PANDEMONIUM

PANDEMONIUM
BAB II : DOWNHORN CITY BAG.1



Seperti biasa setelah latihan usai dan pekerjaan telah diselesaikan, Fredricka dan Vera bermain video game sedangkan Arabel hanya melihat mereka bermain sambil membaca buku novel kesukaannya.


Tentu saja mereka bermain di rumahnya Arabel yang penuh dengan alat video game, bahkan diam-diam Arabel punya VR terbaru dan hanya Arabel mainkan saat ada update terbaru dari game Shadowverse : Reforce.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa bagi Fredricka bahkan Fredricka sekarang sudah bebas mau kemana karena ayahnya sudah pulih berkat pertolongan Mori dan para dokter di Crest. Bahkan sekarang Fredricka bisa numpang tidur di rumah teman-temannya jika ada tugas atau misi penting.


"Hoamm.... Ini sudah jam lima sore, kita tidak jalan-jalan keluar?" Tanya Fredricka yang terlihat bosan saat ini.


Vera dan Arabel melihat atau sama lain lalu mereka menggelengkan kepala.


"Tidak Rika,soalnya Vera dipanggil Mori untuk tugas lainnya dan Vera akan tidur disana hari ini." Balas Vera tanpa memberikan senyuman, jarang sekali Vera memberikan senyuman.


Vera, yang Fredricka ketahui temannya ini adalah yatim piatu, dia berasal dari Moskow, Rusia. Keluarga Vera Sergeeva sudah lama sekali meninggal akibat serangan Pandemonium yang menyebabkan sebuah ledakan besar yang sempat membuat kota indah tersebut hancur.


Setelah bomber dari Pandemonium gagal meledakkan kota Amerika Serikat, bomber dari Pandemonium berhasil dan merupakan ledakan pertama yang ada di dunia dan itu tepat berada di Moskow. Tapi jika di Singapura, yang membuat ledakan bukanlah bomber Pandemonium melainkan Friggs, sebuah ledakan yang dapat melumpuhkan nuklir yang ada didunia dan menciptakan Pandemonium.


Di sisi lain, tepatnya HQ Crest seorang gadis muda berambut kucir kuda sedang memantau sebuah hasil eksperimen. Rambut pirang pasirnya melambai-lambai saat gadis muda itu dikagetkan oleh seorang laki-laki yang membuat gadis pirang tersebut menghajar nya dengan sekali tonjok.


"Lain kali, jangan kagetin aku saat sedang eksperimen.."  Ucap si gadis pirang.


"Aduduh, ahaha, maaf dokter Lisa." Balas cowok berambut biru abu-abu tersebut.


Meskipun masih marah, Gadis pirang yang bernama Lisa Aquria ini terlihat bisa mengendalikan emosinya.


"Hey Dokter Leavin, coba liat ini.. Sampel ini mirip seperti milik, Vera. Apakah ini Vera-" Sebelum Lisa mengucapkan penuh kata-kata nya, ia terhenti sejenak untuk memikirkan ulang apa yang ia ketahui.


Vera memiliki gen yang mirip dengan Pandemonium, tapi daripada sifat keturunan, ini lebih tepatnya ke hasil eksperimen yang berarti Vera adalah objek eksperimen sebelum Crest menemukan Vera.


Lisa langsung memilah-milah dokumen yang sudah ia tulis dan barang yang ia dapat lalu ia mencoba mencocokkan apa yang benar-benar masuk akal.


Lisa kemudian menyadari bahwa ada simbol yang terlihat berkamuflase, hampir menyatu dengan botol kaca milik Friggs.


Kembali ke sisi Fredricka dan dua sahabatnya kini sudah berpamitan kepada Arabel, Arabel balik balas dengan melambaikan tangannya keatas.


"Ahh, tadi itu menyenangkan.. Ayah dan ibu Arabel baik banget... " Didalam perjalanan pulangnya, Fredricka memikirkan ulang betapa menyenangkan kegiatan mereka.


Lalu ia berhenti sejenak saat sudah memasuki trotoar hendak menyebrang dari Zebra Cross.


*BZZZT*


Saluran komunikasi sepertinya nyala dan suara Mori terdengar dikupingnya.


"Fredricka, Vera, Arabel.. Ini pengumuman, meskipun mendesak tapi istirahat yang cukup untuk besok kita akan pergi ke Downhorn City."


"Downhorn city?" Fredricka mencoba mengingat dan langsung ingat bahwa Downhorn City adalah pulau yang dibangun atas kerja sama antara Singapura dan Indonesia. Tempat itu lumayan luas dan jaraknya hampir berdekatan dengan Canada, karena lautan itu lebih banyak dari daratan maka Singapura dan Indonesia membuat sebuah proyek besar untuk membangun sebuah pulau di salah satu lautan lepas tanpa wilayah.


