PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB VII : KENANGAN (DOWNHORN CITY BAG.4)



Dua bulan kemudian di dalam bangunan jam raksasa, di kota Downhorn. Sesosok makhluk dengan tubuh serba besi dan mata merah menyala dikedua matanya, ia berjalan dengan santai sambil membawa lilin yang menyala, mantel kecil yang sudah robek juga bergoyang selaras dengan gerakan makhluk tersebut.


Lilin yang sudah memiliki alas kaca tersebut ia letakkan di sebuah meja pemberkatan yang membuat suatu mekanisme tersembunyi menuju ruang bawah tanah terhubung.


Ia datang atas panggilan dari seseorang yang ia idolakan dari dulu, tentu saja Albaz Zachglow. Albaz Zachglow yang dikira hilang selama 600 tahun lebih. Ia malah sekarang terlihat berdiri di samping singgasana miliknya, melihat kearah bola kaca yang begitu cantik, bola itu adalah sisa kenangan yang ia punya, bola yang cantik itu milik istrinya sendiri, Farrah.


Tak hanya itu, di tatapan matanya yang kosong dan mati, ia hanya melihat kematian teman-temannya di medan pertempuran dikala itu. Ia membenci Pandemonium dan berharap mati saja daripada ia terkena kutukan Merlin, pemimpin sekaligus yang menjadi provokator dan dia juga yang menciptakan evolusi pada Pandemonium layaknya mutant.


"Ra, kamu kembali secepat yang aku bayangkan." Albaz sedikit menggeser tubuhnya hanya untuk melihat makhluk besi yang dipanggil Ra tersebut.


"Tuan Albaz, aku kembali dengan cepat bahkan aku juga sudah berhasil memungut dua Crystal. Crystal of Damnation dan Crystal of Sephira.... Ahh dan aku memungut ini. "


Albaz Zachglow tidak kaget disaat Ra menunjukkan senjata, senjata lamanya Aeran, pedang itu masih berkilau persis seperti dikala itu, pedang itu membara seperti tekadnya ingin merubah dunia.


Albaz mulai bergerak dan ia langsung mengambil pedang itu dengan perlahan, memegang batang dari pedangnya tersebut sambil menghembuskan nafas panjangnya.


"Setelah sekian lama, Aeran, sudah berapa lama ini aku meninggalkanmu di Afrika,saatnya kita akan membuat sejarah baru, kita akan menyelamatkan dunia dari kesengsaraan." Pedang tersebut kemudian menyala, bara api dan petir hitam mulai keluar dari pedang tersebut begitu pula bola mata kiri Albaz berubah menjadi warna kuning dan beberapa simbol kotak menghiasi bola matanya.


"Ra, bubarkan Friggs sekarang juga. Kita akan membuat organisasi yang sempat didirikan 600 tahun lalu, dan..." Albaz menghembuskan nafas yang panjang, ia siap akan apa yang terjadi, semua demi kebaikan bersama.


Ia memikirkan kata yang tepat untuk hal ini, sudah terbesit di pikirannya tentang rencana dari istrinya yang tak kunjung terealisasikan.


"Big Revolution Operation akan kita mulai, kita membutuhkan Crystal sebanyak mungkin dan penggunanya, jika mereka melawan, lumpuhkan. Kita bisa mulai dari Friggs, aku penasaran apakah mereka melawan atau menyerahkan diri." Jelas Albaz, ia kemudian memasukkan pedangnya kedalam sebuah portal dimensi yang kegunaannya sama dengan sarung pedang biasa, ia kemudian berjalan kearah singgasana yang dulunya dipakai oleh pemilik tempat besar ini.


"Baiklah, aku bisa katakan operasi ini sudah berjalan 75% , tahap selanjutnya kita harus membutuhkan Tetra Crystal, terdiri antara beberapa elemen." Balas Ra.


Ra kemudian menghentikan bicaranya, ia baru teringat akan eksistensi penyihir yang masih tersisa di muka bumi.


"Aku paham tentang pikiranmu, aku akan mengurusnya dan aku akan berbicara pada keturunanku, dia menjabat sebagai kepala sekolah sekaligus pimpinan dari organisasi crest." Kata Albaz dengan panjang lebar.


Ia teringat akan keturunan dari saudari jauhnya dulu, Marina Zachglow yang sudah berganti marga menjadi Yerles karena ia menikah dengan pemuda tukang kue yang dulunya adalah prajurit handal yang serba bisa, bahkan ia menciptakan sejarah terbesar saat ia berhasil mengalahkan makhluk Pandemonium yang rupanya mirip seperti Fafnir, hewan purbakala pada zaman dulu.


Dan Erin Yerles adalah anak dari Marina dan suaminya, Siegfried Yerles. Erin di berkahi oleh para penyihir juga pendeta akan hidup abadi karena Erin tidak akan bisa menua bahkan ia punya regenerasi yang kencang.


Erin juga diberkahi kemampuan bertarung yang unik, jarang-jarang ada orang seperti Erin dan Albaz ingin berbicara dengan Erin. Walaupun... Walaupun Albaz akan mengetahui akhir dari pembicaraan mereka akan di tolak oleh Erin mentah-mentah.


