PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB V : DOWNHORN CITY BAG.2



Di kota yang damai dan penuh kesenangan, itulah kota Downhorn. Kota yang dijaga dan dilindungi oleh Crest dan sejauh ini, kota ini mengalahkan kemajuan dari beberapa negara.


Seorang wanita berumur dua puluh satu tahun dengan penampilan rambut merah tua melihat sebuah pesawat besar yang datang dan terlihat melewatinya, pesawat itu adalah milik Crest dan ia hanya penasaran apa yang mereka laksanakan.


Tapi sepertinya kemauan itu harus diundur terlebih dahulu, ia tersadar bahwa dirinya adalah bartender di Caitlyn Bar, untuk bertahan hidup dari dunia yang keras ini menjadi bartender adalah solusi yang tepat baginya.


"Esenia..!!Esenia Windhearth, yuhuu..!!." Didalam lamunan gadis yang bernama Esenia ini, ia langsung bergegas untuk menghampiri sumber suara tersebut.


"hey, heyy... Rain, mau nambah pesanan apa?." Sahut wanita yang dipanggil Esenia tersebut, ia langsung mengambil gelas dan soda untuk berjaga-jaga jika pria yang bernama Rain ini ingin menikmati rasa dari kenikmatan Heavenshake, minuman alkohol yang paling kuat esensinya cita rasa yang begitu khas dan kental yang membuat minuman ini menjadi nomor satu di dunia.


Disisi Fredericka dan lainnya, mereka akhirnya tiba di kota Downhorn setelah kejadian penyerangan tersebut. Pesawat mendarat tepat di bandara khusus Crest, pemandangan yang sangat berbeda. Fredricka, Vera dan Arabel turun dari pesawat dengan tenang dan mereka melihat Downhorn City untuk pertama kalinya, sangat indah dan kelihatan menyenangkan.


"Hmm aroma ini, apakah itu sapi panggang?." Vera yang berada di samping Fredricka dan Arabel kini mencium sesuatu, sesuatu yang harum dan lezat.


"Sapi panggang? Dimana?. " Balas Fredericka bersemangat.


"Asal wanginya dari arah sana." Vera menunjukkan jarinya kearah stand yang terlihat begitu ramai.


"Kalian.. Kita disini bukan untuk bersenang-senang secara terus-terusan." Kata Arabel yang kini tersenyum dan menarik lengan kedua temannya itu ke Lobby, tempat dimana Mei bilang bahwa Mori akan menunggu mereka sebelum mereka keluar dari pesawat.


"Fffft.. Ga asik ah Arabel, aku kan lapar.." Ucap Fredericka dengan perasaan sebal.


Arabel membawa kedua temannya tersebut masuk kedalam gedung bandara, tepatnya di kawasan lobby yang dimana Mori sudah menunggu mereka.


"Anak-anak,kalian akhirnya sampai juga." Mori dengan zirah tipisnya ini tersenyum dengan lebar melihat kedatangan anak muridnya.


Semua baik-baik saja, kecuali Vera. Mori merasakan ada sesuatu yang aneh pada Vera meskipun ia terlihat sehat, tapi dugaan itu ia harus simpan dan tidak boleh gegabah seandainya apa yang ia pikirkan tersebut adalah benar.


"Semua sudah disini.. Emm, Mei kemana?." Ketika Mori mencoba menghitung jumlah yang hanya beranggotakan empat orang, ada satu dari empat orang yang masih belum hadir.


"Ohh, ketua Mei sedang berdiskusi bareng dokter Alia." Balas Fredricka dan Mori hanya merespon dengan anggukan kepala.


"Oke baiklah, kalau begitu aku tidak ada urusan untuk ganggu Dr. Alia." Ucap Mori.


Mori kemudian mengangkat senjatanya, senjata pedang besarnya yang terlihat gagah seperti Mori sendiri.


"Karena Lobby di wilayah ini, wilayah A sudah aku pesan, maka aku akan mencoba menguji kerja sama tim kalian."


Pedang dari Mori sedikit mengeluarkan asap hingga akhirnya pedang tersebut sedikit melakukan perubahan dan terlihat sangat berbahaya.


Fredericka, Vera dan Arabel langsung mengeluarkan senjata mereka, mereka sebenarnya bingung apa yang terjadi.


"Jangan khawatir, anggap saja ini adalah ujian kelulusan,kalau begitu. "


Mori menekankan pegangan pada gagang pedangnya, ia meluncur bagai api dan mengayunkan pedangnya ke arah bawah. Ketiga gadis tersebut menghindari serangan Mori dengan berbeda arah, Vera kemudian membuat serangan pembuka sebagai serangan balasan dengan tembakan laser beamnya.


"Terlalu lambat Vera." Ucap Mori dan ia menekan salah satu tombol yang ada di gagangnya dan mengeluarkan setidaknya lima misil kecil untuk beradu dengan laser milik Vera.


Saat Mori terlihat fokus ke Vera, Fredricka meluncur dengan cepat ke samping kiri Mori dan menghunuskan pedangnya yang ia alirkan dengan petir miliknya.


Namun sayang sekali, aura merah keluar dari tubuh Mori yang membuat Fredricka terpental dan gagal membuat serangan. Tapi tidak secepat itu, seperti serangan beruntun kini giliran Arabel menggunakan katana miliknya dan ia alirkan dengan energi air untuk melakukan serangan dari atas.


"Taktik yang bagus Arabel."


