PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB XVI : DIKTATOR BENGIS DAN LORD OF FLAME



"Sepertinya aku terlambat." Albaz merasakan kekuatan Crystal of Vortex memuncak.


Albaz kemudian mendengarkan suara yang aneh dan dengan reflek nya yang bagus serta kejelian matanya, ia menghindari serangan proyektil milik Promethia, Promethia kini sudah berada di posisi melihat Albaz dari tempatnya.


"Albaz... Kali ini aku benar-benar bunuh elu." Ucap Promethia.


Promethia mengulurkan tangannya keatas dan sebuah tangan raksasa muncul diatas Albaz, tangan itu memiliki sifat yang sama layaknya lubang hitam dan tangan tersebut bergerak kearah Albaz yang ada dibawahnya.


".. " Albaz tidak menghindari serangan Promethia, malah ia mengayunkan pedangnya dan api yang besar muncul di saat ia mengayunkan pedangnya.


Api tersebut muncul berbentuk phoenix dan menubruk tangan raksasa milik Promethia.


Keduanya hancur, menyebabkan asap yang mengganggu penghlihatan. Disaat, asap itu hilang Albaz sudah tidak ada di tempat.


"Cih manusia purba itu pergi, ya baiklah aku akan menghancurkan kota." Ucapnya dengan nada kecewa.


1 hari setelah itu ada kabar bahwa penyerangan besar-besaran oleh entitas tidak diketahui. Entitas itu berada di Australia sekarang dan masyarakat disana berlari dengan panik, para polisi melakukan evakuasi dan beberapa dari polisi mencoba melawan.


Tentara dikerahkan dan kini beratus tank datang dan moncong dari tank tersebut mengarah ke arah Entitas tersebut.


"Apapun yang terjadi, kita harus melindungi negri ini..!! Letnan..!! cepat hubungi pihak rusia dan Crest untuk membantu kita, ini sangat darurat." Terlihat sang Jendral panik, tapi mau tak mau meskipun ia tahu bahwa dirinya dan pasukannya kalah telak, ia tetap berjuang.


"Semua siap...!!? TEMBAAKK..!!." Peluru dari prajurit bahkan tank melesat ke arah entitas tersebut.


Entitas yang berambut putih dan matanya berwarna biru bercahaya layaknya diamond hanya tersenyum. Peluru-peluru tersebut lenyap masuk kedalam sebuah portal satu persatu dan kecepatan akan reaksi portal tersebut sama cepatnya dengan peluru.


Saat sedang menelan ratusan peluru, sebuah petir menyambar dengan brutal. Mengakibatkan setengah dari tank hancur dan cairan merah mulai keluar seperti banjir kecil.


Sebuah cahaya hitam muncul di atas tangan nya dan ia melakukan sentilan terhadap cahaya tersebut yang membuat cahaya kecil tersebut pecah kemudian dari arah yang tidak terduga, semua serangan yang di arahkan ke entitas tersebut kini berbalik kepada mereka.


Prajurit sudah pada tewas, hancur bahkan ada yang menjadi abu, darah merembas kemana-mana dan menyebabkan pemandangan yang luar biasa menurut Promethia.Benar, Promethia langsung menyerang Australia tanpa ampun dan kini bangunannya hanya berupa puing-puing saja, banyak rakyat yang mati bahkan tentara yang berjuang ikut tewas.


"...?" Sebuah roket besar muncul hampir mengagetkan Promethia, rasa panik membuat Promethia menggertak giginya.


Untungnya Void yang ia miliki sanggup menelan roket tersebut dan mengarahkan nya kebawah. Ledakan besar terjadi dibawahnya setelah itu.


"Ahh mereka datang juga."


Promethia melihat seorang gadis, dia adalah Arabel dengan gagah memegang pangkal pedangnya.


"Kurasa aku terlalu berharap." Ucap Promethia.


Ia menjentikkan jarinya, sebuah balok ungu di balut oleh petir bahkan sihir api membara di sekitar balok tersebut. Balok tersebut meluncur dengan kencang dan menghantam kapal yang Arabel tumpangi.


"Nggh... Fredricka.."


Kilas singkat sebelum Promethia membumihanguskan Australia. Arabel dan Vera mengetahui berita bahwa Fredricka lepas kendali dari Dr. Alia.


Mori juga mengetahui nya, ia tau apa yang harus dilakukan. Maka dari itu Mori dan Dr. Alia saat ini sedang menciptakan serum pelemah saraf untuk Crystal.


Meski Mori tidak mahir dalam membuat obat-obatan, setidaknya Mori membantu untuk mengaktifkan mekanisme pembuatan nya.


Sebelum itu juga Dr. Alia menciptakan penemuan baru, ia membuat armor khusus menahan radiasi void dan tebal cukup untuk menahan petir.


Armor tersebut adalah permintaan dari Mori, Dr. Alia langsung mengiyakan dan membuat armor yang Mori pakai sekarang. Armor ini selain di lengkapi ketahanan khusus, juga armor ini diberikan serum khusus, serum super.