Dengar-dengar Downhorn city sekarang sudah naik daun lagi dan tidak pernah mati, bisa dikatakan ini adalah kota cyber yang sesungguhnya. Downhorn City kemudian di beli oleh Crest sekitar sepuluh bulan lalu, tentu saja bayarannya sangat adil dan kedua negara itu sekarang sudah menerima uang yang begitu amat sangat besar dari Crest.


Bisa dikatakan Downhorn City lebih seperti pulau keren nya Crest dan markas kedua selain HQ yang berpusat di Prancis, meskipun sebenarnya HQ Crest ini lebih ke pesawat mega besar yang dapat menutupi satu negara seperti Singapura.


Sesampai di depan rumah, Fredricka merasakan bau yang ia tidak sukai, firasat nya tidak enak dan ia dengan segera membuka pintu dengan sangat keras.


Pandemonium ternyata sudah ada di dalam rumahnya dan untung saja ayahnya sudah bersama Crest ditempat aman, jadi Fredricka tidak segan-segan untuk menghajar para Pandemonium ini.


"Baiklah, bersiap untuk dikalahkan." Ucap Fredericka dengan semangat dan ia mengeluarkan pistol miliknya, pistol yang di upgrade oleh dokter di Crest, senjata ini khusus untuk membantai para Pandemonium.


Ia membantai satu persatu hingga akhirnya Pandemonium tidak ada yang tersisa lagi. Ternyata senjata baru dari Fredricka sangat nyaman dipakai, kalau tidak salah para dokter manamakan senjata tersebut adalah Kongmin Blast.


"Fiuh! Aku harus bersihin kekacauan ini setelah itu pergi beristirahat." Batin Fredricka dan mulai melakukan kegiatannya hingga selesai dan ia pergi tidur dengan nyenyak.


Fredricka bermimpi yang aneh, ia bahkan terbangun sampai 4x berturut-turut hingga dia memutuskan untuk tidur lagi hingga matahari terbit.


"Hoamm.." Fredricka meregangkan badannya dan ia tiba-tiba merasakan denyut kecil berasal dari lengan kanan, lengan kiri dan dadanya.


Ini bukan denyut biasa yang berasal dari paru-paru ataupun jantung yang sedang berdetak karena mimpi buruk. Ini lebih ke seperti ada sesuatu didalam dirinya dan Fredricka memegang kepalanya sambil memejamkan matanya.


Sebuah ingatan yang tidak jelas lewat dari pikirannya dan semua berakhir dalam beberapa menit kemudian.


"Huftt, tadi itu apa... " Batin Fredricka, mencoba mengingat tapi tidak bisa.


Fredricka melihat arah jarum jam dan menemukan dirinya masih ada waktu setengah jam, maka dari itu Fredricka bersiap diri agar bisa pergi ke markas cabang Crest yang ada di Singapura ini.


Setelah selesai mempersiapkan diri dan pergi ke markas cabang Crest, Fredricka melihat dua orang temannya juga baru datang.


"Hey Arabel, Vera." Sapa Fredricka dan berjalan ke arah mereka.


"Aku tadi mimpi aneh.. " Balas Arabel dan ia terlihat linglung,tapi masih seperti biasanya yang selalu tersenyum dan bersemangat.


"Kalau kalian tanya kenapa wajah ku begini, berarti aku juga mimpi aneh." Sahut Vera.


Melihat reaksi teman-temannya, Fredricka jadi berasumsi bahwa itu bukan mimpi biasa, tapi itu apa sebenarnya.


"Anak-anak, cepat masuk kedalam Harbringer."


Vera, Arabel dan Fredericka mendengar suara guru mereka dan segera pergi menuju alat transportasi berupa pesawat  terbang raksasa dilengkapi oleh persenjataan kuat.


Saat berjalan memasuki ruangan, Fredricka sekali lagi melihat tangannya. Ajaib, tidak ada simbol ataupun hal aneh lainnya yang ada ditangannya. Apakah itu cuma khayalannya saja atau bukan, jika khayalan, maka siapa yang tega melakukan nya terhadap tiga remaja yang masih polos tersebut.


Saat mereka bertiga sudah ada di dalam Harbringer, Mori datang dengan armor hitam dihiasi oleh warna merah tua. Ia juga terlihat memegang pedang besar dan terlihat kuat disaat ia mengangkat pedang tersebut.


"Baiklah, dengarkan. Jadi sebenarnya ini adalah misi seperti biasanya, tapi kalian bisa berlibur sedikit disana."


Mendengar kata yang dilontarkan Mori membuat Fredricka, Arabel dan juga Vera senang dan menjawab dengan bersemangat dan juga serentak.


Mori melihat mereka jadi teringat saat dirinya masih menjadi murid, ia memiliki teman yang kompak, tapi sayang mereka harus mati karena insiden ledakan yang diakibatkan Pandemonium.


...-Bersambung-...


Note


- Bag \= Bagian/part