Mori beradu serangan dengan Arabel, namun karena perbedaan kekuatan, Arabel secara tidak sengaja dan tidak kuat karena hantaman tersebut membuat ia melepaskan pedangnya dan ia langsung di tendang oleh Mori dibagian perut yang membuat Arabel terpental.


"..! Arabel!.. " Seru Fredricka.


Sekarang giliran Vera menyerang Mori dengan tangan android yang sudah menyelimuti tangannya. Tentu saja Mori punya reflek yang bagus dan berhasil bertahan dengan pedang besarnya.


Kembali ke realita, Mori kini melihat anak muridnya sudah pada letih melawan Mori tapi tidak ada satupun usaha dari mereka yang mengenai Mori.


*Zzzt.. *


"Tanigawa, tolong ke Harbringer segera. Jangan khawatir karena Mei yang akan gantian melihat mereka." Suara dokter Alia terdengar setelah alat komunikasi Mori bereaksi.


Mori kemudian menyimpan pedang besarnya dan ia hanya tersenyum.


"Anak-anak, hari yang bagus. Aku melihat perkembangan kalian semakin baik, ah iya kalian akan ditemani Mei, ingat ya nurut sama ketua kalian." Jelas Mori dan Mori langsung berbalik untuk pergi menuju Harbringer.


Vera, Fredericka dan Arabel yang sudah kelelahan kini hanya bisa melihat Mori berjalan menjauh bersamaan dengan Mei datang menghampiri mereka.


Pakaian Mei juga berubah, yang awalnya mirip seperti setengah dokter, sekarang menjadi seorang pejuang kungfu. Entah kapan dia berganti pakaian, tetapi ia sekarang lebih elegan dari biasanya.


"Bagaimana kalau aku traktir kalian makan dan minum, kalian pasti sudah lapar." Ucap Mei dan kemudian ia melirik Vera, dengan kekuatan yang ada pada Mei, ia bisa melihat bahwa kesadaran Vera hanya sedikit dan yang sekarang hanyalah kesadaran akibat sistem android nya yang berpengaruh juga pada crystal miliknya.


"Hah, kukira kamu bisa di bodohi." Vera kemudian melontarkan kata-kata yang tidak biasa.


Sesuai dugaan Mei dari apa yang ia rasakan, sifat asli dari kerusakan sistem Vera kini telah keluar dan Vera tanpa didasari kesadaran miliknya, bergerak untuk menembak Mei.


"Fredericka, Arabel... Sedikit menjauh dariku tolong."


Fredricka dan Arabel yang bingung apa yang terjadi hanya manut akan perkataan Mei, Mei kemudian menggunakan jurus ilmu beladiri Tapak Suci Qingling untuk memblokir, bahkan serangan dari Vera tidak melukai Mei. Ilmu ini juga didukung oleh Sigma milik Mei, ia memegang sigma daripada Kongming.


"Jurus Tapak Suci Qingling!. " Dengan kasar, Mei yang mendekati Vera kini mengangkat kerah baju Vera dan dengan tangan yang lain, Mei sudah siap meluncurkan Tapak Suci yang langsung menghantam dadanya, dari punggung Vera keluar sebuah anomali tidak jelas dan beberapa aura yang terlihat seperti kode-kode error.


Jurus ampuh milik Mei dapat mengembalikan kesadaran orang yang terkena serangannya dan melumpuhkan aura jahat, bahkan android sekalipun ia bisa melakukannya.


"Ketua Mei.. " Fredericka memanggil nama Mei dan segera kembali bergabung dengan Mei juga Vera yang kini tidak sadarkaln diri.


"Kalian tidak menyadarinya, selama perjalanan kalian bukan bersama Vera, melainkan sistem yang mengalami malfungsi akibat suatu kerusakan." Jelas Mei, dalam hatinya ia harus memberitahu dokter Alia untuk segera menangani hal ini.


Mei kemudian mengangkat dan menggeneong Vera yang sedang tak sadarkan diri.


"Di bandara ini juga memiliki hotel, Crest sudah memesan beberapa. Kalian, duluan minta kepada resepsionis sedangkan aku akan kembali ke Harbringer untuk merawat Vera. " Imbuh Mei.


Mei kemudian mengirimkan rute dimana resepsionis berada dan sub-route untuk nanti jika mereka sudah mendapatkan kunci kamar hanya melalui Bracelet Gadget.


Mei kemudian pergi membawa Vera balik ke Harbringer.


"Vera... Aku harap dia baik-baik saja." Lirih Fredricka.


Arabel yang mengetahui kesedihan dari Fredricka kini memegang bahu Fredericka dengan pelan dan menatap Fredricka dengan wajah yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Ayo, kita mengambil kunci kamar kita seperti yang dikatakan Kak Mei." Ucap Arabel yang sambil menghibur Fredricka.


"Baiklah, ayo... Dan, terimakasih sudah mau berada di sampingku Arabel.. " Ucap Fredricka dengan senyuman terlukis diwajahnya.


Mereka berdua pada akhirnya membuka pesan yang berisikan rute menuju penjaga hotel dan meminta kunci kamar sesuai apa yang dikatakan Mei.


Di balik bayangan, seorang gadis berjubah hitam mengintai semua yang terjadi dengan cakar besi miliknya yang berkilau.


"Crystal of Vortex,Crystal of Doom, Crystal of Hope. Bahkan ada Lord of Flame Mori dan Iron Qingling... Ahh, ini akan menjadi hal menarik.." Setelah berbicara pada dirinya sendiri, perlahan-lahan tubuh gadis itu mulai menghilang dan kini hanya ada ruangan gelap saja disana.


...-Bersambung-...