"Aku peringatkan kamu Tanigawa, armor ini hanya bertahan selama dua puluh menit, jika lebih dari itu sebaiknya pulang dan jangan gegabah. " Kata Dr. Alia sambil mengunyah permen karet.


"Tenang saja, aku bisa melakukan ini sepanjang waktu. Tentu saja aku akan kembali secepatnya."


1 Jam, 2 jam menunggu serum pelemah saraf jadi akhirnya terkabul. Dokter Alia menyerahkan serum tersebut kepada Mori dan Mori mengambilnya dengan perlahan.


"Jangan gegabah." Ucap Dr. Alia sekali lagi.


"Demi anak-anak, aku akan berusaha sebisaku. " Balas Mori,didalam tatapannya itu Dr. Alia merasakan firasat yang tidak enak. Mori berbalik, berjalan kearah luar dan menuju ke kapal tempur Crest miliknya sendiri yang meskipun tidak sebesar Harbringer, tapi setidaknya ia adalah komandan dari awak kapalnya.


Kembali lagi ke pertemuan Arabel dan Fredricka atau setidaknya sekarang adalah Promethia.


"Crystal of Vortex, kembalikan temanku..!!. " Geram Arabel.


Arabel kemudian tanpa berpikir panjang meluncur kearah Promethia, ia menggenggam pedang miliknya dengan amat sangat erat. Mulai mengayunkan pedangnya tepat kearah leher Promethia.


"Lambat sekali. " Ucap Promethia sambil menguap lalu ia melakukan sentilan kecil yang menyebabkan gelombang energy udara yang amat sangat besar, membuat Arabel tidak tahan dan terpental secara tidak terkendali, Arabel hanya bisa menggertakkan giginya karena saat Promethia melakukan itu, rasanya jantungnya sesaat berhenti alias sesak.


"Arabel...!!. " Seorang wanita datang, menangkap tubuh Arabel.


"Bu Mori... " Lirih Arabel.


"Bersiaplah Arabel ini adalah pertarungan yang besar, lawan kita adalah teman kita yang dalam bahaya dan butuh pertolongan.. " Ucap Mori.


Tak lama, Mecha dan android dengan peralatan terbang dan tempur mereka kini mengepung Promethia, sebagian nya lagi melakukan formasi untuk melindungi Mori dan Arabel.


"Johan..Tolong bawakan anak muridku ke ruang rawat, sepertinya ada yang keseleo. " Ia memanggil salah satu knight rank C dan langsung menggandeng tubuh Arabel yang rasanya mati rasa menuju ke ruang medis.


"Tanigawa Mori atau bisa kubilang Blaze dari masa lampau, tak kusangka kamu bakal bereinkarnasi kembali. "


"Mengapa sampah seperti kalian selalu hadir dan mencoba menggangguku, manusia. " Promethia mendengus, nada sombong terdengar dari suara nya yang layaknya bergema. Suara Promethia sendiri dan Fredricka.


"Sedikit bacot banyak bertindak, kalau berani kesini dan lawan aku,kenapa? kau takut? ." Mori memancing Promethia dengan sedikit mencemooh Promethia.


Merasa terganggu dan terhina, Promethia menggertakkan giginya. Cuaca kembali buruk dan petir mulai menyambar ke mana-mana.


"Bilang apa?. " Ucap Promethia geram.


"...!! "


Promethia mengulurkan satu tangannya dan ia mulai menarik tubuh Mori dengan telekinesis, pada saat yang sama juga dirinya terbawa ke suatu dimensi, dimensi ini dipenuhi oleh amarah petir dan juga kegelapan yang hampa.


Mori tidak bisa bergerak dan melawan dan ketika ia sudah dekat dengan Promethia, Promethia mengumpulkan energi di tinjunya dan mulai meninju perut Mori dengan keras yang membuat Mori menubruk 2 dinding tebal yang ada di dimensi tersebut..


"Oh aku belum selesai, inilah kiamat bagimu. Judgement Scale.. " Ucap Promethia.


Dinding batu yang ada didepan Mori bergerak langsung menghimpit dirinya dengan keras, kedua batu besar bahkan lebih besar dan setara dengan tinggi pegunungan tersebut mulai terbang.


Secara brutal batu tersebut turun kebawah dengan cepat dan menghantam tanah di dimensi ini hingga separuh dari batu tersebut retak dan hancur.


Promethia menjentikkan jarinya dan empat sinar void membelah batu tersebut menjadi empat bagian hingga akhirnya meledak.


"Lain kali jangan ganggu aku." Ucap Promethia.


Ia mulai berbalik badan dan juga mulai meninggalkan Mori. Hingga akhirnya suara pedang muncul dan beberapa misil juga terdengar.


"...nghhh!.. " Promethia panik, dia hampir kehilangan tubuhnya karena hampir ketusuk pedang, untungnya ia sempat menelan senjata tersebut dan mengeluarkan nya tepat berada di belakangnya dan mengarahkan ke salah satu dinding yang ada didekatnya.


Sayangnya ia tidak bisa menghindari serangan misil yang membuat Promethia terhempas dan jatuh dengan posisi terguling.


"Guhh.. " Promethia mengeluarkan darah dari dalam mulutnya dan ia mulai mengumpat kesal.


