Peppermint Kiss

Peppermint Kiss
Chapter 24



Pancaran warna-warni dari air terjun pelangi di Banpo Bridge benar-benar membuat Eun So takjub. Ia sudah lama menanti momen ini, melihat air mancur yang sewarna dengan pelangi meluncur sejauh 43 meter setiap menitnya. Eun So pernah ke sini, tapi waktu itu sedang musim dingin sehingga ia harus menelan kekecewaan. Dan malam ini keinginannya yang sempat tertunda itu terkabul. 190 juta ton air telah di tembakkan dari jembatan di depan matanya, dan ia tidak bisa diam ketika melihatnya. Berulang kali ia berseru ‘wooo…” setiap kali air-air itu menunjukkan atraksi dan membuat seorang laki-laki di sampingnya merasa kebisingan.


Laki-laki itu buru-buru menutup kedua telinganya. “Nona Jung, kauterlihat seperti orang gila. Berhentilah berteriak…!”


Eun So tidak menggubris. Ia menoleh ke laki-laki di sebelahnya dengan wajah penuh keantusiasan. “Seung Ho-ya… Ayolah… ini air terjun pertamaku. Kautahu kan kalau aku sangat menginginkannya sejak tahun lalu.” Ucapnya seraya bertepuk tangan.


“Baiklah… terserah kausaja…” alhasil Seung Ho hanya bisa menuruti. Ia akan pura-pura tidak mendengar ketika Eun So kembali berteriak ketika melihat atraksi air yang telah diterangi oleh sepuluh ribu lampu LED itu.


“Eun So-ya… Dalam hidup ini, apa kau pernah menyesali sesuatu?” Seung Ho menatap garis wajah tegas Eun So yang masih belum mengalihkan pandangannya pada air terjun pelangi.


Eun So menoleh sebentar. “Tentu saja…” lalu kembali menyaksikan kemegahan air terjun.


“Mmm… Apa yang kausesali dalam hidup ini?” Seung Ho hanya tidak ingin malam ini terlewat dengan kesunyian. Sehingga apapun harus ia tanyakan.


Eun So tidak menjawab. Pandangannya menyipit, mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. “Saat menyadari Oppa Shin Hyeok hanya Oppaku. Padahal aku berharap dia bukan Oppaku. Jadi aku sangat menyesal telah menjadi adiknya.” Kini Eun So sudah tidak memusatkan perhatiannya pada air terjun lagi. Ia memperlihatkan senyum pada Seung Ho yang membuat kerutan di dahinya setelah ia menjawab pertanyaan laki-laki itu.


“Wae?” Seung Ho pikir Eun So akan menyesalkan hal lain, paling tidak bukan Shin Hyeok yang menjadi penyesalannya. Sepertinya sesuatu telah berkebit lebih cepat di dalam dadanya.


“Karena dia tampan sekali dan aku ingin menjadi kekasihnya,” Eun So tersenyum jahil kemudian membuka langkah dan menyusuri Banpo Bridge dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.


Seung Ho menyusul dengan langkah terburu-buru. “Jadi kaupernah menyukainya?”


“Ne…!” angguknya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel abu-abu yang tengah dikenakannya.


Seung Ho mendesis, sepertinya ia menyesal telah mengetahuinya, “Apa kautahu kalau kau bukan tipenya? Kau itu terlalu pendiam, Shin Hyeok tidak menyukai gadis pendiam sepertimu. Dia hanya akan menerima gadis yang mau membalas ciuman darinya, dan aku ragu kalau kau—”


Seung Ho telah berbicara banyak ketika mereka menyusuri Banpo Bridge dan terus berjalan tanpa kesepakatan mau kemana setelah ini.


“Kenapa kaubegitu yakin kalau aku ini pendiam dan tidak bisa bersikap agresif?” Eun So berhenti sejenak untuk meyakinkan Seung Ho kalau dirinya tidak seperti yang ada di dalam pikiran laki-laki itu.


“Jadi—jadi kau—akan…?” Seung Ho tidak tahu kalimat apa yang harus ia katakan untuk menyempurnakan ekspresi keterkejutannya. Seung Ho sama sekali tidak pernah menduga kalau menjadi adik Shin Hyeok adalah sebuah penyesalan bagi Eun So.


Eun So mengembuskan napas berat lalu ia memandangi wajah Seung Ho yang terbelalak tak percaya. “Ya Tuhan… Aku cuma bercanda… Kau serius sekali sih…?” Eun So tertawa lebar dan merasa geli melihat ekspresi Seung Ho yang seperti marah-namun berusaha keras untuk disembunyikan. “Kau cemburu ya?”


Mendengarnya Seung Ho memukul kepalanya. “Kau terlalu percaya diri.” Sekarang ia menjadi salah tingkah.


“Aku memang menyesal telah mengetahui bahwa Shin Hyeok Oppa adalah Oppa-ku.” Ceritanya dengan suara tenang. “Aku berpikir, kenapa Shin Hyeok tidak ditakdirkan menjadi Oppa-ku sejak aku lahir saja?”