Beda dengan Albaz yang dapat hidup abadi karena ia mempelajari ilmu alkimia tingkat tinggi, ia juga memiliki rekan yang setia dulu untuk membantunya mencapai tujuan dari Albaz.


Ia tidak ingin mati sebelum ia dapat memenuhi apa yang istrinya dulu inginkan, salah atau tidak ia tidak tau, yang jelas ia akan menepati janjinya, jika memungkinkan ia akan menghidupkan kembali istrinya meskipun hanya sebatas bisa bertemu sebagai chip.


"Baiklah, Black Cobra akan bangkit kembali dan kita akan menyelesaikan nya bersama, aku paham..Kalau begitu aku undur diri." Ucap Ra dan kemudian tubuhnya memudar dan ia tidak kelihatan didepan mata Albaz lagi.


Albaz yang masih duduk, tersenyum karena sedari tadi ia diperhatikan terus menerus.


"Mei Qingling, teman lama. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini." Ucap Albaz dengan santai.


"Kabarku? dunia banyak berubah dan semakin canggih, dulu kita tidak punya teknologi android yang mumpuni, android juga sebatas handphone dan kita cuma punya robot yang dulunya dianggap canggih." Jelas Mei.


Mei Qingling melihat teman semasa kecilnya itu, ia tidak menyangka orang yang paling gembira pada masa itu kini menjadi orang yang melankolis dan penuh dengan ambisi, bahkan Mei tau bahwa ambisinya, caranya ini adalah cara yang salah.


"Hm, begitu ya, aku dengar juga kamu sangat akrab dengan kedua keturunan ku." Balas Albaz.


"Maksudmu Fredricka dan Erin?, Erin sekarang sudah lebih dewasa daripada waktu itu, ia bahkan mempunyai naluri sebagai ibu yang melindungi anak dan keluarganya, tapi soal tubuh, ia tidak akan tumbuh lagi. " -Mei Qingling.


"Begitu rupanya, tapi mereka sudah tau bahwa mereka punya hubungan darah yang sama?. " Tanya Albaz lagi.


Mei menggelengkan kepalanya "Mereka tidak tau, baik Fredericka dan Erin. Haruskah aku memberitahu mereka?. " Tanya balik Mei.


"Tidak usah, biarkan waktu yang memberitahu mereka atau pada saatnya aku yang akan beri tahu. " Ia melihat teman lamanya itu, penuh dengan kenangan.


Masa-masa paling indah adalah saat mereka memasuki masa remaja dan mulai mengenal arti kata cinta, Farrah dan Mei berusaha memperebutkan hati Albaz.


Meskipun awalnya Albaz terpesona oleh Mei dan mereka melakukan ciuman pertama mereka. Tapi disaat Mei menghilang, Farrah mengambil alih hati dan perhatian Albaz hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai keturunan.


Setelah sepuluh tahun berlalu setelah pernikahan Albaz dan Farrah, Albaz menyadari bahwa Mei sebenarnya bukan menghilang, tapi ia mengalah demi Farrah. Ia menyadari bahwa selama ini Mei belajar bela diri sambil melirik Albaz diam, diam.


"Mei, maafkan aku,seandainya aku tau." Ucap Albaz.


Mei menutup matanya, memori itu terasa lagi di pikiran Mei, kepedihan akan sakit hati. Tapi karena Mei sudah bisa move on, ia tidak akan terpengaruh oleh emosi itu lagi.


"Tidak apa, itu aku yang salah karena aku yang terlalu obsesi padamu." Balas Mei.


Suasana kemudian menjadi hening, mereka berdua merasakan angin cinta segitiga yang dulu pernah ada, tapi sekarang beda. Hati Albaz sudah dipenuhi oleh ambisi, itulah yang membuat raut wajah Albaz tidak berubah sedikit pun alias ekspresi nya sangat rata.


"Mei, aku akan memindahkan planet bau ini dengan planet baru, mars. Dunia ini penuh dengan Pandemonium, maka aku akan menukarnya, tapi jangan khawatir saat penukaran itu, jiwa dan fisik kalian akan dipindahkan kedalam server domain."


Jelas Albaz.


Albaz menarik nafasnya dalam-dalam selaras dengan apa yang ia hembuskan, ia menatap wajah Mei yang berkata "Aku sangat tidak setuju." , ia tidak peduli karena Albaz sudah membulatkan tekatnya.


"Saat itu terjadi, aku akan menghapus semua eksistensi yang ada di bumi, lalu membuat ulang dunia dengan planet baru, planet yang tidak akan ada Pandemonium lagi,meskipun operasi ini akan memusnahkan setengah populasi makhluk hidup." Lanjutnya.


Mei tidak menyangka bahwa Albaz akan segila ini untuk menjalankan operasinya, operasi yang pernah dibantu oleh Mei secara diam-diam karena pada saat itu Mei tidak tau tujuan utama operasi yang ia bicarakan beberapa tahun lalu silam.


Albaz berdiri dari singgasana nya, ia memunculkan pedangnya dan memegangnya dengan arah ujung pedang menghunus ke arah Mei.


"Maka dari itu, Mei aku akan beri kau pilihan. Ikut bersamaku atau menjadi musuhku. "


......-Bersambung-......