakinkan Tae Yoon.


“Mungkin Pulau Udo.” Katanya asal.


Seung Ho memutar bola matanya, ia sedang mempertimbangkan usulan itu.


“Kautahu… Pulau Udo sebenarnya sama indahnya seperti pulau ini ataupun Jeju. Hanya saja kepopuleran Udo kalah dengan Nami ataupun Jeju. Kuharap, setelah kaumenayangkannya, Udo bisa menjadi rekomendasi buat pelancong.” Tae Yoon mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. “Tapi aku tidak akan memaksa—”


“Saran yang bagus. Aku akan mengajukannya kepada kepala divisi.” Katanya memotong. Senyum tipisnya membuat Tae Yoon membalas senyum itu dengan kikuk. Seung Ho masih melepaskan tatapannya pada wajah yang menyamping itu. Tiba-tiba saja Seung Ho merasa de javu. Seung Ho merasa pernah melihatnya. Gadis yang kini mengumbar senyum tipis di sebelahnya.


“Hei, kenapa kalian masih berada di sini?” dan tepukan Shin Hyeok membuyarkan pikiran-di mana-aku-pernah-melihat-gadis-ini. “Pesta kembang apinya sebentar lagi akan di mulai.” Ujar Shin Hyeok seraya memberikan beberapa kembang api kepada Seung Ho.


“Ya Tuhan, kalian ini… Keasyikan mengobrol sampai lupa kalau tahun yang baru akan segera bermulai…” Jun Hee ikut-ikutan. “Seung Ho-ya, mana kameramu? Ayo siapkan!”


Seung Ho langsung mengambil kamera dan menyerahkannya pada Jun Hee. Pesta kembang api akan segera dimulai dan Seung Ho tidak ingin ketinggalan kerlap-kerlip yang akan menghiasi langit beberapa menit lagi.


Ketika Shin Hyeok dan Jun Hee sibuk membuat berbagai pose dengan Tae Yoon sebagai fotographer, Seung Ho malah mengatur kembali posisi kamera yang akan digunakannya untuk merekam.


“Ayo sekali lagi, Tae Yoon-ssi…” ujar Jun Hee yang masih ingin difoto bersama Shin Hyeok. Gadis itu terlihat centil sekali dengan menggelayutkan lengannya ke bahu Shin Hyeok. Sementara laki-laki dengan cap player ‘di dahinya’ itu memeluk pinggang Jun Hee dengan gamblang.


Seung Ho bisa menangkap adegan itu dengan kedua matanya, kemudian menatap sang fotographer dengan tatapan prihatin. Gadis itu terlihat canggung menggunakan kameranya, sementara orang-orang di sekitarnya terlihat terburu-buru bahkan berdesak-desakan sehingga didetik berikutnya Seung Ho menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kameranya terlepas dari tangan Tae Yoon dan jatuh menyentuh tanah.


Seung Ho terkesiap dan terpelongo menyaksikan lensa kameranya terlepas dari bodycamera. Seung Ho refleks berlari dan mengangkat bangkai kameranya dengan wajah sendu. “Kameraku…?” Sekujur tubuh Seung Ho langsung lemas di tempat.


Shin Hyeok dan Jun Hee hanya bisa menyaksikan kejadian itu tidak bisa berbuat banyak kecuali melihat saja.


“Seung Ho-ssi, mianhae…” Tae Yoon benar-benar menyesal meskipun kejadian ini hanyalah kecelakaan.


“Kamera itu kamera kesayangan Seung Ho.” Bisik Shin Hyeok di telinga Jun Hee. Setelahnya, keduanya hanya saling melempar kebisuan.


Seung Ho masih berlutut sembari meratapi kerusakan benda kesayangan yang telah bersamanya beberapa tahun. Ucapan maaf gadis itu tidak dihiraukannya karena maaf tidak bisa membuat kamera kebanggaannya utuh kembali.


THREE…


Seruan pengunjung di sekitar danau begitu memekakkan. Jun Hee langsung meninggalkan tempatnya dan menghampiri kamera yang dipasang Seung Ho di tepi danau untuk kemudian menyalakannya. Seolah mengerti bahwa kameramen sesungguhnya tidak mungkin bisa menyalakannya pada detik-detik terakhir.


Detik-detik tahun baru.


TWO… ONE…


“HAPPY NEW YEAAARRR…!!!”


Tae Yoon menggigit bibirnya. Gadis itu sungguh sangat menyesal.


**