Seung Ho hanya bisa mendengar. Ia tidak punya niat untuk bertanya lagi.


“Dengan begitu, aku tidak perlu merasa kesepian saat ibuku meninggalkan aku sementara ayahku sibuk dengan pasien-pasiennya. Aku tidak perlu lari dan putus asa ketika osteosarkoma membuatku muak. Aku pasti menjadikannya sebagai alasan untuk sembuh dan tetap semangat. Karena sejak aku bertemu dengannya, ia selalu menumpahkan seluruh kasih sayangnya kepadaku. Aku melihat figur seorang kakak di dalam dirinya. Dan ketika aku mengetahui dia adalah kakakku, aku menyesal kenapa itu baru terjadi setelah aku sebesar ini.”


Seung Ho menarik sebelah ujung bibirnya, “Bukannya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?”


“Ya, kaumemang benar. Dan kau…” Eun So kembali menghentikan langkahnya ketika kedua matanya mengarah pada manik mata Seung Ho. ”Apa yang kausesali dalam hidup ini?” sepertinya Eun So tidak ingin hanya dia yang bercerita.


Seung Ho tampak berpikir sejenak. “Penyesalanku… Mungkin karena telah menjadi candu olehmu…” namun senyum dan pancaran mata Seung Ho telah mengatakan sebaliknya.


Musim semi hampir berakhir sementara kisah mereka baru dimulai.


**


EPILOGUE


24 Desember 2013


Shin Hyeok masih terpana melihat gadis yang tersenyum di hadapannya. Senyum dan kerlingan gadis itu membuat Shin Hyeok ber-de javu. Ia meyakini gadis itu sebagai seseorang di masa lalunya, namun penglihatannya seolah menepis ketika menyadari banyak yang berbeda dari gadis itu.


Rambut ikalnya yang dulu hanya sepanjang daun telinga dengan warna merah menyala, kini sudah setara dengan punggungnya dengan warna blonde yang membuat wajah tirus gadis itu terlihat cantik. Mata kecokelatannya kini terlihat hitam pekat, mungkin gadis itu mengenakan softlense yang membuat matanya terlihat bulat sempurna. Shin Hyeok mengerjap berulang kali, menelanjangi penampilan gadis berparas cantik di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Eun So-ya?” bahkan ketika menyetuskan nama itu, Shin Hyeok masih meragukan keyakinanya.


Gadis bermata hitam pekat itu masih mengulas senyumnya, hingga membuat laki-laki di hadapannya menatap tak percaya.


“Kau—”


Meskipun outfit berupa mantel putih beraksen bulu tebal pada bagian hoody, leging hitam membungkus kaki jenjangnya serta higheels setinggi 10 cm yang ketika tertimpa cahaya terlihat berkilau membuatnya terkesan glamor tapi senyum yang terus disuguhkan gadis itu masih sama seperti senyum yang ia lihat setahun lalu. Tidak salah lagi, gadis itu pastilah Jung Eun So.


Tapi, bagaimana bisa ia di sini?


“Shin Hyeok, apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanya ayahnya memotong sekaligus membuyarkan Shin Hyeok dari ketakjubannya.


Shin Hyeok menoleh pada ayahnya, “Dia—Appa, siapa dia?” tanyanya akhirnya. Ia masih ragu pada keyakinannya sehingga jalan satu-satunya adalah menanyakan hal tersebut kepada ayahnya sendiri.


“Dia yang ingin kukenalkan padamu, Shin Hyeok.” Kata ayahnya membuat Shin Hyeok semakin heran.


“Dia—” Shin Hyeok sulit sekali merangkai kata-kata sehingga ia hanya bisa bengong di depan gadis itu.


“Aku putri dari istri ayahmu, Oppa.” Ujar gadis itu ramah. Bahkan senyumnya belum juga sirna.


“Dia baru tiba dari Seoul, beberapa jam sebelum kaudatang.” Kata wanita separuh baya yang berdiri di sebelah gadis itu menimpali.


Shin Hyeok menatap istri ayahnya—Kwon Hye Kyung—itu dengan kening mengernyit. Dari airmukanya ia menanyakan kebenaran yang tengah dihadapinya saat ini.


“Namanya, Jung Eun So—, diaa… adik tirimu…”


Dan ucapan istri ayahnya—yang tak pernah sekalipun ia panggil eomma¬—itu membuat rasa penasarannya menjadi-jadi. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Jung Eun So adalah adik tirinya? Hal ini tidak pernah terbayangkan olehnya sekalipun. Jangankan terbayangkan, terlintas sedikitpun tidak pernah.


“Sebaiknya kita bicarakan ini di ruang keluarga saja. Shin Hyeok-ya… kalian pasti kelelahan selama menempuh perjalanan Seoul-Busan, aku akan menghidangkanmu sarapan lezat.” Kata Ibu Eun So seraya beranjak.


Ayah Shin Hyeok segera menyusul istrinya, sementara Shin Hyeok masih memandangi Eun So dengan kernyitan di dahinya.


**