"Tcih,Rendahan tidak berguna." Promethia berdesis dan ia melihat Mori sudah sangat babak belur, rambut merahnya yang berantakan serta armornya yang gagah kini sudah rusak.


"Permainan yang bagus, tapi sekarang giliran ku. "


Dengan semangat meskipun nafas berat dan tubuhnya seperti terkena korosi masih saja lanjut untuk melawan Promethia. Ia memikirkan cara agar ia bisa menyuntikkan serum ini.


"Jangan meremehkan apiku, kau bakal aku panggang. " Ejek Mori.


"Kau yang duluan aku gilas bodoh. " Balas Promethia kesal.


Tubuh Mori kini sudah beruap,panas karena ia mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa. Ia menggunakan Sigma terlarangnya.


Sigma tersebut bercahaya merah dan sebuah garis merah mulai muncul yang berasal dari punggungnya hingga ke wajahnya tepatnya mengarah di kedua matanya yang kini juga ikutan bercahaya merah.


"Ayunan Dewa. " Lirih nya.


Ia kemudian memanggil pedang nya yang tadi ia lempar dan pedangnya ikut bereaksi, ia mencondongkan tubuhnya dan mulai berlari.


"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu..!! " Promethia tidak tau harus apa, ia bingung dengan rencana Mori dan ia hanya bisa menyerang dengan Void berbentuk seperti meteor, bahkan ia tidak bisa menggunakan telekinesis miliknya alias menolak kehendaknya..


Mori menebasnya dengan mudah bahkan meteor tersebut langsung jadi abu, Mori kemudian melompat tinggi dan ia menggulingkan tubuhnya layaknya gasing dari atas kebawah.


"Promethia!!.. " Seru Mori.


Didalam hati Mori, ia ingin Fredricka menjadi pahlawan bagi dunia, ia memiliki potensi yang layak ketimbang dirinya, inilah saatnya ia mengakhirinya, karakter utama tidak boleh mati, siapakah karakter utama itu? ia tentunya adalah Fredricka, setidaknya dalam keyakinan Mori, Mori melihat potensi Fredricka akan dapat mendamaikan dunia dan menghilangkan Pandemonium tanpa mengorbankan sesuatu. Sudah jauh-jauh hari ia merekam suaranya, pesan nya untuk Fredricka. Dr. Alia selalu menyebutkan bahwa kondisi Fredricka makin tidak stabil, ini dikarenakan Void yang ada di tubuhnya tidak bisa menampung cahaya yang ada dihatinya.


Hanya Fredricka, Vera dan Arabel yang akan menghentikan Albaz, setiap memikirkan hal ini disekolah, Mori tersenyum dan impiannya akan tercapai mulai saat ini.


"...Tidak.... Tidaaaakkkk!!. " Promethia berteriak frustasi dan ia menutup matanya, ketakutan nya muncul dan ia seperti teringat saat dirinya mendekati kematian karena ditebas Albaz.


Tapi Promethia tidak merasakan apa-apa, ia hanya merasakan sesuatu yang hangat di lehernya dan sesuatu yang hangat memeluk dirinya.


Mungkin karena reflek, Promethia menusuk perut Mori dengan duri tajam yang menjulang menembus tubuh nya. Dan sebelum Promethia melakukannya, Mori sudah mengirimkan surat dan pesan suara digital kepada alat komunikasi Fredricka.


Setelah kejadian tersebut, leher Promethia terasa panas. Ia kemudian menjerit, melolong kesakitan. Ia merasakan bahwa ada sesuatu yang menariknya, rantai itu mulai bereaksi untuk memenjarakannya.


Tak lama kesadaran Promethia hilang dan sudah beralih ke Fredricka, namun karena Fredricka sudah tidak punya energi lagi maka ia tidak sadarkan diri.


Dimensi yang dibuat oleh Promethia kini seperti gua yang mulai hancur dan begitu juga duri yang menancap tubuh Mori berubah menjadi abu, membuat Mori jatuh kedalam kehampaan sedangkan Fredricka tersedot oleh portal yang muncul didekatnya.


Isi Suara Rekaman :


Kamulah karakter utama, kamulah yang akan menjadi penentu.. Kebaikan hatimu, adalah kunci untuk menaklukkan dirimu sendiri... Aku hanya figuran yang memberikan pelajaran penting, kukira aku adalah pameran utama tapi aku sadar bahwa kamulah yang berporensi... Tolong janji padaku bahwa kamu akan mengabulkan harapanku, aku bangga pada mu, Vera dan Arabel.


Jangan takut, kalian kuat, kamu kuat.. Selamatkan Erin Yerles, dia adalah bibi kandung mu. Ah ya sebelum kamu mau lulus, jangan lupa belajar lebih giat, meskipun kamu sudah lulus kamu perlu belajar lagi. Itulah manusia, mereka tidak akan pernah berhenti belajar, kita tidak akan pernah berhenti belajar.


Perjalanan kalian masih panjang, setelah Albaz ada satu hal yang harus kamu hadapi, kamu harus belajar ilmu bela diri dari Mei juga. Aku harap dia bisa mengajarimu.


...-Bersambung-...